RSS Feed

You Wouldn’t Answer My Calls : 1S : Straight

Posted on

Title : You Wouldn’t Answer My Calls

Genre : Sad

Type : Straight

Rating : PG 13

Main Cast :
~Sungmin Co-Ed
~Park Gyufira YOU

Credit Song : 2AM – You Wouldn’t Answer My Calls

Author : Han Sang Ra

***

Sungmin Pov

Kutatap handphone yang dari tadi terdiam di sebuah meja kecil di depanku. Kuingat hari ini. Tanggal 17 July. aku mengambil sebuah kotak kecil di sebelah kalender. Membuka kotak tersebut dan memainkan sepasang cincin perak yang sangat indah. Ini baru saja aku beli dua hari yang lalu.

Hari ini adalah hari setelah hari jadianku bersama cagiyaku yang seharusnya di rayakan kemarin. Memikirkannya membuat hatiku sakit. Mengapa? Mengapa ia harus meninggalkanku kemarin? Pikiran menyiksa ini terus menghantuiku. Yah.. dia memang telah meninggal. Tepatnya kemarin tanggal 16 July. Tepat saat hari jadi kami, hari jadi kami yang pertama.

Drrttt ddrrrrttt bunyi handpone yang dari tadi berdering tidak diangkat olehku. Itu memang menggangu.

“Yeobaseyo,” satu kata aku ucapkan dengan lemas.
“Yeobaseyo… mwo? Apakah kamu tidak mengingat hari ini, ini hari jadi kita. Bla bla bla…” aku tercengang mendengar suara manis dan lembut dari sisi handphone.
“Sungmin.. pokoknya aku tunggu kamu di kamar nomer 17. ingat!”

Tuuuttt tuuuttt… suara handphone dimatikan. Dimatikan dengan sangat perlahan dan membuatku masih terbengong dengan kenyataan. Bagaimana bisa? Dia… dia Fira… cagiyaku, tapi… dia kan…

Aku langsung berdiri mengambil jaket dan keluar dari rumahku. Berlari dengan kecepatan penuh menuju hotel yang dimaksud cagiyaku tadi.

Sampailah aku di depan sebuah hotel. Aku masuk dengan aura cemas menyelimuti tubuhku. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, mencari arah yang tepat untuk mendapat jalan yang cepat menuju kamar nomer 17.

Aku menemukan tangga darurat untuk para pegawai. Aku naiki tangga tersebut dengan cepat. Entah pikiran kosong langsung menyelimutiku.

Tepat sampai di ujung tangga. Kulihat beberapa pegawai polisi sedang memasang policeline untuk membatasi sebuah kamar yang sedang di selidiki. Dari jauh ada sebuah plank yang bertuliskan ‘kamar 17’. Lututku langsung mati. Rasanya sulit bergerak dan bernafas. Seluruh tubuhku gemetar.

Aku berjalan dengan sangat pelan dan guntai menuju kamar tersebut. Langkah demi langkah aku susuri dengan cemas. Tepat di depan policeline aku meliha para polisi sibuk mengurusi banyak balon yang pecah dan beberapa tali yang berceceran dimana-mana.

Aku yang tidak bisa menahan ini semua,

“Fira… firaa… Aniyo!!” ucapku sambil mengeluarkan tenaga untuk menembus penjaagan polisi dan masuk kedalam kamar.

Dan dua orang polisi mengahalangiku dan menggeretku kesebuah ruangan kosong. Aku duduk terdiam sambil menangis. Seluruh tubuhku tidak berhenti bergetar. Apakah ini mimpi? Aku terus menangis tak henti.

Tubuhku dengan refleks mengambil sebuah telepon di sebelahku. Memencet tombol. Lebih tepatnya nomer telephonenya.

“Yeobaseyo..” terdengar suara lembut seperti tadi.
“Fira, dimana kau sekarang?”
“Aku….? Aku lagi dikamar.. kemana kau, hihihi..”
“Fira jangan bukakan pintu. Tetap diam disana,” aku terus mengatakan hal seperti itu.
“Bilang saja kau sudah di depan pintu kan,, aku bukakan yah..”
“Fira jangan bukakan pintu. Tetap diam disana,” dia pun tidak menjawab lagi..

“Fira… fira!!!” teriaku. Aku berlari kembali menuju kamar 17 itu. Sekarang kamar itu sudah kosong. Para polisi sudah tidak ada disana. Aku langsung lari menerobos masuk kedalam kamar dan…

Aku jatuh. Aku tidak kuat menahan hal ini semua. Sebuah cangkir pecahan yang berlumuran darah segar milik cagiyaku sendiri. Aku terus menunduk melihat hal tersebut. Air mataku tak bisa di bendung lagi. Terus keluar, dan lebih banyak dari sebelumnya..

“Sungmin,” terdengar suara lembut dari belakang. Aku mencoba menengok kebelakang dan… dia.. dia cagiyaku sedang berdiri disana dengan tersenyum manis kearahku.

Dan kulihat sekilas kalender hari ini adalah tanggal 16 July. Tepat hari dimana ia pergi untuk selamanya.

***

Apakah aku sudah rapih untuk menemui cagiyaku? Gumamku sendiri sambil mengaca dengan menggunakan jas. Lalu mengambil mawar merah yang ada di dekat pintu yang sudah kupersiapkan sejak tadi malam.

Aku menaiki mobilku dan berhenti tepat di sebuah taman hijau yang berlonjak lonjak. Aku berjalan dengan senyum ria menyusuri taman tersebut. Tepat di sebuah taman hijau yang bergelonjak.

“Fira? Bagaimana penampilanku?? Apakah aku pantas menemuimu??”
ucapku sambil tersenyum lembut.

****

Prolog :

“Fira… dimana kau??” terdengar suara Sungmin tergesa gesa di balik telepon.
“Di kamarlah.. dimana kau?”
“Fira, pokoknya jangan bukakan pintu… diam di situ!”
Memangnya kenapa?? Apakah dia akan membuat surprise… pikir Fira dengan rasa sangat senang.

Cklek cklek…

“Fira!!!” bentak Sungmin dari balik telephone.
“Ne, kamu sudah di depan pintu kan.. aku bukakan yah…”
“Fira!! Diam di tempat,, Fira…!!! Aku tidak disana..”

Fira tidak menghiraukan apa yang di katakana Sungmin dari balik telephone. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya.
“Sungm..” ucapan bahagia untuk penyambutanya berhenti. Menjadi suram…

Ia mendapati seorang namja yang sudah siap menerkamnya dengan sebuah cangkir yang pecah. Dan itu bukan Sungmin…

***

FIN

Advertisements

About RPJ

annyeong^^~ i hope you like my fanfiction :o

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: