RSS Feed

This is like the first my birthday : 1S : Straight

Posted on

Title : This is like the first my birthday

Genre : Romance

Rating : PG -13

Type : Straight

Cast :

*Ui*

*_ _ _ _ a.k.a _ _ _ _* (secret)

Other Cast :

* Via*

* Indah*

* Riri*

* Sylmi*

* Yuri*

*Hangeng a.k.a Hankyung*

*Choi Minho a.k.a Minho*

*Kim KiBum a.k.a Key*

*Lee Jinki a.k.a Onew*

Ket : Fanfiction ini hanya memberikan hadiah indah bagi para yeoja yang akan, lalu atau sedang berulang tahun hari ini. Saengil Cukkae!!!! ^^

All in this stories is Ui Pov

AKU HARAP SEMUA YANG BACA KOMENT YAH! JANGAN JADI SILENT READERS… #GOMAPTA

+ + +

“Ui!!!” teriak suara tertoa di apartemenku ini. Siapa lagi dan bukan ya Sylmi. Dia adalah teman bermainku di sini.

“Gandeng!! Rujit kalian pagi-pagi sudah berisik,” kubuka pintu dan kulihat Sylmi bersama kedua temanya. Aku tau mereka segandeng Sylmi ya tentu saja mereka tiga sejoli dengan suara besar.

“Apa?” tanyaku dengan ketus.

“Bagaimana sih, katanya mau ke TB?” ucap Yuri dengan cemberut.

“TB? Siapa yang mau ke TB.. aku mau tidur, dah…” Bak! Ya seperti itu bunyi pintu yang ku tutup dengan agak keras. Kudengar mereka menyalahkan Riri atas buang-buang waktu mereka mengajakku ke TB. Sebenarnya aku ingin, tapi rasanya DIA berkehendak lain dan menginginkanku untuk beristirahat di rumah.

“Uii!!!” baru hendak mau berbaring sudah ada yang memanggilku lagi.

“Apa?” sekarang di depan pintuku sudah berganti orang. Yah mereka tetap kelompok sejoli yang berbeda jurusan. Wuih,.. apa lagi sekarang.

“Ui, mau gak nanti malam lihat konser Minho..” ucap mereka bersamaan.

“Enggak ah~ aku mah inginya tidur!”

“Yah Ui mah.. terus siapa yang mau bayarin kita nonton?”

“Ya Minho lah.. dia yang mau di tonton gimana sih?”

“Oh iya! Kenapa gak kepikiran.. Minho!!!”

“Ssssttt.. gandeng.. sana sampaerin aja di ujung. Paling dia lagi tidur,” ku ulangi perbuatanku tadi. Ku tutup pintu kembali dan berlari secepat kecil menuju tempat tidur. Berharap tidak ada lagi yang akan mengganggu.

Dan itu benar terjadi. Akhirnya aku bisa tertisur pulas dengan nyaman di tempat tidurku yang empuk. Kulihat jam sudah menunjukan matahari terbenam. ‘tidurku lama sekali..’ gumamku sendiri dengan berusaha mengumpulkan seluruh arwahku untuk memulai aktifitas.

Setelah mandi ku berencana untuk keluar jalan-jalan. Kuingat semua orang yang mengajakku beramain sudah ku tolak, pasti mereka juga sibuk sekarang. ‘hufh..’ berjalan sendirian di jalan kecil pada malam hari memang menakutkan. Apalagi diriku ini seorang perempuan.

“Hei!” tepuk seseorang dari belakang. Dari segi suara nya ia seorang laki-laki dewasa, hebusan nafasnya yang berbau alcohol menandakan dia mabuk. ‘serang ui.. serang..’ kukuatkan mentalku terlebih dahulu. Dan.. aku membalikan badan dan ku pukul namja tersebut dengan tas beton yang kubawa ini dengan sekuat tenaga. Lalu kulari pergi menjauh.. sejauh mungkin!

“Apakah.. huf.. ini s..huf sudah cukup jauh?” aku berhenti tepat di sebuah taman dengan lampu yang cukup terang. Ku lihat kearah belakang. ‘sepertinya namja tadi tidak mengikutiku..’ aku mengelus ngelus dadaku karena sudah cukup tenang. Tapi denyut jantungku masih berdegup terus. ‘apakah ini karma? Aku menolak semua ajakan temanku… huh!’ ku berjalan dengan langkah besar dan mengayunkan tas kecilku ke udara mendekati ayunan yang bergoyang sendiri karena tertiup angin.

Ku naiki ayunan itu dan bergoyang sedikit menikmati angina malam. ‘aku rindu teman-temanku..’ gumamku kecil. Ku tatap langit yang sudah mulai terisi dengan beberapa bintang yang benderang. Ini membuatku ingin menangis! Mengapa mereka bisa mempunyai teman setiap malam! Mengapa aku tidak! Aku ingin punya teman saat dimana aku selalu menginginkanya, huh! Ini membuatku sebal.

“Kau?” tiba-tiba seorang namja sudah hadir di depanku dengan wajah yang terbengong seperti ayam menunjukku dengan jarinya dan menatapku dengan mulut ternganga. “Kau siapa?” tanyaku balik. “Kau kan yang memanggilku.. bagaimana sih?”. Aku mengambil alih ekpresinya, sekarang aku yang terbengong menatapnya seperti ayam dengan mulut ternganga untuk siapa menjawab, “Kapan aku memanggilmu?” dan akhirnya kami saling cercok. Bagaimana bisa.. kapan aku mengenalnya saja belum pernah.. rujit.

“Jangan cemberut seperti itu.. itu tidak baik untuk dirimu,”

“Aku tidak cemberut.,. aku hanya bingung! Kau datang tiba-tiba dan mengaku aku yang memanggilmu.. ini aneh, jangan-jangan..”

“Apa?”

“Kau menguntitku..”

“Aniyo.. buat apa aku menguntit yeoja sepertimu.”

“Heh! Sudah di baikin nglunjak gimana sih?”

“Ya maaf maaf, aku kan hanya mencoba jujur.”

“Sebelum jujur pikir dulu omonganmu bagus gak di denger orang..” ucapku mencoba menasehati.

“Enggak.” Jawabnya polos.

“Ah~ kau ini.. sudahlah aku mau pulang!” ucapku sambil beranjak pergi meninggalkan taman. “Tunggu! Jangan tinggalkan aku disini,” kudengar dia mengeluh. Terus terusan dan membuatku sedikit muak.

“Hei!” ku berbalik saat tepat satu langkah di depan taman. Dan melihat sudah tidak ada dirinyalagi disana. ‘Uh…’ keluhku sambil berjalan pulang dengan hentakan bumi yang keras di setiap langkahnya.

+ + +

“Ui!!” yah seperti biasa. Pasti selalu ada orang yang mengganggu hari baikku. Entah itu dua sejoli atau tiga sejoli.

“Ya?”ku lontarkan kata ‘ya’ dalam arti bertanya pada mereka. Dan sekarang yang ku hadapali adalah tiga sejoli yang sedang menatapku dengan mata penuh harap.

“Ui.. ayo ke TB!” ucap Yuri dengan cukup lantang.

“Ayo!” tambah Riri dengan suara toanya.

“Ani..yo.. kalian kemarin datang dan memintaku dengan hal yang sama, menganggu hari liburku tau..” ucapku.

“Kemarin? Kami tidak datang.. kami baru mendatangimu hari ini!” ucap Sylmi dengan wajah mengingat masa lampaunya.

“Ia. Kami baru datang hari ini,” tambah Yuri.

“Ah~ sudahlah.. ini bukan waktunya ngajak debat. aku mau tidur dah..~”  seperti kemarin aku menutup pintuku dengan cukup keras dengan bersuara BAK! Lalu aku berdiam dulu di balik pintu. Dan..

“Uii..!!”

“Apa? Konser Minho? Uangnya gak ada.. minta ajah ke Minho yah.. dah~” Baak! Bantingan pintu kedua terasa lebih pelan. Ku dengar mereka berbisik tentangku yang aneh bisa mengetahui keinginan mereka. Sebenarnya diriku juga merasa bingung. ‘cuek aja lah..’ gumamku sambil beranjak mengambil handuk dan mandi.

Selesai mandi kuambil secangkir susu coklat panas dan meminumnya di atas tempat tidur sambil menatap jendela. ‘kalau kejadian ini kemarin terulang, apa aku akan bertemu dengan namja itu lagi?’ pikiranku terus tertuju ke sana. Melihat lurus kearah taman yang kemarin atau yang sebenarnya hanya aku lalui di alam mimpi? Entahlah..

+ + +

“Pada bawa buku biologi?” kalimat pertama yang aku ucapkan saat sampai di depan kelas. “Aku bawa!” “Aku enggak!” kedua jawaban itu yang aku terima dari masing –masing orang.

“Ui bawa gak?” tanya Riri dengan muka senyam senyum. ‘sepertinya dia mau sombong, kalau dia bawa..’ firasatku dalam hati. “Aku enggak bawa..” ucapku dengan wajah memelas takut di marahi guru biologi. “Aku juga! Hehehe..” dan ternyata firasatku salah.. ini memalukan.

“Yur kamu bawa?” dan Yuri menggeleng. ‘Uhm.. ga pa pa lah banyak yang gak bawa ini,’ gumamku sambil menurunkan bangku dan duduk bersebelahan dengan Riri yang sedang asyik mengobrol dengan Sylmi.

“Sylmi gimana dong? Aku gak bawa buku biologi.. kamu bawa?”

“Bawa..” ucap Sylmi polos sambil melanjutkan ngobrolnya bersama Riri lagi.

Pikiranku terus berputar mencari ide buat alasan, tapi otaku malah jadi pusing. “Gimana dong Ri?” dengan muka tanpa dosa Riri hanya menggelengkan kepala dan santai kembali mengobrol. ‘mengapa aku panik sendiri?’

“Ui!” teriak seseorang dari luar. Rupanya Hankyung, “Wae?” tanyaku melihatnya ngos-ngosan seperti habis lari 400meter. “Ini..” ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku catatan. Detik itu hatiku langsung lompat ke girangan mendapati buku catatan biologiku di bawa olehnya,

“Ini punyaku? Kau dapat dari mana?”

“Entahlah, tadi ada seorang namja yang menitipnya padaku.”

“Namja? Apakah dia berwajah baby face..”

“Iya.. tapi gantengan aku kan,”

“Heeuh lah kumaha maneh, makasih yah..” sepanjang langkahku menuju tempat duduk aku terus jingkrak-jingkrakan.

“Kenapa Ui?” tanya Via yang dari tadi sibuk ngajarin Minho matematika menengok kearahku,

“Enggak ada apa-apa.. hehehe,”

“Bohong..” ucap Indah nimbrung sambil nunjuk-nunjuk buku catatanku..

“Hehehehe, ini buku Biologi, kekeke..”

“Ketemu dimana?” tanya Via lagi,

“Tadi di anterin Hankyung..”

“Adeuy.. sama Hankyung,” mendengar itu aku hanya cekikikan sendiri.

Aku langsung jalan ke meja ku dan memperlihatkan buku Biologiku pada Riri yang sendari tadi belum selesai mengobrol bersama Sylmi.

“Ri.. ternyata buku Biologiku ketemu!!!” besorak kegirangan.

“Wah! Dimana?” tanyanya dengan wajah tidak menandakan kesal sama sekali.

“Tadi di anterin Hankyung, kekeke..”

“Wah! Sama dong. Kita senansib!”

“Ha? Senasib? Maksud? Kamu kan katanya gak bawa.. ”

“Ternyata buku Biologiku kebawa sama Onew. Hhehe.. barusan di balikin,” ngek? Mengapa selalu mujur dirinya. Uhm, apa gara-gara kelompok ‘*seri’ yang di buat saat pelajaran fisika. Hahaha..

“Oh iya Ui, tadi ada surat di mejamu..” ucap Key yang tiba-tiba menyodorkan surat dengan amplop warna biru muda.

“Mana? Dari siapa?”

“Gak tau..”

Tertulis di surat itu ‘JANGAN DI BUKA’. “Ha?” gumamku lirih. “Suarat apaan sih.. gak jelas.” Aku menaruh surat itu kembali di atas meja dan meninggalkannya.

+ + +

Angin siang yang telah menjelma menjadi angin malam memberikan irama yang khas. Aku berjalan sendirian di tengah jalan yang sepi. Entah mengapa langkahku berjalan kesini. Padahal aku ingin main kerumah sebelah. Mengapa jadi berjalan sejauh ini.

“Hei kaki.. bisakah engkau berhenti,” keluhku kesal sambil sedikit mengguncang kakiku dengan beberapa pukulan kecil. Setiap langkah aku menahan kakiku agar diam tapi malah terus maju sampai berhenti di depan taman yang kemarin aku temui.

“Mengapa kau berhenti disini? Kau ingin aku kesini..” dengan sugesti yang gila aku menuruti kakiku, bukan kakiku yang menurutiku.

Aku berjalan pelan dan duduk di ayunan, menggoyangkanya mengikuti angin malam yang dingin dengan sedikit berdesis. “Kau kemari?” terlihat namja dengan baby face senyum lebar melihat kearahku. “Ya. Dan kakiku yang membawaku kesini,” sahutku dengan sedikit kesal.

“Bagaimana dengan buku biologimu? Tersampaikan?”

“Kau yang memberikanya kepada Hankyung?”

“Ya. Kemarin aku menemukannya di taman..” aku berpikir sejenak. ‘Buat apa aku bawa-bawa buku biologi ketaman? Kerajinan amat gue..’

“Kau temukan? Terimakasih..” ucapku sambil menunduk 90 derajat. Dia menatapku dengan senyuman manisnya.

“Bolehkah aku duduk di sebelahmu?” aku mengangguk kecil. Dia lalu duduk di sebelahku dengan tatapan bahagia. “Mengapa kau selalu berada disini? Kau penghuni taman ini?” ucapku memulai topik. “Tidak. Aku hanya kebetulan lewat sini, karena rumahku di dekat sini,” aku megangguk mengerti. Lalu kami pun menjadi canggung kembali. Hanya diam membisu,

“Kau lapar? Mau aku belikan bakpao?”

“Bakpao? Dimana.. aku ikut!” aku langsung menarik tangannya untuk meninggalkan taman sepi yang cukup menyeramkan ini. Kami berjalan berdua ke pusat kota dengan kemeriahan warna warni lampu di setiap tokonya.

“Ayo kesini!” dengan sekejap aku sudah berada di dalam toko dengan warna cerah berisi ‘big doll’ yang lucu-lucu. “Kau mau yang mana?” ucapnya sambil melihat kekanan dan kekiri. “Kau mau membelikan untukku?” tanyaku mencari kejelasan.

“Tentu!” senyum lebar dengan bunga bunga keluar dari wajahku yang sendari tadi tertunduk kesal meratapi nasib. Ku tarik tanganya mendekati boneka beruang yang besar berwarna putih dengan hiasa pita hitam kecil di lehernya. Simpel dan manis. “Kau mau yang ini?” ucapnya sambil menunjuk boneka hijau besar yang tak lain boneka kodok (baca : keroro #not keroro gunzo kekeke). “Aniyo.. aku mau yang ini!” tunjukku kepada boneka beruang tadi.

“Kalau begitu cepat ambil dan kita pergi ke kasir sekarang juga. Aku lapar..” keluhnya dengan suara bayi yang sangat imut membuatku ketawa beberapa detik sambil berjalan ke kasir membawa sebuah boneka beruang besar.

“Sekarang mau kemana?” tanyaku melihat dirinya yang kelaparan sambil memegangi perut.

“Lihat disana ada bakpao! Ayo beli!!!” dia menarikku yang masih setengah sadar dengan tergeret menuju tukang bakpao di dekat kedai makanan. “Mang beli bakpaonya 6!” ucapnya lantang langsung cenghar saat melihat bakpao. “6? Banyak banyak sekali.. buat siapa aja?”

“1 buatmu dan 5 untukku.. hahahaha..” aku termanggu melihat hal itu. Ternyata nafsu makanya besar sekali. “Mang nanti antarkan ke dalam yah.. saya dan yeojacingu saya mau makan di dalam..” dengan tarikanya kembali aku masuk kedalam dengan bingung.

“Tunggu! Yeojacingu?” dia mengangguk sambil menyuruhku duduk di bangku ujung dekat penghangat ruangan. “Kapan kita jadian?” ucapku bingung. “Sudah duduk saja dulu.. aku akan pesan makanan,”

5 menit.. 10 menit.. dia belum kembali dari memesan makanan. ‘Lama sekali..’ gumamku sambil terus memeluk boneka beruang yang barusan ia beli untukku. 25 menit…

“Maaf lama..” ucapnya dengan terengah-engah. “Dari mana saja kau?” keluhku sambil menunjukan pukul berapa sekarang. “Tadi aku keluar melihat syal yang bagus untuk couple kita. Aku belikan satu untukmu, lalu aku melihat tukang pisang aroma makanya aku beli dulu.” Jelasnya sambil menyodorkan beberapa barang dan makanan padaku. Yang tidak lain sebuah syal bewarna ungu muda, pisang aroma dan bakpao yang tadi di pesannya. “Apakah makanannya sudah di pesan?”..

“Sudah tadi,,”

Dengan detik yang sama, pelayan membawakan sembilah makanan ke meja kami. Ternyata ia memesan nasi goreng untuk kami. “Kau suka syalnya?” ucapnya tiba-tiba. “Ssssttt. Berdoa dulu!”potongku sambil menunjukan bahwa aku berdoa. “Tadi pertanyaanku?”

“Ya.. aku suka, warnanya lucu.. dan hangat,”

“Bagusalah kalau kau menyukainya..”

Sepanjang makan kami ribut bercanda dengan diri masing-masing. Menceritakan hal-hal lucu yang pernah di lalui, dan..

“Tunggu!”

“Apa?” ucapnya sambil terus mengunyah nasi yang berada di mulutnya.

“Siapa namamu? Selama tadi aku mengenalmu tapi aku tidak tahu namamu..” ucapku pelan.

“KimBum imnida (u-know kimbum BBF), kau yeojacingu?”

“Ui imnida, singkat!”

“Namamu singkat sekali..”

“Hehehe, kalau mau komplen, komplenlah ke ibuku yang memberiku nama sesingkat ini..” dia malah tertawa mendengar pernyataanku.

Jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Tapi diriku dan Kimbum masih saja asyik berjalan di tengah keramaian kota yang sudah mulai menyepi. “Kita pulang yuk!” ajakku yang sudah lumayan capek dengan semua aktifitas yang aku lakukan hari ini.

Sepanjang jalan di terus merangkulku dengan lembut. Rasanya hangat dan nyaman. ‘Apakah benar aku yeojacingunya? Sepertinya aku beruntung sekali..’ ucapku dalam hati dengan memasang senyam senyum. “Kenapa?” tanyanya yang sepertinya melihatku senyam senyum. “Aniyo.. hehehe” jawabku sambil menggeleng kecil dengan terus tersenyum.

“Nah! Sudah sampai!” sekarang aku dan Kimbum sudah tepat di depan pintu apartementku. Kulihat sudah sangat sepi disini. Sepertinya semua orang sudah terlelap tidur. “Terimakasih telah menemaniku malam ini.” Ucapku dengan malu. Dia dengan wajah merah padam mengangguk kecil dengan sungingan senyum di bibirnya.

“Wah! Tepat pukul tengah malam,” ucapku yang terkaget melihat jam yang menunjukan pukul 00:00,  dengan tiba-tiba ia menarikku ke pelukanya, mengangkat wajahku, menyentuh bibirku lalu….

“HAPPY BIRTHDAY UI!!!!” teriak sorak sorai dengan amat keras ketika pintu apartementku yang terbuka dengan sendirinya. Dengan refleks Kimbum melepaskan pelukanya dengan waktu sangat singkat dan tidak terlihat oleh mata. Wajahku memerah panas entah apa yang tadi terjadi.

“Ui saengil cukkae!!” ucap mereka semua dengan sibuk menari-nari dan memberiku kado. “Kalian.. ingat ulangtahunku..” aku sangat terharu dan tak kuasa menahan tangis hingga aku terududuk di bawah sambil menutupi wajahku. Semua temanku berkumpul di dalam rumahku dan membuat kejutan semewah ini. “Janganlah menangis..” bisik Kimbum padaku hangat.

Aku berdiri dengan segenap tenaga yang kupunya, dan …“Terimakasih semuanya.. ”

FIN

Author berbicara, #ckckck

Bagaimana reader? Apakah bagus?

Maaf author lama ngepost FF, gak ada yang kangen kan sama FF author T_T #plak

*masalah yang kelompok seri tadi adalah,

Waktu pelajar Fisika tambahan, author dkk belajar tentang rangkaian listrik seri dan pararel, kalau seri lurus dan pararel bercabang. Lalu saat itu juga author dkk sedang duduk sejajar dengan teman-teman author makanya author bilang kelompok seri, karena sejajar dan melakukan hal bersamaan. Kalau nilai ulangan satu jelek, semua jelek. Kalau yang satu bagus, semua bagus. Ckckckck..

Tapi kalau bener ada yang jelek, kabel nya di putusin ajah. Ckckckck, biar gak nyambung ke yang lain. Lalu kalau pararel adalah teman author yang duduknya di belakang tidak sejajar gitu. Heheheh, gejos ya. ehehhe*

Buat semuanya terimakasih sudah mau baca,

Mungkin author akan hiatus dulu. Mau ujian, dan lagi. Entah kenapa author jadi sulit bikin FF. mungkin udah lama gak bikin.

Sekian dulu, ckckck… bye bye,,

JANGAN LUPA KOMENTARNYA YAH!!! KRITIK DAN SARAN AKAN SELALU AUTHOR TERIMA, DADAH!!!

Advertisements

About RPJ

annyeong^^~ i hope you like my fanfiction :o

2 responses »

  1. 1st again wakakakak….

    aku teh udah nyiapin comment panjang, tapi gara gara lappi nya di matiin terus modemnya diambil sama my mom jadi we ilang. lupa lagi deh comment nya apa aja

    yang pening rame deh, bikin lagi 😀

    gomawo 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: