RSS Feed

Tag Archives: PG 13

This is like the first my birthday : 1S : Straight

Posted on

Title : This is like the first my birthday

Genre : Romance

Rating : PG -13

Type : Straight

Cast :

*Ui*

*_ _ _ _ a.k.a _ _ _ _* (secret)

Other Cast :

* Via*

* Indah*

* Riri*

* Sylmi*

* Yuri*

*Hangeng a.k.a Hankyung*

*Choi Minho a.k.a Minho*

*Kim KiBum a.k.a Key*

*Lee Jinki a.k.a Onew*

Ket : Fanfiction ini hanya memberikan hadiah indah bagi para yeoja yang akan, lalu atau sedang berulang tahun hari ini. Saengil Cukkae!!!! ^^

All in this stories is Ui Pov

AKU HARAP SEMUA YANG BACA KOMENT YAH! JANGAN JADI SILENT READERS… #GOMAPTA

+ + +

“Ui!!!” teriak suara tertoa di apartemenku ini. Siapa lagi dan bukan ya Sylmi. Dia adalah teman bermainku di sini.

“Gandeng!! Rujit kalian pagi-pagi sudah berisik,” kubuka pintu dan kulihat Sylmi bersama kedua temanya. Aku tau mereka segandeng Sylmi ya tentu saja mereka tiga sejoli dengan suara besar.

“Apa?” tanyaku dengan ketus.

“Bagaimana sih, katanya mau ke TB?” ucap Yuri dengan cemberut.

“TB? Siapa yang mau ke TB.. aku mau tidur, dah…” Bak! Ya seperti itu bunyi pintu yang ku tutup dengan agak keras. Kudengar mereka menyalahkan Riri atas buang-buang waktu mereka mengajakku ke TB. Sebenarnya aku ingin, tapi rasanya DIA berkehendak lain dan menginginkanku untuk beristirahat di rumah.

“Uii!!!” baru hendak mau berbaring sudah ada yang memanggilku lagi.

“Apa?” sekarang di depan pintuku sudah berganti orang. Yah mereka tetap kelompok sejoli yang berbeda jurusan. Wuih,.. apa lagi sekarang.

“Ui, mau gak nanti malam lihat konser Minho..” ucap mereka bersamaan.

“Enggak ah~ aku mah inginya tidur!”

“Yah Ui mah.. terus siapa yang mau bayarin kita nonton?”

“Ya Minho lah.. dia yang mau di tonton gimana sih?”

“Oh iya! Kenapa gak kepikiran.. Minho!!!”

“Ssssttt.. gandeng.. sana sampaerin aja di ujung. Paling dia lagi tidur,” ku ulangi perbuatanku tadi. Ku tutup pintu kembali dan berlari secepat kecil menuju tempat tidur. Berharap tidak ada lagi yang akan mengganggu.

Dan itu benar terjadi. Akhirnya aku bisa tertisur pulas dengan nyaman di tempat tidurku yang empuk. Kulihat jam sudah menunjukan matahari terbenam. ‘tidurku lama sekali..’ gumamku sendiri dengan berusaha mengumpulkan seluruh arwahku untuk memulai aktifitas.

Setelah mandi ku berencana untuk keluar jalan-jalan. Kuingat semua orang yang mengajakku beramain sudah ku tolak, pasti mereka juga sibuk sekarang. ‘hufh..’ berjalan sendirian di jalan kecil pada malam hari memang menakutkan. Apalagi diriku ini seorang perempuan.

“Hei!” tepuk seseorang dari belakang. Dari segi suara nya ia seorang laki-laki dewasa, hebusan nafasnya yang berbau alcohol menandakan dia mabuk. ‘serang ui.. serang..’ kukuatkan mentalku terlebih dahulu. Dan.. aku membalikan badan dan ku pukul namja tersebut dengan tas beton yang kubawa ini dengan sekuat tenaga. Lalu kulari pergi menjauh.. sejauh mungkin!

“Apakah.. huf.. ini s..huf sudah cukup jauh?” aku berhenti tepat di sebuah taman dengan lampu yang cukup terang. Ku lihat kearah belakang. ‘sepertinya namja tadi tidak mengikutiku..’ aku mengelus ngelus dadaku karena sudah cukup tenang. Tapi denyut jantungku masih berdegup terus. ‘apakah ini karma? Aku menolak semua ajakan temanku… huh!’ ku berjalan dengan langkah besar dan mengayunkan tas kecilku ke udara mendekati ayunan yang bergoyang sendiri karena tertiup angin.

Ku naiki ayunan itu dan bergoyang sedikit menikmati angina malam. ‘aku rindu teman-temanku..’ gumamku kecil. Ku tatap langit yang sudah mulai terisi dengan beberapa bintang yang benderang. Ini membuatku ingin menangis! Mengapa mereka bisa mempunyai teman setiap malam! Mengapa aku tidak! Aku ingin punya teman saat dimana aku selalu menginginkanya, huh! Ini membuatku sebal.

“Kau?” tiba-tiba seorang namja sudah hadir di depanku dengan wajah yang terbengong seperti ayam menunjukku dengan jarinya dan menatapku dengan mulut ternganga. “Kau siapa?” tanyaku balik. “Kau kan yang memanggilku.. bagaimana sih?”. Aku mengambil alih ekpresinya, sekarang aku yang terbengong menatapnya seperti ayam dengan mulut ternganga untuk siapa menjawab, “Kapan aku memanggilmu?” dan akhirnya kami saling cercok. Bagaimana bisa.. kapan aku mengenalnya saja belum pernah.. rujit.

“Jangan cemberut seperti itu.. itu tidak baik untuk dirimu,”

“Aku tidak cemberut.,. aku hanya bingung! Kau datang tiba-tiba dan mengaku aku yang memanggilmu.. ini aneh, jangan-jangan..”

“Apa?”

“Kau menguntitku..”

“Aniyo.. buat apa aku menguntit yeoja sepertimu.”

“Heh! Sudah di baikin nglunjak gimana sih?”

“Ya maaf maaf, aku kan hanya mencoba jujur.”

“Sebelum jujur pikir dulu omonganmu bagus gak di denger orang..” ucapku mencoba menasehati.

“Enggak.” Jawabnya polos.

“Ah~ kau ini.. sudahlah aku mau pulang!” ucapku sambil beranjak pergi meninggalkan taman. “Tunggu! Jangan tinggalkan aku disini,” kudengar dia mengeluh. Terus terusan dan membuatku sedikit muak.

“Hei!” ku berbalik saat tepat satu langkah di depan taman. Dan melihat sudah tidak ada dirinyalagi disana. ‘Uh…’ keluhku sambil berjalan pulang dengan hentakan bumi yang keras di setiap langkahnya.

+ + +

“Ui!!” yah seperti biasa. Pasti selalu ada orang yang mengganggu hari baikku. Entah itu dua sejoli atau tiga sejoli.

“Ya?”ku lontarkan kata ‘ya’ dalam arti bertanya pada mereka. Dan sekarang yang ku hadapali adalah tiga sejoli yang sedang menatapku dengan mata penuh harap.

“Ui.. ayo ke TB!” ucap Yuri dengan cukup lantang.

“Ayo!” tambah Riri dengan suara toanya.

“Ani..yo.. kalian kemarin datang dan memintaku dengan hal yang sama, menganggu hari liburku tau..” ucapku.

“Kemarin? Kami tidak datang.. kami baru mendatangimu hari ini!” ucap Sylmi dengan wajah mengingat masa lampaunya.

“Ia. Kami baru datang hari ini,” tambah Yuri.

“Ah~ sudahlah.. ini bukan waktunya ngajak debat. aku mau tidur dah..~”  seperti kemarin aku menutup pintuku dengan cukup keras dengan bersuara BAK! Lalu aku berdiam dulu di balik pintu. Dan..

“Uii..!!”

“Apa? Konser Minho? Uangnya gak ada.. minta ajah ke Minho yah.. dah~” Baak! Bantingan pintu kedua terasa lebih pelan. Ku dengar mereka berbisik tentangku yang aneh bisa mengetahui keinginan mereka. Sebenarnya diriku juga merasa bingung. ‘cuek aja lah..’ gumamku sambil beranjak mengambil handuk dan mandi.

Selesai mandi kuambil secangkir susu coklat panas dan meminumnya di atas tempat tidur sambil menatap jendela. ‘kalau kejadian ini kemarin terulang, apa aku akan bertemu dengan namja itu lagi?’ pikiranku terus tertuju ke sana. Melihat lurus kearah taman yang kemarin atau yang sebenarnya hanya aku lalui di alam mimpi? Entahlah..

+ + +

“Pada bawa buku biologi?” kalimat pertama yang aku ucapkan saat sampai di depan kelas. “Aku bawa!” “Aku enggak!” kedua jawaban itu yang aku terima dari masing –masing orang.

“Ui bawa gak?” tanya Riri dengan muka senyam senyum. ‘sepertinya dia mau sombong, kalau dia bawa..’ firasatku dalam hati. “Aku enggak bawa..” ucapku dengan wajah memelas takut di marahi guru biologi. “Aku juga! Hehehe..” dan ternyata firasatku salah.. ini memalukan.

“Yur kamu bawa?” dan Yuri menggeleng. ‘Uhm.. ga pa pa lah banyak yang gak bawa ini,’ gumamku sambil menurunkan bangku dan duduk bersebelahan dengan Riri yang sedang asyik mengobrol dengan Sylmi.

“Sylmi gimana dong? Aku gak bawa buku biologi.. kamu bawa?”

“Bawa..” ucap Sylmi polos sambil melanjutkan ngobrolnya bersama Riri lagi.

Pikiranku terus berputar mencari ide buat alasan, tapi otaku malah jadi pusing. “Gimana dong Ri?” dengan muka tanpa dosa Riri hanya menggelengkan kepala dan santai kembali mengobrol. ‘mengapa aku panik sendiri?’

“Ui!” teriak seseorang dari luar. Rupanya Hankyung, “Wae?” tanyaku melihatnya ngos-ngosan seperti habis lari 400meter. “Ini..” ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku catatan. Detik itu hatiku langsung lompat ke girangan mendapati buku catatan biologiku di bawa olehnya,

“Ini punyaku? Kau dapat dari mana?”

“Entahlah, tadi ada seorang namja yang menitipnya padaku.”

“Namja? Apakah dia berwajah baby face..”

“Iya.. tapi gantengan aku kan,”

“Heeuh lah kumaha maneh, makasih yah..” sepanjang langkahku menuju tempat duduk aku terus jingkrak-jingkrakan.

“Kenapa Ui?” tanya Via yang dari tadi sibuk ngajarin Minho matematika menengok kearahku,

“Enggak ada apa-apa.. hehehe,”

“Bohong..” ucap Indah nimbrung sambil nunjuk-nunjuk buku catatanku..

“Hehehehe, ini buku Biologi, kekeke..”

“Ketemu dimana?” tanya Via lagi,

“Tadi di anterin Hankyung..”

“Adeuy.. sama Hankyung,” mendengar itu aku hanya cekikikan sendiri.

Aku langsung jalan ke meja ku dan memperlihatkan buku Biologiku pada Riri yang sendari tadi belum selesai mengobrol bersama Sylmi.

“Ri.. ternyata buku Biologiku ketemu!!!” besorak kegirangan.

“Wah! Dimana?” tanyanya dengan wajah tidak menandakan kesal sama sekali.

“Tadi di anterin Hankyung, kekeke..”

“Wah! Sama dong. Kita senansib!”

“Ha? Senasib? Maksud? Kamu kan katanya gak bawa.. ”

“Ternyata buku Biologiku kebawa sama Onew. Hhehe.. barusan di balikin,” ngek? Mengapa selalu mujur dirinya. Uhm, apa gara-gara kelompok ‘*seri’ yang di buat saat pelajaran fisika. Hahaha..

“Oh iya Ui, tadi ada surat di mejamu..” ucap Key yang tiba-tiba menyodorkan surat dengan amplop warna biru muda.

“Mana? Dari siapa?”

“Gak tau..”

Tertulis di surat itu ‘JANGAN DI BUKA’. “Ha?” gumamku lirih. “Suarat apaan sih.. gak jelas.” Aku menaruh surat itu kembali di atas meja dan meninggalkannya.

+ + +

Angin siang yang telah menjelma menjadi angin malam memberikan irama yang khas. Aku berjalan sendirian di tengah jalan yang sepi. Entah mengapa langkahku berjalan kesini. Padahal aku ingin main kerumah sebelah. Mengapa jadi berjalan sejauh ini.

“Hei kaki.. bisakah engkau berhenti,” keluhku kesal sambil sedikit mengguncang kakiku dengan beberapa pukulan kecil. Setiap langkah aku menahan kakiku agar diam tapi malah terus maju sampai berhenti di depan taman yang kemarin aku temui.

“Mengapa kau berhenti disini? Kau ingin aku kesini..” dengan sugesti yang gila aku menuruti kakiku, bukan kakiku yang menurutiku.

Aku berjalan pelan dan duduk di ayunan, menggoyangkanya mengikuti angin malam yang dingin dengan sedikit berdesis. “Kau kemari?” terlihat namja dengan baby face senyum lebar melihat kearahku. “Ya. Dan kakiku yang membawaku kesini,” sahutku dengan sedikit kesal.

“Bagaimana dengan buku biologimu? Tersampaikan?”

“Kau yang memberikanya kepada Hankyung?”

“Ya. Kemarin aku menemukannya di taman..” aku berpikir sejenak. ‘Buat apa aku bawa-bawa buku biologi ketaman? Kerajinan amat gue..’

“Kau temukan? Terimakasih..” ucapku sambil menunduk 90 derajat. Dia menatapku dengan senyuman manisnya.

“Bolehkah aku duduk di sebelahmu?” aku mengangguk kecil. Dia lalu duduk di sebelahku dengan tatapan bahagia. “Mengapa kau selalu berada disini? Kau penghuni taman ini?” ucapku memulai topik. “Tidak. Aku hanya kebetulan lewat sini, karena rumahku di dekat sini,” aku megangguk mengerti. Lalu kami pun menjadi canggung kembali. Hanya diam membisu,

“Kau lapar? Mau aku belikan bakpao?”

“Bakpao? Dimana.. aku ikut!” aku langsung menarik tangannya untuk meninggalkan taman sepi yang cukup menyeramkan ini. Kami berjalan berdua ke pusat kota dengan kemeriahan warna warni lampu di setiap tokonya.

“Ayo kesini!” dengan sekejap aku sudah berada di dalam toko dengan warna cerah berisi ‘big doll’ yang lucu-lucu. “Kau mau yang mana?” ucapnya sambil melihat kekanan dan kekiri. “Kau mau membelikan untukku?” tanyaku mencari kejelasan.

“Tentu!” senyum lebar dengan bunga bunga keluar dari wajahku yang sendari tadi tertunduk kesal meratapi nasib. Ku tarik tanganya mendekati boneka beruang yang besar berwarna putih dengan hiasa pita hitam kecil di lehernya. Simpel dan manis. “Kau mau yang ini?” ucapnya sambil menunjuk boneka hijau besar yang tak lain boneka kodok (baca : keroro #not keroro gunzo kekeke). “Aniyo.. aku mau yang ini!” tunjukku kepada boneka beruang tadi.

“Kalau begitu cepat ambil dan kita pergi ke kasir sekarang juga. Aku lapar..” keluhnya dengan suara bayi yang sangat imut membuatku ketawa beberapa detik sambil berjalan ke kasir membawa sebuah boneka beruang besar.

“Sekarang mau kemana?” tanyaku melihat dirinya yang kelaparan sambil memegangi perut.

“Lihat disana ada bakpao! Ayo beli!!!” dia menarikku yang masih setengah sadar dengan tergeret menuju tukang bakpao di dekat kedai makanan. “Mang beli bakpaonya 6!” ucapnya lantang langsung cenghar saat melihat bakpao. “6? Banyak banyak sekali.. buat siapa aja?”

“1 buatmu dan 5 untukku.. hahahaha..” aku termanggu melihat hal itu. Ternyata nafsu makanya besar sekali. “Mang nanti antarkan ke dalam yah.. saya dan yeojacingu saya mau makan di dalam..” dengan tarikanya kembali aku masuk kedalam dengan bingung.

“Tunggu! Yeojacingu?” dia mengangguk sambil menyuruhku duduk di bangku ujung dekat penghangat ruangan. “Kapan kita jadian?” ucapku bingung. “Sudah duduk saja dulu.. aku akan pesan makanan,”

5 menit.. 10 menit.. dia belum kembali dari memesan makanan. ‘Lama sekali..’ gumamku sambil terus memeluk boneka beruang yang barusan ia beli untukku. 25 menit…

“Maaf lama..” ucapnya dengan terengah-engah. “Dari mana saja kau?” keluhku sambil menunjukan pukul berapa sekarang. “Tadi aku keluar melihat syal yang bagus untuk couple kita. Aku belikan satu untukmu, lalu aku melihat tukang pisang aroma makanya aku beli dulu.” Jelasnya sambil menyodorkan beberapa barang dan makanan padaku. Yang tidak lain sebuah syal bewarna ungu muda, pisang aroma dan bakpao yang tadi di pesannya. “Apakah makanannya sudah di pesan?”..

“Sudah tadi,,”

Dengan detik yang sama, pelayan membawakan sembilah makanan ke meja kami. Ternyata ia memesan nasi goreng untuk kami. “Kau suka syalnya?” ucapnya tiba-tiba. “Ssssttt. Berdoa dulu!”potongku sambil menunjukan bahwa aku berdoa. “Tadi pertanyaanku?”

“Ya.. aku suka, warnanya lucu.. dan hangat,”

“Bagusalah kalau kau menyukainya..”

Sepanjang makan kami ribut bercanda dengan diri masing-masing. Menceritakan hal-hal lucu yang pernah di lalui, dan..

“Tunggu!”

“Apa?” ucapnya sambil terus mengunyah nasi yang berada di mulutnya.

“Siapa namamu? Selama tadi aku mengenalmu tapi aku tidak tahu namamu..” ucapku pelan.

“KimBum imnida (u-know kimbum BBF), kau yeojacingu?”

“Ui imnida, singkat!”

“Namamu singkat sekali..”

“Hehehe, kalau mau komplen, komplenlah ke ibuku yang memberiku nama sesingkat ini..” dia malah tertawa mendengar pernyataanku.

Jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Tapi diriku dan Kimbum masih saja asyik berjalan di tengah keramaian kota yang sudah mulai menyepi. “Kita pulang yuk!” ajakku yang sudah lumayan capek dengan semua aktifitas yang aku lakukan hari ini.

Sepanjang jalan di terus merangkulku dengan lembut. Rasanya hangat dan nyaman. ‘Apakah benar aku yeojacingunya? Sepertinya aku beruntung sekali..’ ucapku dalam hati dengan memasang senyam senyum. “Kenapa?” tanyanya yang sepertinya melihatku senyam senyum. “Aniyo.. hehehe” jawabku sambil menggeleng kecil dengan terus tersenyum.

“Nah! Sudah sampai!” sekarang aku dan Kimbum sudah tepat di depan pintu apartementku. Kulihat sudah sangat sepi disini. Sepertinya semua orang sudah terlelap tidur. “Terimakasih telah menemaniku malam ini.” Ucapku dengan malu. Dia dengan wajah merah padam mengangguk kecil dengan sungingan senyum di bibirnya.

“Wah! Tepat pukul tengah malam,” ucapku yang terkaget melihat jam yang menunjukan pukul 00:00,  dengan tiba-tiba ia menarikku ke pelukanya, mengangkat wajahku, menyentuh bibirku lalu….

“HAPPY BIRTHDAY UI!!!!” teriak sorak sorai dengan amat keras ketika pintu apartementku yang terbuka dengan sendirinya. Dengan refleks Kimbum melepaskan pelukanya dengan waktu sangat singkat dan tidak terlihat oleh mata. Wajahku memerah panas entah apa yang tadi terjadi.

“Ui saengil cukkae!!” ucap mereka semua dengan sibuk menari-nari dan memberiku kado. “Kalian.. ingat ulangtahunku..” aku sangat terharu dan tak kuasa menahan tangis hingga aku terududuk di bawah sambil menutupi wajahku. Semua temanku berkumpul di dalam rumahku dan membuat kejutan semewah ini. “Janganlah menangis..” bisik Kimbum padaku hangat.

Aku berdiri dengan segenap tenaga yang kupunya, dan …“Terimakasih semuanya.. ”

FIN

Author berbicara, #ckckck

Bagaimana reader? Apakah bagus?

Maaf author lama ngepost FF, gak ada yang kangen kan sama FF author T_T #plak

*masalah yang kelompok seri tadi adalah,

Waktu pelajar Fisika tambahan, author dkk belajar tentang rangkaian listrik seri dan pararel, kalau seri lurus dan pararel bercabang. Lalu saat itu juga author dkk sedang duduk sejajar dengan teman-teman author makanya author bilang kelompok seri, karena sejajar dan melakukan hal bersamaan. Kalau nilai ulangan satu jelek, semua jelek. Kalau yang satu bagus, semua bagus. Ckckckck..

Tapi kalau bener ada yang jelek, kabel nya di putusin ajah. Ckckckck, biar gak nyambung ke yang lain. Lalu kalau pararel adalah teman author yang duduknya di belakang tidak sejajar gitu. Heheheh, gejos ya. ehehhe*

Buat semuanya terimakasih sudah mau baca,

Mungkin author akan hiatus dulu. Mau ujian, dan lagi. Entah kenapa author jadi sulit bikin FF. mungkin udah lama gak bikin.

Sekian dulu, ckckck… bye bye,,

JANGAN LUPA KOMENTARNYA YAH!!! KRITIK DAN SARAN AKAN SELALU AUTHOR TERIMA, DADAH!!!

Heavenly Forest : 1S : Straight

Posted on

Title : Heavenly Forest

Rating : PG – 15

Genre : Drama

Author : Han Sang Ra

Main Cast : Tiffany  as You, Yesung (Super Junior)

Support Cast : Jessica, Yoona, Sooyoung and Heechul, Hankyung.

Credit Song : ?

Nb : Fanfict ini adalah rekaya dari sebuah drama Jepang^^.

WARNING!!!

Aku harap yang numpang baca, atau yang tidak sengaja lewat dan baca ini, mohon di komentari!!! Don’t be a silent leader.

###

_Author Po_v

Dia terlalu sering berbohong,

Seorang namja terus memegangi sekuncup surat di dalam bus. Ia tertidur dengan lelap dalam mimpinya. Srreekk. Surat ia yang pegang terjatuh dari tangannya.

Sreekk srreeek

“Ku kira kau menjatuhkan ini,” ucap seorang yeoja kecil kepadanya. Sambil menunjukan surat suratnya yang terjatuh.

“Eh, gomawo^^”

“Kembali, selamat natal.”

“Selamat natal.” Balas namja tersebut sambil tersenyum lepas.

_Yesung Po_v

Dear Tiffany.

Terimakasih untuk suratnya.

Aku menyusul kau ke NEW YORK bulan depan.

Sudah lebih dari dua tahun terakhir kita tak bertemu.

Aku benar benar terkejut mengetahui pameran fotomu akan di tampilkan disana.

Aku tak sabar melihatnya.

Padatnya arus New York tak mengurunkan niatku untuk berjalan. Membawa map besar agar aku tidak tersesat.

“Uh, maaf. Dimanakah tempat ini?” tanyaku pada salah satu orang disana.

“Um.. kira kira 2 block dari sini, lalu belok kiri.”

Ku masih mengingat waktu yang telah kuhabiskan bersamamu.

Dalam tiga tahun kita habiskan waktu bersama-sama, begitu banyak aku tertipu dengan kebohonganmu.

Ku berlari cepat saat menemukan tempat yang ku cari. Sebuah jembatan besar dengan sungai yang tak kalah besar disana.

“Hei, kau harus berhati-hati.” ucapnya tiba-tiba saat memakan biskuitnya.

“Untuk apa?”

“Bahkan saat kau membaca majalah, mereka dapat membaca apa saja dalam pikiranmu.”

“Huh?”

“Satu dari lima orang di dunia ini paranormal!” ucapnya.

“Itu benar! Aku sudah mengeceknya.” lanjutnya dengan serius.

“Bagaimana?”

“Itu mudah. Jika kau pikir orang itu mencurigakan, kau pikir dalam pikiranmu tanpa kau katakan dengan keras. ‘Ah! Ada laba-laba di pundakmu,’ dan, jika dia terkejut dan melihat pundaknya. Dia pasti seorang paranormal.” Tanpa terasa aku mengikuti alur ceritanya dan menengok kearah pundakku dengan gugup.

“Aku sangat terkejut saat melakukanya di tengah kearamaian!” lanjutnya lagi. Di bayanganku semua orang langsung melihat ke pundaknya dan meniup niup atau mengusap ngusap seperti ada laba-laba beneran,

“Ngomong-ngomong, di Universitas ini…Jessica adalah seorang paranormal pastinya!” aku mengikuti tatapan matanya yang mengarah ke Jessica yang sedang berjalan kemari.

“Jessica?”

“Mengapa tidak kau periksa jika kau tidak percaya padaku?”

“Maaf membuatmu menunggu.” ucap Jessica ramah sambil duduk di antara kami berdua.

“Kau hanya makan biscuit lagi?” tanya Jessica padanya.

“Mau?” tawarnya. Jessica menggeleng dan tersenyum.

“Kau mau kelas siang?”

“Ehm tidak tahu…”

Mereka terus berbincang dan aku mencoba apa yang di katakannya barusan. Membuktikan Jessica adalah paranormal juga.

“Laba-laba, laba-laba… ada laba-laba di pundakmu… laba-laba,” gumamku sepelan mungkin.

“Ada apa?” Jessica malah menengok kearahku dengan tatap bingung.

“Uh, tidak ada apa-apa,” jawabku gelagapan dan mencoba tersenyum.

“I hihiii,…” dia malah tertawa melihat aksiku.

“Hei!” ucapku ternyata di bohonginya.

“Apa? Apa?” tanya Jessica.

“Bukan apa-apa,” jawabku cepat.

Ku ingat kau yang tersenyum lepas. Dengan gigi mu yang seputih susu itu membuat mu tampak sangat mempesona. Aku rindu padamu.

Setelah dua tahun tidak melihatmu, hal pertama yang aku mau katakan padamu adalah…

Hutan itu masih ada sampai saat ini.

Dimana kita mengejar burung-burung yang tak bernama itu.

Sambil memakan kue donat, Hutan dimana kita berfoto ria…

Hutan di mana kita bertemu pertama kali,

Masih…

_Ends_

The Flash Back!

_Yesung Po_v

Dengan memutuskan untuk mengikuti kuliah Univeritas Meikyou,

Aku mau kalian serius untuk mempertimbangkan apa yang dapat kau pelajari di universitas ini, dan apa yang akan ku pelajarai.

Enam tahun yang lalu, aku tidak menghadiri perayaan masuk universitas.

Aku terus berjalan tanpa arah. Entah kakiku mengarah kemana. Hingga..

“Properti PRIBADI!! DILARANG MASUK!”

Ku tatap masuk menyelubung dari pintu gerbang yang terbuat dari kayu lapuk itu. Ku dekati pagar tersebut dan mengintip sedikit. Terlihat di sana beberapa bebatuan yang memancarkan sinar dengan pohong pohon yang indah disana.

Teeettt!!! Ngeenggg!! Pandanganku teralih mendengar suara mobil dari arah jalan besar. Disana seorang yeoja terus terus saja mengacungkan tanganya ingin mobil di sana berhenti dan membiarkan ia menyebrang.

Tapi tak ada hasil. Ia masih terdiam sambil menggoyang goyangkan kakinya.

Ku dekati dia.

“Hei.” dia  menengok kearahku.

“Ada lampu merah di depan dengan tombol untuk menyebrang.” ucapku  dengan menunjukan arah yang aku maksud. “Ku pikir kau lebih baik menyebrang disana.” lanjutku. Dia menurunkan tanganya dan menatapku dengan terheran.

“Oh, para siswa selalu menunggu lama disana, jadi para pengemudi tidak pernah berhenti disini,” ucapku gugup.

“Walau ada pejalan kaki menyebrang?” tanyanya mulai berbicara.

“Well, iya.”

Tiba tiba ia tersenyum, “Kau seorang senior?” “Huh?” tanyaku bingung.

“Aku mulai masuk Universitas hari ini. (sambil menunjuk sebuah gedung di seberang sana)”

“Aku mahasiswa baru juga. Ku coba menyebrang disini pada hari mengikuti ujian, dan menyerah.”

“Jadi kita telat keacara perayaan siswa baru!” ucapnya sambil berlari kecil kearahku dan aku mundur beberapa sesuai langkahnya menuju kearahku.

“Sebenarnya, aku tidak niat untuk ikut acara itu.”

“Wae?” tanyanya mulai mengerucut bibirnya.

“Sebenarnya aku kurang suka tempat yang ramai.” Dia menyeka hidungnya sambil tersenyum.

“Bagaimanapun, kau seharusnya menyebrang di sana. Selamat tinggal.” ucapku gugup sambil mencoba meninggalkannya.

Aku berjalan pelan. Dengan perlahan menjauh. Tapi belum begitu jauh aku menghentikan langkah kakiku. entah aku kawatir atau apa, aku menengok kembali kearah yeoja kecil itu. Dia terus terus saja berusaha mengangkat tanganya. Dia menatap kearahku.

“Jangan hiraukan aku. Aku hanya mau memeriksa sesuatu.”

“Ha?”

“Ya atau tidak, pasti ada seseorang yang akan menghentikan aku.”

Dengan tersenyum dengan giginya ia kembali mengacungkan tanganya. Dan sedikit sedikit menyeka hidungnya. Ku keluarkan kamera yang kubawa cepat. Dan ku foto dia.

_Ends_

_Yesung Po_v

Sudah beberapa hari ku berada di Universitas ini. Ku duduk di paling belakang menghindari semua teman yang sekelas denganku. Yang bisa ku lakukan hanya melihat guru, melihat dirinya. Jessica. Dia adalah yeoja yang ku sukai pada pandangan pertama Universitas ini. Senyumanya yang manis membuat ku terpesona.

Tapi pikiranku selalu buyar dan tidak bisa menahan tawa. Melihat yeoja mungil yang ku temui beberapa hari yang lalu di depan jalan besar. Dia selalu mengantup ngantupkan kepalanya karena tertidur setiap pelajaran berlansung.

Kau ingat dengan kata kataku diatas tentangku menghindari teman, dan orang di sekitarku. Aku takut. Ketakutanku ini membuatku menjadi orang yang kaku. Tidak bisa bergaul dengan baik ini karena,

Ku percepat langkahku menuju kamar mandi. Ku larikan sedikit kakiku agar segera sampai. Ku ambil ruang toilet terdekat. Ku masuk dan duduk di atasnya.  Ku buka sedikit pakaianku. Tampak di pinggangku luka besar berwarna merah telah lama berada di sana. Ini adalah lukaku sejak kecil. Entah aku mengidap penyakit apa. Penyakit ini selalu membuatku gatal dan panas. Harus selalu di olesi obat setiap kalinya kambuh. Dan hari itu, kambuh penyakitku. Ku olesi cepat dengan obat yang ku punya.

“Aku lelah.”

“Rasanya mengantuk.”

Terdengar suara orang masuk.

“Uh! Bau apa ini?” pekik seseorang dari luar.

“Kau kentut kawan!”

“Tidak.”

“Bukan bau seperti itu, maksudku seperti obat.”

Ucapan salah satu dari kedua orang itu membuatku tertegun.

“Bau pabrik obat di seberang mungkin. Aku dengar baunya lebih buruk dari musim panas.”

Sepulang hari itu, ku mampir toko obat yang selalu memuat obatku.

“Bau?” mengangkat kaca matanya.

“Adakah obat untuku yang tidak begitu bau?” tanyaku takut.

“Bau apa? Ini obat tidak bau. Sudah pakailah. Jangan ganti-ganti obat!” lanjutnya menasehatiku. Jadinya, aku selalu menjaga jarak dengan orang dalam hidupku.

Makan siangpun tiba. Ku duduki meja bening yang datar dengan mengeluarkan makananya yang aku bawa dari rumah. Ku duduk sendiri dan makan sendiri. Enak rasanya atau tidaknya aku tidak tahu. Tapi aku sudah terbiasa akan ini.

“Apakah tempat ini ada yang pakai?” ku dongkakan kepalaku menatap yeoja yang selalu tidur sepanjang pelajaran itu.

“Eh?” dia menunjuk tempat duduk di sebelahku.

“Iya, iya.” jawabku cepat mengerti.

Dia menarik kursi di sebelahku dan duduk disana.

“Kenapa kau mengambil fotoku di tempat penyebrangan jalan?” tanyanya.

“Kau menyadarinya ya?” tanyaku takut.

“Tentu saja.” jawabnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Well, sedikit.”

“Apa maksudmu dengan ‘sedikit’?”

“Sedikit.”

“Kelas apa yang kau ikuti?” dia mengubah topik sendiri.

“Kelas Inggris.”

“Saya Tiffany Hwang, dari kelas Perancis.”

“Saya Yesung Kim.”

Dia tersenyum dan menyeka hidungnya. Aku membalikan badan. Lalu ia mengeluarkan sapu tangan bergambar dari kantungnya.

“Aku mempunyai pilek yang kronis.”

“Mwo?”

“Penciumanku hanya 1 banding 1000 dari orang biasa.”

“Sungguhkah… aku mengerti.” Ucapku dengan senyum tipis dan kembali menyuap makanan siang ku.

“Benar.”

“Apakah kau sudah mempunyai teman di Universitas ini?” lanjutnya bertanya.

“Tidak, belum.” ucapku pelan.

“Aku juga belum. Pada usia sekarang, tidak mudah untuk mempunyai teman baru, huh?” sambil terus berbicara ia mengeluarkan sekantung biscuit dari tasnya.

“Apakah hanya itu makanan siangmu?” tanyaku bertanya.

“Ya. Kau mau ini?”

“Tidak terimakasih,” jawabku gelagapan.

“Tapi ini sangat lezat… biscuit donat makanan sehari hariku.”

“Biskuit adalah?”

“Hm! Terigu yang di beri aroma, dan ada lobang di tengahnya! Lalu, kenapa kita tidak menjadi teman? Bisakah kita?”

“Aku tidak mengerti ini bisa menjadi ‘lalu’.”

“Aku kira apakah tidak mungkin lelaki dan perempuan untuk menjadi teman.” Aku melirik dirinya yang terus menggenggam biscuit donatnya.

“Kenapa tadi kau melirikku?”

“Apa? Um…” jawabku ragu.

“Kau pasti sedang berpikir : ‘aku tidak berpikir kau adalah perempuan’ Benarkan?!”

“Aku tidak melihat.” jawabku cepat. Membuyarkan semua semangatnya. Ia membalikan badanya dan memunggungi ku.

“Ngomong-ngomong?”

“Apa?” jawabnya ngambek.

“Apakah waktu itu kau bisa menyebrang jalan?”

“Tidak. Kelihatannya tidak banyak orang yang berhati baik.” Membalikan badannya.

“Tetapi aku akan menyebarinya apapun yang terjadi sebelum aku lulus,” lanjutnya.

“Maksudku masa zebracross da bisa buat nyebrang? Hanya wasit di baseball yang bisa menyebrang kayak gitu.” ucapnya terus berceloteh.

“Kamu bisa menyebranginya. Sebenarnya sangat mudah.”

“Mwo?”

“Aku tahu cara menyebrangi zebracross itu.”

“Bagaimana?”

_Ends_

_Author Po_v

Namja tersebut yang tak lain bernama Yesung datang bersama Tiffany, yeoja mungil yang sudah janjian denganya beberapa hari yang lalu. Wajah senang terpancar di bibir cherry yeoja kecil tersebut.

“Wow!!! Aku bisa menyebranginya kapanpun mauku!!!” Tiffany terus bolak balik seperti anak kecil bolak balik menyebrangi zebracross tempat jalan yang ia ingin sekali lewati. Yesung hanya tersenyum kecil. Hari itu sangat pagi sekali, mereka datang bersama, janjian hanya untuk menyebrang di sana.

“Menakjubkan!!” teriak Tiffany lagi.

“Baiklah, aku akan pergi,” Tiffany terdiam dari permainanya.

“Ne?”

“Bye” Yesung pergi berlalu meninggalkan yeoja tersebut yang masih berdiri di tengah jalan yang amat sepi.

Yesung sudah tepat berada di depan pagar kayu besar yang lapuk. Ia meniatkan dirinya untuk masuk ke hutan yang dilarang tersebut. Ia naiki pagar dengan penuh mental, sesekali ada rasa takutnya untuk menggiring dia balik. Tapi,-

“Baiklah.”

“Kau disana?”

“Heh?” Yesung menghentikan dirinya untuk memanjat masuk kedalam.

“Pengumumannya ‘dilarang masuk’.” Tiffany sudah berada disana dan mendekat kearahku.

“Memang tapi,…”

“Kenapa kau masuk?”

“Photograpy adalah hobby ku.”

“Sungguh?” Tiffany ikutan memanjat dan masuk kedalam bersamaku.

Yesung dan Tiffany terus masuk kedalam hutan. Mereka terus berjalan dengan sesekali Yesung memfoto pemandangan disana dengan kameranya.

Cuuiiit!!! Cuuuiitt!!!

Yesung dan Tiffany mencari sumber suara indah itu.

“Ah! Lihat!” tunjuk Tiffany pada seeokor burung coklat dengan beberaoa hitam dan putih di bulunya. Yesung menyiapkan kameranya. Srreett!!! Sayanganya burung itu keburu terbang kembali.

Tiffany berlari mengikuti burung tersebut, “Tunggu,” ucap Yesung mencoba mengikuti langkah nya Tiffany.

“Ini dia!!” ucap Yesung mendapatkan duluan burung itu, Ia kembali siap memfoto.

“Ah!” burung itu kembali terbang. Dan mereka kembali berlari mengikutinya.

Tiffany menunjukan arah suara burung itu.

“Kau yakin kesana?”

“Aku mendengarnya.” ucap Tiffany meyakinkan sambil terus berlari.

“Sungguh? Dimana?”

“Kemungkinan arah situ!”

Mereka terus saja berlari. Sampai menemukan pemandangan yang sangat amat luas. Dengan danau biru disana dan beberapa pohon kecil yang menghiasinya. Terdiam dana terpanalah itu yang mereka lakukan.

Cuuiit! Cuuitt!! Burung yang selama ini dikejar hinggap di pohon kecil dekat tempat mereka berdua berada.

“Cantiknya!!” gumam Tiffany pelan. Yesung kembali menyiapkan kameranya. Membidik. Siap. Srreet! “Oh,” gumam mereka bersama. Burung itu kembali pergi. Tiffany langsung mengerucutkan bibirnya kearah Yesung.

“Akankah burung memakan sesuatu seperti ini?” risih Yesung sedikit goyah.

“Tentu saja! Ini makanan terlezat di dunia” balas Tiffany sambil menyelipkan makanan kue donatnya ke dalam ranting ranting kecil di pohon dekat sungai.

Yesung menggendong Tiffany di pundaknya sambil memegang bungkusan biscuit donat Tiffany. Sedangkan Tiffany yang duduk di pundak Yesung asyik menaruh kuehnya di ranting-ranting.

 

“Yesung!”

“Ne?”

“Apakah kau sudah pernah mencium orang sebelumnya?” tanya Tiffany keluar dari topik.

“Cii…ciuman? Sudah! Ada apa?” jawab Yesung gugup. Sebenarnya dia tidak pernah ciuman sama sekali.

“Bagaimana rasanya?”

“Apakah rasanya seperti sesuatu yang manis?”lanjutnya bertanya.

“Iya.”

“Seperti sesuatu yang meleleh?”

“Ya, ku kira meleleh. Hehehe..”

“Kau tak pernah melakukanya, benarkan?” ucap Tiffany menatap Yesung dengan posisi masih di pundak Yesung.

“Tentu saja aku pernah! Beberapa kali!” balas Yesung nyolot.

“Hihii, okay aku selesai.” Yesung menurunkan Tiffany dari pundaknya.

 

“Apakah aku berat?”

“Tidak, malahan aku terkejut kau sangat ringan.” Tiffany tersenyum sambil memegangi biskuitnya.

“Kamu benar-benar cuma makan biscuit donat?”

“Tapi aku dapat nutrisi yang cukup. Yang kurang padaku hanya hormon pertumbuhan.”

“Huh?”

“Ada biscuit di rambutmu.” Tiffany mendekat kearah Yesung dan membersihkan biscuit dari rambutnya. Saat sadar Yesung begelonjak kebelakang.

“Oh, ga papa.” Membersihkan rambutnya sendiri dan dengan cepat Tiffany memasukan kue donat itu kemulut Yesung.

“Enak kan..” cengir Tiffany. Yesung tersenyum, dan Tiffany menyodorkan kuenya lagi.

“Satu saja sudah cukup.”ucap Yesung kaku, tampak di raut wajah Tiffany ia ngambek akan sikap Yesung. “Uhm.. dua,” ucap Yesung cepat dan mengambil dua kue donat itu. Tiffany pun mengembangkan senyumnya.

 

 

Saat tiba di rumah. Yesung mengotak ngatik sejumlah kertas,. Yakni hasil fotonya tadi. Ia mencekatnya dengan manual. Mengepak ngepakan kertas tersebut dan menggantungnya di sebuah tali tipis di atas.

_Ends_

 

 

 

 

_Yesung Po_v

 

 

Hari itu hujan turun deras. Seperti biasa saat-saat begini enaknya adalah makan.

 

“Yesung!”

“Ah!” ucapku kaget mendapati Jessica sudah di depanku.

“Kau tidak bergabung dengan kami? Bagaimana kau bisa menikmati makanan sendirian? Kita semuakan di kelas yang sama. Jika kamu mau.”

 

Aku menganggukan kepalaku pelan, dan membereskan makananku dan bersiap pindah kemeja tempat biasa Jessica dan ke-empat temannya berkumpul. Mereka selalu berlima kemana-mana. Jessica, Hankyung, Heechul,Yoona dan Sooyoung.

 

“Teman-teman, dia disini!” ucap Jessica sambil duduk di sebelah Hankyung. Aku berusaha tersenyum, dan mengambil tempat duduk di sebelah Sooyoung tapi sedikit menggeser tempat duduk itu kearah tengah agar tidak dekat dengan siapapun.

“Uhm..hai,” ucapku takut.

“Wah!!! Ternyata kau  punya suara,” balas Heechul spontan. Aku tersenyum kecil,

“Kenapa di kelas kau selalu duduk di belakang. Kau kan bisa bergabung dengan kami,” lanjut Hankyung.

“A..aku lebih suka di belakang,” jawabku asal.

“Nah begitu dong! Bicaralah!!! Suara mu bagus kok,” timbrung Heechul membuat yang lain tertawa.

 

Sekarang aku berpikir, mungkin beberapa orang adalah paranormal.

Bahlan jika mereka tidak mengatakannya dengan keras, kita dapat membaca perasaan mereka sebenarnya.

Dia (Hankyung) suka denganya (Jessica)

Dia (Heechul) suka denganya juga (Jessica)

Keliatannya, dia (Yoona) suka dengannya (Heechul)

Tap tap tap…

Tiffany berjalan kearah tempat aku biasa bersamanya. Dia tersenyum dengan kamera baru yang ia beli sepertinya. Tapi dia terdiam menatapku bersama yang lain.

 

Aku yakin Tiffany dapat membaca pikiran orang juga.Jadi aku yakin kini ketika dia menyadari.

Ketika saat pertama kami masuk ke universitas ini… Aku jatuh cinta dengan Jessica.

 

*

 

“Yuhuuuu!!!” teriak Heechul setibanya kami berempat di pantai. Ini hari libur pertama di sekolahku. Dan Heechul mengajak kami bertiga dengan mobilnya ke pantai. Dia mengajakku, Jessica dan Yoona.

“Yesung! Bukalah bajumu, kau tidak mau menikmati pantai ini?” tanya nya yang melihatku masih dengan celana pendek dan kaos lekbong hijau lumut yang aku kenakan. “Uhmm.. ya,” jawabku kaku sambil mencoba membuka kaos ini. Untung aku sudah menutupi luka (dibaca : penyakit) ku dengan sebuah hansaplas yang besar.

“Apa itu?” tanya Heechul lagi yang membuatku menghentikan aktifitasku.

“Uhm, ini… luka biasa. Hanya sedikit tergores.” jawabku ragu.

“Coba tunjukan.” paksanya.

“Tidak… tidak usah,”

“Ayo tunjukan… aku mau lihat,”

“Tidaklah.. tidak usah…”

“Ayoo…” dia terus memaksaku sampai.

 

“Hei,” aku dan Heechul membalikan badan, dan menatap sosok dua makhluk halus sedang berdiri dengan tersenyum kearah kami. “Wow!” ucapku bersamaan dengan Heechul melihat mereka hanya menggunakan bikini di bagian atas. Dan bawahnya di tutupi oleh selendang sesuai warna bikini mereka.

 

Seperti inilah hari ini. Bercanda di dalam air dengan melempar lempar bola pantai disana. Memancing ikan dengan susah payah dan yang di dapat hanyalah sandal hanyut. Berjemur dipantai sambil tertidur menikmati hari.

 

*

 

“Wahaha… ini foto-foto kalian disana,” tawa Hankyung melihat foto-fotoku bersama yang lain saat di pantai.

“Kau seksi sekali Yoon,” timbrung Sooyoung yang melihat itu.

“Kau menatapnya dengan bernafsu.” ucap Jessica melihat Hankyung.

“Wah! Tapi dadamu kecil,” lanjut Hankyung.

“Hahaha…” ledak tawa Heechul.

“Uh… kau berani sekali berbicara di depan orangnya.” jitak Yoona.

“Hahaha… viss… tapi cantik ko.”

“Kami rasa kami tidak suka ini, Kami buka anak kecil.” ucap Yoona menunjuk sebuah foto.

“Mwo?” timbrung Heechul.

“Tidakkah pacarmu akan marah jika mengetahui ini?” tanya Hankyung padaku.

“…Huh?”

“Pacar?” jelas Jessica.

“Apa kau memiliki pacar?”

“Tidak. Tidak… aku tidak,”

“Sungguh? Kau berjalan bersama dengan yeoja sebelumnya.” potong Hankyung menyelidik.

“Dengan siapa?” tanya Sooyoung ikut menimbrung.

“Aku rasa dengan gadis kelas Perancis.”

“Buka, dia bukan pacarku. Hanya seorang teman.” jawabku cepat.

“Sungguh? Siapakah dia?”

“Kau tahu dia?” tanya Heechul.

“Dia gadis yang selalu tidur di sebelah kita.”

“Oh, dia!” tawa yang lain.

 

“Kau akan keluar dengan orang seperti dia?”

“Siapakah dia?”

“Ingat?”

“Dia mempunyai rambut yang berantakan, dan selalu menyeka hidungnya!” terang Heechul.

“Untuk singkatnya… seorang yang aneh! Hahahaha.” lanjut Hankyung di ikuti tawa Heechul.

“Itu sudah menyatakan cukup,”

“Orang normal ga bakalan mau jalan sama dia,”

“Ku katakan padamu dia hanya seorang teman.” ucapku membela diri.

“Jangan malu! Setiap orang punya selera yang berbeda.”

Aku hanya terdiam, aku bingung. Heechul dan Hankyung terus saja mengejek dan menjelekan Tiffany.

 

“Hey!” tiba tiba Sooyoung yang tadi terdiam ikut nimbrung.

“Itu semua bukan tentang bagaimana! Ini masalah pilihan!”

“Ssstt… ssst.. Chul, orang yang kau bicarakan sedang berada di belakanmu sekarang juga.” Kami semua tersentak dengan ucapa Sooyoung. Dan benar! Tiffany sudah berada disana entah sejak kapan. Ia tertunduk sambil memegang sebuah buku besar.

 

Tanpa berkata apapun. Dia memberikan buku yang ia pegang padaku. Dan langsung pergi begitu saja dengan berlari.

“Lihat apa yang kau perbuat!” umpat Jessica kesal.

“Aku hanya terbawa suasana,”

“Kau ini…” timbrung Yoona.

“Aku terbawa suasana,” sergah Heechul cepat.

 

“Uhm… teman teman, aku ada urusan dulu. Dah~” ucapku pamit.

 

_Ends_

 

 

 

 

 

_Author Po_v

 

Yesung mendekati Tiffany yang sudah sampai duluan ke dalam hutan. Tiffany terduduk sambil menundukan kepalanya di bawah pohon tempat pertama mereka berteduh disana. Terdengar suara isakan dari arah Tiffany.

“Ehm… maaf,” ucap Yesung memulai pembicaraan dengan pelan.

“Buat apa?”

“Maaf, teman temanku mengatakan hal buruk kepadamu. Mereka memang begitu,”

“Uhm, itu tidak apa-apa.”

“Ehm… aku sungguh lega.”

“Kau sungguh percaya itu? Maka kau adalah orang yang benar-bbenar bodoh!”

 

“Aku tidak keberatan mereka memanggilku aneh sekalipun, karena aku sudah terbiasa. Kau lah yang membuatku sedih.” isakan Tiffany mulai terdengar kembali.

“ ‘Dia hanya seorang teman. Seorang teman.’ Seperti mencari cari alasan Aku tak senang mempunyai teman seperti itu!”

“Maafkan aku,” ucap Yesung gugup.

“Jika kau benar seorang teman, kau kan bisa membelaku walau sedikit.”

“Ya,” ucap Yesung pelan.

“Kau bisa berkata, ‘Dia bukan orang yang aneh.’ Atau ‘Dia hanya sedikit pemalu pada orang lain.’” Yesung hanya terdiam di tempat. Tiffany kembali menangis.

 

Yesung mengeluarkan sebungkus kue dari tasnya. Lalu ia mendekat dan memberikan kue itu kepada Tiffany. Tiffany menatap kearah kue yang di berikan Yesung yang ternyata kue kesukaanya.

 

“Hei… Ini!” sodor Yesung. “Aku membelinya di toko souvenir luar kota.”

“Untuk aku?”

“Ya, aku harap kau menyukainya.”

“Uh… sepertinya kalau aku makan ini aku akan menangis,” akhirnya Tiffany mulai bersuara kembali sambil terus terisak.

“Kenapa?”

“Aku mencoba untuk tidak menangis tapi rasanya ingin menangis.”

“Kenapa??”

“Tidak tahu…hiks…hiks… sepertinya setelah makan ini aku akan menangis.”

“Ke…napa?”

“Tidak tahu…”

“Akankah kau menangis dengan keras?” Tiffany mengangguk mantap.

 

“Ya sudah kalau begitu tidak usah makan! Aku ambil ini” Yesung menarik kembali kuenya dari tangan Tiffany. Srreettt! Tiffany menarik kembali kue dari Yesun dan nyegir lalu memakan kue tersebut.

“Hehehe… mau?” Yesung tersenyum dan mengambil satu kue lalu memakanya.

 

 

*

 

 

Mereka berjalan sedikit masuk kehutan. Dari jarak pantau seperti itu. Yesung memberikan pemandangan yang bagus untuk Tiffany memulai berfoto.

 

“Putar yang ini tiga kali.” Tiffany menuruti apa yang di perintahkan Yesung.

“Coba.” Tiffany memegang kameranya kuat-kuat. Ia membidik sebuah dedaunan yang sedang di tetesi embun. Klik!

“Kok gak bisa?” tanya Tiffanny bingung. Ia membolak balikan kameranya dan Jepreet! Kameranya memfoto dirinya sendiri.

“Hahahaha…” tawa Yesung melihat itu.

 

Hari semakin sore. Tapi mereka tetap mencari objek untuk di foto. Tiffany berlari lari kesana kemari untuk mendapatkan foto yang bagus. Entah dia memfoto apa. Tapi Yesung hanya cekikikan melihat sikapnya yang kekanak kanakan itu.

 

Klik! Jeprreet!

 

“Huuuuhh…huhh…hhh…hh…” sesak Tiffany setelah memfoto objek yang sama dengan Yesung.

“Ada apa?”Yesung bingung.

“Itu sangat menyakitkan.” ucap Tiffany mengatur nafasnya.

“Kenapa?”

“Karena kita menahan nafas kita.”

“Mwo?”

“Ne?”

“Hahaha…” tawa Yesung mendengar itu. Jadi ternyata dari tadi Tiffany memfoto apapun sambil menahan nafasnya. Dasar aneh.

 

 

*

 

 

“Kau lihat rumah itu?”

“Wow!”

“Harga sewanya lebih murah dari flat biasa.”

 

 

“Duduklah,” Tiffany yang baru masuk ke apartement Tiffany duduk di sofa dan memandangi sesisi ruangan rumah Yesung. Banyak foto foto yang tersimpan disana. Lalu pamdangan Tiffany terhenti pada sebuah obat obatan berwarna merek hijau dan kuning yang tertumpuk rapih diatas meja.

 

Tiffany berdiri dan mendekat kemeja itu. Dan mengambil salah satunya.

 

“Hey apa ini?” tanya Tiffany polos.

“Ah ah!!” Yesung dengan cepat merebut obat yang di pegang Tiffany. “Jangan sentuh ini tanpa permisi.” ucap Yesung gelagapan.

“Oh, maafkan aku.” Yesung mengambil semuanya dan menyumputkan di dalam kamarnya.

“Kau tak perlu menyembunyikan secara terburu-buru.”

“Bukan seperti itu,”

“Kau kan laki-laki, kau butuh yang seperti itu.” Yesung membalikan badanya.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Jangan kuatir.” Tiffany memamerkan sederet giginya.

“Kamar gelapnya di sebelah sana.”

“Benar?”

 

 

“Kau harus melakukanya di tempat yang gelap.” Tiffany berusaha melepaskan klise kamera dari tempatnya.

“Ne!”

“Apakah matamu benar benar kau tutup?”

“Iya.”

“Ah tunggu tunggu!”

“Ne?”

“Ini tidak mutar.”

 

Setelah beberapa tahap. Tiffany selesai dengan fotonya. Tiffany kembali ke ruang tamu setelah menyelesaikan fotonya. Sedangkan Yesung balik lagi ke ruang foto.

 

“Wah!” ucap Tiffany melihat fotonya di pajang di salah satu dinding.

 

 

“Kau membuatku begitu senang hari ini!”

“Ha?”

“Foto itu, …. Kau juga mengajariku cara mencetak foto.”

“Oh itu. datang lagi kapan-kapan,”

“Aku boleh?”

“Jauh lebih cepat dari pada mencetak di studio foto.”

“Aku akan datang lagi! Pasti!”

“Tentu!”

“Sebentar lagi, aku akan menjadi wanita. Yang kau takkan sabar menunggu hanya untuk mengambil fotonya.”

“Maksud kamu apa?”

“Aku akan menjadi wanita, yang fotonya akan memenuhi dinding runganmu!”

“Kamu ngomong apasih?” tanya Yesung watados.

“Oh, tapi belum. Tunggulah sebentar lagi. Setidaknya sampai aku bisa melepaskan kaca mata ini.”

“Kacamatamu?”

“Yah, dokter bilang aku boleh melepas kacamataku kalau aku tumbuh dewasa, dan penglihatanku sudah lebih baik.”

“Apa?”

“Sudah ku katakan sebelumnya bukan? Kekuranganku hormone pertumbuhan.”

“Akankan benar benar kau tumbuh dewasa?”

“Ya! aku akan tumbuh dewasa! Dadaku akan menjadi besar, dan pinggulku akan telihat sexy! Dan bahkan gigiku akan tumbuh lagi!”

“Sungguhkah?”

“Aku masih punya gigi  susu di bagian belakang.”

“Sungguh? Benarkah!” ucap Yesung tercengang.

“Jangan kuatir. Dari sekarang aku akan tumbuh dewasa. Menjadi orang yang amat cantik! Dan menjadi wanita yang di cintai semua orang. Apa yang akan kau lakukan, jika aku menjadi wanita yang luar biasa?” tanya Tiffany semangat.

“Luar biasa gimana? Apanya?”

“Kau tahu semuanya! Disini dan disana, yang ini dan yang itu!”

“Sungguh…”

“Aku akan menjadi wanita dewasa, memakai baju sexy dan bergaya sexy di depanmu! Ketika aku melepas kacamataku itulah yang akan membuatmu terheran heran. Mengerti?”

 

_Ends_

 

 

 

_Yesung Po_v

 

Belakangan ini, aku selalu ingin bersamanya (Jessica) setiap saat.

Jadi aku berhenti memakai obat-obatan,

“Baunya busuk!” ucap songsaenim membuyarkan lamunanku. “Tolong tutup jendelanya.”

“Baunya busuk sekali yah?” ucap Jessica nimbrung.

“Pabrik gas beracun?”

“Ne.”

“Hal itu malah sebuah bantuan besar bagiku.”

“Apa?”

“Bukan apa-apa..” balasku kaku. “Apa yang kau baca? Apakah menarik?” melihat buku oranye dengan gambar gaun gaun yang amat cantik.

“Ini sangat menarik!”

“Benarkah..”

“Aku juga kana menjadi pengantin suatu saat nanti.”

“Aku yakin kau akan menjadi pengantin yang cantik.” Jessica melihat kearahku dan tersenyum. “Jeongmal gasahamnida.”

 

“Bagaimana denganmu Yesung?”

“Aku tidak pernah berpikir untuk begitu.”

“Itu hanya buang buang waktu!”

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Bukan kamu. Tapi orang yang jadi pasanganmu.”

“Oh,” balasku bingung. Aku sudah kehabisan kata,

“Kau memegang kebahagiaan orang lain di tangamu. Disuatu tempat di dunia ini, seorang gadis sedang menunggu untuk menerima kebahagiaan itu. Jadi kau harus memastikan, bahwa gadis itu menerima kebahagian yang sedang kau pegang.”

 

_Ends_

 

 

_Author Po_v

 

Tiffany terus sibuk dengan kamernya memfoto beberapa pohon di hutan. Lalu terdiam dan melambai kearah Yesung yang ia dapati menuju kearahnya. Tapi terhenti. Melihat sosok lain di belakang.

 

“Kau tidak apa-apa?”

“Ani,” jawab Jessica pada Yesung.

 

“Maaf  kami membuatmu menunggu.” ucap Yesung watados. “Hello.” salam Jessica.

“Uhm, Hello.”

“Jessica ingin sekali kesini saat ku katakan tentang tempat ini.”

“Ini tempat yang nyaman..”

 

Yesung terus saja berbincang dengan Jessica tampak disana raut wajah Tiffany yang mengusam dan pergi. Yesung memberi isyarat pada Jessica dan mengejar Tiffany yang sudah lumayan jauh.

 

“Apa yang salah?” teriak Yesung mengejar Tiffany.

“Ya, dia cantik. Benar-benar cantik. Sebagai tambahan, dia tau dia cantik. Tapi aku tidak mengatakan hal itu hal yang buruk. Itulah mengapa orang-orang, baik lelaki maupun perempuan suka padanya. Orangtua dan anak kecil suka padanya, aku yakin binatang peliharaan juga suka padanya! Dia benar-benar seorang wanita yang sempurna.” Tiffany terus mengomel.

“Apa yang salah?” tanya Yesung tidak mengerti.

“Aku bilang dia sangat berlawanan denganku!” Tiffany pun terdiam. Terdengar suara isakan dari dirinya.

 

“Mengapa kau bawa dia kesini?” lirih Tiffani dalam isakan.

“Mwo?”

“Bukankan ini tempat kita? Bukankah ini tempat yang sangat penting untuk kita berdua?”

 

Yesung tak bisa menjawab dan membiarkan Tiffany terus berjalan dengan air yang sudah mengalir membasahi pipinya.

 

*

 

Hari ini Tiffany tidak masuk pelajaran. Saat di cari di kantin dengan Yesung pun tidak ada.

 

“Apakah kau keberatan jika aku duduk disini?” tanya Tiffany kepada Jessica.

“Silahkan,”

“Gomapta.” Jessica mendongkakkan kepalanya melihat siapakah yang bicara denganya.

“Ah.. Eum… maaf kan soal yang kemarin.” Tiffany mengangkat bukunya tinggi tinggi  agar dari celah tak melihat wajah Jessica.

“Maaf kan aku.” ucap Jessica lagi. Jessica terdiam kembali dan melanjutkan tugasnya. Tiffany sedikit mengintip dari balik bukunya. Dan melihat apa yang di kerjakan Jessica.

 

“Wah!” teriak Tiffany langsung berdiri dan membuat kaget Jessica.

“Batu Amethyst!” lanjut Tiffany. “Ne?” tanya Jessica bingung. Ternyata yang dilihat Tiffany adalah batu dari kalung yang di kenakan Jessica.

 

“Apa kau mempunyai batu Amethyst sendiri?”

“Tidak.”

“Aku dengar ini adalah batu mutiara yang bisa membuat orang lain suka padamu.”

“Wow!!!”

“Bukankah ini sangat manis?”

“Ini sangat cantik!”

 

“Ah!” Yesung melihat itu langsung berlari kearah Jessica dan Tiffany yang sedang berbincang. “Apa yang kau lakukan?” tany Yesung risih pada Tiffany.

“Oh!” ucap Tiffany menyambut Yesung dengan senyuman.

“Tidak ‘Oh’!”

“Yesung ini adalah batu mutiara cinta,” timbrung Jessica.

“Benar!” ucap Tiffany menunjukan batu yang sama di kenakan Jessica tapi dalam gelangnya.

“Bisakah aku bicara denganmu sebentar?” Yesung langsung menarik tangan Tiffany.

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yesung lagi.

“Apa?”

“Berhentilah bermain-main, mengapa kau dengan Jessica?”

“Entah bagaimana kami menjadi seorang teman.”

“Bukankah kau marah kepadanya kemarin?”

“Aku tidak sungguh-sungguh marah padanya.”

“Itu benar. Tapi… apa kau merencanakan sesuatu?” tanya Yesung tidak percaya.

“Aku tidak merencanakan apapun.” jawab Tiffany mengelak.

“Tidak mungkin!”

“Tidak mungkin?”

“Ya!” ucap Yesung percaya diri.

“Aku hanya ingin… Orang yang aku cintai, jatuh cinta dengan orang yang ia cintai.” Yesung terdiam mendengar pernyataan terakhir Tiffany.

 

_Ends_

 

Flash back Off back to a real world.

_Author Po_v

 

Tak terasa Yesung sudah berdiam diri di jembatan tempat janjiannya bersama Tiffany. Sudah malam hingga lampu lampu kota menghiasinya. Ia mengambil tripod dari kantungnya dan sedikit mengambil foto disana.

 

Disisi lain, seorang yeoja sibuk dengan pameran fotonya yang akan diselenggarakan sebentar lagi. Ia melihat gelangnya yang terbuat dari batu Amethyst dan melihat jam yang sudah menunjukan waktu malam. Ia bergegas keluar dan berlari. Mengangkat tangan setinggi mungkin. Untuk ada orang yang baik memberikanya waktu untuk menyebrang.

 

Menginginkan ‘Orang yang dia cintai, jatuh cinta, dengan orang yang dia cintai’

Semua hubungan yang rumit berlansung sampai musim gugur tahun Junior kami.

_Ends_

 

Flash back on!

_Author Po_v

 

“Laba-laba, laba-laba… ada laba-laba di pundakmu… laba-laba,” gumamku sepelan mungkin.

“Ada apa?” Jessica malah menengok kearahku dengan tatap bingung.

“Uh, tidak ada apa-apa,” jawabku gelagapan dan mencoba tersenyum.

 

“I hihiii,…” dia malah tertawa melihat aksiku.

“Hei!” ucapku ternyata di bohongi.

“Apa? Apa?” tanya Jessica.

“Bukan apa-apa,” jawabku cepat.

 

“Jadi apa yang sudah kau putuskan?” tanya Jessica pada Yesung.

“Uh, well.. Apakah Hankyung ada di seminar?”

“Yap! Heechul dan Yoona lagi praktek kerja, dan Sooyoung sedang di program Berlitz, bukan jadwal kuliah.”

“Aku mengerti. Mereka sedang bersiap siap untuk mencari kerja.”

“Itu benar. Bagaimana denganmu Yesung?”

“Well…”

“Mengapa kau tidak menjadi photographer seumur hidupmu, dari pada mencari sebuah pekerjaan?” timbrung Tiffany.

“Bagaimana aku bisa membiayai hidup kalau melakukan hal itu?”

“Maka rumput atau apalah.” balas Tiffany polos. Jessica yang mendengar itu hanya terkekeh kecil.

“Jessica, kau sudah menemukan sebuah pekerjaan bukan?” sekarang Tiffany bertanya ke Jessica.

“Maaf yah semuanya, aku pake koneksi ayahku.” Tiffany memamerkan giginya.

“Apakah perusahaan luar negeri?” potong Yesung semangat.

“Benar. Sebagai tambahan, aku akan bekerja di luar negeri. Aku sesungguhnya menerima karena hal itu.” jelas Jessica.

“Kau sedikit kuno di balik tampangmu seperti itu.” celoteh Yesung.

“Maaf. Hehehe…”

“Aku paham! Kau akan keluar negri saat kau lulu. Kami akan merindukanmu.”

 

“Tunggu! Bagaimana denganmu Tiffany?”

 

*

 

Yesung berlarut malam ria di perpustakaan. Mengoprek internet mencari cara panduan mencari kerja. Dia leleha dan sedikit merenggangkan sekitar. Melihat sesisi perpustakaan yang terisi dengan berbagai pasangan.

 

Tap.. tap…

 

Lalu ia melihat Tiffany yang sibuk membawa tas yang amat besar. Dan turun kebawah. Yesung berlari mengejar Tiffany.

 

“Ini, ini dan ini…”

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yesung menghentakkan Tiffany.

“Kau mengagetkanku!!!”

“Untuk apa semua barang itu?”

“Kau tahu.”

“Apa itu?” tanya Yesung lagi tidak ‘ngeh.’

“Aku kabur dari rumah.”

“Kabur dari rumah?”

“Hm! Bukan untuk waktu yang sebentar, tapi untuk waktu yang lama! Jadi aku ingin mereka membiarkanku menggunakan ruangan yang kosong ini.”

“Kenapa kau tidak kerumahku saja?” ajak Yesung.

“Apa?”

 

Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal seperti itu.

“Kau kan sering berkunjung kerumahku. Ingat tidak?”

“Memangnya tidak apa-apa?”

 

*

 

“Rasanya sudah lama sekali.” Tiffany menaruh tasnya di ruangan di apartement Yesung. Mereka bersama membereskan sedikit barang-barang mereka.

“Bagaimana dengan kamar gelap?”

“Kau mau mencetak foto?” Tiffany mengangguk dan meletakan tas gendongnya.

 

“Kapan kau mengambil gambar itu?” tanya Yesung takjub. Melihat sebuah foto kedua anak kecil yang sedang bermain.

“Kemarin. Ku pikir aku lebih suka ini dari pada gambar pemandangan.”

“Aku mengerti…”

“Itulah mengapa aku tidak memfoto apapun kecuali tentang manusia.” Yesung terdiam dan terus memandangi beberapa foto yang di gantung Tiffany.

 

*

 

Yesung sibuk mengolesi penyakitnya dengan obat. Dan tampak melihat sebuah kertas hijau yang berada di tas Tiffany.

 

“Aku sudah selesai mandi! (Yesung gelagapan dan menyembunyikan obatnya) Apa kau akan masuk sekarang?”

“Uh, tidak. Hey…”

“Hm?” Yesung menujuk kearah kertas yang tadi ia lihat. “Apa kau sakit?”

“Itu tidak baik. Obat-obatan wanita. Jangan melihatnya tanpa permisi terlebih dahulu.” Memasukan kembali kertas tersebut.

“Maa..af,”

 

Dia sangat sering berbohong.

“Tampaknya kita pasangan yang tergantung pada obat-obatan.” ceplos Yesung.

“Hmmp?”

“Tak udah di pikirkan. Ayo tidur!” Senyum Tiffany yang tadi mengembang menyurut.

“Kau bisa menggunakan tempat tidur, Aku akan… Hah?” melihat itu Yesung bertanya.

“Ini pertama kalinya bagiku. Tolong dengan lembut.” ucap Tiffany polos. Entah sepertinya di pikiranya Yesung akan melakukan sesuatu padanya. Tiffany berdiri dan langsung memeluk Yesung.

“Tunggu, tunggu!” elak Yesung.

“Tak apa-apa. Aku tdak punyai uang. Aku sudah siap siap membayarnya dengan tubuhku.”

“Tidak…”

“Aku tak keberatan… jika kau menggunakan obat kuatmu itu.”

“Tunggu tahan..” Yesung melepaskan Tiffany dari pelukannya.

“Aku tidak bertujuan seperti itu. Sama sekali tidak. Hanya sebagai seorang teman.”

“Apakah ini karena aku belum tumbuh dewasa sama sekali?” Yesung menggeleng.

“Apakah karena dadaku tidak besar?” Yesung menggeleng lagi. Tiffanu mengerucutkan bibirnya dan mendorong Yesung ke sofa. Lalu ia berbaring di sofa yang lebih kecil. “Aku tidur disini.” ucap Tiffany marah.

“Kau bisa menggunakan tempat tidu,,–”  “Aku tidur disini! Aku tidak peduli jika nanti aku menyesal.” potong Tiffany.

“Apa?”

“Aku akan tumbuh dewasa, dan kau akan membayangkan : ‘mengapa aku tidak tidur dengan wanita seperti dia?’” Yesung menghela nafas dan mematikan lampu. “Selamat malam.” Lalu pergi menuju kamarnya. “Babo!!! Yesung babo!! babo! babo! babo!!! Babo… babo…” Di kasurnya Yesung terkekeh melihat Tiffany yang meringkuk.

 

*

 

“Aku akan berangkat duluan.”

“Kenapa? Ayo berangkan bersama.”

“Aku akan berangkat duluan!” Tiffany ngotot dan pergi duluan.

“Apa kau masih kesal?!”

“Tidak. Bagaimana jika seseorang melihat kita bersama disini? Pergi kekelas bersama. Itu… kau sudah memberiku tempat tinggal. Aku tak ingin memberimu masalah dengan cintamu. Bye!” Tiffany pergi. Dan Yesung terkekeh kecil tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Tiffany.

 

*

 

“Kau bisa memasak?”

“Aku sudah membuat ini setiap hari.”

“Sungguh.” Tiffany sibuk menuangkan masakannya sedangkan Yesung terus terus saja mengameraminya entah memfoto atau merekam. “Aku juga menjaga adikku.”

“Kau punya adik?”

“Hanya satu orang saudara laki-laki. Walaupun sekarang dia sudah meninggal.” Jelas Tiffany lempeng sambil mengambil makanannya dan menaruhnya di ruang tengah.

“Apa?” tanya Yesung.

“Seminggu yang lalu. Dia hanya di tempat tidur untuk  waktu yang lama karena sebuah penyakit.”

“Kau lari dari rumah karena…”

“Iya. Aku sangat kehilangannya, maksudku… rasanya aneh kalau berada di rumah dan aku sedang ribut dengan ayahku. Jadi aku kabur!” Cerita Tiffany sambil sibuk menyiapkan makanan. Dan Yesung hanya membatu di dapur.

 

“Apa nama penyakit adikmu?” Yesung menyelidik.

“Orang dengan penyakit ini akan meninggal bila mereka jatuh cinta.”

“Apa?!”

“Hanya bercanda, sebuah penyakit keturunan.” Tiffany masih terus tersenyum. “Ibuku meninggal karena penyakit yang sama. Itu terjadi ketika aku masih sangat kecil. Jadi, hanya aku dan ayahkulah yang selamat.” terang Tiffany dengan tenang.

“Kau tahu apa artinya itu? dengan kata lain, aku mewarisi gen ayahku dan jadi wanita yang tidak feminin seperti ini. Bahkan rambutku kasar seperti kawat.” Yesung tertawa melihat sikap Tiffany yang merusak rambutnya sendiri. “Ayo makan.”

 

 

Di meja kecil Tiffany dan Yesung sibuk dengan makanannya. Yesung menuangkan sedikit minuman ke dalam gelas Tiffany.

 

“Kau boleh minum alcohol?” Tiffany mengangguk ragu. Sambil menujukan sedert giginya. Mereka bersulang. Dan memulai makannya. Yesung menyuap satu makanan kedalam mulutnya. Tiffany terdiam menunggu ekspresinya. “Ini sangat lezat.”

“Jinjja?”

“Rasanya sangat luar biasa. Aku sungguh bangga dengan kemapuan masakku!!!”

 

Sekarang Tiffany menyuap makanannya. Dan tersenyum mengambil nasi dengan sumpit di mangkuknya. Yesung terus memperhatikan gerak gerik Tiffany. “Wae?”

“Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah melihatmu makan selain dengan biscuit donat.” terang Yesung jujur. Sebenarnya nasi yang Tiffany makan adalah nasi pertamanya. Selama ini yang ia makan hanya biscuit donat.

“Jangan memandangku seperti itu,” gugup Tiffany.

“Tapi aku ingin.” balas Yesung.

“Aku mau makan yang banyak, dan tumbuh dewasa dengan cepat juga!”

“Oke!”

“Dadaku akan sebesar ini, dan…”

“Memakai pakaian yang seksi benarkan?” potong Yesung menahan tawa.

“Apa?”

“Umurmu sudah 21 tahun.” Yesung kembali menyuap makanannya.

“Aku akan tumbuh dewasa!!” Yesung tak menanggapi Tiffany dengan serius dan terus memakan makananya.

 

*

 

Hari itu di kelas amat menyesakan. Murid murid tertidur karena pelajaran yang membosankan. Yesung tertidur. Brrukk… ia terbangun karena terjatuh dari meja nya.

 

“Kau terus membaca itu.” Yesung bertanya kepada Jessica yang di sebelahnya saat arwahnya semua terkumpul. “Kau tahu hari ini hari apa?” tanya Jessica sambil terus membolak balik bukunya.

“Apa?”

“Hari ini  hari ulang tahunku.”

“Mwo?!!!”

 

Dugghh!!! Terdengar suara kepala songsaenim yang terbentur tembok yang ternyata juag tertidur.

 

“Maaf.. aku benar benar lupa.”

“Seperti yang kukira” Jessica melipat bibirnya. “Sungguh, aku minta maaf.”

“Ahaa.. jika kau merasa sangat bersalah. Aku ingin sebuah acara ingin hadir di temani olehmu.”

 

*

 

Yesung sibuk mengelap-ngelap lensa kameranya tanpa berhenti tersenyum. Tiffany memperhatikan itu,

“Apa telah terjadi hal yang bagus?” tanya Tiffany. “Sedikit,” jawab Yesung tersenyum,

“Pasti berkaitan dengan Jessica. Well, itu tidak masalah untukku.”

“Bagaimanapun, apakah yang kau pikirkan tentang photograpy?” Yesung mengalihkan topik.

“Apa maksudmu?”

“Apakah kau ingin melanjutkannya seumur hidupmu? Contohnya, sebagai sebuah karier?” Tiffany mengerutkan keningnya.

“Aku berpikir untuk menjadi seorang photgrafer.” jelas Yesung. “Aku yakin akan butuh bertahun-tahun dari sekarang, tapi… aku berpikir seperti ini setelah melihat foto-foto mu,” lanjut Yesung sambil tersenyum. “Foto-foto ku?”

“Aku tidak bisa melihatmu mengalahkanku selamanya…. (Tiffany tersenyum) Jadi sebagai test dari kemampuanku. Aku mau ikut kompetisi, kau mau ikut?” Tiffany melonjak dari sofa. “Aku mau ikut! Kapan kita akan mengambil foto? Bagaimana kau Minggu… ini sangat menyenangkan!!” Yesung terdiam.

“Uhm.. aku ada acara dengan Jessica hari Minggu.” Senyum Tiffany kembali menyurut dan meringkuk di atas sofa.

“Tidak bisa dirubah aku sudah janjian dengan Jessica duluan.”

“Kamu jahat, Yesung! Kau membuat orang begitu senang, lalu mengirim mereka langsung ke dasar neraka.”

“Dasar neraka?”

“Apakah ini kencan?” tanya Tiffany.

“Bukan, kau tahu itu… konvensi pernikahan atau apalah hanya untuk menemaninya.”

“Oh, Jessica pernah bilang padaku dia ingin sekali pergi kesana.”

“Dia itu kuno di balik tampangnya yah?”

“Jadi akhirnya dia memilihmu,”

“Hmm?”

“Tak apa-apa, Pergilah!! Pada saat itu, cintaku yang hilang akan di konfirmasikan. Saat itu, ketika kamu memilih Jessica dari pada aku.”

“Kamu tidak…”

“Bagaimana dengan pakaianmu? Apa yang akan kau pakai?” Tiffany semangat kembali.

“Biasa saja.” balas Yesung menunjukan baju yang ia kenakan.

“Apa kau tidak punya jas atau apa?” Yesung menggeleng. “Kalau begitu besok kau harus beli!”

“Hanya untuk itu!” Tiffany mengangguk mantap.

 

*

 

Tiffany senyam senyum menatap Yesung yang menggunakan jas yang baru ia beli tadi pagi. Yesung terlihat kaku dan gugup.

“Benar, bahkan seorang pecundang bisa berpakaian untuk sukses.”

“Diam.. Aku akan menggunakan kamar mandi.” ucap Yesung malu.

“Sebegitu gugupnya?”

“Diam..”

 

Yesung ke kamar mandi dan mengambil obatnya. Membukanya dan… Ia terdiam ia tidak jadi mengolesi obat itu.

 

“Yesung!!! Yesung!!! Tunggu!!! Sepatumu!!! Berhenti!! Sepatumu!!!” Yesung melihat apa yang ia kenakan. Ternyata sandal jepit. Tiffany berlari kearahnya dan memberikan sepatu itu kepada Yesung.

 

Disana sudah di penuhi orang. Gereja yang di gunakan untuk mempertunjukan gaun pernikahan sudah penuh dengan orang. Dan akhirnya di mulai, semiua penonton melihat kebelakang, satu demi satu model masuk dengan gaunnya. Jessica dan Yesung terpaku melihat mereka yang megitu anggun dan mempesona. Tiba-tiba penyakit Yesung kambuh, rasa gatal dan panas.

 

“Urrgghhh…” Yesung sibuk menggaruk-garuk penyakitnya. Wajahnya sudah berkeringat dingin tak bisa menahannya lagi. “Uhm… aku kekamar kecil dulu,” Yesung langsung berlari dan bergegas.

 

Samapi di kamar mandi ia menarik bajunya. Tampak lukanya basah. Ia melepas jasnya dan. Tung! Yesung mengotak ngatik jasnya mencari sesuatu yang bunyi itu. Ia menemukan obatnya disana. Padahal ia tidak membawanya, Ia takut Jessica mencium obatnya dan menjauhinya.

 

Tiffany meletakkanya…

 

Dengan cepat ia membuka botol tersebut dan mengolesinya ke lukanya.

 

“Ah!! Itu sangat indah!! Bukan Yesung?” Jessica keluar pameran dengan sangat puas.

“Ha? euhmm oh iya! (tersenyum) Untuk apa garis pembatas itu?”

“Mereka mengambil gambar. Sebuah foto souvenir menggunakan gaun..”

“Sungguh?”

“Ayo pulang. Terimakasih banyak telah menemaniku hari ini,” Jessica menunduk 90 deraja dan pamit.

“Kamu tidak ingin berfoto?”

“Kayaknya akan lama antrinya.” terang Jessica sambil terus berjalan.

“Tapi kau tersenyum lagi.”

“Tapi kau tidak tersenyum. Pikiranmu di tempat lain.”

“Yah, tampaknya…”

“Tampaknya kau ingin pulang sesegera mungkin. Apakah ada seseorang menunggumu di rumah?” potong Jessica membaca hati Yesung. Yesung menggeleng cepat. “Hahaha… itu lelucon. Tapi itu tidak masalah, aku sudah puas.” jelas Jessica. Jessica berjalan kembali meninggalkan Yesung.

 

“Tunggu!”

 

Yesung bersiap diri dengan jasnya yang di berikan oleh penata rias. Ia gugup hanya menunggu sendiri di ruang pemotretan. Cklek… pintu tiba tiba terbuka lebar. Sosok yeoja canti dengan gaun putih bersinar muncul disana. Yang tak lain Jessica. Yesung menatap Jessica membeku.

Jessica berjalan pelan kearah Yesung yang masih tersepona dengan kehadiranya.

 

“Berpegang tanganlah.” ucap yang fotografer. “Ha?” Yesung melihat tanganya ragu. Ia gugup, segugup gugupnya.

 

_Ends_

 

 

_Yesung Po_v

 

Sampai di rumah, tong sampah sudah di penuhi oleh banyak tisu. Aku membuka dasiku dan menuju suara rintihan dari arah dapur.

“Eh um…” ku hentikan langkahku melihat Tiffamy disana.

“Sudahlah itu bukan apa-apa,” ucapku kaku. Aku kaget melihat tisu yang berdarah di pegang Tiffany. “Apakah itu sakit?” tanyaku watados.

“Tidak sama sekali.”

“Maka kamu tak perlu menangis.”

“Tapi…”

“Gigi mana yang copot?” tanyaku mendekat.

“Di sebelah yang paling kanan.”

“Yang mana?” aku menurunkan kepalanya dan ingin melihat wajah Tiffany.

“Tidak! Aku tidak akan menunjukkannya padamu!” Tiffany membalikan badannya malu.

“Mana gigi yang copot tadi?” Tiffany mengodok ngodok sakunya dan mengeluarkan giginya. “Nih!”

“Kamu benar-benar masih punya gigi susu?” ucapku takjub.

“Aku pernah bilang aku masih punya dua.”

 

*

 

“Tiffany.. kau tidur?” tanyaku melihat dia terbaring di sofa yang kecil.

“Hampir. Kamu?”

“Juga hampir.”

“Lalu, lakukan yang terbaik untuk tidur.” Kembali terdiam.

 

“Tiffany, kapan ulang tahunmu?”

“Wae?”

“Kita harus merayakan ulang tahunmu juga.” Tiffany tersenyum masam.

“Apakah kamu berencana untuk membuat aku bahagia, kemudia mengirimku ke neraka?”

“Bukan.. aku…”

“Jangan kawatir tentang ulangtahun ku lagi. Saat ini, sebaikny akau memikirkan Jessica. Kamu sebaiknya berpikir cara memenuhi cintamu dengan Jessica.”

“Mempunyai hubungan bukanlah salah satu cara untuk jatuh cinta.”

“Hm?”

“Satu sisi cinta adalah… Dalam caranya sendiri, cinta yang lengkap. Di jalan lain, Jessica akan pergi ke luar negeri ketika ia lulus. Ada alasan untuk memustuskan hubungan kami.” terangku.

“Pemikiran seorang pengecut,” potong Tiffany. Aku menghela nafas dan mencoba untuk tidur.

“Lalu, beri aku hadiah juga!” Tiffany berbicara kembali. “Apa?”

“Sebuah hadiah ulang tahun.” Jelasnya.

“Pasti. Apa yang kau inginkan?” tanyaku tidak jadi tidur. “Ciuman.” Jawabnya cepat.

“Menciumku!” jelasnya kemudian.

“Apakah ada hal lain yang kamu inginkan?” tanyaku mencari yang lain.

“Jika kau menciumku, aku akan mati dengan kebahagiaan.” Dia terus saja tersenyum.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Apakah kau sudah mencium Jessica?” tanyanya lagi,

“Aku… setidaknya lima kali.” Sebenarnya aku belum pernah melakukannya. Itu hanya kebohongan semata.

“Jadi lakukanlah dengan aku juga!” balasnya polos.

“Dengan kamu…”

“Aku sedang berpikir dengan tema ‘pecinta’ untuk tema fotoku. ‘Pecinta berciuman’. Aku ingin kita berada dalam karyaku.”

“Kapan ulang tahunmu?” tanyaku ragu.

“Akan kau buat besok!!!” ucapnya semangat. “Besok?!”

 

*

 

Hari itu di hutan yang sudah biasa aku kunjungi bersamanya. Aku gugup bersiap siap melakukan hal yang sama sekali belum pernah aku lakukan. Ku terus terus saja melakukan pernapasan.

 

“Beberapa langkah kedepan.” ucapnya memberi komando. Aku menurutinya dan melangkah kaku. Perlahan dengan perlahan. “Oke!”

“Disini.”

“Hm!”

 

Tiffany sibuk menyeting kameranya. Lalu ia datang kearahku.

“Apa kau yakin?”

“Tentu saja. Ini hanya ciuman.” Ucapku gugup.

“Sebagai hadiah ulang tahun?”

“Sebagai model.” Dia sedikit menghela nafas mendengar ucapanku.

 

Dengan gugup aku memegang bahunya yang kecil itu mendekatkan wajahku dengan pelahan. Sungguh kaku sekali.

 

“Ah, tunggu!” aku terhentak mendengarnya.

“Sekarang aku bisa melepaskan kacamataku.” Dan dia berbalik kearahku dan menatapku dengan senyuman.

Sungguh kagetnya diriku. Dia begitu cantik dan manis. Hanya itu yang terpikir olehku. Aku tidak bisa berpikir apapun lagi,

 

“Ya?”

“Uhm… hanya perasaanku saja, atau kau lebih tinggi daripada saat pertama kali bertemu?”

“Kamu baru sadar sekarang? Aku kan cepat tumbuh!”

“Kau benar benar begitu.” Tiffany mengangguk mantap.

“Ya. dada ku juga luar biasa! Mau lihat?” ia sedikit menarik bajunya.

“Uh, tidak. Tidak apa-apa.” ucapku gugup sambil mencoba menutup mataku. Dia tertawa melihat tingkahku. Aku kembali menghela nafas.

 

Ku cengkram lagi pundaknya yang kecil itu. Dan kembali menarik dirinya dan diriku. Dia memejamkan wajahnya. Aku memiringkan wajahku, agar bisa mengenai bibir cherrynya itu, dan kau bisa melihatnya…

Ku rangkuh pundaknya. Dan dia juga begitu. Sampai kita terlelap begitu saja.

 

“Kau pergi saja duluan, aku akan disini.”

“Yah… kita harus mengadakan pesta. Pesta selesainya fotomu. Aku akan memasak,” ucapku mengambil tas.

“Yesung, apakah ada setidaknya sedikit cinta dalam ciuman itu?” tanya tiba-tiba.

“Ha?”

“Ehhehe.. tidak, samapi jumpa.” Aku tersenyum dan pergi duluan.

 

*

 

Hari ini aku sudah belanja banyak untuk merayakannya. Pulang dengan terus memikirkanya. Lalu,

 

Yesung,…

Selamat tinggal..Terimakasih untuk selamanya.

Braakk!! Aku membuka pintu ruang tamu dengan cepat, melihat sepucuk surat kecil tertempel di dinding kulkas. Aku bergegas keluar sebelum malam tiba. Ku ambil sepedahku dan kugayuh secepat mungkin.

 

“Saya tahu kau mahasiswa disini, tetapi kita tidak bisa mengatakan alamatnya…”

“Anda tidak perlu memberitahu saya. Tolong periksa dia kembali pulang atau tidak.”

“Hei, bukankah Hwang nama gadis yang barusan tadi?” ucap salah satu penjaga yang lain.

“Oh benar!”

“Apa itu?” tanyaku.

“Gadis itu.. Datang untuk memeritahukan pengunduran dirinya malam ini.”

“Mwo?!”

 

Aku kembali mengayuh sepedahku. Bulan sudah terbit, tak mengurungkan niatku untuk terus mencarinya. Hatiku begitu cemas.

 

“Aku minta maaf, untuk datang begitu larut malam. Nama saya adalah Kim. Apakah Tiffany ada di rumah. Maaf!” tidak ada jawaban dari rumahnya sendiri. Aku terus kembali menggoes sepedahku.

 

Tak terasa hujan deras sudah mengguyur bajuku. Aku masuk ke dalam hutan. Berjalan sendiri. Tertatih menuju pohon kecil disana.

 

Itu tadi adalah…

Ciuman pertamaku, dan aku pikir ini adalah awal dari segalanya.

Tetapi…

Jika saja aku telah mengambil langkah pertama sebelumnya…

Hari-hari aku menghabiskan waktu dengan Tiffany yang damai dan satai.

Aku bahkan tidak pernah membayangkan ada akhir untuk hari-hari ini.

*

“Berapa jauh kita sampai kerumah sakit?”

“Ada sebuah rumah sakit darurat di sisi lain jembatan.”

“Si idiot ini benar-benar ringan.” ucap Heechul  yang menggendongku dalam tidur.

“Biarkan aku turun…” lirihku terbangun

“Oh! Kesadarannya sudha kembali.”

“Biarkan aku turun!!”

“Tidak bisa kita hampir sampai!!”

“Kita terlalu dekat. Jika kita begitu dekat, bau saya akan…”

“Ha?”

“Aku bau obat!” ucapku jujur.

“Apa yang ia bicarakan?”

“Pasti ngawur karena demam.” terang Hankyung.

“Aku bau obat.” ucapku lagi.

“Sekalipun kau tidak pernah bau obat sebelumnya! Kau selalu berbau shampoo seperti seorang gadis.” Jelas Heechul.

“Tenagkan dirimu Yesung.”

 

Diriku sudah mulai tenang dengan infuse membelenggu tanganku.

 

“Whoa!! Apa yang kau lakukan mari bersulang!” ucap Heechul menghentikan diriku yang mau meminum air. “Oh iya,”

“Yah mari kita merayakan kenyataan bahwa kehidupan si idiot ini selamat!”

“Bersulang!”

“Bersulang!!!!!”

“Bisakah kalian tenang,” sindir salah satu suster.

“Maaf telah membuat masalah, Gomawo.”

“Kita akn memberitahu apa yang kami dapatkan selama kau beristirahat. Pertama-tama, kita semua dapat pekerjaan setelah lulus.”

“Bernarkah?”

“Hankyung menjadi karyawan di PBB, Sooyoung bekerja di Departement Luar Negeri, Heechul berada dalam sebuah perusahaan ditribusi filn, dan Yoona bekerja di sebuah perusahaan pilang International.”

“Aku paham! Daebak!! Kalian menakjubkan. Kalian akan keluar negeri setelah lulus?”

“Tentu saja! Memangnya buat apa kami mengambil kelas Bahas Inggris?” potong Heechul sewot.

“Satu hal lagi, tentang Tiffany… Kami semua membantu mencari, tapi… Bahkan kita tidak menemukan jejaknya,” ucap Jessica pelan. “Aku paham,”

“Mianhe,” Yesung menggeleng dengan senyum ngiris.

“Tapi adalah satu kejutan, seorang pemula asmara di dalam diama-daiam hidup bersama,” potong Heechul yang sepertinya banyak tahu gossip.

“Hidup bersama?”

“Bukankah itu hidup bersama?”

“Hahah.. begitulah cinta, semakin di sembunyikan gairahnya yang kau dapat, benarkan?” timbrung Hankyung.

“Apakah kau menjadi bergairah?” tanya mereka padaku. Belum sempat aku menjawab, mereka sudah mengambil kesimpulan dan menertawaiku.

“HARAP DIAM!!!” teriak suster itu lagi. Kami langsung terdiam.

 

Dan kemudian, Setiap mereka pergi ke tempat mereka berasal.

Seolah-olah… Saya adalah satu-satunya yang tertinggal di belakang.

Aku lulus dari Universitas dan menjadi fotografer.

Sibuk nya diriku membereskan sesuatu tibatiba ku temukan suratmu yang kau kirim kepadaku setelah lamanya aku menunggu. Mungkin sekitar dua tahun lamanya,

 

Tiffany Hwang

_Ends_

Flash back Off back to a real world.

_Author Po_v

 

Seorang yeoja turun dari taksi tepat tidak jauh dari jembatan tempat Yesung berada. Ia berlari kecil menuju jembatan tersebut. Sepertinya sebuah keajaiban akan terwujud.

 

“Hhhh…hh… Yesung?” tanya yeoja itu padaku.

“Jessica!” ucapku mengenali. Ia terus tersenyum kearahku.

 

Ngiinggg!!!! Suara air masak disana, aku bergegas ke dapur dan mematikannya. Sekarang aku sudah di apartement Jessica.

 

“Apakah teh mawar cukup?”  aku mengangguk. “Kenap aku…”

“Tunggu, aku akan menjelaskan semuanya.” Sergahnya cepat.

 

“Waktu itu sekitar setengah tahun yang lalu, aku kebetulan bertemu Tiffany di Chinatown. Tapi ia banyak berubah. Pada mulanya aku tidak mengenali tempaknya ia mengenaliku lebih dulu, ia mempunyai senyum yang lebar. Senyum itu benar-benar bernostalgia. Begitulah aku mengenalinya. Bagaimanapun ia bialng ia tinggal disana. Jadi aku bertanya padanya kenapa kita tidak tinggal bersama?”

“Setangah tahun yang lalu?” potong Yesung tidak percaya.

“Ya.”

“Kau seharusnya memberitahuku segera. Tiffany hanya mengirim surat bulan lalu.”

“Ada keadaan tertentu,” ucap Jessica cepat.

“Apa itu?”

“Diluar dingin bukan? Aku terlambat.”

“Tidak masalah, lagi pula mana Tiffany?”

“Aku sangat menyesal Yesung,” Yesung mengerutkan keningnya.

“Sebenarnya… Tiffany di LA untuk bekerja, itu sebabnya kau tidak bisa melihatnya kali ini. Aku sangat menyesal.”

“Itu tidak perlu kau sesali,” dengan tampang prihatin ia menatapku. “Tidak apa-apa aku mengerti,” Yesung terduduk lemas di sofa.

 

“Hm, gunakan kamar Tiffany malam ini. Dia memberitahuku bahwa aku akan memandumu ke pameran foto miliknya.”

“Gomawo, hm… dia baik baik saja?”

“Ya dia. Aku yakin kau akan terkejut bila melihatnya, dia telah berubah banyak.”

“Itulah yang tertulis di surat.”

“Dia wanita dewasa yang di cintai banyak orang.”

 

_Ends_

 

 

_Yesung Po_v

 

Hari itu aku bangun dan apatement sudah kosong. Di atas meja Jessica meninggalkan surat dan kunci cadangan.

 

Tidur nyenyak? Gunakan kunci ini. Pameran Tiffany mulai besok. Jadi santai saja hari ini. Aku akan meninggalkan pesan di telepon jika terjadi sesuatu,

Aku panaskan makanan yang sudah di siapka Jessica padaku. Setelah itu melakukan perjalanan melihat sekeliling kota New York ini, mengambil beberapa foto gedung dan foto orang-orang sekitar. Bercanda ria, menaiki kapal dan hal lain yang menyenangkan. Membeli bermacam souvenir yang akan aku berikan untuk Tiffany nanti.

 

‘Titt… titt… tolong tinggalkan pesan setelah nada berikut : Ini bapak Hwang. Terimakasih untuk surat salam anda (dibaca : Jessica). Layanan upacara peringatan kematian ke 49 hari telah berakhir dengan lancar. Tulang tulang Tiffany telah di makamkan di makam keluarga. Nona Jung, anda telah melakukan begitu banyak bagi kami sampai akhir. Jeongmal Gasahamnida. Silahkan kau mampir dan mengunjungi rumah saya ketikan anda kembali ke Korea. Kalkayo…

_Ends_

 

 

_Author Po_v

 

“Aku pulang!!” teriak Jessica dari luar. Tampak ruangan kacau balau. Jessica berjalan kearah kamar Tiffany dan mengetuknya. “Yesung…” ia membukanya dan mendapati Yesung memegangi beberapa surat disana, wajahnya sangat lesu.

 

“Apa yang kau lakukan dalam kegelapan?” tanya Jessica sambil menyalakan saklar, Yesung mendongkakan wajahnya. Menatap Jessica dalam dalam.

“Kemana Tiffany?”

“Aku bilang dia ke LA untu..”

“Jangan berpura-pura lagi, tadi ada sebuah pesan dari bapanya Tiffany… Bahwa Tiffany… sudah meninggal.” Jessica terdiam dan menatap cemas Yesung.

“itu tidak benar kan?”

“Jessica!” Jessica tetap terdiam.

 

“Bulan lalu..”

“Itu bohong! Bagaimana Tiffany meninggal?” potong Yesung.

“Tiffany sakit. Penyakit yang sangat langka dan tidak terkenal. Ia mewarisi Gen Ibunya. Penyakit yang ada dalam dirinya sejak lahir. Ketika Tiffany dewasa, penyakit itu akan tumbuh bersamaan dengn kedewasaanya… Tiffany selama ini menjalani hidupnya, berhati-hati untuk tidak tumbuh dewasa. Tapi kemudian, kau… dia bertemu denganmu dan jatuh cinta. Dan karena sangat ingin di cintai olehmu,… ”

“Dia meninggal… Karean ia jatuh cinta?” lanjut Yesung. Jessica terdiam sesaat dan melanjutkan kata-katanya,

 

“Dalam cara,”

“Jadi… dia meninggal karena aku?”

“TIDAK!” potong Jessica cepat.

 

“Tiffany memilih ini untuk dirinya sendiri. Bahkan jika penyakitnya berkembang, ia ingin jatuh cinta, menjadi dewasa dan menjalani hidupnya. Dia juga mengatakan padaku untuk tidak memberitahumu tentang penyakit ini. ‘Karena Tiffany dalam hati Yesung belum mati. Bahkan jika itu kebohongan, Aku ingin terus hidup di hati Yesung. (ucapan Tiffany)’. Surat-surat Tiffany… ada sepuluh darinya yang tersisa. Ia berencana untuk tetap mengirinya kepada kamu. Dia telah menulisnya dari tempat tidurnya. Dia tampak senang sekali. Rasanya… Ia mengalami banyak kesenangan.” Jessica terdiam dan menundukan kepalanya. Ia tidak tahan dengan apa yang ia katakan. Ia menangis begitu juga dengan Yesung.

 

_Ends_

 

 

 

_Yesung Po_v

 

Aku berjalan pelan masuk kedalam pameran foto Tiffany. Ruangan yang di selimuti cat putih dan hiasan natal disana. Aku terus berjalan pelan memperhatikan foto-foto yang di potret Tiffany dan membuatnya ngiris. Foto beberapa pasangan yang sedang bermesra ria. Tiba tiba langkahku terhenti melihat sebuah foto terbesar dengan latar putih yang termpampang terkena cahaya lampu.

Ku tatap foto itu lekat lekat. Ku dekatkan diriku untuk lebih memperjelasnya. Sosok yang selama ini ku kenal dan ku tunggu-tunggu terpampang disana, dengan gaun hitam nan cantik dan rambutnya yang panjang dan indah itu.

 

Dear Yesung :

Apa kabarmu? Rasanya sudah dua tahun. Apakah kau terkejut dengan surat-surat yang tiba?

Pertama-tama, saya ingin minta maaf Karen amenghilang tanpa berterimakasih untuk semua yang kau telah lakukan untukku.

Pada hari itu kau menciumku, tiba-tiba aku merasa malu,

Bukan dengan ciuman, pada kenyataan bahwa aku yang selalu berbicara dan tidak dewasa sama sekali.

Itu sebabnya, saya memutuskan untuk mengambil sedikit petualangan,

Saya sebut ‘Perjalanan Kemerdekaan’

Hanya tergantung dengan kamera yang kau beritahu aku cara menggunakannya.

Aku datang ke New York seorang diri.

Ini adalah hal yang baik aku mempunyai keberanian, Tapi… aku tidak punya tujuan.

Aku hanya berkeliling selama berhari-hari. Sampai aku di pekerjakan di agen foto ku saat ini. Sebuah lembaga fotografer MG Studio. Dan kau tahu, aku bekerja sebagai asisten fotografer indenpenden.

Dan aku mengambil foto-foto aku sendiri dalam waktu yang sama. Ternyata mereka memiliki pameran foto juga untuk saya.

Aku benar-benar ingin kau melihat pameran itu

Pameran pertamaku, dan wawasanku yang tumbuh begitu banyak selama dua tahun.

Aku yakin kau akan terkejut melihatku sekarang ini. Karena aku akan menjadi wanita yang mengagumkan. Saya yakin kamu akan menyesal.

‘Seharusnya aku pergi keluar dan memeluk punggugnya’ kau kana berkata.

Tapi sebenarnya hal itu tidak penting.

Sekarang aku hanya ingin melihat kamu.

Aku ingin bertemu denganmu, Jika mungkin aku ingin kau memujiku.

Dengan suara yang baik seperti waktu itu.

Ku lihat sesisi rungan di penuhi oleh fotoku yang entah dia mengambilnya sejak kapan. Sedang tidur, berfoto, belajar, makan, duduk, mencetak, menengok, menguap, jongkok, melempar batu, sikat gigi, dan lain-lain. Kau terlalu baik Tiffany, kau membuat hatiku ngiris,

 

Tak terasa air bening sudah membasahi pipiku. Bibirku sudah bergetar tidak bisa menahan tangis. Kau tahu… ah,… hiks…. aku hanya bisa menangis. Aku lelaki yang idiot dan babo tepat seperti ucapanmu. Aku menyesal dengan semuanya. Dan yang paling ngiris, kau memajang- memajang foto kita.

Aku mulai mencintaimu lebih dari siapapun di dunia, kau tahu.

Tertulis disana, tulisanmu …

Satu satunya ciuman dalam hidupku, satu satunya cinta yang pernah ku miliki

Hei, Yesung

Apakah ada setidaknya sedikit cinta dalam ciuman itu?

Ada. Banyak tidak sedikit. Kau… kau segalanya bagiku.

 

 

_Fin_

 

Do You Back Or… : 1S : Straight

Posted on

Title : Do You Back Or…

Genre : Sad, Life

Type : Straight

Rating : PG 13

Main Cast :
~YOU a.k.a Jung Hye Bin
~Chun Jung Myun a.k.a Chun Jung Myun (Aktor)

Support Cast :
~Kakek Gumiho dan beberapa orang

Credit Song : *?*

Author : Han Sang Ra

 

***

 

Hanya saja, mengapa bisa? Apakah yang sebenarnya ia rencanakan? Bisakah aku terus mengulangnya kembali?

Aku tidak mengerti…

***

 

“Hye Bin!!!” teriak seseorang dari belakang.

 

Aku menoleh pelan. Melihat kearah dirinya yang tersenyum bahagia menatapku. Aku balik memandang lagi kedepan.

 

“Hei! Ada apa denganmu?” ucapnya sambil mengoyang-goyangkan tanganya di depan wajahku yang dari tadi menunduk menatap jalan.

“Uhmm..”

“Kau sakit?” sekarang ia mengangkat wajahku dan menaruh punggung tanganya di keningku. “Normal,” lanjutnya.

“Uhm..” aku hanya berdeham menjawab semuanya sambil terus berjalan pulang.

 

“Kau sedih yah?”

“Hm?” aku mengangkat wajahku sambil melirik heran kepadanya yang tersenyum dengan memamerkan gigi.

“Kau pasti sedih karena aku mau pindah kan?”

“Hm..”

“Ah.. jangan bohong, pasti kau sedih.. sudah katakan saja,”

“Uhm,”

“Ayolah! Jangan berdeham terus… katakanlah sesuatu,” rengeknya padaku/

“Kau ingin aku berkata sesuatu?”

“Ya ya ya…”

“Bisakah kau tinggalkan aku, aku ingin sendiri.”

 

Yah begitulah dua kalimat yang terakhir aku ucapkan padanya. Dan dua kalimat itu pula aku ucapkan terakhir kalinya. Mengapa ia mengajakku bebicara saat aku punya banyak masalah! Keluarga.. Teman.. Sekolah dan Dia. Bisakah aku mengulanya kembali. Too Late, di sudah pergi..

 

*

 

Sudah genap enam tahun dia pindah. Rasanya aku benar-benar hampir melupakanya. Sosoknya yang selalu menyapaku di pagi nyaris sudah menghilang selama ini. Apakah dia akan kembali?

 

“Hye Bin?”

“Uhm,”

“Mengapa dengan dirimu.. ayolah berbicara sudah enam tahun lamanya kau tidak berbicara,”

“Hm..”

“Jangan berdeham terus.. ucapkan lah satu kata. Aku sudah menjadi temanmu selama tiga tahunn sama sekali belum mendengar suaramu, kau hanya melakukan gerakan yang itu-itu saja..”

“Hm,”

“Yah.. aku menyerah. Ayo sekarang antarkan aku makan..” dia menarik pergelangan tanganku dan membawaku bolos sekolah. Ya dia adalah sahabat yang tahan banget dengan sikapku ini. Semenjak di tinggal dia yang pindah, aku menjadi pendiam. Dan tidak terasa sudah enam tahun aku tidak berbicara sama sekali. Hanya berdeham, menggeleng dan mengangguk yang aku lakukan.

 

Uhm, mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur malas berbicara. Untungnya bibirku tidak benar-benar bisu…

“Oh iya.. ingat besok adalah pesta penyambutan kelas baru..”

“Hm..”

“Ayo kita beli baju baru!!!”

 

Bukanya masuk kedalam restaurant dia malah menariku ke sebuah toko butik yang terkenal di Korea. Dia memang orang kaya, dia juga anak pemilik sekolah yang aku tempati ini, jadi dia bebas melakukan apa saja yang ia mau!!

 

“Ayo coba gaun ini!” sambil menyodorkan sebuah gaun putih. Lebih tepatnya sebuah dress bagiku, karena gaun ini tidak sampai ujung kaki, hanya sampai lutut.. Eh, di atas lututku malah.

“Uhm,”

“Ayo coba…” dia menatapku dengan mata penuh harapan. Tanpa berkata apapun aku langsung pergi ke tempat ganti pakaian dan memakainya.

 

*

 

“Wow! Bagaimana bisa?” pasti ada yang salah dengan diriku? Sampai ia memasang wajah yang aneh.

“Kau sungguh berbeda,”

“Uhm..”

“Ayo kita kekasir, aku akan belikan baju ini untukmu!”

“Hm..” dehamku sambil menyunggingkan sedikit senyuman kecil di bibirku.

***

 

Chun Jung Myun Pov

 

Bisakah aku menemukan gaun di sekitar sini? Sangat sulit mencari gaun yang tidak aku ketahui ukuranya.

 

“Nona, bisakah anda menunjukan tempat gaun?” tanyaku pada seorang perempuan yang memakai baju karyawan.

 

Dia menunjukan arah tempat gaun tersebut sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk tanda mengerti dan menyusuri jalan yang di tunjukan perempuan tadi. Itu dia! Aku langsung berlari kecil menuju tempat tersebut. Gaun mana yang akan aku pilih? Aku sungguh bingung! Sudah ketemu tempatnya malah bingung…

 

Mata ku yang jernih ini terpaku melihat seorang perempuan dengan gaun putih yang ia kenakan. Gaun indah yang berbentuk pendek dan rambut lurusnya yang tergurai menambah atmosfer anggun,

 

“Maaf.. bisakah gaun mu itu untukku?” kalimat yang tidak penting aku ucapka pertama untuknya.

“Hm,” dehamnya sambil menunjuk gaun yang ia kenakan sendiri.

“Aduh.. tapi aku akan beli ini untuknya,” ucap tiba-tiba seorang perempuan di sebelahnya. Mungkin temanya,

“Aku akan bayar lebih!” ucapku tidak tanggung-tanggung,

“Hm, okelah.. bayar dulu sana, baru kau berikan aku uang tambahanmu..” ucap teman perempuan itu.

“Tunggu,”

 

Aku berjalan cepat menuju kasir.

 

“Nona, aku beli gaun yang perempuan itu kenakan,” ucapku sambil menunjukan perempuan yang mengenakan gaun,

“Harganya…. Sekian tuan,”

“Nih..” ucapku sambil menyodorkan kartu ATM, dan berlari kembali pergi ke tempat perempuan tersebut.

 

“Apakah sudah di bayar?”

“Yah sudah..” ucapku dengan ter engah-engah,

“Hye Bin, buka gaunmu.. dan berikan padanya,”

 

Hye  Bin? Apakah aku tidak salah dengar… Rasanya mengenal nama itu.

 

“Hm,” dia –Hye Bin- memberikan gaun putih itu padaku yang sudah terlipat dengan rapih.

“Jeongmal Gomawo!” ucapku sambil kembali kemeja kasir.

 

***

 

Author Pov

 

Jung Myun kembali kekasir dengan wajah yang sangat bahagia. Mengambil tas dan membawa kembali kartu ATM nya. Sedangkan Hye Bin yang masih terheran-heran hanya terdiam sambil memainkan bibirnya.

 

*

 

Hye Bin Pov

 

“Uhm,” aku mengambil kertas dan sebuah pulpen di tasku.

“Aku ingin pulang?” baca temanku yang melihat tulisanku di atas kertas. Aku menunduk dan berjalan pulang meninggalkanya di deretan pertokoan.

“Hum.” terdengar keluhan yang keluar dari bibirnya. Tapi itu tidak menurunkan niatku,

 

 

Aku berjalan lemas di pinggir trotoar komplek, banyak orang menatapku. Yah, aku anak bolos yang tidak tau malu. Berkeliaran di jalan bagai orang yang tersesat.

 

“Hum,” aku masuk ke dalam rumah. Terdengar suara bentakan yang menyambutku dengan keras.

 

“Papah bagaimana sih! Apakah Papah tidak berpikir!”

“Berpikir apa?! Mamah yang tidak tahu malu!”

“Seharusnya Mamah yang berbicara seperti itu! Lihat! Sudah berapa perempuan yang Papah… Yang Papah..”

“Yang  Papah apa?!”

“Yang Papah tiduri! Puas..! Puas buat Mamah seperti ini?!”

“Ah! Tau dari mana kau! Memangnya aku tidak tahu kalau kamu selalu membawa laki-laki muda masuk ke kamar saat aku tidak ada!”

“Aku tau karena aku melihatnya! Bagaimana dengan ucapanmu ITU! Kau hanya bisa melawan dengan kata-kata yang tidak BENAR!!”

 

Begini dan begini terus yang selalu aku dapatkan. Semenjak kakak perempuanku meninggal, orang tuaku selalu bertengkar tidak henti-henti. Mereka selalu mencari alas an untuk memulai pertengkaran. Dari membawa perempuan atau laki-laki lain seperti tadi.

Aku masuk ke kamar dengan lemas. Membaringkan tubuhku sambil mengambil sebuah foto yang sudah berdebu di atas meja kecil yang aku tutup selama enam tahun lalu. Ini fotoku dan foto seorang laki-laki yang tersenyum manis dengan giginya yang putih bersih.

 

Myun,… ucapku dalam hati sambil menaruh foto tersebut di atas meja. Aku mengalihkan pikiranku pada seorang lelaku yang berada di toko butik tadi. Dia aneh! Mau menghabiskan uangnya untuk sebuah gaun yang aku kenakan,

 

Padahal masih banyak gaun indah di sana. Mengapa ia menghabiskan uangnya untuk hal seperti ini. Lelaki yang babo,

 

*

 

“Hye Bin!!!”

“Uhm,”

“Ayo temani aku bolos lagi…” ucapnya sambil menarik tanganku.

“Hm…” aku memberontak dan melepaskan genggamanya.

“Waeyo? Kenapa?”

“Uh,” aku menggeleng dan berjalan cepat,

“Ayolah…” aku terus menggeleng. Dan yang aku dapat dia marah dan meninggalkanku.

 

***

 

Aku duduk terdiam sambil menatap langit di sepanjang pelajaran. Ini yang selalu aku kerjaan. Masuk sekolah serasa tidak masuk karena tidak pernah memperhatikan. Itu percuma,

 

Tapi ini lebih baik dari pada di rumah. Mendengar teriakan dan bentakan yang tidak henti-henti, ini membuatku gila.

 

Drrt… drt…

Bunyi handphoneku berbunyi. Aku membukanya dengan perlaha, kulihat sudah ada 2 sms masuk dengan jam dan waktu yang sama. Jam 06:66… Bagaimana bisa? Menitnya 66?

 

Ku buka dengan rasa penasaran yang menyelimutiku.

 

From : *****

To : Me

Bisakah kau menemuiku sekarang di sini? Belakang sekolah…

Apa ini?! Sms salah masuk kali yah, tapi aku penasaran..

 

Aku berdiri, dan mencari waktu yang tepat untuk guru yang di depanku itu lengah. Saat ia berbalik aku langsung bergegas menuju pintu dan keluar dari kelas. Ku larikan kakiku sepelan mungkin menuju halaman belakang sekolah.

 

*

 

Dimana dia? Hm, sms yang satu lagi mungkin… kubuka kembali handphone ku dan kembali membuka kotak masuk.

 

From : *****

To : Me

 

Kau sudah di halaman belakang? Kau pasti sedang menatapku sekarang. Aku tersenyum kearahmu 🙂

Apa maksud sms ini? Tersenyum kearahku…ini membuatku merinding, dimana dia?

 

Drrt… drt… bunyik sms kembali. Aku segera membukanya.

 

From : *****

To : Me

 

Ternyata itu benar dirimu. Terimakasih kau sudah datang, kita akan bertemu lagi…

Ha? Apa ini… apakah sms ini benar-benar untukku? Mungkin kah ini salah kirim?

 

“Hye Bin!”

“Aa!” teriakku dengan kecepatan sekajap.

“Kemajuan! Kau sudah bisa berteriak,”

“Uhm.” Dehamku yang mendapati yang mengagetkanku adalah temanku sendiri.

“Ayolah jangan berdeham lagi…”

“Hm,”

“Sedang apa kau disini?” aku menggeleng,

“Aneh! Kalau begitu ayo kembali ke kelas,”

 

***

 

Rasa cemas sampur aduk dengan takut menghantuiku. Bagaimana bisa, dia… dia seorang yang tidak aku kenal, dengan inisial lima bintang yang aneh. Mengapa ia terus menerorku. Apa salahku padanya? Aku selalu mengikuti kemauannya,

 

Drrtt..drtt…

 

From : *****

To : Me

Hei, lihatlah kedepan… dan telepon nomer ini, 08467xxxx8,,

Sekarang apa lagi, menelefonya..?

 

Aku mengalihkan pandanganku kedepan sesuai perintahnya, menekan perlahan tombol demi tombol yang ia suruh. Ku taruh telepon genggamku tepat di telingaku, menunggu seseorang mengangkatnya.

 

‘Hei!’ aku kaget dan hampir saja melepaskan teleponku,

‘H…hei,’

‘Apakah kau bisa melihatku?’

‘Melihatmu? Apa maksudmu?’

‘Aku selalu ada di sampingmu… aku sel..’

‘Tunggu! Sampingku,’ aku menengok ke sebelahku dan…

 

“Aaaa!!!” sekarang teleponku benar-benar aku lepas, lebih tepatnya aku lempar tepat di wajahnya.

“Awww!” ia mengelus-ngelus keningnya dan mengambil HP yang terjatuh di dekatnya.

“Kau?”

“Kau masih mengingatku?”

“Kau orang yang…”

“Ya aku orang yang membeli gaunmu,”

“Bukan gaunku..”

“Hm, terserahlah..”

“Bagaimana bisa?”

 

***

 

Chun Jung Myun Pov

 

“Hm,.. aku juga tidak tahu,.. Bagaimana dengan namamu?”

“Mengapa kau bertanya padaku ‘nama’ sedangkan kau selalu menerorku,”

 

Aisshhh.. yeoja ini pintar sekali. Gagal mengalihkan pembicaraan,

 

“Kau? Siapa?” tanyanya balik.

“Jung… Jung Myun,” ucapku cepat.

“Jung Myun?”

“Yah! 100 untukmu,”

“Tunggu…” dia berjalan mundur sampai ia menabrak lemari bajunya yang berwarna biru campur putih segar, lalu berbalik dan membuka nya lalu mengobrak-ngabrik seperti mencari sesuatu…

 

“Hei, aku baru sadar..” saat aku mengucapkan empat kata tersebut dia berbalik dan menatapku bingung penuh penasaran dan menghentikan pencarian gilanya.

“Kau berbicara padaku…biasanya kau hanya berdeham,”

 

Dia agak tersentak dan menarik nafas pelan-pelan, “Mengapa aku bisa bicara padamu?” aku hanya mengangkat pundak dan sedikit menggelengkan kepalaku, dia berbalik dan melanjutkan pencarian gilanya.

 

*

 

“Apakah ini dirimu?” dia menunjukan sebuah foto tepat di depan wajahku.

“Hei, bisa jauhkan itu.. aku sulit melihatnya,” ia menarik sedikir foto di depan wajahku,

 

“Bagaimana kau punya fotoku? Dan ini…”

“Ini aku,”

“Kau… jangan-jangan,”

“Ya aku Hyebin,”

 

Apakah benar? Dia sudah banyak berubah… sulit sekali mengenalinya, aku akan buat kesan yang baik untuknya, sebelum… yah,susah mengucapkanya.

***

Hyebin Pov

 

Semenjak kemarin, orang tuaku selalu menganggapku sakit. Karena aku sudah mau berbicara, dan semua teman-temanku sangat terkagum-kagum akan suaraku. Memangnya ada yang salah? Berdeham salah…bersuara salah, gimana sih…

 

Kalau yang satu ini memang salah. Mengapa dia, selalu ada di rumahku. Dan orang tuaku menyambutnya dengan baik. Seperti sudah di cuci otaknya,

 

“Bin… bisakah kau , yah..jalan-jalan denganku.”

“Hm,” aku hanya berdeham sambil mengangguk pelan. Bosan di rumah selalu di… ah sudahlah,

 

“Mau kemana?” tanyaku pelan.

“Kita ke toko keramik,?” dengan cepat  ia menarik tanganku dan membawaku ke tempat yang sudah tidak asing lagi. Toko keramik tua punya Kakek Gumiho yang masih terawat sangat  baik.

 

*

 

“Kakek!” ucapnya dengan agak berteriak.

“Suara ini.. Jung Myun?!” ucap kakek Gumiho sambil memeluk Jung Myun dengan ekspresi yang sangat bahagia.

“Ini pasti…”

“Iya kek, saya Hyebin..”

“Ohooo… sudah lama tidak bertemu, kau sudah tumbuh cantik.”ucap kakek Gumiho sambil menepuk pelan pundakku, dan aku hanya tertawa kecil,

 

“Kek… aku mau bikin keramik yah,”

“Silahkan, kakek tunggu di depan.”

 

*

 

Seperti tadi, Jung Myun sudah menariku ke tempat pembuatan keramik. ‘Ingat?’ ucapnya sambil menunjuk sebuah pot kecil yang berantakan bentuknya.

 

“Kau….”ucapku sambil sedikit menekan,

“Pasti kau mau bilang,… ‘Jangan buka aibku disini!’ benarkan?”

“Ah sudahlah..” dengan refleks aku langsung duduk di kursi kecil depan piring putaran,

“Kau mau berlomba?”

“Ayo! Akan kutunjukan AIB ku hanya kenangan lama…”

“Hahaha.. oke!”

 

***

 

Author Pov

 

Hyebin yang sudah serius dengan tembikarnya menjadi hancur gara-gara Jung Myun menyolekan sedikit tanah lihat kewajah Hyebin. “Ah… Kau ini!” teriak Hyebin sambil membalas Jung Myun dengan menhancurkan keramik yang sudah hampir jadi yang barusan di buat Jung Myun. “Hei!” teriak Jung Myun. “Itu balasannya…” ucap Hyebin sambil menjulurkan lidahnya. Dan akhirnya mereka malah kejar-kejaran,

 

“Kakek kami pulang dulu…” ucap Hyebin sambil bersalaman pada kakek Gumiho yang sudah siap di depan pintu.

“Yah.. hati-hati, datanglah lagi kesini,”

“Baik.”ucap Hyebin riang. Lalu ia menarik tangan Jung Myun yang masih mengelus-ngelus kayu toko keramik tersebut,

 

*

 

Hyebin Pov

 

“Ada apa denganmu?”

“Apa?” aku menarik nafas untuk mengulangi kata kembali.

“Aku bilang Ada Apa dengamu? Sepertinya kau tidak akan bertemu lagi dengan Kakek Gumiho dan toko keramiknya itu,”

“Uhm,.. yah.. aku merasa tidak enak saja.”

“Oh, hm,… Apakah kau akan menginap lagi di rumahku?”

“Hahahha.. kau menginginkan itu?”

“Enggak… Aku kan bertanya, jangan GR dong,,”

“Hahhaha, tenang.. aku akan pulang. Kau bisa tenang sekarang..”

 

Aku memandang lurus kedepan. Mengapa rasanya tidak rela dia meninggalkanku. Apakah ini perasaan yang baik atau buruk. Ayo Hyebin hilangkan itu.

“Bag…” seketika aku berbalik dia sudah tidak ada di tempat. Lebih tepatnya sudah tidak berada di sampingku lagi. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Aku pikir mungkin dia jahil. Ah~ sudahlah lebih baik aku pulang saja. Sudah malam,…

 

Sampai di rumah. Aku di sambut dengan baik oleh kedua orang tuaku yang sudah duduk cemas di ruang depan pintu masuk. Tatapanku langsung mengarah ketempat duduk sedang berwarna merah yang biasa di duduki Jung Myun.

 

“Umma.. kemana pemuda yang biasa duduk di situ?” tanyaku penasaran.

“Pemuda? Pemuda apa.. kau sakit nak? Lebih baik kau cepat ke kamar dan tidur..”

“Ha? Umma.. aku belum cape.”

“Ah~ sudahlah.. kau aneh hari ini nak, istirahat sana..” Umma pun menggeretku sampai ke kamar.

 

Yah aku pasti tidak akan menuruti Umma. Sampai di kamar aku hanya dia termenung, mengingat kembali kejadian yang tadi. ‘Apa maksudnya?’ Aku membaringkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamarku yang bercahaya jika tidak ku nyalakan lampu. Langit-langit ini juga di buat olehnya. ‘Ah~ kemanas ih dia?

 

Tok tuk tok tuk! Tok! Tuk!

 

Kulihat di jendelaku ada sebuah burung merpati putih yang cantik. Dia membawa tas kecil yang berisi sebuah kertas yang di gulung dengan rapih. Aku mengambil kertas tersebut dengan perlahan. Lalu burung itu pun pergi dengan cepat.

 

“Apakah ini untukku?” gumamku sendiri sambil membuka gulungan kertas tersebut.

“Tertanda untuk Hyebin..” bacaku. Aku langsung mengambil duduk yang nyaman untuk membaca.

 

Ingatkah kau dengan ku? Haha… aku adalah teman lelaki masa kecilmu dulu sebelum aku pindah dan bertemu denganmu lagi saat di Mall. Ingat lelaki yang membeli dengan paksa gaun yang baru saja kau coba.

 

“Jung Myun?” aku langsung menarik kertas tersebut tepat di wajahku. “Apakah benar ini dia? Tapi…”

 

Yah aku Jung Myun. Kau pasti menyadarinya,

Uhm.. klimaksnya. Aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Maaf aku meninggalkanmu sendirian di jalan. Aku sudah harus pergi karena waktunya habis. Sebenarnya masih lama sih. Tapi aku tidak mau membuat kenangan yang terlalu banyak denganmu. Karena itu akan membuat diriku sakit sendiri, baiklah…

“Ha? Apa ini.. sudah selesai. Ini tidak masuk akal.. dia adalah temanku. Dan, sekarang dia malah menghilang dengan meninggalkan surat yang tidak jelas ini..”

 

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menaruh kertas tersebut di atas meja. Saat aku berbalik. Di atas tempat tidurku sudah ada gaun putih yang sangat cantik. Aku mendekati gaun tersebut dengan perlahan dan memegangnya. “Bukankan ini gaun yang aku coba waktu itu?” aku mengangkat gaun tersebut dan memainkanya. “Ini aneh!”

 

*

 

Besoknya aku berkunjung kesuatu tempat. Ya toko tembikar milik Kakek Gumiho, rasanya aku sangat rindu akan tempat tersebut, padahal baru saja kemarin aku kesana.

 

“Kakek..!!” ucapku sambil memasuki pintu yang sudah rapuh tersebut.

“Kek…” panggilku berkali-kali. “Kemana dia?” aku tertunduk lemas di depan pintu. Dan tiba-tiba ada yang menepukku,

“Maaf..”

“Yah?” ucapku sambil melonjak kebelakang.

“Sedang apa anda kesini?”

“Uhm, saya mau berkunjung menemu kakek Gumiho pemilik tempat ini,” ucapku sambil menunjuk toko tembikar yang berada di belakangku.

“Mungkin anda belum tau.. kalau kakek Gumiho sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Dan tempat ini jadi kosong,”

“Ha? Baru kemarin aku kesini.. dan ada Kakek,”

“Mungkin anda hanya berhalusinasi,” ucap orang itu sambil tertawa dan meninggalkanku.

 

Aku berjalan pulang dengan kecewa sekaligus yah bagaimana.. pasti kalian tau. KAGET! Mana mungkin orang yang baru saja kemarin aku temusi sudah meninggal 4 tahun yang lalu?!

 

“Hei!” kulihat burung merpati kemarin hinggap di sebuah daha pohon. Aku pun mendekatinya, dan ia pun terbang…

 

Aku terus mengejarnya sampai ia. BRAAAKK!!! Aku tersentak. Bagaimana bisa? Burungnya.. burungnya tertabrak truk dan jatuh dengan keadaan berdarah. Kulihat dan kutatap burung tersebut yang berusaha untuk hidup tapi takdir yang berkata lain dan membuatnya meninggal. Sekilas aku melihat burung itu adalah Jung Myun,

 

“Jung Myun?” pikiran ku yang melayang keraha Jung Myun membuatku tumbang dan mengalirkan air mata yang cukup deras.

 

***

 

EPILOG :

 

“Jung Myun.. apakah kau baik-baik saja,” ucapku. Dan tentu saja tidak akan ada jawaban. Aku menaruh sebuket bunga di atas gundukan tanah tempat persiaman terakhirnya.

 

Setelah kejadian burung merpati yang tertabrak beberapa hari yang lalu. Aku terbangun sudah berada di rumah sakit. Dan keluargaku menceritakan aku di temukan di pinggirjalan pingsan sambil memeluk burung merpati yang berlumuran darah.

 

Dan orang tuaku mendapatkan telepon dari keluarga Jung Myun bahwa ia membatalkan perjanjian perjodohan di antara kami. Dengan menyesal Ummaku mengatakan bahwa Jung Myun meninggal sebulan yang lalu. Ia tertabrak saat mau menyebrang sepulang membeli gaun,

 

“Umma gak tau bagaimana bisa kau menyimpan gaun yang Jung Myun belikan untukmu?” ucap Umma ku sambil meyodorkan sebuah gaun padaku. Yah ini gaunnya, ternyata ini memang untukku.

 

Dan sekarang aku tau. Dia kembali dengan wujud yang berbeda…

 

FIN

 

You Wouldn’t Answer My Calls : 1S : Straight

Posted on

Title : You Wouldn’t Answer My Calls

Genre : Sad

Type : Straight

Rating : PG 13

Main Cast :
~Sungmin Co-Ed
~Park Gyufira YOU

Credit Song : 2AM – You Wouldn’t Answer My Calls

Author : Han Sang Ra

***

Sungmin Pov

Kutatap handphone yang dari tadi terdiam di sebuah meja kecil di depanku. Kuingat hari ini. Tanggal 17 July. aku mengambil sebuah kotak kecil di sebelah kalender. Membuka kotak tersebut dan memainkan sepasang cincin perak yang sangat indah. Ini baru saja aku beli dua hari yang lalu.

Hari ini adalah hari setelah hari jadianku bersama cagiyaku yang seharusnya di rayakan kemarin. Memikirkannya membuat hatiku sakit. Mengapa? Mengapa ia harus meninggalkanku kemarin? Pikiran menyiksa ini terus menghantuiku. Yah.. dia memang telah meninggal. Tepatnya kemarin tanggal 16 July. Tepat saat hari jadi kami, hari jadi kami yang pertama.

Drrttt ddrrrrttt bunyi handpone yang dari tadi berdering tidak diangkat olehku. Itu memang menggangu.

“Yeobaseyo,” satu kata aku ucapkan dengan lemas.
“Yeobaseyo… mwo? Apakah kamu tidak mengingat hari ini, ini hari jadi kita. Bla bla bla…” aku tercengang mendengar suara manis dan lembut dari sisi handphone.
“Sungmin.. pokoknya aku tunggu kamu di kamar nomer 17. ingat!”

Tuuuttt tuuuttt… suara handphone dimatikan. Dimatikan dengan sangat perlahan dan membuatku masih terbengong dengan kenyataan. Bagaimana bisa? Dia… dia Fira… cagiyaku, tapi… dia kan…

Aku langsung berdiri mengambil jaket dan keluar dari rumahku. Berlari dengan kecepatan penuh menuju hotel yang dimaksud cagiyaku tadi.

Sampailah aku di depan sebuah hotel. Aku masuk dengan aura cemas menyelimuti tubuhku. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, mencari arah yang tepat untuk mendapat jalan yang cepat menuju kamar nomer 17.

Aku menemukan tangga darurat untuk para pegawai. Aku naiki tangga tersebut dengan cepat. Entah pikiran kosong langsung menyelimutiku.

Tepat sampai di ujung tangga. Kulihat beberapa pegawai polisi sedang memasang policeline untuk membatasi sebuah kamar yang sedang di selidiki. Dari jauh ada sebuah plank yang bertuliskan ‘kamar 17’. Lututku langsung mati. Rasanya sulit bergerak dan bernafas. Seluruh tubuhku gemetar.

Aku berjalan dengan sangat pelan dan guntai menuju kamar tersebut. Langkah demi langkah aku susuri dengan cemas. Tepat di depan policeline aku meliha para polisi sibuk mengurusi banyak balon yang pecah dan beberapa tali yang berceceran dimana-mana.

Aku yang tidak bisa menahan ini semua,

“Fira… firaa… Aniyo!!” ucapku sambil mengeluarkan tenaga untuk menembus penjaagan polisi dan masuk kedalam kamar.

Dan dua orang polisi mengahalangiku dan menggeretku kesebuah ruangan kosong. Aku duduk terdiam sambil menangis. Seluruh tubuhku tidak berhenti bergetar. Apakah ini mimpi? Aku terus menangis tak henti.

Tubuhku dengan refleks mengambil sebuah telepon di sebelahku. Memencet tombol. Lebih tepatnya nomer telephonenya.

“Yeobaseyo..” terdengar suara lembut seperti tadi.
“Fira, dimana kau sekarang?”
“Aku….? Aku lagi dikamar.. kemana kau, hihihi..”
“Fira jangan bukakan pintu. Tetap diam disana,” aku terus mengatakan hal seperti itu.
“Bilang saja kau sudah di depan pintu kan,, aku bukakan yah..”
“Fira jangan bukakan pintu. Tetap diam disana,” dia pun tidak menjawab lagi..

“Fira… fira!!!” teriaku. Aku berlari kembali menuju kamar 17 itu. Sekarang kamar itu sudah kosong. Para polisi sudah tidak ada disana. Aku langsung lari menerobos masuk kedalam kamar dan…

Aku jatuh. Aku tidak kuat menahan hal ini semua. Sebuah cangkir pecahan yang berlumuran darah segar milik cagiyaku sendiri. Aku terus menunduk melihat hal tersebut. Air mataku tak bisa di bendung lagi. Terus keluar, dan lebih banyak dari sebelumnya..

“Sungmin,” terdengar suara lembut dari belakang. Aku mencoba menengok kebelakang dan… dia.. dia cagiyaku sedang berdiri disana dengan tersenyum manis kearahku.

Dan kulihat sekilas kalender hari ini adalah tanggal 16 July. Tepat hari dimana ia pergi untuk selamanya.

***

Apakah aku sudah rapih untuk menemui cagiyaku? Gumamku sendiri sambil mengaca dengan menggunakan jas. Lalu mengambil mawar merah yang ada di dekat pintu yang sudah kupersiapkan sejak tadi malam.

Aku menaiki mobilku dan berhenti tepat di sebuah taman hijau yang berlonjak lonjak. Aku berjalan dengan senyum ria menyusuri taman tersebut. Tepat di sebuah taman hijau yang bergelonjak.

“Fira? Bagaimana penampilanku?? Apakah aku pantas menemuimu??”
ucapku sambil tersenyum lembut.

****

Prolog :

“Fira… dimana kau??” terdengar suara Sungmin tergesa gesa di balik telepon.
“Di kamarlah.. dimana kau?”
“Fira, pokoknya jangan bukakan pintu… diam di situ!”
Memangnya kenapa?? Apakah dia akan membuat surprise… pikir Fira dengan rasa sangat senang.

Cklek cklek…

“Fira!!!” bentak Sungmin dari balik telephone.
“Ne, kamu sudah di depan pintu kan.. aku bukakan yah…”
“Fira!! Diam di tempat,, Fira…!!! Aku tidak disana..”

Fira tidak menghiraukan apa yang di katakana Sungmin dari balik telephone. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya.
“Sungm..” ucapan bahagia untuk penyambutanya berhenti. Menjadi suram…

Ia mendapati seorang namja yang sudah siap menerkamnya dengan sebuah cangkir yang pecah. Dan itu bukan Sungmin…

***

FIN