RSS Feed

Do You Back Or… : 1S : Straight

Posted on

Title : Do You Back Or…

Genre : Sad, Life

Type : Straight

Rating : PG 13

Main Cast :
~YOU a.k.a Jung Hye Bin
~Chun Jung Myun a.k.a Chun Jung Myun (Aktor)

Support Cast :
~Kakek Gumiho dan beberapa orang

Credit Song : *?*

Author : Han Sang Ra

 

***

 

Hanya saja, mengapa bisa? Apakah yang sebenarnya ia rencanakan? Bisakah aku terus mengulangnya kembali?

Aku tidak mengerti…

***

 

“Hye Bin!!!” teriak seseorang dari belakang.

 

Aku menoleh pelan. Melihat kearah dirinya yang tersenyum bahagia menatapku. Aku balik memandang lagi kedepan.

 

“Hei! Ada apa denganmu?” ucapnya sambil mengoyang-goyangkan tanganya di depan wajahku yang dari tadi menunduk menatap jalan.

“Uhmm..”

“Kau sakit?” sekarang ia mengangkat wajahku dan menaruh punggung tanganya di keningku. “Normal,” lanjutnya.

“Uhm..” aku hanya berdeham menjawab semuanya sambil terus berjalan pulang.

 

“Kau sedih yah?”

“Hm?” aku mengangkat wajahku sambil melirik heran kepadanya yang tersenyum dengan memamerkan gigi.

“Kau pasti sedih karena aku mau pindah kan?”

“Hm..”

“Ah.. jangan bohong, pasti kau sedih.. sudah katakan saja,”

“Uhm,”

“Ayolah! Jangan berdeham terus… katakanlah sesuatu,” rengeknya padaku/

“Kau ingin aku berkata sesuatu?”

“Ya ya ya…”

“Bisakah kau tinggalkan aku, aku ingin sendiri.”

 

Yah begitulah dua kalimat yang terakhir aku ucapkan padanya. Dan dua kalimat itu pula aku ucapkan terakhir kalinya. Mengapa ia mengajakku bebicara saat aku punya banyak masalah! Keluarga.. Teman.. Sekolah dan Dia. Bisakah aku mengulanya kembali. Too Late, di sudah pergi..

 

*

 

Sudah genap enam tahun dia pindah. Rasanya aku benar-benar hampir melupakanya. Sosoknya yang selalu menyapaku di pagi nyaris sudah menghilang selama ini. Apakah dia akan kembali?

 

“Hye Bin?”

“Uhm,”

“Mengapa dengan dirimu.. ayolah berbicara sudah enam tahun lamanya kau tidak berbicara,”

“Hm..”

“Jangan berdeham terus.. ucapkan lah satu kata. Aku sudah menjadi temanmu selama tiga tahunn sama sekali belum mendengar suaramu, kau hanya melakukan gerakan yang itu-itu saja..”

“Hm,”

“Yah.. aku menyerah. Ayo sekarang antarkan aku makan..” dia menarik pergelangan tanganku dan membawaku bolos sekolah. Ya dia adalah sahabat yang tahan banget dengan sikapku ini. Semenjak di tinggal dia yang pindah, aku menjadi pendiam. Dan tidak terasa sudah enam tahun aku tidak berbicara sama sekali. Hanya berdeham, menggeleng dan mengangguk yang aku lakukan.

 

Uhm, mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur malas berbicara. Untungnya bibirku tidak benar-benar bisu…

“Oh iya.. ingat besok adalah pesta penyambutan kelas baru..”

“Hm..”

“Ayo kita beli baju baru!!!”

 

Bukanya masuk kedalam restaurant dia malah menariku ke sebuah toko butik yang terkenal di Korea. Dia memang orang kaya, dia juga anak pemilik sekolah yang aku tempati ini, jadi dia bebas melakukan apa saja yang ia mau!!

 

“Ayo coba gaun ini!” sambil menyodorkan sebuah gaun putih. Lebih tepatnya sebuah dress bagiku, karena gaun ini tidak sampai ujung kaki, hanya sampai lutut.. Eh, di atas lututku malah.

“Uhm,”

“Ayo coba…” dia menatapku dengan mata penuh harapan. Tanpa berkata apapun aku langsung pergi ke tempat ganti pakaian dan memakainya.

 

*

 

“Wow! Bagaimana bisa?” pasti ada yang salah dengan diriku? Sampai ia memasang wajah yang aneh.

“Kau sungguh berbeda,”

“Uhm..”

“Ayo kita kekasir, aku akan belikan baju ini untukmu!”

“Hm..” dehamku sambil menyunggingkan sedikit senyuman kecil di bibirku.

***

 

Chun Jung Myun Pov

 

Bisakah aku menemukan gaun di sekitar sini? Sangat sulit mencari gaun yang tidak aku ketahui ukuranya.

 

“Nona, bisakah anda menunjukan tempat gaun?” tanyaku pada seorang perempuan yang memakai baju karyawan.

 

Dia menunjukan arah tempat gaun tersebut sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk tanda mengerti dan menyusuri jalan yang di tunjukan perempuan tadi. Itu dia! Aku langsung berlari kecil menuju tempat tersebut. Gaun mana yang akan aku pilih? Aku sungguh bingung! Sudah ketemu tempatnya malah bingung…

 

Mata ku yang jernih ini terpaku melihat seorang perempuan dengan gaun putih yang ia kenakan. Gaun indah yang berbentuk pendek dan rambut lurusnya yang tergurai menambah atmosfer anggun,

 

“Maaf.. bisakah gaun mu itu untukku?” kalimat yang tidak penting aku ucapka pertama untuknya.

“Hm,” dehamnya sambil menunjuk gaun yang ia kenakan sendiri.

“Aduh.. tapi aku akan beli ini untuknya,” ucap tiba-tiba seorang perempuan di sebelahnya. Mungkin temanya,

“Aku akan bayar lebih!” ucapku tidak tanggung-tanggung,

“Hm, okelah.. bayar dulu sana, baru kau berikan aku uang tambahanmu..” ucap teman perempuan itu.

“Tunggu,”

 

Aku berjalan cepat menuju kasir.

 

“Nona, aku beli gaun yang perempuan itu kenakan,” ucapku sambil menunjukan perempuan yang mengenakan gaun,

“Harganya…. Sekian tuan,”

“Nih..” ucapku sambil menyodorkan kartu ATM, dan berlari kembali pergi ke tempat perempuan tersebut.

 

“Apakah sudah di bayar?”

“Yah sudah..” ucapku dengan ter engah-engah,

“Hye Bin, buka gaunmu.. dan berikan padanya,”

 

Hye  Bin? Apakah aku tidak salah dengar… Rasanya mengenal nama itu.

 

“Hm,” dia –Hye Bin- memberikan gaun putih itu padaku yang sudah terlipat dengan rapih.

“Jeongmal Gomawo!” ucapku sambil kembali kemeja kasir.

 

***

 

Author Pov

 

Jung Myun kembali kekasir dengan wajah yang sangat bahagia. Mengambil tas dan membawa kembali kartu ATM nya. Sedangkan Hye Bin yang masih terheran-heran hanya terdiam sambil memainkan bibirnya.

 

*

 

Hye Bin Pov

 

“Uhm,” aku mengambil kertas dan sebuah pulpen di tasku.

“Aku ingin pulang?” baca temanku yang melihat tulisanku di atas kertas. Aku menunduk dan berjalan pulang meninggalkanya di deretan pertokoan.

“Hum.” terdengar keluhan yang keluar dari bibirnya. Tapi itu tidak menurunkan niatku,

 

 

Aku berjalan lemas di pinggir trotoar komplek, banyak orang menatapku. Yah, aku anak bolos yang tidak tau malu. Berkeliaran di jalan bagai orang yang tersesat.

 

“Hum,” aku masuk ke dalam rumah. Terdengar suara bentakan yang menyambutku dengan keras.

 

“Papah bagaimana sih! Apakah Papah tidak berpikir!”

“Berpikir apa?! Mamah yang tidak tahu malu!”

“Seharusnya Mamah yang berbicara seperti itu! Lihat! Sudah berapa perempuan yang Papah… Yang Papah..”

“Yang  Papah apa?!”

“Yang Papah tiduri! Puas..! Puas buat Mamah seperti ini?!”

“Ah! Tau dari mana kau! Memangnya aku tidak tahu kalau kamu selalu membawa laki-laki muda masuk ke kamar saat aku tidak ada!”

“Aku tau karena aku melihatnya! Bagaimana dengan ucapanmu ITU! Kau hanya bisa melawan dengan kata-kata yang tidak BENAR!!”

 

Begini dan begini terus yang selalu aku dapatkan. Semenjak kakak perempuanku meninggal, orang tuaku selalu bertengkar tidak henti-henti. Mereka selalu mencari alas an untuk memulai pertengkaran. Dari membawa perempuan atau laki-laki lain seperti tadi.

Aku masuk ke kamar dengan lemas. Membaringkan tubuhku sambil mengambil sebuah foto yang sudah berdebu di atas meja kecil yang aku tutup selama enam tahun lalu. Ini fotoku dan foto seorang laki-laki yang tersenyum manis dengan giginya yang putih bersih.

 

Myun,… ucapku dalam hati sambil menaruh foto tersebut di atas meja. Aku mengalihkan pikiranku pada seorang lelaku yang berada di toko butik tadi. Dia aneh! Mau menghabiskan uangnya untuk sebuah gaun yang aku kenakan,

 

Padahal masih banyak gaun indah di sana. Mengapa ia menghabiskan uangnya untuk hal seperti ini. Lelaki yang babo,

 

*

 

“Hye Bin!!!”

“Uhm,”

“Ayo temani aku bolos lagi…” ucapnya sambil menarik tanganku.

“Hm…” aku memberontak dan melepaskan genggamanya.

“Waeyo? Kenapa?”

“Uh,” aku menggeleng dan berjalan cepat,

“Ayolah…” aku terus menggeleng. Dan yang aku dapat dia marah dan meninggalkanku.

 

***

 

Aku duduk terdiam sambil menatap langit di sepanjang pelajaran. Ini yang selalu aku kerjaan. Masuk sekolah serasa tidak masuk karena tidak pernah memperhatikan. Itu percuma,

 

Tapi ini lebih baik dari pada di rumah. Mendengar teriakan dan bentakan yang tidak henti-henti, ini membuatku gila.

 

Drrt… drt…

Bunyi handphoneku berbunyi. Aku membukanya dengan perlaha, kulihat sudah ada 2 sms masuk dengan jam dan waktu yang sama. Jam 06:66… Bagaimana bisa? Menitnya 66?

 

Ku buka dengan rasa penasaran yang menyelimutiku.

 

From : *****

To : Me

Bisakah kau menemuiku sekarang di sini? Belakang sekolah…

Apa ini?! Sms salah masuk kali yah, tapi aku penasaran..

 

Aku berdiri, dan mencari waktu yang tepat untuk guru yang di depanku itu lengah. Saat ia berbalik aku langsung bergegas menuju pintu dan keluar dari kelas. Ku larikan kakiku sepelan mungkin menuju halaman belakang sekolah.

 

*

 

Dimana dia? Hm, sms yang satu lagi mungkin… kubuka kembali handphone ku dan kembali membuka kotak masuk.

 

From : *****

To : Me

 

Kau sudah di halaman belakang? Kau pasti sedang menatapku sekarang. Aku tersenyum kearahmu 🙂

Apa maksud sms ini? Tersenyum kearahku…ini membuatku merinding, dimana dia?

 

Drrt… drt… bunyik sms kembali. Aku segera membukanya.

 

From : *****

To : Me

 

Ternyata itu benar dirimu. Terimakasih kau sudah datang, kita akan bertemu lagi…

Ha? Apa ini… apakah sms ini benar-benar untukku? Mungkin kah ini salah kirim?

 

“Hye Bin!”

“Aa!” teriakku dengan kecepatan sekajap.

“Kemajuan! Kau sudah bisa berteriak,”

“Uhm.” Dehamku yang mendapati yang mengagetkanku adalah temanku sendiri.

“Ayolah jangan berdeham lagi…”

“Hm,”

“Sedang apa kau disini?” aku menggeleng,

“Aneh! Kalau begitu ayo kembali ke kelas,”

 

***

 

Rasa cemas sampur aduk dengan takut menghantuiku. Bagaimana bisa, dia… dia seorang yang tidak aku kenal, dengan inisial lima bintang yang aneh. Mengapa ia terus menerorku. Apa salahku padanya? Aku selalu mengikuti kemauannya,

 

Drrtt..drtt…

 

From : *****

To : Me

Hei, lihatlah kedepan… dan telepon nomer ini, 08467xxxx8,,

Sekarang apa lagi, menelefonya..?

 

Aku mengalihkan pandanganku kedepan sesuai perintahnya, menekan perlahan tombol demi tombol yang ia suruh. Ku taruh telepon genggamku tepat di telingaku, menunggu seseorang mengangkatnya.

 

‘Hei!’ aku kaget dan hampir saja melepaskan teleponku,

‘H…hei,’

‘Apakah kau bisa melihatku?’

‘Melihatmu? Apa maksudmu?’

‘Aku selalu ada di sampingmu… aku sel..’

‘Tunggu! Sampingku,’ aku menengok ke sebelahku dan…

 

“Aaaa!!!” sekarang teleponku benar-benar aku lepas, lebih tepatnya aku lempar tepat di wajahnya.

“Awww!” ia mengelus-ngelus keningnya dan mengambil HP yang terjatuh di dekatnya.

“Kau?”

“Kau masih mengingatku?”

“Kau orang yang…”

“Ya aku orang yang membeli gaunmu,”

“Bukan gaunku..”

“Hm, terserahlah..”

“Bagaimana bisa?”

 

***

 

Chun Jung Myun Pov

 

“Hm,.. aku juga tidak tahu,.. Bagaimana dengan namamu?”

“Mengapa kau bertanya padaku ‘nama’ sedangkan kau selalu menerorku,”

 

Aisshhh.. yeoja ini pintar sekali. Gagal mengalihkan pembicaraan,

 

“Kau? Siapa?” tanyanya balik.

“Jung… Jung Myun,” ucapku cepat.

“Jung Myun?”

“Yah! 100 untukmu,”

“Tunggu…” dia berjalan mundur sampai ia menabrak lemari bajunya yang berwarna biru campur putih segar, lalu berbalik dan membuka nya lalu mengobrak-ngabrik seperti mencari sesuatu…

 

“Hei, aku baru sadar..” saat aku mengucapkan empat kata tersebut dia berbalik dan menatapku bingung penuh penasaran dan menghentikan pencarian gilanya.

“Kau berbicara padaku…biasanya kau hanya berdeham,”

 

Dia agak tersentak dan menarik nafas pelan-pelan, “Mengapa aku bisa bicara padamu?” aku hanya mengangkat pundak dan sedikit menggelengkan kepalaku, dia berbalik dan melanjutkan pencarian gilanya.

 

*

 

“Apakah ini dirimu?” dia menunjukan sebuah foto tepat di depan wajahku.

“Hei, bisa jauhkan itu.. aku sulit melihatnya,” ia menarik sedikir foto di depan wajahku,

 

“Bagaimana kau punya fotoku? Dan ini…”

“Ini aku,”

“Kau… jangan-jangan,”

“Ya aku Hyebin,”

 

Apakah benar? Dia sudah banyak berubah… sulit sekali mengenalinya, aku akan buat kesan yang baik untuknya, sebelum… yah,susah mengucapkanya.

***

Hyebin Pov

 

Semenjak kemarin, orang tuaku selalu menganggapku sakit. Karena aku sudah mau berbicara, dan semua teman-temanku sangat terkagum-kagum akan suaraku. Memangnya ada yang salah? Berdeham salah…bersuara salah, gimana sih…

 

Kalau yang satu ini memang salah. Mengapa dia, selalu ada di rumahku. Dan orang tuaku menyambutnya dengan baik. Seperti sudah di cuci otaknya,

 

“Bin… bisakah kau , yah..jalan-jalan denganku.”

“Hm,” aku hanya berdeham sambil mengangguk pelan. Bosan di rumah selalu di… ah sudahlah,

 

“Mau kemana?” tanyaku pelan.

“Kita ke toko keramik,?” dengan cepat  ia menarik tanganku dan membawaku ke tempat yang sudah tidak asing lagi. Toko keramik tua punya Kakek Gumiho yang masih terawat sangat  baik.

 

*

 

“Kakek!” ucapnya dengan agak berteriak.

“Suara ini.. Jung Myun?!” ucap kakek Gumiho sambil memeluk Jung Myun dengan ekspresi yang sangat bahagia.

“Ini pasti…”

“Iya kek, saya Hyebin..”

“Ohooo… sudah lama tidak bertemu, kau sudah tumbuh cantik.”ucap kakek Gumiho sambil menepuk pelan pundakku, dan aku hanya tertawa kecil,

 

“Kek… aku mau bikin keramik yah,”

“Silahkan, kakek tunggu di depan.”

 

*

 

Seperti tadi, Jung Myun sudah menariku ke tempat pembuatan keramik. ‘Ingat?’ ucapnya sambil menunjuk sebuah pot kecil yang berantakan bentuknya.

 

“Kau….”ucapku sambil sedikit menekan,

“Pasti kau mau bilang,… ‘Jangan buka aibku disini!’ benarkan?”

“Ah sudahlah..” dengan refleks aku langsung duduk di kursi kecil depan piring putaran,

“Kau mau berlomba?”

“Ayo! Akan kutunjukan AIB ku hanya kenangan lama…”

“Hahaha.. oke!”

 

***

 

Author Pov

 

Hyebin yang sudah serius dengan tembikarnya menjadi hancur gara-gara Jung Myun menyolekan sedikit tanah lihat kewajah Hyebin. “Ah… Kau ini!” teriak Hyebin sambil membalas Jung Myun dengan menhancurkan keramik yang sudah hampir jadi yang barusan di buat Jung Myun. “Hei!” teriak Jung Myun. “Itu balasannya…” ucap Hyebin sambil menjulurkan lidahnya. Dan akhirnya mereka malah kejar-kejaran,

 

“Kakek kami pulang dulu…” ucap Hyebin sambil bersalaman pada kakek Gumiho yang sudah siap di depan pintu.

“Yah.. hati-hati, datanglah lagi kesini,”

“Baik.”ucap Hyebin riang. Lalu ia menarik tangan Jung Myun yang masih mengelus-ngelus kayu toko keramik tersebut,

 

*

 

Hyebin Pov

 

“Ada apa denganmu?”

“Apa?” aku menarik nafas untuk mengulangi kata kembali.

“Aku bilang Ada Apa dengamu? Sepertinya kau tidak akan bertemu lagi dengan Kakek Gumiho dan toko keramiknya itu,”

“Uhm,.. yah.. aku merasa tidak enak saja.”

“Oh, hm,… Apakah kau akan menginap lagi di rumahku?”

“Hahahha.. kau menginginkan itu?”

“Enggak… Aku kan bertanya, jangan GR dong,,”

“Hahhaha, tenang.. aku akan pulang. Kau bisa tenang sekarang..”

 

Aku memandang lurus kedepan. Mengapa rasanya tidak rela dia meninggalkanku. Apakah ini perasaan yang baik atau buruk. Ayo Hyebin hilangkan itu.

“Bag…” seketika aku berbalik dia sudah tidak ada di tempat. Lebih tepatnya sudah tidak berada di sampingku lagi. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Aku pikir mungkin dia jahil. Ah~ sudahlah lebih baik aku pulang saja. Sudah malam,…

 

Sampai di rumah. Aku di sambut dengan baik oleh kedua orang tuaku yang sudah duduk cemas di ruang depan pintu masuk. Tatapanku langsung mengarah ketempat duduk sedang berwarna merah yang biasa di duduki Jung Myun.

 

“Umma.. kemana pemuda yang biasa duduk di situ?” tanyaku penasaran.

“Pemuda? Pemuda apa.. kau sakit nak? Lebih baik kau cepat ke kamar dan tidur..”

“Ha? Umma.. aku belum cape.”

“Ah~ sudahlah.. kau aneh hari ini nak, istirahat sana..” Umma pun menggeretku sampai ke kamar.

 

Yah aku pasti tidak akan menuruti Umma. Sampai di kamar aku hanya dia termenung, mengingat kembali kejadian yang tadi. ‘Apa maksudnya?’ Aku membaringkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamarku yang bercahaya jika tidak ku nyalakan lampu. Langit-langit ini juga di buat olehnya. ‘Ah~ kemanas ih dia?

 

Tok tuk tok tuk! Tok! Tuk!

 

Kulihat di jendelaku ada sebuah burung merpati putih yang cantik. Dia membawa tas kecil yang berisi sebuah kertas yang di gulung dengan rapih. Aku mengambil kertas tersebut dengan perlahan. Lalu burung itu pun pergi dengan cepat.

 

“Apakah ini untukku?” gumamku sendiri sambil membuka gulungan kertas tersebut.

“Tertanda untuk Hyebin..” bacaku. Aku langsung mengambil duduk yang nyaman untuk membaca.

 

Ingatkah kau dengan ku? Haha… aku adalah teman lelaki masa kecilmu dulu sebelum aku pindah dan bertemu denganmu lagi saat di Mall. Ingat lelaki yang membeli dengan paksa gaun yang baru saja kau coba.

 

“Jung Myun?” aku langsung menarik kertas tersebut tepat di wajahku. “Apakah benar ini dia? Tapi…”

 

Yah aku Jung Myun. Kau pasti menyadarinya,

Uhm.. klimaksnya. Aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Maaf aku meninggalkanmu sendirian di jalan. Aku sudah harus pergi karena waktunya habis. Sebenarnya masih lama sih. Tapi aku tidak mau membuat kenangan yang terlalu banyak denganmu. Karena itu akan membuat diriku sakit sendiri, baiklah…

“Ha? Apa ini.. sudah selesai. Ini tidak masuk akal.. dia adalah temanku. Dan, sekarang dia malah menghilang dengan meninggalkan surat yang tidak jelas ini..”

 

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menaruh kertas tersebut di atas meja. Saat aku berbalik. Di atas tempat tidurku sudah ada gaun putih yang sangat cantik. Aku mendekati gaun tersebut dengan perlahan dan memegangnya. “Bukankan ini gaun yang aku coba waktu itu?” aku mengangkat gaun tersebut dan memainkanya. “Ini aneh!”

 

*

 

Besoknya aku berkunjung kesuatu tempat. Ya toko tembikar milik Kakek Gumiho, rasanya aku sangat rindu akan tempat tersebut, padahal baru saja kemarin aku kesana.

 

“Kakek..!!” ucapku sambil memasuki pintu yang sudah rapuh tersebut.

“Kek…” panggilku berkali-kali. “Kemana dia?” aku tertunduk lemas di depan pintu. Dan tiba-tiba ada yang menepukku,

“Maaf..”

“Yah?” ucapku sambil melonjak kebelakang.

“Sedang apa anda kesini?”

“Uhm, saya mau berkunjung menemu kakek Gumiho pemilik tempat ini,” ucapku sambil menunjuk toko tembikar yang berada di belakangku.

“Mungkin anda belum tau.. kalau kakek Gumiho sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Dan tempat ini jadi kosong,”

“Ha? Baru kemarin aku kesini.. dan ada Kakek,”

“Mungkin anda hanya berhalusinasi,” ucap orang itu sambil tertawa dan meninggalkanku.

 

Aku berjalan pulang dengan kecewa sekaligus yah bagaimana.. pasti kalian tau. KAGET! Mana mungkin orang yang baru saja kemarin aku temusi sudah meninggal 4 tahun yang lalu?!

 

“Hei!” kulihat burung merpati kemarin hinggap di sebuah daha pohon. Aku pun mendekatinya, dan ia pun terbang…

 

Aku terus mengejarnya sampai ia. BRAAAKK!!! Aku tersentak. Bagaimana bisa? Burungnya.. burungnya tertabrak truk dan jatuh dengan keadaan berdarah. Kulihat dan kutatap burung tersebut yang berusaha untuk hidup tapi takdir yang berkata lain dan membuatnya meninggal. Sekilas aku melihat burung itu adalah Jung Myun,

 

“Jung Myun?” pikiran ku yang melayang keraha Jung Myun membuatku tumbang dan mengalirkan air mata yang cukup deras.

 

***

 

EPILOG :

 

“Jung Myun.. apakah kau baik-baik saja,” ucapku. Dan tentu saja tidak akan ada jawaban. Aku menaruh sebuket bunga di atas gundukan tanah tempat persiaman terakhirnya.

 

Setelah kejadian burung merpati yang tertabrak beberapa hari yang lalu. Aku terbangun sudah berada di rumah sakit. Dan keluargaku menceritakan aku di temukan di pinggirjalan pingsan sambil memeluk burung merpati yang berlumuran darah.

 

Dan orang tuaku mendapatkan telepon dari keluarga Jung Myun bahwa ia membatalkan perjanjian perjodohan di antara kami. Dengan menyesal Ummaku mengatakan bahwa Jung Myun meninggal sebulan yang lalu. Ia tertabrak saat mau menyebrang sepulang membeli gaun,

 

“Umma gak tau bagaimana bisa kau menyimpan gaun yang Jung Myun belikan untukmu?” ucap Umma ku sambil meyodorkan sebuah gaun padaku. Yah ini gaunnya, ternyata ini memang untukku.

 

Dan sekarang aku tau. Dia kembali dengan wujud yang berbeda…

 

FIN

 

Advertisements

About RPJ

annyeong^^~ i hope you like my fanfiction :o

6 responses »

  1. Yaaa kog jung myunnya meninggalsih.kasian hyebinya…!

    Reply
  2. aiiih seru… pertamanya hye bin kaya master limbad…hum.. em…

    Reply
  3. huwaaa,jd nngis sndrian gra2 bca ff ini.eh,mian bru bca.critax kren bget.endingx jg kren.aq suka krkter keduax yg sm2 kuat.ah~tuh kan,aq nngis lg.
    Ditggu ff slnjutx,oke?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: