RSS Feed

Unprecedented : 1S : Straight

Posted on

Title : Unprecedented

Genre : Life

Main Cast : YOU. a.k.a Sylmi

Support Cast : Kim Jaejoong  (JYJ)

Other Cast :

Kim Jonghyun

Kim Kibum

Kim Heechul

Type                   : Straight

Rating                  : G – PG


Ini menakutkan. Semua dunia terasa menakutkan bila diisi oleh sesosok ‘itu’. Rasanya diriku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa diam menunggu mereka pergi baru aku berjalan. Hal ini membuatku selalu di marahi. Aku ingin sembuh … !!

==============>Black Screen<==============

Tulisan Gede nongol : 1…2…3…

Teaser… ON!

“JANGAN!!! AWAS!! MUNDUR.. MUNDUR!!!”

“AKU BILA..”

“Iya.. aku tahu.. aku tidak boleh menyentuhmu!”

“Pintar!”

“MENYINGKIR!! MENYINGKIR!!”

“Bisakah kau tidak berteriak.. aku ini..”

“Jae.. Jae.. bangun!!”

“Huf.. huf..”

“Ah~”

“Kau baik baik saja?”

“JANGAN MENYENTUHKU!!!”

Teaser OFF!!

==============>Black Screen<==============



“Umma!!! Apakah ini masih lama lagi?” keluhku melihat sebagian badanku bintik-bintik dan sedang di olesi minyak. “Entahlah anakku. Bersabarlah sedikit..” itulah yang selalu umma katakan padaku saat penyakitku kambuh. Kadang aku marah dengan jawaban itu. Itu membuatku semakin terpuruk, dan menjadi malam menjalani hidup yang seperti ini.

Ya inilah diriku, Kim Sylmi dari keluarga Kim. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku yang super sibuk. Ayahku bernama Kim Jonghyun sedangkan ummaku bernama Kim Kibum, lalu kakaku bernama Kim Heechul. Uhm,..

Appaku bekerja di indutri musik sebagai pembuat lagu dan juga sebagai arsitek yang sudah mendunia. Dia juga memiliki suara yang khas dan indah, kadang suka mengisi panggung-panggung yang terkenal. Walau begitu sampai sekarang appaku tidak bisa bahasa inggris. Bila ada pertemuan ke luar negeri appaku selalu membawa umma sebagai kamus berjalan.

Ummaku, ummaku manis dan baik, bibirnya yang merah muda dan seksi itu sangat indah di lihat. Rambutnya yang selalu berwarna baru,.. maksudnya suka gonta ganti bentuk rambut itu sangat lucu. Suaranya juga tidak kalah dari appaku, dan aku sangat terkaget bahwa ummaku itu dulu mantan rapper. Omo!

Kim heechul oppaku yang satu ini sepertinya mewarisi semua yang baik dari appa dan ummaku. Dia sangat tampan dan terlihat cantik juga. Karena ia terlalu tampan jadi terlihat cantik. Rambutnya yang suka gonta ganti juga seperti umma itu lucu. Walau tidak terlalu bisa bahasa inggris ia tidak peduli, dan selalu ‘sksd’ dengan orang yang tidak mengenalnya. Ia pintar bernyanyi dan rapper, suaranya lumayanlah. Pintar dance dan berakting. Uhm,

Tidak seperti aku. Aku mewarisi apa coba? Penyakit yang kudapat. Aishh,,, rujitlah. Suaraku memang tinggi dan besar tapi aku tidak bisa bernyanyi indah. Rapperku juga tidak terlalu bagus kadang melencong kemana ucapanku. Wajahku tidak begitu cantik, menurutku sih.. tapi entahlah menurut orang lain. AH! Sudah ah memperkenalkan diri malah jero sendiri,

“Apa lagi yang terjadi dengan Sylmi umma?” tanya appaku yang baru saja pulang sehabis berkerja. “Tadi dia tidak sengaja memegang barang yang baru saja di pegang Heechul,” jelas umma. “Heechul!!! Heechul!!” panggil appa dengan nada santai.

“Apa?… Mwo? Hahahaha…” baru saja sampai oppa ku ini langsung ngakak melihat keadaanku yang aneh. “Apa! Huh!” tantangku kesal. “Sejak kapan kita ada punya manusia rebus?” tawanya terus meledak sambil mengejekku. “Heechul.. sudah-sudah kasian dongsaengmu..” sekarang ummaku mengambil tindakan tapi tetap saja tidak menghentikan tawa oppaku ini.

“Ya sudah! Aku mau ke kamar!” aku bangkit dari kasur ummaku dan berjalan keluar. “AWAASS!!! MINGGIR!!! MUNDURR!! MUNDUR 2 LANGKAH!!!” teriakku pada appa dan oppaku. “Bisakah kau tidak berteriak Syl, suaramu tuh.. speaker volume 100!” ucap oppaku sambil di iringi beberapa tawaan dengan menutup telinganya. “YAH! AWAS!!” lanjutku lagi.

Setelah berhasil keluar… ku baringkan diriku di sofa. Menatap seluruh tanganku yang mulai berwarna merah padam seperti kepiting rebus. ‘Pantas saja oppa menyebutku manusia rebus,’ gumamku sendiri. Memang tidak perih sih, gatal pun tidak walau terdapat beribu ribu bintik di tubuhku.

Ini sudah kulalui selama 18 tahun. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menghindarinya. Tapi aku ingin sembuh… Gara-gara penyakit ini aku selalu stress dan sulit mendapatkan teman. Sekalinya bergaul dan tersentuh, semua orang langsung melirikku dengan mata yang jijik. Kadang sesekali aku mendengar mereka berkata yang tidak-tidak denganku.

“Sedang mikirin apa dongsaengku tersayang…” goda Heechul oppa sambil duduk di sebelahku. Dengan cepat aku mengambil tindakan .. “Ahh!! MUNDUR!! MUNDUR!!” teriakku kecang sambil memberi tanda untuk mundur. “Hei! Kecilkan suaramu..” “Mundur..MUNDUR!!!” lanjutku lagi. Mungkin karena tidak kuat mendengar suaraku ini, oppa pun mundur dan pindah ke kursi lain.

Ku angkat jariku tinggi-tinggi dan kutujukan padanya, “JANGAN MAIN MAIN!” bentakku sesaat. “Hufh, kau ini aneh.. aku yang menjadi oppa mu belum pernah menyentuhmu! Bagaimana aku bisa menyayangimu? Dan sekrang kau begini padaku.” keluh oppaku, “Mianhe oppa.. aku ingin sekali merasakan hangat sentuhan seorang kakak, tapi aku gak bisa oppa..” jawabku lemas. Penyakit ini begitu menggangguku, aku ingin cepat sembuh!

Malam tiba.

‘Hari suram yang keberapa ini? Huf.. aku harus makan di kamar lagi?’ batinku. Kulihat umma yang masuk membawa piring serta makanan di atasnya. “Umma.. aku ingin makan bersama,” rengekku pelan. “Kau berani mengambil resiko lagi?”tanya ummaku memastikan. Aku terdiam..

Sebenarnya aku ingin sekali. Sudah lama aku tidak makan bersama, aku ingin lihat appa dan Heechul oppa makan. Cara mereka makan sangat lucu. Tapi ini beresiko, menyentuh dikit saja barang yang mereka pegang penyakitku langsung kambuh. Ini gila!!

“Uhm.. ya sudah, aku makan di kamar saja..” ucapku pelan. Umma hanya tersenyum dan kembali ke meja makan. Baru saja umma pergi ada lagi yang masuk, “oppa?” wajahku sedikit bersinar untuk saat ini. “Kau baik-baik saja?” aku mengangguk pelan. “Belum pernah aku makan lagi bersamamu,” “Aku juga begitu!” jawabku mantap. Oppapun tersenyum. “Aku akan menunggu dirimu sembuh,” lanjutnya lagi sambil menutup pintu.

Yah.. walau oppa tidak bisa menjagaku dengan kehangatan dan sentuhanya, Tapi hati dan kata-katanya cukup membuatku nyaman.

“saeng..” ku lihat heechul oppa menatapku dari jarak yang cukup dekat. Ku sedikit menggeser karena takut penyakitku kambuh lagi. “bisakah kita bicara berdua,” lanjutnya lagi. Raut wajahnya membuatku merasa bersalah.

“memangnya ada apa oppa?” mulaiku berbicara. Walau kita hanya bicara empat mata tapi jarak kami sangat berjauhan bagai beda ruangan. “uhmm” dehamnya pelan. Ini tambah membuatku penasaran.

“oppa akan kuliah di inggris karena oppa mengambil sastra inggris.” Aku hanya menatapnya heran, ‘memangnya kenapa’ “dan nanti tidak ada yang menjagamu. Umma dan appa akan selalu sibuk dua minggu terakhir ini,” lanjutnya. “terus..” balasku bingung. “hmm.. kau tidak mengerti. Aku ini oppamu, ingin menjagamu! Tapi itu tidak bisa, apa hatimu sudah beku?”

“oppa.. bukan maksudku begitu, hanya saja….uhm…aku sudah bisa jaga diri oppa,” jawabku mencoba tersenyum. “aku tahu..aku tahu sylmi. Tapi saat aku pergi akan ada dokter yang merawatmu dan hanya berdua di rumah itu membuatku takut!” omel heechul oppa. Aku diam sejenak berpikir kalimat apa yang akan keluarkan untuk menjawab pertanyaan oppa itu.

“tidak apalah oppa diakan hanya dokter.” Jawabku pelan. “tapi dia LAKI-LAKI sylmi.” Aku tidak bergemingg, pikiranku langsung tiba-tiba penuh.

BRAAKKK!!! “appa! umma!” dobrakku keras saat pintu orang tuaku terkunci rapat, ‘aishh’ ku balikan badanku melihat pemandangan yang menggelikan. ‘appa memberi kiss mark pada umma.. ihh…’ batinku sambil terus menutup mata geli. Sesekali menyetrum diri sendiri.

“aduh ada apa sylmi, kau masuk saat appa menyantap ummamu,” suara appa yang terdengar mendekatiku lalu mengelus rambutku pelan. “appa.. umma.. kenapa kalian be..begitu jahat?” ucapku sesenggukan memulai aksi pertama. “umma jahat apa padamu?” umma mendekatiku dan memelukku lembut. ‘ahahah kau pintar acting juga syl,’ “umma mengapa kau meninggalkanku bersama dokter laki-laki,” jawabku sambil terus sesenggukan dan menambah air mata dengan tetes mata saat appa dan umma tidak melihatku.

“aduh sylmi, mianhe.. umma dan appa akan sangat sibuk.” Balas umma dengan mempererat pelukannya. ‘aksi kedua’ “umma appa jahat!” ku berjalan dengan emosi dan membanting pintu langsung masuk ke kamar. ‘yes! Aksi kedua berhasil.. tinggal menunggu umma dan appa kesini dan mengharapkanku memaafkan mereka’ aku jingkrak jingkrakan tanpa bersuara dan tak kusadari bintik-bintik merah itu mulai tumbuh kembali di kulitku. “huwa! Apa ini!!” teriakku sambil berlari keluar.

‘jduk!’ tubuhku goyah sambil berusaha menyeimbangkan diri aku melihat siapa yang kutabrak. “mianhe ajjushi~ *bow*” ucapku meminta maaf dan lari ke kamar orang tuaku. “umma!!! appa!!!” teriakku keras. Ku gedor-gedor pintu kamarnya yang tertutup rapat. “umma!!! bukakan!!!” teriakku lagi sambil panik terus menggedor pintu. ‘aissh umma dan appa kemana sih?’ batinku sambil terus menggedor keras.

“ada apa denganmu?” ku tengokan badanku tampat namja yang baaru saja aku tabrak menepukku dari belakang. Sedetik…dua detik… tiga detik… “huwaa!!! Jangan sentuh aku!! MENJAUH!!! MUNDUR!!!” perintahku saat tersadar aku tersentuh olehnya. “Hei ada apa denganmu?” tanyanya yang semakin mendekat. “MUNDUR!!!!!!!” teriakku kencang.

“hm.. jadi begitu,” gumam kecil namja itu mengerti. “kalau kau mengerti aku harap ajjushi segera pulang!” pintaku ketus sambil terus mengolesi minyak ke beberapa bagian tubuhku. “hm. Tapi.. HAH! TUNGGU! AJJUSHI KATAMU! HEH UMURKU HANYA BEDA DUA TAHUN DENGANMU!!” jelas namja tersebut yang terkaget sambil teriak-teriak di telingaku. “HEH! BISAKAH ANDA TIDAK BERTERIAK TERIAK!!! GANDENG!” balasku dengan super kencang. “YOUr VOICE, kecilkan sedikit..” ucapnya sambil menutup telinganya.

“hah… ya sudah,” aku kembali mengolesi badanku yang mulai menjadi kepiting rebus dan dia hanya mengetuk ngetuk meja pelan. “KAU BISA DIAM TIDAK!? MENGANGGU!” umpatku kesal mendengar ketukan dari jari-jarinya. “BIARIN AJAH! NI JARI-JARI GUE! LO GAK BERHAK!” balasnya. “AKU BERHAK! INI RUMAH GUE!!! DAN KAU!! SIAPA KAU!!! SEENAKNYA MASUK!!”  dia terdiam.

“eh iya yah.. ngapain aku di rumah ini?”  ucap pelan namja tersebut. “kalau begitu aku pamit. Annyeong~” ucapnya lagi sambil menunduk sembilan puluh derajat lalu berjalan ke pintu keluar.

Ku intip dia sudah selangkah keluar dari pintu, aku menghela nafas lega. “HAAA!!! TUNGGU!! AKU INI DOKTER!!! AKU DOKTERMU!!” teriak teriak namja tersebut masuk kembali kedalam. “HEH!!! BISAKAH KAU TIDAK BERTERIAK DI RUMAH ORANG! DASAR GILA!!” celetusku dengan emosi. “mianhe *bow*” ucapnya pelan.

“HUWAAAAAA!!! KAU DOKTERKU!!! AISHH!!! KENAPA DIA MENJADI DOKTERKU!!! SIAL!!!” omelku yang baru sadar bahwa ia dokterku. “HEH!! BISAKAH KAU TIDAK BERTERIAK DI RUMAH ORANG! DASAR GILA!!” celetus namja itu padaku. “mianhe *bow* ” ucapku pelan. Aku kembali duduk dan mengambil minyak yang baru saja aku letakan di meja. “TUNGGU!! HEH INI RUMAHKU!!” teriakku yang baru saja sadar akan perkataannya. “INI BUUUKKKAAANNN RUMAHMU! INI RUMAH ORANG TUAMU!!” jelasnya. “eh. Iya yah..” ku terduduk lagi sambil mencoba berpikir.

“uhm.. laper..” gumamku pelan sambil berjalan kedapur dengan memegangi perutku. Kruuyyyuukk kruuyyukk.. suara itu terus terdengar dari arah perutku. ‘sabar sabar’ batinku. Ku buka tutup makanan yang berada di meja makan. Dan kosong, ku buka kulkas memang banyak terdapat makanan sih tapi masih dalam keadaan mentah. ‘masa bikin gado-gado sih’ batinku lagi sambil mencoba mencari snack dalam lemari dan ternyata kosong juga. Krruuyykk!! ‘aduh.. laper..’

“ada apa denganmu?” nama tersebut datang dan mengambil beberapa buah makanan mentah di kulkas dan jaraknya hanya berkisar tujuh centi denganku. “MENYINGKIRR!!! MUNDUR!!!!” teriakku kencang padanya. “aiisshh.. bisakah kau tidak berteriak seperti itu. Telingaku sakit..” ucapnya pelan. “AH!! POKOKNYA MENYINGKIR DARI SINI!! KALAU TIDAK! MUNDURLAH!! MUNDUR!!!” ucapku kesal. Dia akhirnya mundur dan menuruti diriku. Aku menghela nafas lega.

“AKU PUNYA PERATURAN UNTUKMU HEH NAMJA!” teriakku saat dia sudah berjarak lima meter denganku. “mwo?” jawabnya sambil menaikan kedua alisnya dan menjunjung tinggi martabat (?) “INGAT BAIK BAIK! Aku tidak akan mengulangnya dua kali. KAU PALING DEKAT BERJARAK DENGANKU 5 METER. TIDAK BOLEH MENYENGGOLKU DI SENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA. MENYENTUHKU APA LAGI. TIDAK ADA ALASAN. AKU TIDAK AMU PENYAKITKU KAMBUH KARENAMU!! LALU MEMEGANG APAPUN DI SINI KAU HARUS MENGGUNAKAN SAPU TANGAN!!! KALAU KAU LUPA ELAP LAH BENDA TERSEBUT DENGAN SAPU TANGAN YANG STERIL. DAN INGATKAN AKU BAHWA KAU MEMEGANG BENDA YANG TANPA SEPENGETAHUANKU!! MENGERTI?!!” tanyaku tegas. Dia memiringkan kepalanya, “lalu bagaimana aku bisa menyembuhkanmu?” tanyanya padaku. Aku terdiam dan  berpikir sejenak. “ya kamu tinggal menyuruhku melakukan apa yang kau mau. Tapi jangan sesekali menyentuhku!!” jawabku asal. Nafas kecewanya terdengar kecil dari jarakku ini. “OH IYA!!” “bisakah kau tidak berteriak sylmi.. telingaku sakit.” Ujarnya pelan sambil terduduk lemas di meja makan. “YA! KALAU KAU TIDAK BERTAHAN KELUAR SAJA..”omelku asal. “uhm,” dia hanya menjawab dengan berdeham pelan.

“OH IYA DARI MANA KAU TAHU NAMAKU?” “aku hanya melihat nametag di depan kamarmu,” jawabnya pelan dengan raut wajah super lesu. “YA! KALAU BEGITU AKU HARUS TAU NAMAMU!!” BRAAAKK!! “SYLMI!!! HARGAILAH SEDIKIT DIRIKU INI!! AKU INI LEBIH TUA DARIMU!!! JANGANLAH BETERIAK TERIAK!! AKU PUNYA KUPING DAN AKU BISA MENDENGAR!!!” degh! Jantungku langsung was was melihat hal tersebut. ‘dia  marah..’ batinku. Wajahnya berubah drastis. Jadi menakutkan. I’m scary umma!!!

“ehem..ehm. mmpp.. mianhe,” dengan nada sangat bersalah aku meminta maaf dan lari ke dalam kamar. “omoo!! Apa yang aku lakukan,” desisku pelan sambil mengunci pintu dan menyumputkan diriku di balik selimut. “mianhe..mianhe…” ucapku terus sampai akhirnya aku tertidur lelap dalam balik selimut yang tebal.

“Heeiii… sylmii.. kesini.. kesini…” ku dekati pelan suara tersebut. “kau mau makan… makanlah.. makanlah…” suara itu terus menuntunku ke sebuah meja makan yang sangat besar. Tubuhku menyusut bagai liliput, dan makanan di sana terlihat sangat besar. “ayoo makan… makan..” ucap suara itu menggodaku. Ku ambil beberapa daging ayam yang ku potong sekecil mungkin agar berukuran sesuai denganku. “mmpp kenyangnya…” ucapku pelan. “sekarang kau gemukk.. gemuk…” ucap suara itu. Aku melihat perutku yang melar bagai bola bowling yang sangat besar. “omo! Apa ini!!” teriakku kencang. “JAYAAAAHAHHAAHHA!!!” ku balikan badanku yang berat ini dan ku tatap sesosok raksaksa besar membawa garpu dan pisau. “huwaa!!!” teriakku. “sini kau makananku!!!” aku terus berlari menghindari garpu dan pisau yang ia tusuk tusuk ke meja karena tidak mengenaiku dan sampai akhirnya “boo!”

“AAAHHHH!!!!” ku hentakan badanku saat terbangun. Keringat dingin yang mengucur deras dari pelipis dan punggungku membuat bajuku basah. “aisshhh panas.. panas..” aku terengah engah dan mengipasi kecil wajahku dengan tangan. “panas.. panass!!!” teriakku sambil berusaha membuka baju. Satu demi satu kancingku kubuka, “hei! Apa yang mau kau lakukan?” ku balikan badanku pelan mencari sumber suara tersebut , “HUWAA!!! MENGAPA KAU BISA MASUK!!! DAN..” kulirik sebentar kancing bajuku yang terlepas sudah memperlihatkan warna pakaian dalam yang aku kenakan, “HEH!!! TUTUP MATAMU JANGAN MELIHAT KESINI!!!” teriakku sambil melemparinya dengan bantal. “ya ya ya.. aku belum lihat apa-apa kok. Hanya….mmpphh… warna bra mu…. Apakah warna biru muda?” tanyanya polos. Wajahku langsung merah padam, “KAU NAMJA GILA!!!! PERGI!! PERGI!!!” teriakku dengan mengakhiri melemparnya dengan jam kecil di mejaku.

“Heh bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?” tanyaku sambil menyantap nasi goreng sarapan pagi dengan jarak yang sangat jauh buatannya. “uhm, entahlah. Pintu kamarmu ada dua kan aku masuk kepintu yang tidak dikunci.” Mataku terbelalak saat menyadari bahwa aku mempunyai dua pintu. “uhm, terus.. mengapa kau masuk ke dalam kamarku?” tanyaku gugup. Dia berpikir sejenak lalu memasang evil smile. “aku mendengarmu mendesah hebat jadi aku masuk,” jawabnya dengan terkekeh. “DASAR NAMJA YADONG!!!” teriakku sambil melemparinya dengan sendok dan garpu. “Eiittsss,,… tenanglah. Itu bohong aku masuk karena kau berteriak teriak. Kau mimpi apa?” “Tidak penting!” jawabku malas lalu menaruh piring ke tempat cuci lalu berjalan melalui ke ruang TV.

“Kau sebenarnya sa..” “AAHH!!! JAUHKAN DIRIMU!!! INGAT JARAK JARAK!!!” teriakku memotong pembicaraannya. Dia lalu mundur dua langkah dan menghela nafas, “Bisakah kau tidak berteriak.. baru saja kau teridam dengan suara bisa dan sekarang.. asisshh,, ” keluhnya sambil duduk dengan jarak dua kotak sofa. ‘mmpphhh tenangkan dirimu sylmi, masih berjarak masih berjarak’ “hmm.. kau berani sekali menonton film itu?” kulihat dirinya yang menunjuk film di TV tersebut.

Aku tidak mengerti maksudnya tapi kulihat layar TV dan, “mppphh… hhhh… ayo.. terus… ahhh…” “omo! Film apa ini?” ku ganti channel dengan asal. Tak tak tak.. suara remote yang ku tekan dengan keras. “ahhh!!! Teruuss,… huuuwaaa…. Belum cukup.. lebih lebar baby,,,” “huwaaa!!! Lagi-lagi salah channel…” tak tak tak… “pesanlah aku sekarang telepon ke 06566******* aku selalu siap.. ahhh~” “AAH!!! IKLAN APA INI!! GILA!!!” rasanya tanganku gemas ingin melempar remote ini ke layar TV biar pecah dan aku tidak melihat adegan ‘syurr’ seperti tadi, “Ah tangamu bejat! Sinikan remote nya!” dengan paksa dia merebat remote yang baru saja mau aku lemparkan dan tangan kami bersentuhan tapi aku tidak sadar. Diapun begitu. “nah! Ini ajah!” gumamnya setelah mendapat channel film horror! “aihh!!! Jangan ini! Kartun ajah… ahh… AAAAA!!!!” jeng jeng jeng jeng suara TV menggelegar. “ganti namja babo!!! aaaaa!!!” teriakku keras padahal tidak ada hantu disana, hanya suara yang menakutkan. “AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!” teriaku lagi saat hantu tersebut muncul menampakan diri di layar TV yang besar ini. “aaiisshshhh!! Gandeng!!” cibir namja tersebut dengan asyik masih menonton.

“aa!!!” teriakku lagi, tapi berhenti saat ia membungkam mulutku dengan telapak tangan kanannya dan tangan kirinya seperti merangkulku dari belakang, “diamlah..” bisiknya padaku. Ku mengehela nafas pelan. Dia membalikan tubuhku dan memegang kedua pundakku dengan tanganya yang besar. “kau takut sekarang?” tanyanya lembut. Aku menggeleng. “kalau begitu diamlah..” ucapnya sambil mengelus pipiku. Lama kelamaan dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku hanya bisa mematung, dan terasa pipiku mengepul karena panas. Dia menurunkan tanganya dan mengelus bibirku lembut, dengan sedetik di mengecup bibirku lembut. Lalu melepasnya dan menatapku “lagi” gumamnya dan ia terus terus mengecupku dan akhirnya melumat bibirku. Dengan refleks aku merangkul lehernya dan menikmatinya. Dia juga memelukku erat hingga ku tidak bisda terlepas dan… BRRAAAAKK!! “sylmi!” ku tersentak mendapati heechul oppa berdiri di ambang pintu.

“AAAAA!!!” teriakku. Aku bangun dengan selimut menutupiku sampai ke bagian atas. Ku elap pelan keringat yang mengalir di wajahku. Ku mengendus pelan. ‘kok dingin sih..’ gumamku padahal aku memakai selimut. Ssrriitt! Bunyi sebuah seleting. “HAH! KAU NGAPAIN DIKAMARKU!!” kulihat namja tersebut memunggungiku dengan tidak memakai atasan pakaian. “lihat saja dirimu..” ucap nya enteng sambil berbalik menatapku. Ku kerutkan keningku dan ku intip tubuhku di balik selimut, “omo!!! Mengapa aku tidak memakai apapun!!?” teriakku. “jangan-jangan…AAAA!!!!”

“Heh! Kau.. bangun! Mimpi apa sih!!” ku rasakan tubuhku berat. Dug dug dug!! “bangun yeoja babo!!!” rasanya punggungku seperti di pukul pukul dengan benda tumpul. Ku kerjap-kerjapkan mataku lalu ku kucek kucek mencari kesadaran. Dug dug dug!! “heh! Bangun!!!” ‘suara itu?’ ku balikan tubuhku kebelakang dan BUG! Benda tumpul mendarat dengan mantap di wajahku. “ooopss” “hrrrrggg! Kau ya!!!” teriakku melempaar balik benda tersebut. “mianhe mianhe…*bow* soalnya kau ketiduran di meja makan.” Ucapnya. ‘ketiduran.. jadi tadi…baguslah kalau itu hanya mimpi’ “uhm, ya sudah. Aku mau ke kamar!” umpatku kesal. “tunggu..”

“Eeiittss … AKU BILA..”

“Iya.. aku tahu.. aku tidak boleh menyentuhmu!”

“Pintar!”

“Tapi,… aku sebagai dokter belum tahu penyakitmu..” aku terdiam. “aku alergi akan makhluk sepertimu!” jawabku kasar dan masuk ke dalam kamar.

“oh iya!” aku kembali keluar dengan hanya menongolkan kepala, “apa?” tanyanya. “siapa namamu??”

“Jaejoong Kim.. Kim Jaejoong imnida,”

“ohahhah.. Kim Sylmi imnida..” balasku sambil tersenyum dengan gigi kuda lalu masuk ke dalam.

++Jaejoong Pov++

“apa nama penyakit itu yah.. alergi denganku.. ush! Susah menyembuhkannya..” gumamku pelan sambil mengotak ngatik situs dan internet mencari cara mengobati dirinya. “ah ini dia! Mmphh.. oh.. ya!”

Klek!! Pintu kamarku terbuka dan kulihat sylmi menongolkan kepalanya. “apakah mengganggu?” tanyanya sebelum masuk. Aku menggeleng pelan, ia pun masuk dengan membawa boneka beruang coklat yang besar. “kau kenapa?” tanyaku. Ia duduk di kasurku sambil memeluk bonekanya.

“mpphh.. aku takut tidur sendiri,” keluhnya padaku. “terus aku harus berbuat apa? Aku tidak mungkin sekasur denganmu..” lirihku pelan. “aku juga perbikir begitu, tapi.. tapi aku takut..” keluhnya lagi. “hhmm.. aku harus gimana?” tanyaku pada diri sendiri sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak terasa gatal sama sekali.

“bagaimana kalau kau tidur di atas, aku tidur di bawah..” jawabku asal. Dia sedikit mengerutkan kening dan tersenyum lebar. “aku tahu maksudmu,” ucapnya mantap. Tiba waktunya tidur, ku keluarkan kasur bawah di bawah kasurnya. Kasur kami (?) pun terlihat seperti tangga. “kau sudah siap?” tanyaku nakal. “ihh!!!” balasnya sambil melempar guling kearahku. “hehehe.. ” tawaku kecil.

“Jae.. jae..aduh.. aku harus gimana? Jae oppa.. oppa.. bangun… ahh…aisshhh.. kumaha ieu…” ku buka mataku yang terasa berat. Dengan masih kunang-kunang ada sesosok makhluk yang dari tadi bolak balik di depanku. “sylmi..” lirihku pelan. Kurasakan seluruh tubuhku lemas, dan terasa amat panas di pipiku. “kau sudah bangun..? aduh…bagaimana keadaanmu?” aku hanya mengerang sesaat mencoba menopang tubuhku untuk bangun. “aisshhh… tidur saja dulu…” omelnya tanpa menyentuhku.

“angkat aku..” lirihku ingin duduk. “ANI! GAK MAU! ANDAWAE..!!!! BLEEEE…” bentaknya tiba-tiba. “ahmmppphh..” rintihku kecil. “aduh… opppa mianhe, tadi aku sengaja.. maksudnya tidak sengaja.. ummpphhh…sini..” dia mengulurkan tangan aku menatapnya yang sedikit sedikit meneguk salivanya. ‘apakah dia gugp atau takut?’ batinku. Setelah berpikir sejenak aku menggeleng. “wae?” tanyanya. “kau.. tidak usah memaksakan diri.. aku bisa bangun tanpa bantuanmu kok,” ucapku lemah. BAK! “NAH.. gitu dong!! Aku kan jadi tidak us….AAAAA!!!!”

++Sylmi Pov++

Aku mengulurkan tangan. Kawatir sih enggak, cemas juga enggak, tapi kalau dia mati aku takut di tuduh. Dia terdiam seperti berpikir sesuatu, “kau.. tidak usah memaksakan diri.. aku bisa bangun tanpa bantuanmu kok,” ucapnya pelan. BAK!! Aku memukul punggungnya karena terlalu semangat dan senang, “NAH.. gitu dong!! Aku kan jadi tidak us….AAAAA!!!!” tak kusadari rasa bahagia ini membuatku menyentuhnya. Aku langsung lari masuk kamar mandi. Kuperiksa setiap jengkal dan centi di tubuhku bahkan mili (?) mencari apakah muncul bintik-bintik merah.

Ku tatap wajahku di cermin, ‘masih bersih’ gumamku sambil mendekatkan wajahku ke cermin. Ku lihat tanganku dan kakiku. ‘tidak terjadi apa-apa,’ gumamku lagi. “apakah aku sembuh?” tanyaku pada diri sendiri. “umhmm ya sudahlah..” gumaku lagi sambil keluar dan membuka pintu. BRUUKK!! “AAAA!!! JAE!!! BANGUN!!! JANGAN MENIDURI BADANKU INI!!! HEH!!” ku hentakan tubuhnya dan ku pukul dia dengan keras. Tapi tidak bereaksi, dia pingsan. “HEH!!! BANGUN!!!!!!” teriakku tak bisa berdiri. Badannya terlalu berat. “uhm..” ku tatap wajahnya lekat-lekat. Ku pegang pipinya yang panas, dan kurasakan hembusan nafas panasnya di leherku tipis. “dia benar-benar sakit..” ucapku pelan.  Plup! Ku lihat tangan ku yang mulai terhujani bintik-bintik merah kembali. “aisshhh…. AAHH!!!” dengan refleks aku bisa bangkit dan mendorong tubuhnya ke lantai hingga terbanting lalu aku lari secepatnya ke kamar mencari minyak oles tapi —–

++Jaejoong Pov++

“aduh.. punggungku..” rintihku sambil mencoba berdiri. ‘rasanya seperti di banting atau jatuh dari lantai dua (?)’ batinku. Ku coba berjalan dengan tertatih mencari obat pegel linu. Plekk.. plekk.. “kenapa lantainya jadi empuk yah?” gumamku sambil sedikit menginjak-nginjak lantai. Plekk.. ‘umm..’ “AAA!!!!!!” ku langsung terlonjat ke lantai dan terpaku terpana melihat sosok tubuh mungil yang baru saja aku injak-injak. “omo!!! SYLMI!!!”

++Sylmi Pov++

“Ah~” keluhku sambil memegang perut yang teramat sakit.

“Kau baik baik saja?”

“JANGAN MENYENTUHKU!!!” umpatku sambil menyikir dari hadapan namja cantik di depanku. “mia..” “JANGAN BERKATA APAPUN!! AKU TIDAK MAU DENGAR APAPUN!!” omelku. “ta..” “DIAM!!! SHUT UP BOY!!” ucapku keras. Dia terdiam sambil menundukan wajahnya, “PERGI!!! AKU TIDAK MAU MELIHAT WAJAH MEMELAS DIRIMU ITU!!! PERGI!!!” usirku kesal. “syl..” “JANGAN PANGGIL NAMAKU!!! SANA PERGI!!!!!” ku tending terus dirinya dengan sisa tenagaku. “PERGI!!! PERGI!!!” rengekku. Dia pun berdiri dan pergi dari hadapanku,

Ku mengendus kesal. Ku jalankan perlahan kakiku menuju kamar. “uhm..” keluhku sebelum aku terhenyak tidur.

“mmphhh..harum apa ini?” ku cium harum semerbak makanan dari lantai bawah. ku lari kecil menuju ke bawah. Tampak di meja makan berjajar makanan yang lezat terpampang di sana. “omoo!! Siapa yang memasak ini?” tanyaku sendiri sambil menyendok satu makanan dan melahapnya. “mpphh.. enak!” aku langsung duduk di meja makan dan mengambil beberapa lauk lalu memakannya. “Jae!!! Jae!!! Ayo makan!!!” teriakku kencang. Ngok.. ngok.. tidak ada jawaban. “JAE!!!!” teriakku lebih kecang. Dan tidak ada respon juga, “Jae?” ku pelankan suaraku. Tapi tetap saja hanya sunyi senyap yang aku dapat. Brrakk! Ku banting sendok dan garpuku. Nafsu makanku langsung hilang sekejap. Rasanya lapar tapi tidak mau makan.

“uhm..” keluhku sambil duduk di depan TV. “kemana dia..?” tanyaku kecil. Ya tentu saja tidak akan ada yang menjawab, semuanya di sekitarku hanya benda mati. Ku otak atik channel TV mencari reality yang bagus, tapi percuma itu hanya membuatku muak saat melihat group TVXQ yang memiliki member yang sama dengan orang yang menghilang dari rumahku ini.

Ku lihat sekilas jam yang sudah menunjukan pukul 9 petang. “uhm,” aku hanya bisa berdeham. Aku menonton TV dengan tatapan kosong entah apa yang aku tonton. Tidak tahu… rasanya seperti orang buta yang memiliki mata untuk melihat. “ngg,” erangku kesal. ‘kemana sih dia?’ batinku.

Ku terus menatap TV dengan tatapaan kosong. Sampai terdengar dentengan jam dinding raksaksa 4 kali. ‘aihh, udah jam 11 malam,’ gumamku. Sesekali aku menguap besar. Setelah berpikir pendek aku pun menyerah, aku mematikan TV dan beranjak ke kamar. Cklek! Ku menghentikan langkahku dan berjinjit bersembunyi di belakang pintu. “Ah~..,” terdengar suara orang yang sepertinya orang yang sendari tadi aku tunggu menghela nafasnya. BRAK! Ku dorong pintu keras. Dugh! Sepertinya tepat terkena di wajahnya.

“HEI!! DARI MANA SAJA KAU HAH!! MENINGGALKANKU SENDIRI!!! TAU GAK AKU JADI GAK NAFSU MAKAN…!! NGERTI GAK SI LO!!” omelku kesal dari balik pintu, “RASAKAN TUH KE JEDOT PINTU!!! HAHAHA” lanjutku dengan tertawa maksa. “Aisshh… saeng… ada apa denganmu… aduh…,” aku terdiam sejenak, mengingat ngingat suara yang sudah lama menghilang dari pikiranku. ._.? aku berpikir kembali, -.- ‘aduh siapa sih?’ batinku. Mppphh? “Oppa?” loncatku keluar dari pesembunyian dan menatap sesosok namja dengan bibir tebal dan merah serta rambutnya yang pendek dan hitam sedang mengelus-ngelus keningnya yang habis ke jedot pintu. “Eeiits, kau bukan oppa ku! Siapa kau!!! Maling!!!”teriakku. “Suut suut…, aku Heechul!!” potong namja tersebut yang memanggil dirinya Heechul sebelum super toa ku keluar.

“Aniyo! Aku tau kau berbohong! Oppaku itu mempunya rambut yang panjang dan indah, warnanya pasti bukan hitam. Dia cantik dan manis, lembut dan baik.” “Jeongmal gasahamnida,” potong namja itu. “Eit! Ini aku ungkapkan untuk oppaku bukan buatmu!! HUH! Sana pergi… hus hus,” usirku. “Aduh saeng, jangan bercanda malem malem deh… oppa kedinginan nih, mau masuk.” Keluhnya sambil menerobos masuk. “Ah.. gak mau!! ANDWAE!! Buktikan kalau kau oppaku,” kataku meninginkan bukti bukan janji (?). “ah~” dia menghela nafas dan terlihat uapan nafasnya. “Nih! Lihat… aku punya foto keluarga! Aku tau penyakitmu! Dan… ah segitu saja,” ucapnya pelan. “Emang penyakitku apa?!” tantangku masih penasaran. “KAU ALERGI LAKI-LAKI!!! PUAS!!? Oppa mau masuk,” namja itu pun menerobos masuk. Dan aku mematung seketika di depan pintu, “Gansahamnida,” bisiknya pelan. ‘aahhh!!! Aku yeoja babo, benar-benar… mengapa aku memuji oppa di depan orangnya, memalukan… huhuuu…’ rasanya pipiku panas dan merah.

“Hei! Masuklah… dan cepat tidur. Ini sudah malam,”  teriak oppa dari dalam. Aku menaikan sedikit pundaku  dan mengurung kepalaku di sana karena malu dan berjalan ke kamar.

Tak tak tak… bruuk…. Tak tak tak… auch! Tak tak tak… prang pring…

“Uhm.. bunyi apa sih itu?” gumamku yang terbangun dengan bisingnya kekacauan ini. “mmpphhh… mpphh…,” rasanya ada yang bernafas di tengkukku.  “mpphh…,” nafasnya hangat. Ku balikan kepalaku, “Uwaa!!! JAE!!!!!!” dia tidak merespon. “Aduh… aku haru pergi dari sini,” ucapku sambil bangkit dan rasanya tubuhku berat. “Ah!! Ah!!” keluhku tak bisa bergerak. Ku buka selimut yang menutupi badanku. Tampak besi kuat menahan tubuhku dan tubuh Jae sehingga tidak bisa bergerak “Aisshh… oppa!! Oppa!!” panggilku yang mengingat Heechul oppa sudah pulang. “Oppa!!!” “Ne!!! ada apa saeng?” teriaknya membalas. “Kesini!!!” teriakku lagi. Terdengar suara langkah kaki menuju kamarku. Klek… “Saeng hihiiiihiii…” “Huwaaa!!!!!!”

“Aduh! Ada apa denganmu hei?” Heechul oppa sudah duduk di kasur sambil menatapku heran. Ku rasakan keringat dingin mengalir di pelipisku. Nafasku tidak stabil. “Ada apa?” tanya oppa lagi. “Aku mimpi oppa jadi hantu!! Huwaaa><” mengingat kembali membuatku amat takut. Ku tengokan badanku dan tidak ada Jae disana. “Sudahlah…,” peluk oppa padaku. Pelukannya amat canggung.

“Ne…. hosh.. hosh.. ne..” jawabku sambil ter engah-engah. “Oh iya, tadi malam ada seorang lelaki masuk.” “Jae?” tanyaku spontan. “Mungkin, dia tidak menyebutkan namanya… aku hanya menyuruhnya tidur di sofa,” ucap oppa. “Sekarang dia kemana?” tanyaku antusias. “Lagi di bawah memasak.” Aku berbegas turun ke bawah dengan cepat. “Jae!!” teriakku senang sampai tak menyadari ada air di tangga dan aku. Bletak!!

“Aiissh… pantatku,” keluhku sambil mencoba bangun. “Aku bantu!” terlihat Jae disana langsung menggendongku. “Dari mana saja kau?!” tanyaku ketus. “Aku hanya keluar sebentar…, kau kan waktu marah padaku. Jadi mungkin aku pikir kau butuh waktu sendiri… wae?” tanya balik. Aku terdiam, “mphh..” “Kau kangen aku yah,” potongnya. “Uh! Kalau iya kenapa?” balasku jujur.

++Jaejoong Pov++

“Kau kangen aku yah,” potongku dengan semangat PD membara. “Uh! Kalau iya kenapa?” balasnya sambil tersipu malu. “Ahaha… menikah denganku! Mau?” tanyaku asal. Wajahnya semakin memerah…

“Eiittsss!! Jangan menebar kemesraan di depanku!!! Sini berikan dongsaengku!!” namja yang tiba-tiba datang dengan paras awet mudanya (?) menagih yeodongsaeng nya yang baru saja aku gendong. “Nih,” ku berikan padanya. “Turunkan saja dia… dia berat!” ucapnya. “Oppa!!! Kau ini!!!” keluh Sylmi sambil mencubit perut namja tersebut keras.

“Eh eh!!  Mentang-mentang sudah sembuh… kau berani beraninya mencubitku?”  ucap namja tersebut sambil melepaskan tangan Sylmi dari perutnya. Aku hanya tertawa melihat itu. Sylmi pun terdiam menatap tanganya, meratapi (?) apa yang baru saja ia lakukan. Ia menyentuh apa yang selama ini ia larang sendiri. Ia memegangnya. Ia mencubitnya. Lalu  ia menatapku sambil memiringkan kepalany, aku menyambut dia sambil tersenyum, “Kau sembuh!” lanjutku semangat. “Oppa!!!! Aku sembuh!!” dia membalikan badanya dan memeluk namja tersebut erat. Namja memeluk Sylmi dan melayangkannya di udara. “Haha!” tawaku garing sambil pergi meninggalkan mereka yang sudah menganggapku kambing conge.

Mereka terus bersenda gurau tampa memikirkan ada aku disana. Ku berjalan ke atas menuju Balkon. Melihat mereka yang asyik bercanda membuatku muak. ‘Hei Sylmi! Lihatlah kemari!!! Aku yang menyembuhkanmu!! Huhuuu…,’ rengekku dalam hati. Sampai di Balkon aku naiki pagarnya dan duduk di atas pagar. Kaki ku menggantung melayang layang.  Semua beban aku tumpukan ke kaki. Tapi itu tidak membuatku jatuh. Karena aku duduk dengan seimbang di pagar. “Hahaha…,” terdengar suara cekikikan dari arah bawah membuatku mual. “Ikh!” pekikku kesal. Aku menatap langit gusar, entah aku melamun atau aku memang menatapnya. Ku goyangkan terus kakiku seperti anak kecil.

“TIN!!! TIN!!” suara klakson mengalihkan pandanganku dari menatap langit menjadi mencari sumber suara itu. Ku lihat di jalan sebuah truck besar berkecepatan tinggi terus mengklakson seperti orang gila, ‘ada ada sih?’ gumamku mencari cari sesuatu. “Omo!! Anak kecil,” teriakku melihat beberapa anak kecil yang tertawa riang dan tidak memperhatikan jalan saat ia menyebarang. “AWAS!!!” dengan posisiku yang tidak wajar dan ingin menolongnya tanpa sadar aku malah meloncat dari rumah yang berlantai dua tersebut.

++Sylmi Pov++

“Oppa aku sembuh!!” teriakku lagi menggema tepat di telinga Heechul oppa. “Iya iya… kau sudah mengatakan itu berpuluh puluh kali,” terang Heechul oppa sambil menutup telinganya. Aku hanya terkekeh kecil dan mengucapkan kata-kata itu kembali, ini hari bahagia sepanjang hidupku! Alergiku sembuh!!!!

“TADA!!! PREETT PREEET!!!”  kesenanganku langsung suram menatap pintu kamar appa dan umma terbuka dengan keluarnya mereka sambil meniup terompet dan membawa beberapa balon dan bolu. “Sylmi!!! Anak umma udah sembuh,” ummaku langsung berlari mengahampiriku dan mau memeluku tapi aku menghindar sehingga ia terjatuh dan kepalanya terbentur lantai. “Sylmi! Kau ini kasian ummamu,” omel appaku sambil membantu ummaku berdiri.

“Sejak kapan kalian disitu?” tanyaku dengan emosi. “Kapan kalian pulang?” tanyaku lagi. Mereka saling menatap dan tersenyum lebar. “Hehe,” tawaku garing sambil menatap mereka kesal. “Aduh Sylmi mianhe…, appa dan umma dari awal mengurung diri di kamar.” Jelas umma padaku. “Jadi kalian selama ini…?” “Ya kami melihatmu bercanda dengan dokter dan melakukan hal sebagainya,” potong appa sambil tertawa lepas. “Hah?” aku hanya bisa terdiam dan menatap mereka aneh. Mereka begitu senang mengerjaiku. ‘Huh!’ keluhku dalam hati.

“Umma dan appa kapan pulang?” tanya Heechul oppa yang baru balik dari dapur. ‘bahkan anak tertua pun di tipu, ngek?’ batinku. “Hehehe, umma dan appa kan punya pesawat jet!” “Jadi cepat sampai!” balas mereka –umma dan appa- dengan watados. “Oppa mereka dari awal bersembunyi di kamar,” potongku membuka aib. “Hah? Jadi umma dan appa selama ini menipuku? Katanya cari uang…?” goda Heechul oppa.

“Uhm, hheeh, ketahuan… kita emang cari uang kok,” balas umma gugup. “Banyak anak banyak rezeki!” potong appa. Ini membuatku bingung, “Ohoooohooo aku mengerti maksudmu appa… hahaha.” Tawa Heechul oppa. “Memang apa sih? Aku gak ngerti?” keluhku bingung. “Umma dan appa bikin adik baru!” #ngek?

BRUUUKK!!!

Jantungku terhentak sesaat mendengar pernytaan umma dan suara yang keras dari luar. Seperti sapi yang jatuh dari langit (?). Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari keluar di susul dengan Heechul oppa dan Key umma lalu Jjong appa.

“Aduh aduh Jae.. ngapain kamu berbaring disitu?” kataku sambil bertolak pinggang menatap Jae tiarap di tanah yang jeblos membentuk badannya. “Syl, bantuin bangun dong… susdah nih,” keluh Jae hanya bisa menggerakan jari-jarinya saja. “Ah~” ku angkat badanya.

“Wah wah!!! Kau jatuh dari atas!! Lihat tanahnya membentuk badanmu hahaha,” tawa Heechul oppa entah dia khawatir atau mengejek. Sepertinya mengejek. “Omo! Omo!!! Lihat bentuk tanah yang eksotis ini umma!” “Ne, ne, kita tanami bunya yuk appa!” bincang umma dan appaku.

Aku tak mau ikut gila mengasingkan diriku dan duduk di teras melihat mereka bertiga –umma, appa dan Heechul oppa- menganggumi rembesnya tanah gara’’ bada Jae. “Kau sakit?” tanyaku padanya yang meringis. “Manurutmu… aduh…” ringisnya. “Kayaknya tidak,” godaku. “Jahat sekali kau, sakit tahu,” ringisnya lagi. “Kalau sakit aku harus gimana?” tanyaku pura-pura bodoh. “Yah cium aku lah,” aku mengerutkan alisku. “Jawabannya gak nyambung tau!!!” huh! Aku pukul kakinya. “Ah… nyeri babo!” ringisnya lagi.

“Kok bisa jatuh?” tanyaku. “Ah sudahlah, ini membuatku tambah sakit.” Ringisnya. Ia terus meringis. Aku menarik nafas pelan, dan chu! Ku layangkan bibirku ke bibirnya. “Kalau begini bagaimana?” tanyaku sambil menaruh tangaku di pinggang dan memiringkan kepalaku. “Kau suka padaku yah??” ‘yah ini anak malah menggoda,’ “Uhm, mau bohong atau jujur?” balasku asal. “Jujur!” jawabnya. “Tidak! Aku tidak menyukaimu… kekeke,” “ah!! Kalau gitu aku mau bohong ajah.. bohong!!” rengeknya. “Aku juga tidak menyukaimu,” jawabku bohong.

“Huh!” dia kembungkan pipinya. ‘ini aku yang perempuan atau dia sih?’ batinku. “Hmmphh..” aku mengendus kesal. “Kalau aku meminangmu bagaimana?” tanya tiba-tiba. “Bilang saja pada orang tuaku. Tuh lagi gila!” jawabku sambil terkekeh. “Umma! Appa!! aku mau menikahi anakmu bolehkah?” teriakknya. “SILAHKAN!!!” teriak umma dan appa yang sibuk menanam bibit bunga. “ANDWAE!!” teriakku. “Tidak bisa, aku sudah meminta izin dan kau harus menurut.” ucap Jae keras.

“Tidak mau!!! Tidak mau!!” keluhku.

+++

Author Pov

Sylmi yang lambat laun merubah hatinya dan menerima pinangan Jae sekarang sedang bergegas memakai gaun untuk pernikahanya. “Umma, tolong rapihkan rambutku.” ucap Sylmi sambil menatap dirinya di kaca dengan gaun cantik dan beberapa ruby disekitarnya. Sylmi yang sebenarnya sudah memendam perasaan lama kepada Jae, telah ia keluarkan. Dulu ia menolak Jae hanya menguji apakah dia setia atau akan mencari pengganti hidup yang lain. Tapi Jae begitu setia. Jae yang sudah lama tinggal di rumah Sylmi dan tidur sekamar walau beda kasur membuat Sylmi sudah nyaman bersamanya. Tapi entah rasanya perasaan Sylmi menjadi gusar.

“Umma, Appa apakah Jae belum datang?” tanyannya cemas. “Kau menghawatirkannya yah saengku…kekeke,” goda Heechul yang sedang berdandan di depan kaca. “Hum,” Sylmi malah mengendus kesal. ‘kemana dia? Menghilang terus,’ batin Sylmi.

“Sylmi!!! Mianhe!!!” dengan isakan dan tangisan yang lebeh appa masuk dan menggunakan gaun Sylmi sebagai tempat buang ingusnya. “Ada apa appa?” tanya Sylmi yang tidak memperdulikan gaunnya.

“Pernikahan mu batal nak, batal… huwaa T_T,” jelas appa sambil mengelap kembali ingusnya ke gaun Sylmi. “Kenapa appa kenapa?” tanya Sylmi cemas. “Ada apa dengan Jae?” tanya nya lagi. “Dia.. dia…”

Sylmi menatap polos bunga-bunga yang sudah tumbuh di tanah hempasan badan Jae yang terjadi berbulan bulan lalu. Ia tersenyum tipis melihat beberapa kupu-kupu yang menikmati bunga-bunga tersebut. “Kalian senang yah?” gumam Sylmi melihat hal itu. “Seandainya aku begitu.” Lanjut Sylmi saat melihat sepasang burung terbang bersama.

“Tapi itu tidak mungkin! Dia.. dia.. sudah..”

“Sylmi!!!!” suara nan keras itu menghancurkan tangisan yang baru di mulai Sylmi. “Apa Jae?” balas Sylmi pada teriakan itu. “Ambilkan aku minya oles!!! Pake sapu tangan ingat!! Penyakitku kambuh!!! Aku tidak sadar memegang bajumu,” Sylmi menghela nafas dan berjalan mengambil sapu tangan untuk mengambil apa yang di pinta calon nam pyeonnya itu.

Yah pernikahan Sylmi gagal gara-gara penyakitnya menular. Dan menyebabkan Jae terkena Alergi pada wanita. Itulah yang menyebabkan mereka tidak akan bisa bersama sampai alergi Jae sembuh.

“Sylmi!! Paliiiiiii!!!!” teriak Jae menggema, “Bentar!!!!” keluh Sylmi sambil berjalan menuju sumber suara.

FIN

*GIMANA?? MENGHIBUR??*

*MINTA KOMENTERNYA YAH!!!!*

*BONUS PICTURE DEH KALAU NIH FF GAK MENGHIBUR,*


Advertisements

About RPJ

annyeong^^~ i hope you like my fanfiction :o

9 responses »

  1. keren ceritanya chingu.. plus kaget juga ngeliat gambar paling terakhir. itu beneran?

    Reply
  2. hahaha,kocak +gokil bget!tp gk trhibur sm skali dgn gmbr trkhir.unnie smpat srngan jntung liat gmbr td.untungx Key hyung *pggilan syg buat Key cpat dtg n ngsih npas buatan *plak n ngsih tw klo itu editan doang.*sjud sykur
    unnie smpat dikira org gila gra2 ktwa2 sndri bca tingkah Key yg jd umma n Jjong jd appa.aplg pke blg ‘bkin adek bru’ n ‘mnyntap’.hahaha . . .
    Eh,unnie bs req gk?bkin ff ttg unnie n Key,dong.trsrah gnrex apa.cuman pngen tw klo imjnasimu ttg kami br2 kyk gmna?komawo sblumx. 😀

    Reply
  3. hahahahahaha lucu bgt.. aku suka nich.. masa jeje ikutan kena alergi.. hahaha lagian sylmi aneh2 aja deh alerginya.. wkwkwkwk sumpah lucu n keren.. hahaha 😀

    Reply
  4. haha… penyakit si sylmi aneh. hahaaa… ngakak pas tanahnya ambles ngebentuk badan jae. ko bisa? emang badanya jae sekeras apa –”
    mimpinya si sylmi aneh aneh semua haha..
    jjong sama key betah amat di kamar berhari hari gitu. kayanya kamarnya serba guna banget. berhari hari ga keluar kamar juga bisa bisa ajah *betaheun berdua duaan mulu
    belom nikah aja udah sekamar. gimana udah nikahnya? ckckck
    jae cepet sembuh yah, biar cepet nikah sama sylmi wkwkwkwk
    ahaha… menggila aku baca ff ini lagi. gomawo 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: