RSS Feed

Tag Archives: Aktor

This is like the first my birthday : 1S : Straight

Posted on

Title : This is like the first my birthday

Genre : Romance

Rating : PG -13

Type : Straight

Cast :

*Ui*

*_ _ _ _ a.k.a _ _ _ _* (secret)

Other Cast :

* Via*

* Indah*

* Riri*

* Sylmi*

* Yuri*

*Hangeng a.k.a Hankyung*

*Choi Minho a.k.a Minho*

*Kim KiBum a.k.a Key*

*Lee Jinki a.k.a Onew*

Ket : Fanfiction ini hanya memberikan hadiah indah bagi para yeoja yang akan, lalu atau sedang berulang tahun hari ini. Saengil Cukkae!!!! ^^

All in this stories is Ui Pov

AKU HARAP SEMUA YANG BACA KOMENT YAH! JANGAN JADI SILENT READERS… #GOMAPTA

+ + +

“Ui!!!” teriak suara tertoa di apartemenku ini. Siapa lagi dan bukan ya Sylmi. Dia adalah teman bermainku di sini.

“Gandeng!! Rujit kalian pagi-pagi sudah berisik,” kubuka pintu dan kulihat Sylmi bersama kedua temanya. Aku tau mereka segandeng Sylmi ya tentu saja mereka tiga sejoli dengan suara besar.

“Apa?” tanyaku dengan ketus.

“Bagaimana sih, katanya mau ke TB?” ucap Yuri dengan cemberut.

“TB? Siapa yang mau ke TB.. aku mau tidur, dah…” Bak! Ya seperti itu bunyi pintu yang ku tutup dengan agak keras. Kudengar mereka menyalahkan Riri atas buang-buang waktu mereka mengajakku ke TB. Sebenarnya aku ingin, tapi rasanya DIA berkehendak lain dan menginginkanku untuk beristirahat di rumah.

“Uii!!!” baru hendak mau berbaring sudah ada yang memanggilku lagi.

“Apa?” sekarang di depan pintuku sudah berganti orang. Yah mereka tetap kelompok sejoli yang berbeda jurusan. Wuih,.. apa lagi sekarang.

“Ui, mau gak nanti malam lihat konser Minho..” ucap mereka bersamaan.

“Enggak ah~ aku mah inginya tidur!”

“Yah Ui mah.. terus siapa yang mau bayarin kita nonton?”

“Ya Minho lah.. dia yang mau di tonton gimana sih?”

“Oh iya! Kenapa gak kepikiran.. Minho!!!”

“Ssssttt.. gandeng.. sana sampaerin aja di ujung. Paling dia lagi tidur,” ku ulangi perbuatanku tadi. Ku tutup pintu kembali dan berlari secepat kecil menuju tempat tidur. Berharap tidak ada lagi yang akan mengganggu.

Dan itu benar terjadi. Akhirnya aku bisa tertisur pulas dengan nyaman di tempat tidurku yang empuk. Kulihat jam sudah menunjukan matahari terbenam. ‘tidurku lama sekali..’ gumamku sendiri dengan berusaha mengumpulkan seluruh arwahku untuk memulai aktifitas.

Setelah mandi ku berencana untuk keluar jalan-jalan. Kuingat semua orang yang mengajakku beramain sudah ku tolak, pasti mereka juga sibuk sekarang. ‘hufh..’ berjalan sendirian di jalan kecil pada malam hari memang menakutkan. Apalagi diriku ini seorang perempuan.

“Hei!” tepuk seseorang dari belakang. Dari segi suara nya ia seorang laki-laki dewasa, hebusan nafasnya yang berbau alcohol menandakan dia mabuk. ‘serang ui.. serang..’ kukuatkan mentalku terlebih dahulu. Dan.. aku membalikan badan dan ku pukul namja tersebut dengan tas beton yang kubawa ini dengan sekuat tenaga. Lalu kulari pergi menjauh.. sejauh mungkin!

“Apakah.. huf.. ini s..huf sudah cukup jauh?” aku berhenti tepat di sebuah taman dengan lampu yang cukup terang. Ku lihat kearah belakang. ‘sepertinya namja tadi tidak mengikutiku..’ aku mengelus ngelus dadaku karena sudah cukup tenang. Tapi denyut jantungku masih berdegup terus. ‘apakah ini karma? Aku menolak semua ajakan temanku… huh!’ ku berjalan dengan langkah besar dan mengayunkan tas kecilku ke udara mendekati ayunan yang bergoyang sendiri karena tertiup angin.

Ku naiki ayunan itu dan bergoyang sedikit menikmati angina malam. ‘aku rindu teman-temanku..’ gumamku kecil. Ku tatap langit yang sudah mulai terisi dengan beberapa bintang yang benderang. Ini membuatku ingin menangis! Mengapa mereka bisa mempunyai teman setiap malam! Mengapa aku tidak! Aku ingin punya teman saat dimana aku selalu menginginkanya, huh! Ini membuatku sebal.

“Kau?” tiba-tiba seorang namja sudah hadir di depanku dengan wajah yang terbengong seperti ayam menunjukku dengan jarinya dan menatapku dengan mulut ternganga. “Kau siapa?” tanyaku balik. “Kau kan yang memanggilku.. bagaimana sih?”. Aku mengambil alih ekpresinya, sekarang aku yang terbengong menatapnya seperti ayam dengan mulut ternganga untuk siapa menjawab, “Kapan aku memanggilmu?” dan akhirnya kami saling cercok. Bagaimana bisa.. kapan aku mengenalnya saja belum pernah.. rujit.

“Jangan cemberut seperti itu.. itu tidak baik untuk dirimu,”

“Aku tidak cemberut.,. aku hanya bingung! Kau datang tiba-tiba dan mengaku aku yang memanggilmu.. ini aneh, jangan-jangan..”

“Apa?”

“Kau menguntitku..”

“Aniyo.. buat apa aku menguntit yeoja sepertimu.”

“Heh! Sudah di baikin nglunjak gimana sih?”

“Ya maaf maaf, aku kan hanya mencoba jujur.”

“Sebelum jujur pikir dulu omonganmu bagus gak di denger orang..” ucapku mencoba menasehati.

“Enggak.” Jawabnya polos.

“Ah~ kau ini.. sudahlah aku mau pulang!” ucapku sambil beranjak pergi meninggalkan taman. “Tunggu! Jangan tinggalkan aku disini,” kudengar dia mengeluh. Terus terusan dan membuatku sedikit muak.

“Hei!” ku berbalik saat tepat satu langkah di depan taman. Dan melihat sudah tidak ada dirinyalagi disana. ‘Uh…’ keluhku sambil berjalan pulang dengan hentakan bumi yang keras di setiap langkahnya.

+ + +

“Ui!!” yah seperti biasa. Pasti selalu ada orang yang mengganggu hari baikku. Entah itu dua sejoli atau tiga sejoli.

“Ya?”ku lontarkan kata ‘ya’ dalam arti bertanya pada mereka. Dan sekarang yang ku hadapali adalah tiga sejoli yang sedang menatapku dengan mata penuh harap.

“Ui.. ayo ke TB!” ucap Yuri dengan cukup lantang.

“Ayo!” tambah Riri dengan suara toanya.

“Ani..yo.. kalian kemarin datang dan memintaku dengan hal yang sama, menganggu hari liburku tau..” ucapku.

“Kemarin? Kami tidak datang.. kami baru mendatangimu hari ini!” ucap Sylmi dengan wajah mengingat masa lampaunya.

“Ia. Kami baru datang hari ini,” tambah Yuri.

“Ah~ sudahlah.. ini bukan waktunya ngajak debat. aku mau tidur dah..~”  seperti kemarin aku menutup pintuku dengan cukup keras dengan bersuara BAK! Lalu aku berdiam dulu di balik pintu. Dan..

“Uii..!!”

“Apa? Konser Minho? Uangnya gak ada.. minta ajah ke Minho yah.. dah~” Baak! Bantingan pintu kedua terasa lebih pelan. Ku dengar mereka berbisik tentangku yang aneh bisa mengetahui keinginan mereka. Sebenarnya diriku juga merasa bingung. ‘cuek aja lah..’ gumamku sambil beranjak mengambil handuk dan mandi.

Selesai mandi kuambil secangkir susu coklat panas dan meminumnya di atas tempat tidur sambil menatap jendela. ‘kalau kejadian ini kemarin terulang, apa aku akan bertemu dengan namja itu lagi?’ pikiranku terus tertuju ke sana. Melihat lurus kearah taman yang kemarin atau yang sebenarnya hanya aku lalui di alam mimpi? Entahlah..

+ + +

“Pada bawa buku biologi?” kalimat pertama yang aku ucapkan saat sampai di depan kelas. “Aku bawa!” “Aku enggak!” kedua jawaban itu yang aku terima dari masing –masing orang.

“Ui bawa gak?” tanya Riri dengan muka senyam senyum. ‘sepertinya dia mau sombong, kalau dia bawa..’ firasatku dalam hati. “Aku enggak bawa..” ucapku dengan wajah memelas takut di marahi guru biologi. “Aku juga! Hehehe..” dan ternyata firasatku salah.. ini memalukan.

“Yur kamu bawa?” dan Yuri menggeleng. ‘Uhm.. ga pa pa lah banyak yang gak bawa ini,’ gumamku sambil menurunkan bangku dan duduk bersebelahan dengan Riri yang sedang asyik mengobrol dengan Sylmi.

“Sylmi gimana dong? Aku gak bawa buku biologi.. kamu bawa?”

“Bawa..” ucap Sylmi polos sambil melanjutkan ngobrolnya bersama Riri lagi.

Pikiranku terus berputar mencari ide buat alasan, tapi otaku malah jadi pusing. “Gimana dong Ri?” dengan muka tanpa dosa Riri hanya menggelengkan kepala dan santai kembali mengobrol. ‘mengapa aku panik sendiri?’

“Ui!” teriak seseorang dari luar. Rupanya Hankyung, “Wae?” tanyaku melihatnya ngos-ngosan seperti habis lari 400meter. “Ini..” ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku catatan. Detik itu hatiku langsung lompat ke girangan mendapati buku catatan biologiku di bawa olehnya,

“Ini punyaku? Kau dapat dari mana?”

“Entahlah, tadi ada seorang namja yang menitipnya padaku.”

“Namja? Apakah dia berwajah baby face..”

“Iya.. tapi gantengan aku kan,”

“Heeuh lah kumaha maneh, makasih yah..” sepanjang langkahku menuju tempat duduk aku terus jingkrak-jingkrakan.

“Kenapa Ui?” tanya Via yang dari tadi sibuk ngajarin Minho matematika menengok kearahku,

“Enggak ada apa-apa.. hehehe,”

“Bohong..” ucap Indah nimbrung sambil nunjuk-nunjuk buku catatanku..

“Hehehehe, ini buku Biologi, kekeke..”

“Ketemu dimana?” tanya Via lagi,

“Tadi di anterin Hankyung..”

“Adeuy.. sama Hankyung,” mendengar itu aku hanya cekikikan sendiri.

Aku langsung jalan ke meja ku dan memperlihatkan buku Biologiku pada Riri yang sendari tadi belum selesai mengobrol bersama Sylmi.

“Ri.. ternyata buku Biologiku ketemu!!!” besorak kegirangan.

“Wah! Dimana?” tanyanya dengan wajah tidak menandakan kesal sama sekali.

“Tadi di anterin Hankyung, kekeke..”

“Wah! Sama dong. Kita senansib!”

“Ha? Senasib? Maksud? Kamu kan katanya gak bawa.. ”

“Ternyata buku Biologiku kebawa sama Onew. Hhehe.. barusan di balikin,” ngek? Mengapa selalu mujur dirinya. Uhm, apa gara-gara kelompok ‘*seri’ yang di buat saat pelajaran fisika. Hahaha..

“Oh iya Ui, tadi ada surat di mejamu..” ucap Key yang tiba-tiba menyodorkan surat dengan amplop warna biru muda.

“Mana? Dari siapa?”

“Gak tau..”

Tertulis di surat itu ‘JANGAN DI BUKA’. “Ha?” gumamku lirih. “Suarat apaan sih.. gak jelas.” Aku menaruh surat itu kembali di atas meja dan meninggalkannya.

+ + +

Angin siang yang telah menjelma menjadi angin malam memberikan irama yang khas. Aku berjalan sendirian di tengah jalan yang sepi. Entah mengapa langkahku berjalan kesini. Padahal aku ingin main kerumah sebelah. Mengapa jadi berjalan sejauh ini.

“Hei kaki.. bisakah engkau berhenti,” keluhku kesal sambil sedikit mengguncang kakiku dengan beberapa pukulan kecil. Setiap langkah aku menahan kakiku agar diam tapi malah terus maju sampai berhenti di depan taman yang kemarin aku temui.

“Mengapa kau berhenti disini? Kau ingin aku kesini..” dengan sugesti yang gila aku menuruti kakiku, bukan kakiku yang menurutiku.

Aku berjalan pelan dan duduk di ayunan, menggoyangkanya mengikuti angin malam yang dingin dengan sedikit berdesis. “Kau kemari?” terlihat namja dengan baby face senyum lebar melihat kearahku. “Ya. Dan kakiku yang membawaku kesini,” sahutku dengan sedikit kesal.

“Bagaimana dengan buku biologimu? Tersampaikan?”

“Kau yang memberikanya kepada Hankyung?”

“Ya. Kemarin aku menemukannya di taman..” aku berpikir sejenak. ‘Buat apa aku bawa-bawa buku biologi ketaman? Kerajinan amat gue..’

“Kau temukan? Terimakasih..” ucapku sambil menunduk 90 derajat. Dia menatapku dengan senyuman manisnya.

“Bolehkah aku duduk di sebelahmu?” aku mengangguk kecil. Dia lalu duduk di sebelahku dengan tatapan bahagia. “Mengapa kau selalu berada disini? Kau penghuni taman ini?” ucapku memulai topik. “Tidak. Aku hanya kebetulan lewat sini, karena rumahku di dekat sini,” aku megangguk mengerti. Lalu kami pun menjadi canggung kembali. Hanya diam membisu,

“Kau lapar? Mau aku belikan bakpao?”

“Bakpao? Dimana.. aku ikut!” aku langsung menarik tangannya untuk meninggalkan taman sepi yang cukup menyeramkan ini. Kami berjalan berdua ke pusat kota dengan kemeriahan warna warni lampu di setiap tokonya.

“Ayo kesini!” dengan sekejap aku sudah berada di dalam toko dengan warna cerah berisi ‘big doll’ yang lucu-lucu. “Kau mau yang mana?” ucapnya sambil melihat kekanan dan kekiri. “Kau mau membelikan untukku?” tanyaku mencari kejelasan.

“Tentu!” senyum lebar dengan bunga bunga keluar dari wajahku yang sendari tadi tertunduk kesal meratapi nasib. Ku tarik tanganya mendekati boneka beruang yang besar berwarna putih dengan hiasa pita hitam kecil di lehernya. Simpel dan manis. “Kau mau yang ini?” ucapnya sambil menunjuk boneka hijau besar yang tak lain boneka kodok (baca : keroro #not keroro gunzo kekeke). “Aniyo.. aku mau yang ini!” tunjukku kepada boneka beruang tadi.

“Kalau begitu cepat ambil dan kita pergi ke kasir sekarang juga. Aku lapar..” keluhnya dengan suara bayi yang sangat imut membuatku ketawa beberapa detik sambil berjalan ke kasir membawa sebuah boneka beruang besar.

“Sekarang mau kemana?” tanyaku melihat dirinya yang kelaparan sambil memegangi perut.

“Lihat disana ada bakpao! Ayo beli!!!” dia menarikku yang masih setengah sadar dengan tergeret menuju tukang bakpao di dekat kedai makanan. “Mang beli bakpaonya 6!” ucapnya lantang langsung cenghar saat melihat bakpao. “6? Banyak banyak sekali.. buat siapa aja?”

“1 buatmu dan 5 untukku.. hahahaha..” aku termanggu melihat hal itu. Ternyata nafsu makanya besar sekali. “Mang nanti antarkan ke dalam yah.. saya dan yeojacingu saya mau makan di dalam..” dengan tarikanya kembali aku masuk kedalam dengan bingung.

“Tunggu! Yeojacingu?” dia mengangguk sambil menyuruhku duduk di bangku ujung dekat penghangat ruangan. “Kapan kita jadian?” ucapku bingung. “Sudah duduk saja dulu.. aku akan pesan makanan,”

5 menit.. 10 menit.. dia belum kembali dari memesan makanan. ‘Lama sekali..’ gumamku sambil terus memeluk boneka beruang yang barusan ia beli untukku. 25 menit…

“Maaf lama..” ucapnya dengan terengah-engah. “Dari mana saja kau?” keluhku sambil menunjukan pukul berapa sekarang. “Tadi aku keluar melihat syal yang bagus untuk couple kita. Aku belikan satu untukmu, lalu aku melihat tukang pisang aroma makanya aku beli dulu.” Jelasnya sambil menyodorkan beberapa barang dan makanan padaku. Yang tidak lain sebuah syal bewarna ungu muda, pisang aroma dan bakpao yang tadi di pesannya. “Apakah makanannya sudah di pesan?”..

“Sudah tadi,,”

Dengan detik yang sama, pelayan membawakan sembilah makanan ke meja kami. Ternyata ia memesan nasi goreng untuk kami. “Kau suka syalnya?” ucapnya tiba-tiba. “Ssssttt. Berdoa dulu!”potongku sambil menunjukan bahwa aku berdoa. “Tadi pertanyaanku?”

“Ya.. aku suka, warnanya lucu.. dan hangat,”

“Bagusalah kalau kau menyukainya..”

Sepanjang makan kami ribut bercanda dengan diri masing-masing. Menceritakan hal-hal lucu yang pernah di lalui, dan..

“Tunggu!”

“Apa?” ucapnya sambil terus mengunyah nasi yang berada di mulutnya.

“Siapa namamu? Selama tadi aku mengenalmu tapi aku tidak tahu namamu..” ucapku pelan.

“KimBum imnida (u-know kimbum BBF), kau yeojacingu?”

“Ui imnida, singkat!”

“Namamu singkat sekali..”

“Hehehe, kalau mau komplen, komplenlah ke ibuku yang memberiku nama sesingkat ini..” dia malah tertawa mendengar pernyataanku.

Jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Tapi diriku dan Kimbum masih saja asyik berjalan di tengah keramaian kota yang sudah mulai menyepi. “Kita pulang yuk!” ajakku yang sudah lumayan capek dengan semua aktifitas yang aku lakukan hari ini.

Sepanjang jalan di terus merangkulku dengan lembut. Rasanya hangat dan nyaman. ‘Apakah benar aku yeojacingunya? Sepertinya aku beruntung sekali..’ ucapku dalam hati dengan memasang senyam senyum. “Kenapa?” tanyanya yang sepertinya melihatku senyam senyum. “Aniyo.. hehehe” jawabku sambil menggeleng kecil dengan terus tersenyum.

“Nah! Sudah sampai!” sekarang aku dan Kimbum sudah tepat di depan pintu apartementku. Kulihat sudah sangat sepi disini. Sepertinya semua orang sudah terlelap tidur. “Terimakasih telah menemaniku malam ini.” Ucapku dengan malu. Dia dengan wajah merah padam mengangguk kecil dengan sungingan senyum di bibirnya.

“Wah! Tepat pukul tengah malam,” ucapku yang terkaget melihat jam yang menunjukan pukul 00:00,  dengan tiba-tiba ia menarikku ke pelukanya, mengangkat wajahku, menyentuh bibirku lalu….

“HAPPY BIRTHDAY UI!!!!” teriak sorak sorai dengan amat keras ketika pintu apartementku yang terbuka dengan sendirinya. Dengan refleks Kimbum melepaskan pelukanya dengan waktu sangat singkat dan tidak terlihat oleh mata. Wajahku memerah panas entah apa yang tadi terjadi.

“Ui saengil cukkae!!” ucap mereka semua dengan sibuk menari-nari dan memberiku kado. “Kalian.. ingat ulangtahunku..” aku sangat terharu dan tak kuasa menahan tangis hingga aku terududuk di bawah sambil menutupi wajahku. Semua temanku berkumpul di dalam rumahku dan membuat kejutan semewah ini. “Janganlah menangis..” bisik Kimbum padaku hangat.

Aku berdiri dengan segenap tenaga yang kupunya, dan …“Terimakasih semuanya.. ”

FIN

Author berbicara, #ckckck

Bagaimana reader? Apakah bagus?

Maaf author lama ngepost FF, gak ada yang kangen kan sama FF author T_T #plak

*masalah yang kelompok seri tadi adalah,

Waktu pelajar Fisika tambahan, author dkk belajar tentang rangkaian listrik seri dan pararel, kalau seri lurus dan pararel bercabang. Lalu saat itu juga author dkk sedang duduk sejajar dengan teman-teman author makanya author bilang kelompok seri, karena sejajar dan melakukan hal bersamaan. Kalau nilai ulangan satu jelek, semua jelek. Kalau yang satu bagus, semua bagus. Ckckckck..

Tapi kalau bener ada yang jelek, kabel nya di putusin ajah. Ckckckck, biar gak nyambung ke yang lain. Lalu kalau pararel adalah teman author yang duduknya di belakang tidak sejajar gitu. Heheheh, gejos ya. ehehhe*

Buat semuanya terimakasih sudah mau baca,

Mungkin author akan hiatus dulu. Mau ujian, dan lagi. Entah kenapa author jadi sulit bikin FF. mungkin udah lama gak bikin.

Sekian dulu, ckckck… bye bye,,

JANGAN LUPA KOMENTARNYA YAH!!! KRITIK DAN SARAN AKAN SELALU AUTHOR TERIMA, DADAH!!!

Do You Back Or… : 1S : Straight

Posted on

Title : Do You Back Or…

Genre : Sad, Life

Type : Straight

Rating : PG 13

Main Cast :
~YOU a.k.a Jung Hye Bin
~Chun Jung Myun a.k.a Chun Jung Myun (Aktor)

Support Cast :
~Kakek Gumiho dan beberapa orang

Credit Song : *?*

Author : Han Sang Ra

 

***

 

Hanya saja, mengapa bisa? Apakah yang sebenarnya ia rencanakan? Bisakah aku terus mengulangnya kembali?

Aku tidak mengerti…

***

 

“Hye Bin!!!” teriak seseorang dari belakang.

 

Aku menoleh pelan. Melihat kearah dirinya yang tersenyum bahagia menatapku. Aku balik memandang lagi kedepan.

 

“Hei! Ada apa denganmu?” ucapnya sambil mengoyang-goyangkan tanganya di depan wajahku yang dari tadi menunduk menatap jalan.

“Uhmm..”

“Kau sakit?” sekarang ia mengangkat wajahku dan menaruh punggung tanganya di keningku. “Normal,” lanjutnya.

“Uhm..” aku hanya berdeham menjawab semuanya sambil terus berjalan pulang.

 

“Kau sedih yah?”

“Hm?” aku mengangkat wajahku sambil melirik heran kepadanya yang tersenyum dengan memamerkan gigi.

“Kau pasti sedih karena aku mau pindah kan?”

“Hm..”

“Ah.. jangan bohong, pasti kau sedih.. sudah katakan saja,”

“Uhm,”

“Ayolah! Jangan berdeham terus… katakanlah sesuatu,” rengeknya padaku/

“Kau ingin aku berkata sesuatu?”

“Ya ya ya…”

“Bisakah kau tinggalkan aku, aku ingin sendiri.”

 

Yah begitulah dua kalimat yang terakhir aku ucapkan padanya. Dan dua kalimat itu pula aku ucapkan terakhir kalinya. Mengapa ia mengajakku bebicara saat aku punya banyak masalah! Keluarga.. Teman.. Sekolah dan Dia. Bisakah aku mengulanya kembali. Too Late, di sudah pergi..

 

*

 

Sudah genap enam tahun dia pindah. Rasanya aku benar-benar hampir melupakanya. Sosoknya yang selalu menyapaku di pagi nyaris sudah menghilang selama ini. Apakah dia akan kembali?

 

“Hye Bin?”

“Uhm,”

“Mengapa dengan dirimu.. ayolah berbicara sudah enam tahun lamanya kau tidak berbicara,”

“Hm..”

“Jangan berdeham terus.. ucapkan lah satu kata. Aku sudah menjadi temanmu selama tiga tahunn sama sekali belum mendengar suaramu, kau hanya melakukan gerakan yang itu-itu saja..”

“Hm,”

“Yah.. aku menyerah. Ayo sekarang antarkan aku makan..” dia menarik pergelangan tanganku dan membawaku bolos sekolah. Ya dia adalah sahabat yang tahan banget dengan sikapku ini. Semenjak di tinggal dia yang pindah, aku menjadi pendiam. Dan tidak terasa sudah enam tahun aku tidak berbicara sama sekali. Hanya berdeham, menggeleng dan mengangguk yang aku lakukan.

 

Uhm, mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur malas berbicara. Untungnya bibirku tidak benar-benar bisu…

“Oh iya.. ingat besok adalah pesta penyambutan kelas baru..”

“Hm..”

“Ayo kita beli baju baru!!!”

 

Bukanya masuk kedalam restaurant dia malah menariku ke sebuah toko butik yang terkenal di Korea. Dia memang orang kaya, dia juga anak pemilik sekolah yang aku tempati ini, jadi dia bebas melakukan apa saja yang ia mau!!

 

“Ayo coba gaun ini!” sambil menyodorkan sebuah gaun putih. Lebih tepatnya sebuah dress bagiku, karena gaun ini tidak sampai ujung kaki, hanya sampai lutut.. Eh, di atas lututku malah.

“Uhm,”

“Ayo coba…” dia menatapku dengan mata penuh harapan. Tanpa berkata apapun aku langsung pergi ke tempat ganti pakaian dan memakainya.

 

*

 

“Wow! Bagaimana bisa?” pasti ada yang salah dengan diriku? Sampai ia memasang wajah yang aneh.

“Kau sungguh berbeda,”

“Uhm..”

“Ayo kita kekasir, aku akan belikan baju ini untukmu!”

“Hm..” dehamku sambil menyunggingkan sedikit senyuman kecil di bibirku.

***

 

Chun Jung Myun Pov

 

Bisakah aku menemukan gaun di sekitar sini? Sangat sulit mencari gaun yang tidak aku ketahui ukuranya.

 

“Nona, bisakah anda menunjukan tempat gaun?” tanyaku pada seorang perempuan yang memakai baju karyawan.

 

Dia menunjukan arah tempat gaun tersebut sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk tanda mengerti dan menyusuri jalan yang di tunjukan perempuan tadi. Itu dia! Aku langsung berlari kecil menuju tempat tersebut. Gaun mana yang akan aku pilih? Aku sungguh bingung! Sudah ketemu tempatnya malah bingung…

 

Mata ku yang jernih ini terpaku melihat seorang perempuan dengan gaun putih yang ia kenakan. Gaun indah yang berbentuk pendek dan rambut lurusnya yang tergurai menambah atmosfer anggun,

 

“Maaf.. bisakah gaun mu itu untukku?” kalimat yang tidak penting aku ucapka pertama untuknya.

“Hm,” dehamnya sambil menunjuk gaun yang ia kenakan sendiri.

“Aduh.. tapi aku akan beli ini untuknya,” ucap tiba-tiba seorang perempuan di sebelahnya. Mungkin temanya,

“Aku akan bayar lebih!” ucapku tidak tanggung-tanggung,

“Hm, okelah.. bayar dulu sana, baru kau berikan aku uang tambahanmu..” ucap teman perempuan itu.

“Tunggu,”

 

Aku berjalan cepat menuju kasir.

 

“Nona, aku beli gaun yang perempuan itu kenakan,” ucapku sambil menunjukan perempuan yang mengenakan gaun,

“Harganya…. Sekian tuan,”

“Nih..” ucapku sambil menyodorkan kartu ATM, dan berlari kembali pergi ke tempat perempuan tersebut.

 

“Apakah sudah di bayar?”

“Yah sudah..” ucapku dengan ter engah-engah,

“Hye Bin, buka gaunmu.. dan berikan padanya,”

 

Hye  Bin? Apakah aku tidak salah dengar… Rasanya mengenal nama itu.

 

“Hm,” dia –Hye Bin- memberikan gaun putih itu padaku yang sudah terlipat dengan rapih.

“Jeongmal Gomawo!” ucapku sambil kembali kemeja kasir.

 

***

 

Author Pov

 

Jung Myun kembali kekasir dengan wajah yang sangat bahagia. Mengambil tas dan membawa kembali kartu ATM nya. Sedangkan Hye Bin yang masih terheran-heran hanya terdiam sambil memainkan bibirnya.

 

*

 

Hye Bin Pov

 

“Uhm,” aku mengambil kertas dan sebuah pulpen di tasku.

“Aku ingin pulang?” baca temanku yang melihat tulisanku di atas kertas. Aku menunduk dan berjalan pulang meninggalkanya di deretan pertokoan.

“Hum.” terdengar keluhan yang keluar dari bibirnya. Tapi itu tidak menurunkan niatku,

 

 

Aku berjalan lemas di pinggir trotoar komplek, banyak orang menatapku. Yah, aku anak bolos yang tidak tau malu. Berkeliaran di jalan bagai orang yang tersesat.

 

“Hum,” aku masuk ke dalam rumah. Terdengar suara bentakan yang menyambutku dengan keras.

 

“Papah bagaimana sih! Apakah Papah tidak berpikir!”

“Berpikir apa?! Mamah yang tidak tahu malu!”

“Seharusnya Mamah yang berbicara seperti itu! Lihat! Sudah berapa perempuan yang Papah… Yang Papah..”

“Yang  Papah apa?!”

“Yang Papah tiduri! Puas..! Puas buat Mamah seperti ini?!”

“Ah! Tau dari mana kau! Memangnya aku tidak tahu kalau kamu selalu membawa laki-laki muda masuk ke kamar saat aku tidak ada!”

“Aku tau karena aku melihatnya! Bagaimana dengan ucapanmu ITU! Kau hanya bisa melawan dengan kata-kata yang tidak BENAR!!”

 

Begini dan begini terus yang selalu aku dapatkan. Semenjak kakak perempuanku meninggal, orang tuaku selalu bertengkar tidak henti-henti. Mereka selalu mencari alas an untuk memulai pertengkaran. Dari membawa perempuan atau laki-laki lain seperti tadi.

Aku masuk ke kamar dengan lemas. Membaringkan tubuhku sambil mengambil sebuah foto yang sudah berdebu di atas meja kecil yang aku tutup selama enam tahun lalu. Ini fotoku dan foto seorang laki-laki yang tersenyum manis dengan giginya yang putih bersih.

 

Myun,… ucapku dalam hati sambil menaruh foto tersebut di atas meja. Aku mengalihkan pikiranku pada seorang lelaku yang berada di toko butik tadi. Dia aneh! Mau menghabiskan uangnya untuk sebuah gaun yang aku kenakan,

 

Padahal masih banyak gaun indah di sana. Mengapa ia menghabiskan uangnya untuk hal seperti ini. Lelaki yang babo,

 

*

 

“Hye Bin!!!”

“Uhm,”

“Ayo temani aku bolos lagi…” ucapnya sambil menarik tanganku.

“Hm…” aku memberontak dan melepaskan genggamanya.

“Waeyo? Kenapa?”

“Uh,” aku menggeleng dan berjalan cepat,

“Ayolah…” aku terus menggeleng. Dan yang aku dapat dia marah dan meninggalkanku.

 

***

 

Aku duduk terdiam sambil menatap langit di sepanjang pelajaran. Ini yang selalu aku kerjaan. Masuk sekolah serasa tidak masuk karena tidak pernah memperhatikan. Itu percuma,

 

Tapi ini lebih baik dari pada di rumah. Mendengar teriakan dan bentakan yang tidak henti-henti, ini membuatku gila.

 

Drrt… drt…

Bunyi handphoneku berbunyi. Aku membukanya dengan perlaha, kulihat sudah ada 2 sms masuk dengan jam dan waktu yang sama. Jam 06:66… Bagaimana bisa? Menitnya 66?

 

Ku buka dengan rasa penasaran yang menyelimutiku.

 

From : *****

To : Me

Bisakah kau menemuiku sekarang di sini? Belakang sekolah…

Apa ini?! Sms salah masuk kali yah, tapi aku penasaran..

 

Aku berdiri, dan mencari waktu yang tepat untuk guru yang di depanku itu lengah. Saat ia berbalik aku langsung bergegas menuju pintu dan keluar dari kelas. Ku larikan kakiku sepelan mungkin menuju halaman belakang sekolah.

 

*

 

Dimana dia? Hm, sms yang satu lagi mungkin… kubuka kembali handphone ku dan kembali membuka kotak masuk.

 

From : *****

To : Me

 

Kau sudah di halaman belakang? Kau pasti sedang menatapku sekarang. Aku tersenyum kearahmu 🙂

Apa maksud sms ini? Tersenyum kearahku…ini membuatku merinding, dimana dia?

 

Drrt… drt… bunyik sms kembali. Aku segera membukanya.

 

From : *****

To : Me

 

Ternyata itu benar dirimu. Terimakasih kau sudah datang, kita akan bertemu lagi…

Ha? Apa ini… apakah sms ini benar-benar untukku? Mungkin kah ini salah kirim?

 

“Hye Bin!”

“Aa!” teriakku dengan kecepatan sekajap.

“Kemajuan! Kau sudah bisa berteriak,”

“Uhm.” Dehamku yang mendapati yang mengagetkanku adalah temanku sendiri.

“Ayolah jangan berdeham lagi…”

“Hm,”

“Sedang apa kau disini?” aku menggeleng,

“Aneh! Kalau begitu ayo kembali ke kelas,”

 

***

 

Rasa cemas sampur aduk dengan takut menghantuiku. Bagaimana bisa, dia… dia seorang yang tidak aku kenal, dengan inisial lima bintang yang aneh. Mengapa ia terus menerorku. Apa salahku padanya? Aku selalu mengikuti kemauannya,

 

Drrtt..drtt…

 

From : *****

To : Me

Hei, lihatlah kedepan… dan telepon nomer ini, 08467xxxx8,,

Sekarang apa lagi, menelefonya..?

 

Aku mengalihkan pandanganku kedepan sesuai perintahnya, menekan perlahan tombol demi tombol yang ia suruh. Ku taruh telepon genggamku tepat di telingaku, menunggu seseorang mengangkatnya.

 

‘Hei!’ aku kaget dan hampir saja melepaskan teleponku,

‘H…hei,’

‘Apakah kau bisa melihatku?’

‘Melihatmu? Apa maksudmu?’

‘Aku selalu ada di sampingmu… aku sel..’

‘Tunggu! Sampingku,’ aku menengok ke sebelahku dan…

 

“Aaaa!!!” sekarang teleponku benar-benar aku lepas, lebih tepatnya aku lempar tepat di wajahnya.

“Awww!” ia mengelus-ngelus keningnya dan mengambil HP yang terjatuh di dekatnya.

“Kau?”

“Kau masih mengingatku?”

“Kau orang yang…”

“Ya aku orang yang membeli gaunmu,”

“Bukan gaunku..”

“Hm, terserahlah..”

“Bagaimana bisa?”

 

***

 

Chun Jung Myun Pov

 

“Hm,.. aku juga tidak tahu,.. Bagaimana dengan namamu?”

“Mengapa kau bertanya padaku ‘nama’ sedangkan kau selalu menerorku,”

 

Aisshhh.. yeoja ini pintar sekali. Gagal mengalihkan pembicaraan,

 

“Kau? Siapa?” tanyanya balik.

“Jung… Jung Myun,” ucapku cepat.

“Jung Myun?”

“Yah! 100 untukmu,”

“Tunggu…” dia berjalan mundur sampai ia menabrak lemari bajunya yang berwarna biru campur putih segar, lalu berbalik dan membuka nya lalu mengobrak-ngabrik seperti mencari sesuatu…

 

“Hei, aku baru sadar..” saat aku mengucapkan empat kata tersebut dia berbalik dan menatapku bingung penuh penasaran dan menghentikan pencarian gilanya.

“Kau berbicara padaku…biasanya kau hanya berdeham,”

 

Dia agak tersentak dan menarik nafas pelan-pelan, “Mengapa aku bisa bicara padamu?” aku hanya mengangkat pundak dan sedikit menggelengkan kepalaku, dia berbalik dan melanjutkan pencarian gilanya.

 

*

 

“Apakah ini dirimu?” dia menunjukan sebuah foto tepat di depan wajahku.

“Hei, bisa jauhkan itu.. aku sulit melihatnya,” ia menarik sedikir foto di depan wajahku,

 

“Bagaimana kau punya fotoku? Dan ini…”

“Ini aku,”

“Kau… jangan-jangan,”

“Ya aku Hyebin,”

 

Apakah benar? Dia sudah banyak berubah… sulit sekali mengenalinya, aku akan buat kesan yang baik untuknya, sebelum… yah,susah mengucapkanya.

***

Hyebin Pov

 

Semenjak kemarin, orang tuaku selalu menganggapku sakit. Karena aku sudah mau berbicara, dan semua teman-temanku sangat terkagum-kagum akan suaraku. Memangnya ada yang salah? Berdeham salah…bersuara salah, gimana sih…

 

Kalau yang satu ini memang salah. Mengapa dia, selalu ada di rumahku. Dan orang tuaku menyambutnya dengan baik. Seperti sudah di cuci otaknya,

 

“Bin… bisakah kau , yah..jalan-jalan denganku.”

“Hm,” aku hanya berdeham sambil mengangguk pelan. Bosan di rumah selalu di… ah sudahlah,

 

“Mau kemana?” tanyaku pelan.

“Kita ke toko keramik,?” dengan cepat  ia menarik tanganku dan membawaku ke tempat yang sudah tidak asing lagi. Toko keramik tua punya Kakek Gumiho yang masih terawat sangat  baik.

 

*

 

“Kakek!” ucapnya dengan agak berteriak.

“Suara ini.. Jung Myun?!” ucap kakek Gumiho sambil memeluk Jung Myun dengan ekspresi yang sangat bahagia.

“Ini pasti…”

“Iya kek, saya Hyebin..”

“Ohooo… sudah lama tidak bertemu, kau sudah tumbuh cantik.”ucap kakek Gumiho sambil menepuk pelan pundakku, dan aku hanya tertawa kecil,

 

“Kek… aku mau bikin keramik yah,”

“Silahkan, kakek tunggu di depan.”

 

*

 

Seperti tadi, Jung Myun sudah menariku ke tempat pembuatan keramik. ‘Ingat?’ ucapnya sambil menunjuk sebuah pot kecil yang berantakan bentuknya.

 

“Kau….”ucapku sambil sedikit menekan,

“Pasti kau mau bilang,… ‘Jangan buka aibku disini!’ benarkan?”

“Ah sudahlah..” dengan refleks aku langsung duduk di kursi kecil depan piring putaran,

“Kau mau berlomba?”

“Ayo! Akan kutunjukan AIB ku hanya kenangan lama…”

“Hahaha.. oke!”

 

***

 

Author Pov

 

Hyebin yang sudah serius dengan tembikarnya menjadi hancur gara-gara Jung Myun menyolekan sedikit tanah lihat kewajah Hyebin. “Ah… Kau ini!” teriak Hyebin sambil membalas Jung Myun dengan menhancurkan keramik yang sudah hampir jadi yang barusan di buat Jung Myun. “Hei!” teriak Jung Myun. “Itu balasannya…” ucap Hyebin sambil menjulurkan lidahnya. Dan akhirnya mereka malah kejar-kejaran,

 

“Kakek kami pulang dulu…” ucap Hyebin sambil bersalaman pada kakek Gumiho yang sudah siap di depan pintu.

“Yah.. hati-hati, datanglah lagi kesini,”

“Baik.”ucap Hyebin riang. Lalu ia menarik tangan Jung Myun yang masih mengelus-ngelus kayu toko keramik tersebut,

 

*

 

Hyebin Pov

 

“Ada apa denganmu?”

“Apa?” aku menarik nafas untuk mengulangi kata kembali.

“Aku bilang Ada Apa dengamu? Sepertinya kau tidak akan bertemu lagi dengan Kakek Gumiho dan toko keramiknya itu,”

“Uhm,.. yah.. aku merasa tidak enak saja.”

“Oh, hm,… Apakah kau akan menginap lagi di rumahku?”

“Hahahha.. kau menginginkan itu?”

“Enggak… Aku kan bertanya, jangan GR dong,,”

“Hahhaha, tenang.. aku akan pulang. Kau bisa tenang sekarang..”

 

Aku memandang lurus kedepan. Mengapa rasanya tidak rela dia meninggalkanku. Apakah ini perasaan yang baik atau buruk. Ayo Hyebin hilangkan itu.

“Bag…” seketika aku berbalik dia sudah tidak ada di tempat. Lebih tepatnya sudah tidak berada di sampingku lagi. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Aku pikir mungkin dia jahil. Ah~ sudahlah lebih baik aku pulang saja. Sudah malam,…

 

Sampai di rumah. Aku di sambut dengan baik oleh kedua orang tuaku yang sudah duduk cemas di ruang depan pintu masuk. Tatapanku langsung mengarah ketempat duduk sedang berwarna merah yang biasa di duduki Jung Myun.

 

“Umma.. kemana pemuda yang biasa duduk di situ?” tanyaku penasaran.

“Pemuda? Pemuda apa.. kau sakit nak? Lebih baik kau cepat ke kamar dan tidur..”

“Ha? Umma.. aku belum cape.”

“Ah~ sudahlah.. kau aneh hari ini nak, istirahat sana..” Umma pun menggeretku sampai ke kamar.

 

Yah aku pasti tidak akan menuruti Umma. Sampai di kamar aku hanya dia termenung, mengingat kembali kejadian yang tadi. ‘Apa maksudnya?’ Aku membaringkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamarku yang bercahaya jika tidak ku nyalakan lampu. Langit-langit ini juga di buat olehnya. ‘Ah~ kemanas ih dia?

 

Tok tuk tok tuk! Tok! Tuk!

 

Kulihat di jendelaku ada sebuah burung merpati putih yang cantik. Dia membawa tas kecil yang berisi sebuah kertas yang di gulung dengan rapih. Aku mengambil kertas tersebut dengan perlahan. Lalu burung itu pun pergi dengan cepat.

 

“Apakah ini untukku?” gumamku sendiri sambil membuka gulungan kertas tersebut.

“Tertanda untuk Hyebin..” bacaku. Aku langsung mengambil duduk yang nyaman untuk membaca.

 

Ingatkah kau dengan ku? Haha… aku adalah teman lelaki masa kecilmu dulu sebelum aku pindah dan bertemu denganmu lagi saat di Mall. Ingat lelaki yang membeli dengan paksa gaun yang baru saja kau coba.

 

“Jung Myun?” aku langsung menarik kertas tersebut tepat di wajahku. “Apakah benar ini dia? Tapi…”

 

Yah aku Jung Myun. Kau pasti menyadarinya,

Uhm.. klimaksnya. Aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Maaf aku meninggalkanmu sendirian di jalan. Aku sudah harus pergi karena waktunya habis. Sebenarnya masih lama sih. Tapi aku tidak mau membuat kenangan yang terlalu banyak denganmu. Karena itu akan membuat diriku sakit sendiri, baiklah…

“Ha? Apa ini.. sudah selesai. Ini tidak masuk akal.. dia adalah temanku. Dan, sekarang dia malah menghilang dengan meninggalkan surat yang tidak jelas ini..”

 

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menaruh kertas tersebut di atas meja. Saat aku berbalik. Di atas tempat tidurku sudah ada gaun putih yang sangat cantik. Aku mendekati gaun tersebut dengan perlahan dan memegangnya. “Bukankan ini gaun yang aku coba waktu itu?” aku mengangkat gaun tersebut dan memainkanya. “Ini aneh!”

 

*

 

Besoknya aku berkunjung kesuatu tempat. Ya toko tembikar milik Kakek Gumiho, rasanya aku sangat rindu akan tempat tersebut, padahal baru saja kemarin aku kesana.

 

“Kakek..!!” ucapku sambil memasuki pintu yang sudah rapuh tersebut.

“Kek…” panggilku berkali-kali. “Kemana dia?” aku tertunduk lemas di depan pintu. Dan tiba-tiba ada yang menepukku,

“Maaf..”

“Yah?” ucapku sambil melonjak kebelakang.

“Sedang apa anda kesini?”

“Uhm, saya mau berkunjung menemu kakek Gumiho pemilik tempat ini,” ucapku sambil menunjuk toko tembikar yang berada di belakangku.

“Mungkin anda belum tau.. kalau kakek Gumiho sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Dan tempat ini jadi kosong,”

“Ha? Baru kemarin aku kesini.. dan ada Kakek,”

“Mungkin anda hanya berhalusinasi,” ucap orang itu sambil tertawa dan meninggalkanku.

 

Aku berjalan pulang dengan kecewa sekaligus yah bagaimana.. pasti kalian tau. KAGET! Mana mungkin orang yang baru saja kemarin aku temusi sudah meninggal 4 tahun yang lalu?!

 

“Hei!” kulihat burung merpati kemarin hinggap di sebuah daha pohon. Aku pun mendekatinya, dan ia pun terbang…

 

Aku terus mengejarnya sampai ia. BRAAAKK!!! Aku tersentak. Bagaimana bisa? Burungnya.. burungnya tertabrak truk dan jatuh dengan keadaan berdarah. Kulihat dan kutatap burung tersebut yang berusaha untuk hidup tapi takdir yang berkata lain dan membuatnya meninggal. Sekilas aku melihat burung itu adalah Jung Myun,

 

“Jung Myun?” pikiran ku yang melayang keraha Jung Myun membuatku tumbang dan mengalirkan air mata yang cukup deras.

 

***

 

EPILOG :

 

“Jung Myun.. apakah kau baik-baik saja,” ucapku. Dan tentu saja tidak akan ada jawaban. Aku menaruh sebuket bunga di atas gundukan tanah tempat persiaman terakhirnya.

 

Setelah kejadian burung merpati yang tertabrak beberapa hari yang lalu. Aku terbangun sudah berada di rumah sakit. Dan keluargaku menceritakan aku di temukan di pinggirjalan pingsan sambil memeluk burung merpati yang berlumuran darah.

 

Dan orang tuaku mendapatkan telepon dari keluarga Jung Myun bahwa ia membatalkan perjanjian perjodohan di antara kami. Dengan menyesal Ummaku mengatakan bahwa Jung Myun meninggal sebulan yang lalu. Ia tertabrak saat mau menyebrang sepulang membeli gaun,

 

“Umma gak tau bagaimana bisa kau menyimpan gaun yang Jung Myun belikan untukmu?” ucap Umma ku sambil meyodorkan sebuah gaun padaku. Yah ini gaunnya, ternyata ini memang untukku.

 

Dan sekarang aku tau. Dia kembali dengan wujud yang berbeda…

 

FIN