RSS Feed

Tag Archives: PG

Heavenly Forest : 1S : Straight

Posted on

Title : Heavenly Forest

Rating : PG – 15

Genre : Drama

Author : Han Sang Ra

Main Cast : Tiffany  as You, Yesung (Super Junior)

Support Cast : Jessica, Yoona, Sooyoung and Heechul, Hankyung.

Credit Song : ?

Nb : Fanfict ini adalah rekaya dari sebuah drama Jepang^^.

WARNING!!!

Aku harap yang numpang baca, atau yang tidak sengaja lewat dan baca ini, mohon di komentari!!! Don’t be a silent leader.

###

_Author Po_v

Dia terlalu sering berbohong,

Seorang namja terus memegangi sekuncup surat di dalam bus. Ia tertidur dengan lelap dalam mimpinya. Srreekk. Surat ia yang pegang terjatuh dari tangannya.

Sreekk srreeek

“Ku kira kau menjatuhkan ini,” ucap seorang yeoja kecil kepadanya. Sambil menunjukan surat suratnya yang terjatuh.

“Eh, gomawo^^”

“Kembali, selamat natal.”

“Selamat natal.” Balas namja tersebut sambil tersenyum lepas.

_Yesung Po_v

Dear Tiffany.

Terimakasih untuk suratnya.

Aku menyusul kau ke NEW YORK bulan depan.

Sudah lebih dari dua tahun terakhir kita tak bertemu.

Aku benar benar terkejut mengetahui pameran fotomu akan di tampilkan disana.

Aku tak sabar melihatnya.

Padatnya arus New York tak mengurunkan niatku untuk berjalan. Membawa map besar agar aku tidak tersesat.

“Uh, maaf. Dimanakah tempat ini?” tanyaku pada salah satu orang disana.

“Um.. kira kira 2 block dari sini, lalu belok kiri.”

Ku masih mengingat waktu yang telah kuhabiskan bersamamu.

Dalam tiga tahun kita habiskan waktu bersama-sama, begitu banyak aku tertipu dengan kebohonganmu.

Ku berlari cepat saat menemukan tempat yang ku cari. Sebuah jembatan besar dengan sungai yang tak kalah besar disana.

“Hei, kau harus berhati-hati.” ucapnya tiba-tiba saat memakan biskuitnya.

“Untuk apa?”

“Bahkan saat kau membaca majalah, mereka dapat membaca apa saja dalam pikiranmu.”

“Huh?”

“Satu dari lima orang di dunia ini paranormal!” ucapnya.

“Itu benar! Aku sudah mengeceknya.” lanjutnya dengan serius.

“Bagaimana?”

“Itu mudah. Jika kau pikir orang itu mencurigakan, kau pikir dalam pikiranmu tanpa kau katakan dengan keras. ‘Ah! Ada laba-laba di pundakmu,’ dan, jika dia terkejut dan melihat pundaknya. Dia pasti seorang paranormal.” Tanpa terasa aku mengikuti alur ceritanya dan menengok kearah pundakku dengan gugup.

“Aku sangat terkejut saat melakukanya di tengah kearamaian!” lanjutnya lagi. Di bayanganku semua orang langsung melihat ke pundaknya dan meniup niup atau mengusap ngusap seperti ada laba-laba beneran,

“Ngomong-ngomong, di Universitas ini…Jessica adalah seorang paranormal pastinya!” aku mengikuti tatapan matanya yang mengarah ke Jessica yang sedang berjalan kemari.

“Jessica?”

“Mengapa tidak kau periksa jika kau tidak percaya padaku?”

“Maaf membuatmu menunggu.” ucap Jessica ramah sambil duduk di antara kami berdua.

“Kau hanya makan biscuit lagi?” tanya Jessica padanya.

“Mau?” tawarnya. Jessica menggeleng dan tersenyum.

“Kau mau kelas siang?”

“Ehm tidak tahu…”

Mereka terus berbincang dan aku mencoba apa yang di katakannya barusan. Membuktikan Jessica adalah paranormal juga.

“Laba-laba, laba-laba… ada laba-laba di pundakmu… laba-laba,” gumamku sepelan mungkin.

“Ada apa?” Jessica malah menengok kearahku dengan tatap bingung.

“Uh, tidak ada apa-apa,” jawabku gelagapan dan mencoba tersenyum.

“I hihiii,…” dia malah tertawa melihat aksiku.

“Hei!” ucapku ternyata di bohonginya.

“Apa? Apa?” tanya Jessica.

“Bukan apa-apa,” jawabku cepat.

Ku ingat kau yang tersenyum lepas. Dengan gigi mu yang seputih susu itu membuat mu tampak sangat mempesona. Aku rindu padamu.

Setelah dua tahun tidak melihatmu, hal pertama yang aku mau katakan padamu adalah…

Hutan itu masih ada sampai saat ini.

Dimana kita mengejar burung-burung yang tak bernama itu.

Sambil memakan kue donat, Hutan dimana kita berfoto ria…

Hutan di mana kita bertemu pertama kali,

Masih…

_Ends_

The Flash Back!

_Yesung Po_v

Dengan memutuskan untuk mengikuti kuliah Univeritas Meikyou,

Aku mau kalian serius untuk mempertimbangkan apa yang dapat kau pelajari di universitas ini, dan apa yang akan ku pelajarai.

Enam tahun yang lalu, aku tidak menghadiri perayaan masuk universitas.

Aku terus berjalan tanpa arah. Entah kakiku mengarah kemana. Hingga..

“Properti PRIBADI!! DILARANG MASUK!”

Ku tatap masuk menyelubung dari pintu gerbang yang terbuat dari kayu lapuk itu. Ku dekati pagar tersebut dan mengintip sedikit. Terlihat di sana beberapa bebatuan yang memancarkan sinar dengan pohong pohon yang indah disana.

Teeettt!!! Ngeenggg!! Pandanganku teralih mendengar suara mobil dari arah jalan besar. Disana seorang yeoja terus terus saja mengacungkan tanganya ingin mobil di sana berhenti dan membiarkan ia menyebrang.

Tapi tak ada hasil. Ia masih terdiam sambil menggoyang goyangkan kakinya.

Ku dekati dia.

“Hei.” dia  menengok kearahku.

“Ada lampu merah di depan dengan tombol untuk menyebrang.” ucapku  dengan menunjukan arah yang aku maksud. “Ku pikir kau lebih baik menyebrang disana.” lanjutku. Dia menurunkan tanganya dan menatapku dengan terheran.

“Oh, para siswa selalu menunggu lama disana, jadi para pengemudi tidak pernah berhenti disini,” ucapku gugup.

“Walau ada pejalan kaki menyebrang?” tanyanya mulai berbicara.

“Well, iya.”

Tiba tiba ia tersenyum, “Kau seorang senior?” “Huh?” tanyaku bingung.

“Aku mulai masuk Universitas hari ini. (sambil menunjuk sebuah gedung di seberang sana)”

“Aku mahasiswa baru juga. Ku coba menyebrang disini pada hari mengikuti ujian, dan menyerah.”

“Jadi kita telat keacara perayaan siswa baru!” ucapnya sambil berlari kecil kearahku dan aku mundur beberapa sesuai langkahnya menuju kearahku.

“Sebenarnya, aku tidak niat untuk ikut acara itu.”

“Wae?” tanyanya mulai mengerucut bibirnya.

“Sebenarnya aku kurang suka tempat yang ramai.” Dia menyeka hidungnya sambil tersenyum.

“Bagaimanapun, kau seharusnya menyebrang di sana. Selamat tinggal.” ucapku gugup sambil mencoba meninggalkannya.

Aku berjalan pelan. Dengan perlahan menjauh. Tapi belum begitu jauh aku menghentikan langkah kakiku. entah aku kawatir atau apa, aku menengok kembali kearah yeoja kecil itu. Dia terus terus saja berusaha mengangkat tanganya. Dia menatap kearahku.

“Jangan hiraukan aku. Aku hanya mau memeriksa sesuatu.”

“Ha?”

“Ya atau tidak, pasti ada seseorang yang akan menghentikan aku.”

Dengan tersenyum dengan giginya ia kembali mengacungkan tanganya. Dan sedikit sedikit menyeka hidungnya. Ku keluarkan kamera yang kubawa cepat. Dan ku foto dia.

_Ends_

_Yesung Po_v

Sudah beberapa hari ku berada di Universitas ini. Ku duduk di paling belakang menghindari semua teman yang sekelas denganku. Yang bisa ku lakukan hanya melihat guru, melihat dirinya. Jessica. Dia adalah yeoja yang ku sukai pada pandangan pertama Universitas ini. Senyumanya yang manis membuat ku terpesona.

Tapi pikiranku selalu buyar dan tidak bisa menahan tawa. Melihat yeoja mungil yang ku temui beberapa hari yang lalu di depan jalan besar. Dia selalu mengantup ngantupkan kepalanya karena tertidur setiap pelajaran berlansung.

Kau ingat dengan kata kataku diatas tentangku menghindari teman, dan orang di sekitarku. Aku takut. Ketakutanku ini membuatku menjadi orang yang kaku. Tidak bisa bergaul dengan baik ini karena,

Ku percepat langkahku menuju kamar mandi. Ku larikan sedikit kakiku agar segera sampai. Ku ambil ruang toilet terdekat. Ku masuk dan duduk di atasnya.  Ku buka sedikit pakaianku. Tampak di pinggangku luka besar berwarna merah telah lama berada di sana. Ini adalah lukaku sejak kecil. Entah aku mengidap penyakit apa. Penyakit ini selalu membuatku gatal dan panas. Harus selalu di olesi obat setiap kalinya kambuh. Dan hari itu, kambuh penyakitku. Ku olesi cepat dengan obat yang ku punya.

“Aku lelah.”

“Rasanya mengantuk.”

Terdengar suara orang masuk.

“Uh! Bau apa ini?” pekik seseorang dari luar.

“Kau kentut kawan!”

“Tidak.”

“Bukan bau seperti itu, maksudku seperti obat.”

Ucapan salah satu dari kedua orang itu membuatku tertegun.

“Bau pabrik obat di seberang mungkin. Aku dengar baunya lebih buruk dari musim panas.”

Sepulang hari itu, ku mampir toko obat yang selalu memuat obatku.

“Bau?” mengangkat kaca matanya.

“Adakah obat untuku yang tidak begitu bau?” tanyaku takut.

“Bau apa? Ini obat tidak bau. Sudah pakailah. Jangan ganti-ganti obat!” lanjutnya menasehatiku. Jadinya, aku selalu menjaga jarak dengan orang dalam hidupku.

Makan siangpun tiba. Ku duduki meja bening yang datar dengan mengeluarkan makananya yang aku bawa dari rumah. Ku duduk sendiri dan makan sendiri. Enak rasanya atau tidaknya aku tidak tahu. Tapi aku sudah terbiasa akan ini.

“Apakah tempat ini ada yang pakai?” ku dongkakan kepalaku menatap yeoja yang selalu tidur sepanjang pelajaran itu.

“Eh?” dia menunjuk tempat duduk di sebelahku.

“Iya, iya.” jawabku cepat mengerti.

Dia menarik kursi di sebelahku dan duduk disana.

“Kenapa kau mengambil fotoku di tempat penyebrangan jalan?” tanyanya.

“Kau menyadarinya ya?” tanyaku takut.

“Tentu saja.” jawabnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Well, sedikit.”

“Apa maksudmu dengan ‘sedikit’?”

“Sedikit.”

“Kelas apa yang kau ikuti?” dia mengubah topik sendiri.

“Kelas Inggris.”

“Saya Tiffany Hwang, dari kelas Perancis.”

“Saya Yesung Kim.”

Dia tersenyum dan menyeka hidungnya. Aku membalikan badan. Lalu ia mengeluarkan sapu tangan bergambar dari kantungnya.

“Aku mempunyai pilek yang kronis.”

“Mwo?”

“Penciumanku hanya 1 banding 1000 dari orang biasa.”

“Sungguhkah… aku mengerti.” Ucapku dengan senyum tipis dan kembali menyuap makanan siang ku.

“Benar.”

“Apakah kau sudah mempunyai teman di Universitas ini?” lanjutnya bertanya.

“Tidak, belum.” ucapku pelan.

“Aku juga belum. Pada usia sekarang, tidak mudah untuk mempunyai teman baru, huh?” sambil terus berbicara ia mengeluarkan sekantung biscuit dari tasnya.

“Apakah hanya itu makanan siangmu?” tanyaku bertanya.

“Ya. Kau mau ini?”

“Tidak terimakasih,” jawabku gelagapan.

“Tapi ini sangat lezat… biscuit donat makanan sehari hariku.”

“Biskuit adalah?”

“Hm! Terigu yang di beri aroma, dan ada lobang di tengahnya! Lalu, kenapa kita tidak menjadi teman? Bisakah kita?”

“Aku tidak mengerti ini bisa menjadi ‘lalu’.”

“Aku kira apakah tidak mungkin lelaki dan perempuan untuk menjadi teman.” Aku melirik dirinya yang terus menggenggam biscuit donatnya.

“Kenapa tadi kau melirikku?”

“Apa? Um…” jawabku ragu.

“Kau pasti sedang berpikir : ‘aku tidak berpikir kau adalah perempuan’ Benarkan?!”

“Aku tidak melihat.” jawabku cepat. Membuyarkan semua semangatnya. Ia membalikan badanya dan memunggungi ku.

“Ngomong-ngomong?”

“Apa?” jawabnya ngambek.

“Apakah waktu itu kau bisa menyebrang jalan?”

“Tidak. Kelihatannya tidak banyak orang yang berhati baik.” Membalikan badannya.

“Tetapi aku akan menyebarinya apapun yang terjadi sebelum aku lulus,” lanjutnya.

“Maksudku masa zebracross da bisa buat nyebrang? Hanya wasit di baseball yang bisa menyebrang kayak gitu.” ucapnya terus berceloteh.

“Kamu bisa menyebranginya. Sebenarnya sangat mudah.”

“Mwo?”

“Aku tahu cara menyebrangi zebracross itu.”

“Bagaimana?”

_Ends_

_Author Po_v

Namja tersebut yang tak lain bernama Yesung datang bersama Tiffany, yeoja mungil yang sudah janjian denganya beberapa hari yang lalu. Wajah senang terpancar di bibir cherry yeoja kecil tersebut.

“Wow!!! Aku bisa menyebranginya kapanpun mauku!!!” Tiffany terus bolak balik seperti anak kecil bolak balik menyebrangi zebracross tempat jalan yang ia ingin sekali lewati. Yesung hanya tersenyum kecil. Hari itu sangat pagi sekali, mereka datang bersama, janjian hanya untuk menyebrang di sana.

“Menakjubkan!!” teriak Tiffany lagi.

“Baiklah, aku akan pergi,” Tiffany terdiam dari permainanya.

“Ne?”

“Bye” Yesung pergi berlalu meninggalkan yeoja tersebut yang masih berdiri di tengah jalan yang amat sepi.

Yesung sudah tepat berada di depan pagar kayu besar yang lapuk. Ia meniatkan dirinya untuk masuk ke hutan yang dilarang tersebut. Ia naiki pagar dengan penuh mental, sesekali ada rasa takutnya untuk menggiring dia balik. Tapi,-

“Baiklah.”

“Kau disana?”

“Heh?” Yesung menghentikan dirinya untuk memanjat masuk kedalam.

“Pengumumannya ‘dilarang masuk’.” Tiffany sudah berada disana dan mendekat kearahku.

“Memang tapi,…”

“Kenapa kau masuk?”

“Photograpy adalah hobby ku.”

“Sungguh?” Tiffany ikutan memanjat dan masuk kedalam bersamaku.

Yesung dan Tiffany terus masuk kedalam hutan. Mereka terus berjalan dengan sesekali Yesung memfoto pemandangan disana dengan kameranya.

Cuuiiit!!! Cuuuiitt!!!

Yesung dan Tiffany mencari sumber suara indah itu.

“Ah! Lihat!” tunjuk Tiffany pada seeokor burung coklat dengan beberaoa hitam dan putih di bulunya. Yesung menyiapkan kameranya. Srreett!!! Sayanganya burung itu keburu terbang kembali.

Tiffany berlari mengikuti burung tersebut, “Tunggu,” ucap Yesung mencoba mengikuti langkah nya Tiffany.

“Ini dia!!” ucap Yesung mendapatkan duluan burung itu, Ia kembali siap memfoto.

“Ah!” burung itu kembali terbang. Dan mereka kembali berlari mengikutinya.

Tiffany menunjukan arah suara burung itu.

“Kau yakin kesana?”

“Aku mendengarnya.” ucap Tiffany meyakinkan sambil terus berlari.

“Sungguh? Dimana?”

“Kemungkinan arah situ!”

Mereka terus saja berlari. Sampai menemukan pemandangan yang sangat amat luas. Dengan danau biru disana dan beberapa pohon kecil yang menghiasinya. Terdiam dana terpanalah itu yang mereka lakukan.

Cuuiit! Cuuitt!! Burung yang selama ini dikejar hinggap di pohon kecil dekat tempat mereka berdua berada.

“Cantiknya!!” gumam Tiffany pelan. Yesung kembali menyiapkan kameranya. Membidik. Siap. Srreet! “Oh,” gumam mereka bersama. Burung itu kembali pergi. Tiffany langsung mengerucutkan bibirnya kearah Yesung.

“Akankah burung memakan sesuatu seperti ini?” risih Yesung sedikit goyah.

“Tentu saja! Ini makanan terlezat di dunia” balas Tiffany sambil menyelipkan makanan kue donatnya ke dalam ranting ranting kecil di pohon dekat sungai.

Yesung menggendong Tiffany di pundaknya sambil memegang bungkusan biscuit donat Tiffany. Sedangkan Tiffany yang duduk di pundak Yesung asyik menaruh kuehnya di ranting-ranting.

 

“Yesung!”

“Ne?”

“Apakah kau sudah pernah mencium orang sebelumnya?” tanya Tiffany keluar dari topik.

“Cii…ciuman? Sudah! Ada apa?” jawab Yesung gugup. Sebenarnya dia tidak pernah ciuman sama sekali.

“Bagaimana rasanya?”

“Apakah rasanya seperti sesuatu yang manis?”lanjutnya bertanya.

“Iya.”

“Seperti sesuatu yang meleleh?”

“Ya, ku kira meleleh. Hehehe..”

“Kau tak pernah melakukanya, benarkan?” ucap Tiffany menatap Yesung dengan posisi masih di pundak Yesung.

“Tentu saja aku pernah! Beberapa kali!” balas Yesung nyolot.

“Hihii, okay aku selesai.” Yesung menurunkan Tiffany dari pundaknya.

 

“Apakah aku berat?”

“Tidak, malahan aku terkejut kau sangat ringan.” Tiffany tersenyum sambil memegangi biskuitnya.

“Kamu benar-benar cuma makan biscuit donat?”

“Tapi aku dapat nutrisi yang cukup. Yang kurang padaku hanya hormon pertumbuhan.”

“Huh?”

“Ada biscuit di rambutmu.” Tiffany mendekat kearah Yesung dan membersihkan biscuit dari rambutnya. Saat sadar Yesung begelonjak kebelakang.

“Oh, ga papa.” Membersihkan rambutnya sendiri dan dengan cepat Tiffany memasukan kue donat itu kemulut Yesung.

“Enak kan..” cengir Tiffany. Yesung tersenyum, dan Tiffany menyodorkan kuenya lagi.

“Satu saja sudah cukup.”ucap Yesung kaku, tampak di raut wajah Tiffany ia ngambek akan sikap Yesung. “Uhm.. dua,” ucap Yesung cepat dan mengambil dua kue donat itu. Tiffany pun mengembangkan senyumnya.

 

 

Saat tiba di rumah. Yesung mengotak ngatik sejumlah kertas,. Yakni hasil fotonya tadi. Ia mencekatnya dengan manual. Mengepak ngepakan kertas tersebut dan menggantungnya di sebuah tali tipis di atas.

_Ends_

 

 

 

 

_Yesung Po_v

 

 

Hari itu hujan turun deras. Seperti biasa saat-saat begini enaknya adalah makan.

 

“Yesung!”

“Ah!” ucapku kaget mendapati Jessica sudah di depanku.

“Kau tidak bergabung dengan kami? Bagaimana kau bisa menikmati makanan sendirian? Kita semuakan di kelas yang sama. Jika kamu mau.”

 

Aku menganggukan kepalaku pelan, dan membereskan makananku dan bersiap pindah kemeja tempat biasa Jessica dan ke-empat temannya berkumpul. Mereka selalu berlima kemana-mana. Jessica, Hankyung, Heechul,Yoona dan Sooyoung.

 

“Teman-teman, dia disini!” ucap Jessica sambil duduk di sebelah Hankyung. Aku berusaha tersenyum, dan mengambil tempat duduk di sebelah Sooyoung tapi sedikit menggeser tempat duduk itu kearah tengah agar tidak dekat dengan siapapun.

“Uhm..hai,” ucapku takut.

“Wah!!! Ternyata kau  punya suara,” balas Heechul spontan. Aku tersenyum kecil,

“Kenapa di kelas kau selalu duduk di belakang. Kau kan bisa bergabung dengan kami,” lanjut Hankyung.

“A..aku lebih suka di belakang,” jawabku asal.

“Nah begitu dong! Bicaralah!!! Suara mu bagus kok,” timbrung Heechul membuat yang lain tertawa.

 

Sekarang aku berpikir, mungkin beberapa orang adalah paranormal.

Bahlan jika mereka tidak mengatakannya dengan keras, kita dapat membaca perasaan mereka sebenarnya.

Dia (Hankyung) suka denganya (Jessica)

Dia (Heechul) suka denganya juga (Jessica)

Keliatannya, dia (Yoona) suka dengannya (Heechul)

Tap tap tap…

Tiffany berjalan kearah tempat aku biasa bersamanya. Dia tersenyum dengan kamera baru yang ia beli sepertinya. Tapi dia terdiam menatapku bersama yang lain.

 

Aku yakin Tiffany dapat membaca pikiran orang juga.Jadi aku yakin kini ketika dia menyadari.

Ketika saat pertama kami masuk ke universitas ini… Aku jatuh cinta dengan Jessica.

 

*

 

“Yuhuuuu!!!” teriak Heechul setibanya kami berempat di pantai. Ini hari libur pertama di sekolahku. Dan Heechul mengajak kami bertiga dengan mobilnya ke pantai. Dia mengajakku, Jessica dan Yoona.

“Yesung! Bukalah bajumu, kau tidak mau menikmati pantai ini?” tanya nya yang melihatku masih dengan celana pendek dan kaos lekbong hijau lumut yang aku kenakan. “Uhmm.. ya,” jawabku kaku sambil mencoba membuka kaos ini. Untung aku sudah menutupi luka (dibaca : penyakit) ku dengan sebuah hansaplas yang besar.

“Apa itu?” tanya Heechul lagi yang membuatku menghentikan aktifitasku.

“Uhm, ini… luka biasa. Hanya sedikit tergores.” jawabku ragu.

“Coba tunjukan.” paksanya.

“Tidak… tidak usah,”

“Ayo tunjukan… aku mau lihat,”

“Tidaklah.. tidak usah…”

“Ayoo…” dia terus memaksaku sampai.

 

“Hei,” aku dan Heechul membalikan badan, dan menatap sosok dua makhluk halus sedang berdiri dengan tersenyum kearah kami. “Wow!” ucapku bersamaan dengan Heechul melihat mereka hanya menggunakan bikini di bagian atas. Dan bawahnya di tutupi oleh selendang sesuai warna bikini mereka.

 

Seperti inilah hari ini. Bercanda di dalam air dengan melempar lempar bola pantai disana. Memancing ikan dengan susah payah dan yang di dapat hanyalah sandal hanyut. Berjemur dipantai sambil tertidur menikmati hari.

 

*

 

“Wahaha… ini foto-foto kalian disana,” tawa Hankyung melihat foto-fotoku bersama yang lain saat di pantai.

“Kau seksi sekali Yoon,” timbrung Sooyoung yang melihat itu.

“Kau menatapnya dengan bernafsu.” ucap Jessica melihat Hankyung.

“Wah! Tapi dadamu kecil,” lanjut Hankyung.

“Hahaha…” ledak tawa Heechul.

“Uh… kau berani sekali berbicara di depan orangnya.” jitak Yoona.

“Hahaha… viss… tapi cantik ko.”

“Kami rasa kami tidak suka ini, Kami buka anak kecil.” ucap Yoona menunjuk sebuah foto.

“Mwo?” timbrung Heechul.

“Tidakkah pacarmu akan marah jika mengetahui ini?” tanya Hankyung padaku.

“…Huh?”

“Pacar?” jelas Jessica.

“Apa kau memiliki pacar?”

“Tidak. Tidak… aku tidak,”

“Sungguh? Kau berjalan bersama dengan yeoja sebelumnya.” potong Hankyung menyelidik.

“Dengan siapa?” tanya Sooyoung ikut menimbrung.

“Aku rasa dengan gadis kelas Perancis.”

“Buka, dia bukan pacarku. Hanya seorang teman.” jawabku cepat.

“Sungguh? Siapakah dia?”

“Kau tahu dia?” tanya Heechul.

“Dia gadis yang selalu tidur di sebelah kita.”

“Oh, dia!” tawa yang lain.

 

“Kau akan keluar dengan orang seperti dia?”

“Siapakah dia?”

“Ingat?”

“Dia mempunyai rambut yang berantakan, dan selalu menyeka hidungnya!” terang Heechul.

“Untuk singkatnya… seorang yang aneh! Hahahaha.” lanjut Hankyung di ikuti tawa Heechul.

“Itu sudah menyatakan cukup,”

“Orang normal ga bakalan mau jalan sama dia,”

“Ku katakan padamu dia hanya seorang teman.” ucapku membela diri.

“Jangan malu! Setiap orang punya selera yang berbeda.”

Aku hanya terdiam, aku bingung. Heechul dan Hankyung terus saja mengejek dan menjelekan Tiffany.

 

“Hey!” tiba tiba Sooyoung yang tadi terdiam ikut nimbrung.

“Itu semua bukan tentang bagaimana! Ini masalah pilihan!”

“Ssstt… ssst.. Chul, orang yang kau bicarakan sedang berada di belakanmu sekarang juga.” Kami semua tersentak dengan ucapa Sooyoung. Dan benar! Tiffany sudah berada disana entah sejak kapan. Ia tertunduk sambil memegang sebuah buku besar.

 

Tanpa berkata apapun. Dia memberikan buku yang ia pegang padaku. Dan langsung pergi begitu saja dengan berlari.

“Lihat apa yang kau perbuat!” umpat Jessica kesal.

“Aku hanya terbawa suasana,”

“Kau ini…” timbrung Yoona.

“Aku terbawa suasana,” sergah Heechul cepat.

 

“Uhm… teman teman, aku ada urusan dulu. Dah~” ucapku pamit.

 

_Ends_

 

 

 

 

 

_Author Po_v

 

Yesung mendekati Tiffany yang sudah sampai duluan ke dalam hutan. Tiffany terduduk sambil menundukan kepalanya di bawah pohon tempat pertama mereka berteduh disana. Terdengar suara isakan dari arah Tiffany.

“Ehm… maaf,” ucap Yesung memulai pembicaraan dengan pelan.

“Buat apa?”

“Maaf, teman temanku mengatakan hal buruk kepadamu. Mereka memang begitu,”

“Uhm, itu tidak apa-apa.”

“Ehm… aku sungguh lega.”

“Kau sungguh percaya itu? Maka kau adalah orang yang benar-bbenar bodoh!”

 

“Aku tidak keberatan mereka memanggilku aneh sekalipun, karena aku sudah terbiasa. Kau lah yang membuatku sedih.” isakan Tiffany mulai terdengar kembali.

“ ‘Dia hanya seorang teman. Seorang teman.’ Seperti mencari cari alasan Aku tak senang mempunyai teman seperti itu!”

“Maafkan aku,” ucap Yesung gugup.

“Jika kau benar seorang teman, kau kan bisa membelaku walau sedikit.”

“Ya,” ucap Yesung pelan.

“Kau bisa berkata, ‘Dia bukan orang yang aneh.’ Atau ‘Dia hanya sedikit pemalu pada orang lain.’” Yesung hanya terdiam di tempat. Tiffany kembali menangis.

 

Yesung mengeluarkan sebungkus kue dari tasnya. Lalu ia mendekat dan memberikan kue itu kepada Tiffany. Tiffany menatap kearah kue yang di berikan Yesung yang ternyata kue kesukaanya.

 

“Hei… Ini!” sodor Yesung. “Aku membelinya di toko souvenir luar kota.”

“Untuk aku?”

“Ya, aku harap kau menyukainya.”

“Uh… sepertinya kalau aku makan ini aku akan menangis,” akhirnya Tiffany mulai bersuara kembali sambil terus terisak.

“Kenapa?”

“Aku mencoba untuk tidak menangis tapi rasanya ingin menangis.”

“Kenapa??”

“Tidak tahu…hiks…hiks… sepertinya setelah makan ini aku akan menangis.”

“Ke…napa?”

“Tidak tahu…”

“Akankah kau menangis dengan keras?” Tiffany mengangguk mantap.

 

“Ya sudah kalau begitu tidak usah makan! Aku ambil ini” Yesung menarik kembali kuenya dari tangan Tiffany. Srreettt! Tiffany menarik kembali kue dari Yesun dan nyegir lalu memakan kue tersebut.

“Hehehe… mau?” Yesung tersenyum dan mengambil satu kue lalu memakanya.

 

 

*

 

 

Mereka berjalan sedikit masuk kehutan. Dari jarak pantau seperti itu. Yesung memberikan pemandangan yang bagus untuk Tiffany memulai berfoto.

 

“Putar yang ini tiga kali.” Tiffany menuruti apa yang di perintahkan Yesung.

“Coba.” Tiffany memegang kameranya kuat-kuat. Ia membidik sebuah dedaunan yang sedang di tetesi embun. Klik!

“Kok gak bisa?” tanya Tiffanny bingung. Ia membolak balikan kameranya dan Jepreet! Kameranya memfoto dirinya sendiri.

“Hahahaha…” tawa Yesung melihat itu.

 

Hari semakin sore. Tapi mereka tetap mencari objek untuk di foto. Tiffany berlari lari kesana kemari untuk mendapatkan foto yang bagus. Entah dia memfoto apa. Tapi Yesung hanya cekikikan melihat sikapnya yang kekanak kanakan itu.

 

Klik! Jeprreet!

 

“Huuuuhh…huhh…hhh…hh…” sesak Tiffany setelah memfoto objek yang sama dengan Yesung.

“Ada apa?”Yesung bingung.

“Itu sangat menyakitkan.” ucap Tiffany mengatur nafasnya.

“Kenapa?”

“Karena kita menahan nafas kita.”

“Mwo?”

“Ne?”

“Hahaha…” tawa Yesung mendengar itu. Jadi ternyata dari tadi Tiffany memfoto apapun sambil menahan nafasnya. Dasar aneh.

 

 

*

 

 

“Kau lihat rumah itu?”

“Wow!”

“Harga sewanya lebih murah dari flat biasa.”

 

 

“Duduklah,” Tiffany yang baru masuk ke apartement Tiffany duduk di sofa dan memandangi sesisi ruangan rumah Yesung. Banyak foto foto yang tersimpan disana. Lalu pamdangan Tiffany terhenti pada sebuah obat obatan berwarna merek hijau dan kuning yang tertumpuk rapih diatas meja.

 

Tiffany berdiri dan mendekat kemeja itu. Dan mengambil salah satunya.

 

“Hey apa ini?” tanya Tiffany polos.

“Ah ah!!” Yesung dengan cepat merebut obat yang di pegang Tiffany. “Jangan sentuh ini tanpa permisi.” ucap Yesung gelagapan.

“Oh, maafkan aku.” Yesung mengambil semuanya dan menyumputkan di dalam kamarnya.

“Kau tak perlu menyembunyikan secara terburu-buru.”

“Bukan seperti itu,”

“Kau kan laki-laki, kau butuh yang seperti itu.” Yesung membalikan badanya.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Jangan kuatir.” Tiffany memamerkan sederet giginya.

“Kamar gelapnya di sebelah sana.”

“Benar?”

 

 

“Kau harus melakukanya di tempat yang gelap.” Tiffany berusaha melepaskan klise kamera dari tempatnya.

“Ne!”

“Apakah matamu benar benar kau tutup?”

“Iya.”

“Ah tunggu tunggu!”

“Ne?”

“Ini tidak mutar.”

 

Setelah beberapa tahap. Tiffany selesai dengan fotonya. Tiffany kembali ke ruang tamu setelah menyelesaikan fotonya. Sedangkan Yesung balik lagi ke ruang foto.

 

“Wah!” ucap Tiffany melihat fotonya di pajang di salah satu dinding.

 

 

“Kau membuatku begitu senang hari ini!”

“Ha?”

“Foto itu, …. Kau juga mengajariku cara mencetak foto.”

“Oh itu. datang lagi kapan-kapan,”

“Aku boleh?”

“Jauh lebih cepat dari pada mencetak di studio foto.”

“Aku akan datang lagi! Pasti!”

“Tentu!”

“Sebentar lagi, aku akan menjadi wanita. Yang kau takkan sabar menunggu hanya untuk mengambil fotonya.”

“Maksud kamu apa?”

“Aku akan menjadi wanita, yang fotonya akan memenuhi dinding runganmu!”

“Kamu ngomong apasih?” tanya Yesung watados.

“Oh, tapi belum. Tunggulah sebentar lagi. Setidaknya sampai aku bisa melepaskan kaca mata ini.”

“Kacamatamu?”

“Yah, dokter bilang aku boleh melepas kacamataku kalau aku tumbuh dewasa, dan penglihatanku sudah lebih baik.”

“Apa?”

“Sudah ku katakan sebelumnya bukan? Kekuranganku hormone pertumbuhan.”

“Akankan benar benar kau tumbuh dewasa?”

“Ya! aku akan tumbuh dewasa! Dadaku akan menjadi besar, dan pinggulku akan telihat sexy! Dan bahkan gigiku akan tumbuh lagi!”

“Sungguhkah?”

“Aku masih punya gigi  susu di bagian belakang.”

“Sungguh? Benarkah!” ucap Yesung tercengang.

“Jangan kuatir. Dari sekarang aku akan tumbuh dewasa. Menjadi orang yang amat cantik! Dan menjadi wanita yang di cintai semua orang. Apa yang akan kau lakukan, jika aku menjadi wanita yang luar biasa?” tanya Tiffany semangat.

“Luar biasa gimana? Apanya?”

“Kau tahu semuanya! Disini dan disana, yang ini dan yang itu!”

“Sungguh…”

“Aku akan menjadi wanita dewasa, memakai baju sexy dan bergaya sexy di depanmu! Ketika aku melepas kacamataku itulah yang akan membuatmu terheran heran. Mengerti?”

 

_Ends_

 

 

 

_Yesung Po_v

 

Belakangan ini, aku selalu ingin bersamanya (Jessica) setiap saat.

Jadi aku berhenti memakai obat-obatan,

“Baunya busuk!” ucap songsaenim membuyarkan lamunanku. “Tolong tutup jendelanya.”

“Baunya busuk sekali yah?” ucap Jessica nimbrung.

“Pabrik gas beracun?”

“Ne.”

“Hal itu malah sebuah bantuan besar bagiku.”

“Apa?”

“Bukan apa-apa..” balasku kaku. “Apa yang kau baca? Apakah menarik?” melihat buku oranye dengan gambar gaun gaun yang amat cantik.

“Ini sangat menarik!”

“Benarkah..”

“Aku juga kana menjadi pengantin suatu saat nanti.”

“Aku yakin kau akan menjadi pengantin yang cantik.” Jessica melihat kearahku dan tersenyum. “Jeongmal gasahamnida.”

 

“Bagaimana denganmu Yesung?”

“Aku tidak pernah berpikir untuk begitu.”

“Itu hanya buang buang waktu!”

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Bukan kamu. Tapi orang yang jadi pasanganmu.”

“Oh,” balasku bingung. Aku sudah kehabisan kata,

“Kau memegang kebahagiaan orang lain di tangamu. Disuatu tempat di dunia ini, seorang gadis sedang menunggu untuk menerima kebahagiaan itu. Jadi kau harus memastikan, bahwa gadis itu menerima kebahagian yang sedang kau pegang.”

 

_Ends_

 

 

_Author Po_v

 

Tiffany terus sibuk dengan kamernya memfoto beberapa pohon di hutan. Lalu terdiam dan melambai kearah Yesung yang ia dapati menuju kearahnya. Tapi terhenti. Melihat sosok lain di belakang.

 

“Kau tidak apa-apa?”

“Ani,” jawab Jessica pada Yesung.

 

“Maaf  kami membuatmu menunggu.” ucap Yesung watados. “Hello.” salam Jessica.

“Uhm, Hello.”

“Jessica ingin sekali kesini saat ku katakan tentang tempat ini.”

“Ini tempat yang nyaman..”

 

Yesung terus saja berbincang dengan Jessica tampak disana raut wajah Tiffany yang mengusam dan pergi. Yesung memberi isyarat pada Jessica dan mengejar Tiffany yang sudah lumayan jauh.

 

“Apa yang salah?” teriak Yesung mengejar Tiffany.

“Ya, dia cantik. Benar-benar cantik. Sebagai tambahan, dia tau dia cantik. Tapi aku tidak mengatakan hal itu hal yang buruk. Itulah mengapa orang-orang, baik lelaki maupun perempuan suka padanya. Orangtua dan anak kecil suka padanya, aku yakin binatang peliharaan juga suka padanya! Dia benar-benar seorang wanita yang sempurna.” Tiffany terus mengomel.

“Apa yang salah?” tanya Yesung tidak mengerti.

“Aku bilang dia sangat berlawanan denganku!” Tiffany pun terdiam. Terdengar suara isakan dari dirinya.

 

“Mengapa kau bawa dia kesini?” lirih Tiffani dalam isakan.

“Mwo?”

“Bukankan ini tempat kita? Bukankah ini tempat yang sangat penting untuk kita berdua?”

 

Yesung tak bisa menjawab dan membiarkan Tiffany terus berjalan dengan air yang sudah mengalir membasahi pipinya.

 

*

 

Hari ini Tiffany tidak masuk pelajaran. Saat di cari di kantin dengan Yesung pun tidak ada.

 

“Apakah kau keberatan jika aku duduk disini?” tanya Tiffany kepada Jessica.

“Silahkan,”

“Gomapta.” Jessica mendongkakkan kepalanya melihat siapakah yang bicara denganya.

“Ah.. Eum… maaf kan soal yang kemarin.” Tiffany mengangkat bukunya tinggi tinggi  agar dari celah tak melihat wajah Jessica.

“Maaf kan aku.” ucap Jessica lagi. Jessica terdiam kembali dan melanjutkan tugasnya. Tiffany sedikit mengintip dari balik bukunya. Dan melihat apa yang di kerjakan Jessica.

 

“Wah!” teriak Tiffany langsung berdiri dan membuat kaget Jessica.

“Batu Amethyst!” lanjut Tiffany. “Ne?” tanya Jessica bingung. Ternyata yang dilihat Tiffany adalah batu dari kalung yang di kenakan Jessica.

 

“Apa kau mempunyai batu Amethyst sendiri?”

“Tidak.”

“Aku dengar ini adalah batu mutiara yang bisa membuat orang lain suka padamu.”

“Wow!!!”

“Bukankah ini sangat manis?”

“Ini sangat cantik!”

 

“Ah!” Yesung melihat itu langsung berlari kearah Jessica dan Tiffany yang sedang berbincang. “Apa yang kau lakukan?” tany Yesung risih pada Tiffany.

“Oh!” ucap Tiffany menyambut Yesung dengan senyuman.

“Tidak ‘Oh’!”

“Yesung ini adalah batu mutiara cinta,” timbrung Jessica.

“Benar!” ucap Tiffany menunjukan batu yang sama di kenakan Jessica tapi dalam gelangnya.

“Bisakah aku bicara denganmu sebentar?” Yesung langsung menarik tangan Tiffany.

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yesung lagi.

“Apa?”

“Berhentilah bermain-main, mengapa kau dengan Jessica?”

“Entah bagaimana kami menjadi seorang teman.”

“Bukankah kau marah kepadanya kemarin?”

“Aku tidak sungguh-sungguh marah padanya.”

“Itu benar. Tapi… apa kau merencanakan sesuatu?” tanya Yesung tidak percaya.

“Aku tidak merencanakan apapun.” jawab Tiffany mengelak.

“Tidak mungkin!”

“Tidak mungkin?”

“Ya!” ucap Yesung percaya diri.

“Aku hanya ingin… Orang yang aku cintai, jatuh cinta dengan orang yang ia cintai.” Yesung terdiam mendengar pernyataan terakhir Tiffany.

 

_Ends_

 

Flash back Off back to a real world.

_Author Po_v

 

Tak terasa Yesung sudah berdiam diri di jembatan tempat janjiannya bersama Tiffany. Sudah malam hingga lampu lampu kota menghiasinya. Ia mengambil tripod dari kantungnya dan sedikit mengambil foto disana.

 

Disisi lain, seorang yeoja sibuk dengan pameran fotonya yang akan diselenggarakan sebentar lagi. Ia melihat gelangnya yang terbuat dari batu Amethyst dan melihat jam yang sudah menunjukan waktu malam. Ia bergegas keluar dan berlari. Mengangkat tangan setinggi mungkin. Untuk ada orang yang baik memberikanya waktu untuk menyebrang.

 

Menginginkan ‘Orang yang dia cintai, jatuh cinta, dengan orang yang dia cintai’

Semua hubungan yang rumit berlansung sampai musim gugur tahun Junior kami.

_Ends_

 

Flash back on!

_Author Po_v

 

“Laba-laba, laba-laba… ada laba-laba di pundakmu… laba-laba,” gumamku sepelan mungkin.

“Ada apa?” Jessica malah menengok kearahku dengan tatap bingung.

“Uh, tidak ada apa-apa,” jawabku gelagapan dan mencoba tersenyum.

 

“I hihiii,…” dia malah tertawa melihat aksiku.

“Hei!” ucapku ternyata di bohongi.

“Apa? Apa?” tanya Jessica.

“Bukan apa-apa,” jawabku cepat.

 

“Jadi apa yang sudah kau putuskan?” tanya Jessica pada Yesung.

“Uh, well.. Apakah Hankyung ada di seminar?”

“Yap! Heechul dan Yoona lagi praktek kerja, dan Sooyoung sedang di program Berlitz, bukan jadwal kuliah.”

“Aku mengerti. Mereka sedang bersiap siap untuk mencari kerja.”

“Itu benar. Bagaimana denganmu Yesung?”

“Well…”

“Mengapa kau tidak menjadi photographer seumur hidupmu, dari pada mencari sebuah pekerjaan?” timbrung Tiffany.

“Bagaimana aku bisa membiayai hidup kalau melakukan hal itu?”

“Maka rumput atau apalah.” balas Tiffany polos. Jessica yang mendengar itu hanya terkekeh kecil.

“Jessica, kau sudah menemukan sebuah pekerjaan bukan?” sekarang Tiffany bertanya ke Jessica.

“Maaf yah semuanya, aku pake koneksi ayahku.” Tiffany memamerkan giginya.

“Apakah perusahaan luar negeri?” potong Yesung semangat.

“Benar. Sebagai tambahan, aku akan bekerja di luar negeri. Aku sesungguhnya menerima karena hal itu.” jelas Jessica.

“Kau sedikit kuno di balik tampangmu seperti itu.” celoteh Yesung.

“Maaf. Hehehe…”

“Aku paham! Kau akan keluar negri saat kau lulu. Kami akan merindukanmu.”

 

“Tunggu! Bagaimana denganmu Tiffany?”

 

*

 

Yesung berlarut malam ria di perpustakaan. Mengoprek internet mencari cara panduan mencari kerja. Dia leleha dan sedikit merenggangkan sekitar. Melihat sesisi perpustakaan yang terisi dengan berbagai pasangan.

 

Tap.. tap…

 

Lalu ia melihat Tiffany yang sibuk membawa tas yang amat besar. Dan turun kebawah. Yesung berlari mengejar Tiffany.

 

“Ini, ini dan ini…”

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yesung menghentakkan Tiffany.

“Kau mengagetkanku!!!”

“Untuk apa semua barang itu?”

“Kau tahu.”

“Apa itu?” tanya Yesung lagi tidak ‘ngeh.’

“Aku kabur dari rumah.”

“Kabur dari rumah?”

“Hm! Bukan untuk waktu yang sebentar, tapi untuk waktu yang lama! Jadi aku ingin mereka membiarkanku menggunakan ruangan yang kosong ini.”

“Kenapa kau tidak kerumahku saja?” ajak Yesung.

“Apa?”

 

Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal seperti itu.

“Kau kan sering berkunjung kerumahku. Ingat tidak?”

“Memangnya tidak apa-apa?”

 

*

 

“Rasanya sudah lama sekali.” Tiffany menaruh tasnya di ruangan di apartement Yesung. Mereka bersama membereskan sedikit barang-barang mereka.

“Bagaimana dengan kamar gelap?”

“Kau mau mencetak foto?” Tiffany mengangguk dan meletakan tas gendongnya.

 

“Kapan kau mengambil gambar itu?” tanya Yesung takjub. Melihat sebuah foto kedua anak kecil yang sedang bermain.

“Kemarin. Ku pikir aku lebih suka ini dari pada gambar pemandangan.”

“Aku mengerti…”

“Itulah mengapa aku tidak memfoto apapun kecuali tentang manusia.” Yesung terdiam dan terus memandangi beberapa foto yang di gantung Tiffany.

 

*

 

Yesung sibuk mengolesi penyakitnya dengan obat. Dan tampak melihat sebuah kertas hijau yang berada di tas Tiffany.

 

“Aku sudah selesai mandi! (Yesung gelagapan dan menyembunyikan obatnya) Apa kau akan masuk sekarang?”

“Uh, tidak. Hey…”

“Hm?” Yesung menujuk kearah kertas yang tadi ia lihat. “Apa kau sakit?”

“Itu tidak baik. Obat-obatan wanita. Jangan melihatnya tanpa permisi terlebih dahulu.” Memasukan kembali kertas tersebut.

“Maa..af,”

 

Dia sangat sering berbohong.

“Tampaknya kita pasangan yang tergantung pada obat-obatan.” ceplos Yesung.

“Hmmp?”

“Tak udah di pikirkan. Ayo tidur!” Senyum Tiffany yang tadi mengembang menyurut.

“Kau bisa menggunakan tempat tidur, Aku akan… Hah?” melihat itu Yesung bertanya.

“Ini pertama kalinya bagiku. Tolong dengan lembut.” ucap Tiffany polos. Entah sepertinya di pikiranya Yesung akan melakukan sesuatu padanya. Tiffany berdiri dan langsung memeluk Yesung.

“Tunggu, tunggu!” elak Yesung.

“Tak apa-apa. Aku tdak punyai uang. Aku sudah siap siap membayarnya dengan tubuhku.”

“Tidak…”

“Aku tak keberatan… jika kau menggunakan obat kuatmu itu.”

“Tunggu tahan..” Yesung melepaskan Tiffany dari pelukannya.

“Aku tidak bertujuan seperti itu. Sama sekali tidak. Hanya sebagai seorang teman.”

“Apakah ini karena aku belum tumbuh dewasa sama sekali?” Yesung menggeleng.

“Apakah karena dadaku tidak besar?” Yesung menggeleng lagi. Tiffanu mengerucutkan bibirnya dan mendorong Yesung ke sofa. Lalu ia berbaring di sofa yang lebih kecil. “Aku tidur disini.” ucap Tiffany marah.

“Kau bisa menggunakan tempat tidu,,–”  “Aku tidur disini! Aku tidak peduli jika nanti aku menyesal.” potong Tiffany.

“Apa?”

“Aku akan tumbuh dewasa, dan kau akan membayangkan : ‘mengapa aku tidak tidur dengan wanita seperti dia?’” Yesung menghela nafas dan mematikan lampu. “Selamat malam.” Lalu pergi menuju kamarnya. “Babo!!! Yesung babo!! babo! babo! babo!!! Babo… babo…” Di kasurnya Yesung terkekeh melihat Tiffany yang meringkuk.

 

*

 

“Aku akan berangkat duluan.”

“Kenapa? Ayo berangkan bersama.”

“Aku akan berangkat duluan!” Tiffany ngotot dan pergi duluan.

“Apa kau masih kesal?!”

“Tidak. Bagaimana jika seseorang melihat kita bersama disini? Pergi kekelas bersama. Itu… kau sudah memberiku tempat tinggal. Aku tak ingin memberimu masalah dengan cintamu. Bye!” Tiffany pergi. Dan Yesung terkekeh kecil tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Tiffany.

 

*

 

“Kau bisa memasak?”

“Aku sudah membuat ini setiap hari.”

“Sungguh.” Tiffany sibuk menuangkan masakannya sedangkan Yesung terus terus saja mengameraminya entah memfoto atau merekam. “Aku juga menjaga adikku.”

“Kau punya adik?”

“Hanya satu orang saudara laki-laki. Walaupun sekarang dia sudah meninggal.” Jelas Tiffany lempeng sambil mengambil makanannya dan menaruhnya di ruang tengah.

“Apa?” tanya Yesung.

“Seminggu yang lalu. Dia hanya di tempat tidur untuk  waktu yang lama karena sebuah penyakit.”

“Kau lari dari rumah karena…”

“Iya. Aku sangat kehilangannya, maksudku… rasanya aneh kalau berada di rumah dan aku sedang ribut dengan ayahku. Jadi aku kabur!” Cerita Tiffany sambil sibuk menyiapkan makanan. Dan Yesung hanya membatu di dapur.

 

“Apa nama penyakit adikmu?” Yesung menyelidik.

“Orang dengan penyakit ini akan meninggal bila mereka jatuh cinta.”

“Apa?!”

“Hanya bercanda, sebuah penyakit keturunan.” Tiffany masih terus tersenyum. “Ibuku meninggal karena penyakit yang sama. Itu terjadi ketika aku masih sangat kecil. Jadi, hanya aku dan ayahkulah yang selamat.” terang Tiffany dengan tenang.

“Kau tahu apa artinya itu? dengan kata lain, aku mewarisi gen ayahku dan jadi wanita yang tidak feminin seperti ini. Bahkan rambutku kasar seperti kawat.” Yesung tertawa melihat sikap Tiffany yang merusak rambutnya sendiri. “Ayo makan.”

 

 

Di meja kecil Tiffany dan Yesung sibuk dengan makanannya. Yesung menuangkan sedikit minuman ke dalam gelas Tiffany.

 

“Kau boleh minum alcohol?” Tiffany mengangguk ragu. Sambil menujukan sedert giginya. Mereka bersulang. Dan memulai makannya. Yesung menyuap satu makanan kedalam mulutnya. Tiffany terdiam menunggu ekspresinya. “Ini sangat lezat.”

“Jinjja?”

“Rasanya sangat luar biasa. Aku sungguh bangga dengan kemapuan masakku!!!”

 

Sekarang Tiffany menyuap makanannya. Dan tersenyum mengambil nasi dengan sumpit di mangkuknya. Yesung terus memperhatikan gerak gerik Tiffany. “Wae?”

“Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah melihatmu makan selain dengan biscuit donat.” terang Yesung jujur. Sebenarnya nasi yang Tiffany makan adalah nasi pertamanya. Selama ini yang ia makan hanya biscuit donat.

“Jangan memandangku seperti itu,” gugup Tiffany.

“Tapi aku ingin.” balas Yesung.

“Aku mau makan yang banyak, dan tumbuh dewasa dengan cepat juga!”

“Oke!”

“Dadaku akan sebesar ini, dan…”

“Memakai pakaian yang seksi benarkan?” potong Yesung menahan tawa.

“Apa?”

“Umurmu sudah 21 tahun.” Yesung kembali menyuap makanannya.

“Aku akan tumbuh dewasa!!” Yesung tak menanggapi Tiffany dengan serius dan terus memakan makananya.

 

*

 

Hari itu di kelas amat menyesakan. Murid murid tertidur karena pelajaran yang membosankan. Yesung tertidur. Brrukk… ia terbangun karena terjatuh dari meja nya.

 

“Kau terus membaca itu.” Yesung bertanya kepada Jessica yang di sebelahnya saat arwahnya semua terkumpul. “Kau tahu hari ini hari apa?” tanya Jessica sambil terus membolak balik bukunya.

“Apa?”

“Hari ini  hari ulang tahunku.”

“Mwo?!!!”

 

Dugghh!!! Terdengar suara kepala songsaenim yang terbentur tembok yang ternyata juag tertidur.

 

“Maaf.. aku benar benar lupa.”

“Seperti yang kukira” Jessica melipat bibirnya. “Sungguh, aku minta maaf.”

“Ahaa.. jika kau merasa sangat bersalah. Aku ingin sebuah acara ingin hadir di temani olehmu.”

 

*

 

Yesung sibuk mengelap-ngelap lensa kameranya tanpa berhenti tersenyum. Tiffany memperhatikan itu,

“Apa telah terjadi hal yang bagus?” tanya Tiffany. “Sedikit,” jawab Yesung tersenyum,

“Pasti berkaitan dengan Jessica. Well, itu tidak masalah untukku.”

“Bagaimanapun, apakah yang kau pikirkan tentang photograpy?” Yesung mengalihkan topik.

“Apa maksudmu?”

“Apakah kau ingin melanjutkannya seumur hidupmu? Contohnya, sebagai sebuah karier?” Tiffany mengerutkan keningnya.

“Aku berpikir untuk menjadi seorang photgrafer.” jelas Yesung. “Aku yakin akan butuh bertahun-tahun dari sekarang, tapi… aku berpikir seperti ini setelah melihat foto-foto mu,” lanjut Yesung sambil tersenyum. “Foto-foto ku?”

“Aku tidak bisa melihatmu mengalahkanku selamanya…. (Tiffany tersenyum) Jadi sebagai test dari kemampuanku. Aku mau ikut kompetisi, kau mau ikut?” Tiffany melonjak dari sofa. “Aku mau ikut! Kapan kita akan mengambil foto? Bagaimana kau Minggu… ini sangat menyenangkan!!” Yesung terdiam.

“Uhm.. aku ada acara dengan Jessica hari Minggu.” Senyum Tiffany kembali menyurut dan meringkuk di atas sofa.

“Tidak bisa dirubah aku sudah janjian dengan Jessica duluan.”

“Kamu jahat, Yesung! Kau membuat orang begitu senang, lalu mengirim mereka langsung ke dasar neraka.”

“Dasar neraka?”

“Apakah ini kencan?” tanya Tiffany.

“Bukan, kau tahu itu… konvensi pernikahan atau apalah hanya untuk menemaninya.”

“Oh, Jessica pernah bilang padaku dia ingin sekali pergi kesana.”

“Dia itu kuno di balik tampangnya yah?”

“Jadi akhirnya dia memilihmu,”

“Hmm?”

“Tak apa-apa, Pergilah!! Pada saat itu, cintaku yang hilang akan di konfirmasikan. Saat itu, ketika kamu memilih Jessica dari pada aku.”

“Kamu tidak…”

“Bagaimana dengan pakaianmu? Apa yang akan kau pakai?” Tiffany semangat kembali.

“Biasa saja.” balas Yesung menunjukan baju yang ia kenakan.

“Apa kau tidak punya jas atau apa?” Yesung menggeleng. “Kalau begitu besok kau harus beli!”

“Hanya untuk itu!” Tiffany mengangguk mantap.

 

*

 

Tiffany senyam senyum menatap Yesung yang menggunakan jas yang baru ia beli tadi pagi. Yesung terlihat kaku dan gugup.

“Benar, bahkan seorang pecundang bisa berpakaian untuk sukses.”

“Diam.. Aku akan menggunakan kamar mandi.” ucap Yesung malu.

“Sebegitu gugupnya?”

“Diam..”

 

Yesung ke kamar mandi dan mengambil obatnya. Membukanya dan… Ia terdiam ia tidak jadi mengolesi obat itu.

 

“Yesung!!! Yesung!!! Tunggu!!! Sepatumu!!! Berhenti!! Sepatumu!!!” Yesung melihat apa yang ia kenakan. Ternyata sandal jepit. Tiffany berlari kearahnya dan memberikan sepatu itu kepada Yesung.

 

Disana sudah di penuhi orang. Gereja yang di gunakan untuk mempertunjukan gaun pernikahan sudah penuh dengan orang. Dan akhirnya di mulai, semiua penonton melihat kebelakang, satu demi satu model masuk dengan gaunnya. Jessica dan Yesung terpaku melihat mereka yang megitu anggun dan mempesona. Tiba-tiba penyakit Yesung kambuh, rasa gatal dan panas.

 

“Urrgghhh…” Yesung sibuk menggaruk-garuk penyakitnya. Wajahnya sudah berkeringat dingin tak bisa menahannya lagi. “Uhm… aku kekamar kecil dulu,” Yesung langsung berlari dan bergegas.

 

Samapi di kamar mandi ia menarik bajunya. Tampak lukanya basah. Ia melepas jasnya dan. Tung! Yesung mengotak ngatik jasnya mencari sesuatu yang bunyi itu. Ia menemukan obatnya disana. Padahal ia tidak membawanya, Ia takut Jessica mencium obatnya dan menjauhinya.

 

Tiffany meletakkanya…

 

Dengan cepat ia membuka botol tersebut dan mengolesinya ke lukanya.

 

“Ah!! Itu sangat indah!! Bukan Yesung?” Jessica keluar pameran dengan sangat puas.

“Ha? euhmm oh iya! (tersenyum) Untuk apa garis pembatas itu?”

“Mereka mengambil gambar. Sebuah foto souvenir menggunakan gaun..”

“Sungguh?”

“Ayo pulang. Terimakasih banyak telah menemaniku hari ini,” Jessica menunduk 90 deraja dan pamit.

“Kamu tidak ingin berfoto?”

“Kayaknya akan lama antrinya.” terang Jessica sambil terus berjalan.

“Tapi kau tersenyum lagi.”

“Tapi kau tidak tersenyum. Pikiranmu di tempat lain.”

“Yah, tampaknya…”

“Tampaknya kau ingin pulang sesegera mungkin. Apakah ada seseorang menunggumu di rumah?” potong Jessica membaca hati Yesung. Yesung menggeleng cepat. “Hahaha… itu lelucon. Tapi itu tidak masalah, aku sudah puas.” jelas Jessica. Jessica berjalan kembali meninggalkan Yesung.

 

“Tunggu!”

 

Yesung bersiap diri dengan jasnya yang di berikan oleh penata rias. Ia gugup hanya menunggu sendiri di ruang pemotretan. Cklek… pintu tiba tiba terbuka lebar. Sosok yeoja canti dengan gaun putih bersinar muncul disana. Yang tak lain Jessica. Yesung menatap Jessica membeku.

Jessica berjalan pelan kearah Yesung yang masih tersepona dengan kehadiranya.

 

“Berpegang tanganlah.” ucap yang fotografer. “Ha?” Yesung melihat tanganya ragu. Ia gugup, segugup gugupnya.

 

_Ends_

 

 

_Yesung Po_v

 

Sampai di rumah, tong sampah sudah di penuhi oleh banyak tisu. Aku membuka dasiku dan menuju suara rintihan dari arah dapur.

“Eh um…” ku hentikan langkahku melihat Tiffamy disana.

“Sudahlah itu bukan apa-apa,” ucapku kaku. Aku kaget melihat tisu yang berdarah di pegang Tiffany. “Apakah itu sakit?” tanyaku watados.

“Tidak sama sekali.”

“Maka kamu tak perlu menangis.”

“Tapi…”

“Gigi mana yang copot?” tanyaku mendekat.

“Di sebelah yang paling kanan.”

“Yang mana?” aku menurunkan kepalanya dan ingin melihat wajah Tiffany.

“Tidak! Aku tidak akan menunjukkannya padamu!” Tiffany membalikan badannya malu.

“Mana gigi yang copot tadi?” Tiffany mengodok ngodok sakunya dan mengeluarkan giginya. “Nih!”

“Kamu benar-benar masih punya gigi susu?” ucapku takjub.

“Aku pernah bilang aku masih punya dua.”

 

*

 

“Tiffany.. kau tidur?” tanyaku melihat dia terbaring di sofa yang kecil.

“Hampir. Kamu?”

“Juga hampir.”

“Lalu, lakukan yang terbaik untuk tidur.” Kembali terdiam.

 

“Tiffany, kapan ulang tahunmu?”

“Wae?”

“Kita harus merayakan ulang tahunmu juga.” Tiffany tersenyum masam.

“Apakah kamu berencana untuk membuat aku bahagia, kemudia mengirimku ke neraka?”

“Bukan.. aku…”

“Jangan kawatir tentang ulangtahun ku lagi. Saat ini, sebaikny akau memikirkan Jessica. Kamu sebaiknya berpikir cara memenuhi cintamu dengan Jessica.”

“Mempunyai hubungan bukanlah salah satu cara untuk jatuh cinta.”

“Hm?”

“Satu sisi cinta adalah… Dalam caranya sendiri, cinta yang lengkap. Di jalan lain, Jessica akan pergi ke luar negeri ketika ia lulus. Ada alasan untuk memustuskan hubungan kami.” terangku.

“Pemikiran seorang pengecut,” potong Tiffany. Aku menghela nafas dan mencoba untuk tidur.

“Lalu, beri aku hadiah juga!” Tiffany berbicara kembali. “Apa?”

“Sebuah hadiah ulang tahun.” Jelasnya.

“Pasti. Apa yang kau inginkan?” tanyaku tidak jadi tidur. “Ciuman.” Jawabnya cepat.

“Menciumku!” jelasnya kemudian.

“Apakah ada hal lain yang kamu inginkan?” tanyaku mencari yang lain.

“Jika kau menciumku, aku akan mati dengan kebahagiaan.” Dia terus saja tersenyum.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Apakah kau sudah mencium Jessica?” tanyanya lagi,

“Aku… setidaknya lima kali.” Sebenarnya aku belum pernah melakukannya. Itu hanya kebohongan semata.

“Jadi lakukanlah dengan aku juga!” balasnya polos.

“Dengan kamu…”

“Aku sedang berpikir dengan tema ‘pecinta’ untuk tema fotoku. ‘Pecinta berciuman’. Aku ingin kita berada dalam karyaku.”

“Kapan ulang tahunmu?” tanyaku ragu.

“Akan kau buat besok!!!” ucapnya semangat. “Besok?!”

 

*

 

Hari itu di hutan yang sudah biasa aku kunjungi bersamanya. Aku gugup bersiap siap melakukan hal yang sama sekali belum pernah aku lakukan. Ku terus terus saja melakukan pernapasan.

 

“Beberapa langkah kedepan.” ucapnya memberi komando. Aku menurutinya dan melangkah kaku. Perlahan dengan perlahan. “Oke!”

“Disini.”

“Hm!”

 

Tiffany sibuk menyeting kameranya. Lalu ia datang kearahku.

“Apa kau yakin?”

“Tentu saja. Ini hanya ciuman.” Ucapku gugup.

“Sebagai hadiah ulang tahun?”

“Sebagai model.” Dia sedikit menghela nafas mendengar ucapanku.

 

Dengan gugup aku memegang bahunya yang kecil itu mendekatkan wajahku dengan pelahan. Sungguh kaku sekali.

 

“Ah, tunggu!” aku terhentak mendengarnya.

“Sekarang aku bisa melepaskan kacamataku.” Dan dia berbalik kearahku dan menatapku dengan senyuman.

Sungguh kagetnya diriku. Dia begitu cantik dan manis. Hanya itu yang terpikir olehku. Aku tidak bisa berpikir apapun lagi,

 

“Ya?”

“Uhm… hanya perasaanku saja, atau kau lebih tinggi daripada saat pertama kali bertemu?”

“Kamu baru sadar sekarang? Aku kan cepat tumbuh!”

“Kau benar benar begitu.” Tiffany mengangguk mantap.

“Ya. dada ku juga luar biasa! Mau lihat?” ia sedikit menarik bajunya.

“Uh, tidak. Tidak apa-apa.” ucapku gugup sambil mencoba menutup mataku. Dia tertawa melihat tingkahku. Aku kembali menghela nafas.

 

Ku cengkram lagi pundaknya yang kecil itu. Dan kembali menarik dirinya dan diriku. Dia memejamkan wajahnya. Aku memiringkan wajahku, agar bisa mengenai bibir cherrynya itu, dan kau bisa melihatnya…

Ku rangkuh pundaknya. Dan dia juga begitu. Sampai kita terlelap begitu saja.

 

“Kau pergi saja duluan, aku akan disini.”

“Yah… kita harus mengadakan pesta. Pesta selesainya fotomu. Aku akan memasak,” ucapku mengambil tas.

“Yesung, apakah ada setidaknya sedikit cinta dalam ciuman itu?” tanya tiba-tiba.

“Ha?”

“Ehhehe.. tidak, samapi jumpa.” Aku tersenyum dan pergi duluan.

 

*

 

Hari ini aku sudah belanja banyak untuk merayakannya. Pulang dengan terus memikirkanya. Lalu,

 

Yesung,…

Selamat tinggal..Terimakasih untuk selamanya.

Braakk!! Aku membuka pintu ruang tamu dengan cepat, melihat sepucuk surat kecil tertempel di dinding kulkas. Aku bergegas keluar sebelum malam tiba. Ku ambil sepedahku dan kugayuh secepat mungkin.

 

“Saya tahu kau mahasiswa disini, tetapi kita tidak bisa mengatakan alamatnya…”

“Anda tidak perlu memberitahu saya. Tolong periksa dia kembali pulang atau tidak.”

“Hei, bukankah Hwang nama gadis yang barusan tadi?” ucap salah satu penjaga yang lain.

“Oh benar!”

“Apa itu?” tanyaku.

“Gadis itu.. Datang untuk memeritahukan pengunduran dirinya malam ini.”

“Mwo?!”

 

Aku kembali mengayuh sepedahku. Bulan sudah terbit, tak mengurungkan niatku untuk terus mencarinya. Hatiku begitu cemas.

 

“Aku minta maaf, untuk datang begitu larut malam. Nama saya adalah Kim. Apakah Tiffany ada di rumah. Maaf!” tidak ada jawaban dari rumahnya sendiri. Aku terus kembali menggoes sepedahku.

 

Tak terasa hujan deras sudah mengguyur bajuku. Aku masuk ke dalam hutan. Berjalan sendiri. Tertatih menuju pohon kecil disana.

 

Itu tadi adalah…

Ciuman pertamaku, dan aku pikir ini adalah awal dari segalanya.

Tetapi…

Jika saja aku telah mengambil langkah pertama sebelumnya…

Hari-hari aku menghabiskan waktu dengan Tiffany yang damai dan satai.

Aku bahkan tidak pernah membayangkan ada akhir untuk hari-hari ini.

*

“Berapa jauh kita sampai kerumah sakit?”

“Ada sebuah rumah sakit darurat di sisi lain jembatan.”

“Si idiot ini benar-benar ringan.” ucap Heechul  yang menggendongku dalam tidur.

“Biarkan aku turun…” lirihku terbangun

“Oh! Kesadarannya sudha kembali.”

“Biarkan aku turun!!”

“Tidak bisa kita hampir sampai!!”

“Kita terlalu dekat. Jika kita begitu dekat, bau saya akan…”

“Ha?”

“Aku bau obat!” ucapku jujur.

“Apa yang ia bicarakan?”

“Pasti ngawur karena demam.” terang Hankyung.

“Aku bau obat.” ucapku lagi.

“Sekalipun kau tidak pernah bau obat sebelumnya! Kau selalu berbau shampoo seperti seorang gadis.” Jelas Heechul.

“Tenagkan dirimu Yesung.”

 

Diriku sudah mulai tenang dengan infuse membelenggu tanganku.

 

“Whoa!! Apa yang kau lakukan mari bersulang!” ucap Heechul menghentikan diriku yang mau meminum air. “Oh iya,”

“Yah mari kita merayakan kenyataan bahwa kehidupan si idiot ini selamat!”

“Bersulang!”

“Bersulang!!!!!”

“Bisakah kalian tenang,” sindir salah satu suster.

“Maaf telah membuat masalah, Gomawo.”

“Kita akn memberitahu apa yang kami dapatkan selama kau beristirahat. Pertama-tama, kita semua dapat pekerjaan setelah lulus.”

“Bernarkah?”

“Hankyung menjadi karyawan di PBB, Sooyoung bekerja di Departement Luar Negeri, Heechul berada dalam sebuah perusahaan ditribusi filn, dan Yoona bekerja di sebuah perusahaan pilang International.”

“Aku paham! Daebak!! Kalian menakjubkan. Kalian akan keluar negeri setelah lulus?”

“Tentu saja! Memangnya buat apa kami mengambil kelas Bahas Inggris?” potong Heechul sewot.

“Satu hal lagi, tentang Tiffany… Kami semua membantu mencari, tapi… Bahkan kita tidak menemukan jejaknya,” ucap Jessica pelan. “Aku paham,”

“Mianhe,” Yesung menggeleng dengan senyum ngiris.

“Tapi adalah satu kejutan, seorang pemula asmara di dalam diama-daiam hidup bersama,” potong Heechul yang sepertinya banyak tahu gossip.

“Hidup bersama?”

“Bukankah itu hidup bersama?”

“Hahah.. begitulah cinta, semakin di sembunyikan gairahnya yang kau dapat, benarkan?” timbrung Hankyung.

“Apakah kau menjadi bergairah?” tanya mereka padaku. Belum sempat aku menjawab, mereka sudah mengambil kesimpulan dan menertawaiku.

“HARAP DIAM!!!” teriak suster itu lagi. Kami langsung terdiam.

 

Dan kemudian, Setiap mereka pergi ke tempat mereka berasal.

Seolah-olah… Saya adalah satu-satunya yang tertinggal di belakang.

Aku lulus dari Universitas dan menjadi fotografer.

Sibuk nya diriku membereskan sesuatu tibatiba ku temukan suratmu yang kau kirim kepadaku setelah lamanya aku menunggu. Mungkin sekitar dua tahun lamanya,

 

Tiffany Hwang

_Ends_

Flash back Off back to a real world.

_Author Po_v

 

Seorang yeoja turun dari taksi tepat tidak jauh dari jembatan tempat Yesung berada. Ia berlari kecil menuju jembatan tersebut. Sepertinya sebuah keajaiban akan terwujud.

 

“Hhhh…hh… Yesung?” tanya yeoja itu padaku.

“Jessica!” ucapku mengenali. Ia terus tersenyum kearahku.

 

Ngiinggg!!!! Suara air masak disana, aku bergegas ke dapur dan mematikannya. Sekarang aku sudah di apartement Jessica.

 

“Apakah teh mawar cukup?”  aku mengangguk. “Kenap aku…”

“Tunggu, aku akan menjelaskan semuanya.” Sergahnya cepat.

 

“Waktu itu sekitar setengah tahun yang lalu, aku kebetulan bertemu Tiffany di Chinatown. Tapi ia banyak berubah. Pada mulanya aku tidak mengenali tempaknya ia mengenaliku lebih dulu, ia mempunyai senyum yang lebar. Senyum itu benar-benar bernostalgia. Begitulah aku mengenalinya. Bagaimanapun ia bialng ia tinggal disana. Jadi aku bertanya padanya kenapa kita tidak tinggal bersama?”

“Setangah tahun yang lalu?” potong Yesung tidak percaya.

“Ya.”

“Kau seharusnya memberitahuku segera. Tiffany hanya mengirim surat bulan lalu.”

“Ada keadaan tertentu,” ucap Jessica cepat.

“Apa itu?”

“Diluar dingin bukan? Aku terlambat.”

“Tidak masalah, lagi pula mana Tiffany?”

“Aku sangat menyesal Yesung,” Yesung mengerutkan keningnya.

“Sebenarnya… Tiffany di LA untuk bekerja, itu sebabnya kau tidak bisa melihatnya kali ini. Aku sangat menyesal.”

“Itu tidak perlu kau sesali,” dengan tampang prihatin ia menatapku. “Tidak apa-apa aku mengerti,” Yesung terduduk lemas di sofa.

 

“Hm, gunakan kamar Tiffany malam ini. Dia memberitahuku bahwa aku akan memandumu ke pameran foto miliknya.”

“Gomawo, hm… dia baik baik saja?”

“Ya dia. Aku yakin kau akan terkejut bila melihatnya, dia telah berubah banyak.”

“Itulah yang tertulis di surat.”

“Dia wanita dewasa yang di cintai banyak orang.”

 

_Ends_

 

 

_Yesung Po_v

 

Hari itu aku bangun dan apatement sudah kosong. Di atas meja Jessica meninggalkan surat dan kunci cadangan.

 

Tidur nyenyak? Gunakan kunci ini. Pameran Tiffany mulai besok. Jadi santai saja hari ini. Aku akan meninggalkan pesan di telepon jika terjadi sesuatu,

Aku panaskan makanan yang sudah di siapka Jessica padaku. Setelah itu melakukan perjalanan melihat sekeliling kota New York ini, mengambil beberapa foto gedung dan foto orang-orang sekitar. Bercanda ria, menaiki kapal dan hal lain yang menyenangkan. Membeli bermacam souvenir yang akan aku berikan untuk Tiffany nanti.

 

‘Titt… titt… tolong tinggalkan pesan setelah nada berikut : Ini bapak Hwang. Terimakasih untuk surat salam anda (dibaca : Jessica). Layanan upacara peringatan kematian ke 49 hari telah berakhir dengan lancar. Tulang tulang Tiffany telah di makamkan di makam keluarga. Nona Jung, anda telah melakukan begitu banyak bagi kami sampai akhir. Jeongmal Gasahamnida. Silahkan kau mampir dan mengunjungi rumah saya ketikan anda kembali ke Korea. Kalkayo…

_Ends_

 

 

_Author Po_v

 

“Aku pulang!!” teriak Jessica dari luar. Tampak ruangan kacau balau. Jessica berjalan kearah kamar Tiffany dan mengetuknya. “Yesung…” ia membukanya dan mendapati Yesung memegangi beberapa surat disana, wajahnya sangat lesu.

 

“Apa yang kau lakukan dalam kegelapan?” tanya Jessica sambil menyalakan saklar, Yesung mendongkakan wajahnya. Menatap Jessica dalam dalam.

“Kemana Tiffany?”

“Aku bilang dia ke LA untu..”

“Jangan berpura-pura lagi, tadi ada sebuah pesan dari bapanya Tiffany… Bahwa Tiffany… sudah meninggal.” Jessica terdiam dan menatap cemas Yesung.

“itu tidak benar kan?”

“Jessica!” Jessica tetap terdiam.

 

“Bulan lalu..”

“Itu bohong! Bagaimana Tiffany meninggal?” potong Yesung.

“Tiffany sakit. Penyakit yang sangat langka dan tidak terkenal. Ia mewarisi Gen Ibunya. Penyakit yang ada dalam dirinya sejak lahir. Ketika Tiffany dewasa, penyakit itu akan tumbuh bersamaan dengn kedewasaanya… Tiffany selama ini menjalani hidupnya, berhati-hati untuk tidak tumbuh dewasa. Tapi kemudian, kau… dia bertemu denganmu dan jatuh cinta. Dan karena sangat ingin di cintai olehmu,… ”

“Dia meninggal… Karean ia jatuh cinta?” lanjut Yesung. Jessica terdiam sesaat dan melanjutkan kata-katanya,

 

“Dalam cara,”

“Jadi… dia meninggal karena aku?”

“TIDAK!” potong Jessica cepat.

 

“Tiffany memilih ini untuk dirinya sendiri. Bahkan jika penyakitnya berkembang, ia ingin jatuh cinta, menjadi dewasa dan menjalani hidupnya. Dia juga mengatakan padaku untuk tidak memberitahumu tentang penyakit ini. ‘Karena Tiffany dalam hati Yesung belum mati. Bahkan jika itu kebohongan, Aku ingin terus hidup di hati Yesung. (ucapan Tiffany)’. Surat-surat Tiffany… ada sepuluh darinya yang tersisa. Ia berencana untuk tetap mengirinya kepada kamu. Dia telah menulisnya dari tempat tidurnya. Dia tampak senang sekali. Rasanya… Ia mengalami banyak kesenangan.” Jessica terdiam dan menundukan kepalanya. Ia tidak tahan dengan apa yang ia katakan. Ia menangis begitu juga dengan Yesung.

 

_Ends_

 

 

 

_Yesung Po_v

 

Aku berjalan pelan masuk kedalam pameran foto Tiffany. Ruangan yang di selimuti cat putih dan hiasan natal disana. Aku terus berjalan pelan memperhatikan foto-foto yang di potret Tiffany dan membuatnya ngiris. Foto beberapa pasangan yang sedang bermesra ria. Tiba tiba langkahku terhenti melihat sebuah foto terbesar dengan latar putih yang termpampang terkena cahaya lampu.

Ku tatap foto itu lekat lekat. Ku dekatkan diriku untuk lebih memperjelasnya. Sosok yang selama ini ku kenal dan ku tunggu-tunggu terpampang disana, dengan gaun hitam nan cantik dan rambutnya yang panjang dan indah itu.

 

Dear Yesung :

Apa kabarmu? Rasanya sudah dua tahun. Apakah kau terkejut dengan surat-surat yang tiba?

Pertama-tama, saya ingin minta maaf Karen amenghilang tanpa berterimakasih untuk semua yang kau telah lakukan untukku.

Pada hari itu kau menciumku, tiba-tiba aku merasa malu,

Bukan dengan ciuman, pada kenyataan bahwa aku yang selalu berbicara dan tidak dewasa sama sekali.

Itu sebabnya, saya memutuskan untuk mengambil sedikit petualangan,

Saya sebut ‘Perjalanan Kemerdekaan’

Hanya tergantung dengan kamera yang kau beritahu aku cara menggunakannya.

Aku datang ke New York seorang diri.

Ini adalah hal yang baik aku mempunyai keberanian, Tapi… aku tidak punya tujuan.

Aku hanya berkeliling selama berhari-hari. Sampai aku di pekerjakan di agen foto ku saat ini. Sebuah lembaga fotografer MG Studio. Dan kau tahu, aku bekerja sebagai asisten fotografer indenpenden.

Dan aku mengambil foto-foto aku sendiri dalam waktu yang sama. Ternyata mereka memiliki pameran foto juga untuk saya.

Aku benar-benar ingin kau melihat pameran itu

Pameran pertamaku, dan wawasanku yang tumbuh begitu banyak selama dua tahun.

Aku yakin kau akan terkejut melihatku sekarang ini. Karena aku akan menjadi wanita yang mengagumkan. Saya yakin kamu akan menyesal.

‘Seharusnya aku pergi keluar dan memeluk punggugnya’ kau kana berkata.

Tapi sebenarnya hal itu tidak penting.

Sekarang aku hanya ingin melihat kamu.

Aku ingin bertemu denganmu, Jika mungkin aku ingin kau memujiku.

Dengan suara yang baik seperti waktu itu.

Ku lihat sesisi rungan di penuhi oleh fotoku yang entah dia mengambilnya sejak kapan. Sedang tidur, berfoto, belajar, makan, duduk, mencetak, menengok, menguap, jongkok, melempar batu, sikat gigi, dan lain-lain. Kau terlalu baik Tiffany, kau membuat hatiku ngiris,

 

Tak terasa air bening sudah membasahi pipiku. Bibirku sudah bergetar tidak bisa menahan tangis. Kau tahu… ah,… hiks…. aku hanya bisa menangis. Aku lelaki yang idiot dan babo tepat seperti ucapanmu. Aku menyesal dengan semuanya. Dan yang paling ngiris, kau memajang- memajang foto kita.

Aku mulai mencintaimu lebih dari siapapun di dunia, kau tahu.

Tertulis disana, tulisanmu …

Satu satunya ciuman dalam hidupku, satu satunya cinta yang pernah ku miliki

Hei, Yesung

Apakah ada setidaknya sedikit cinta dalam ciuman itu?

Ada. Banyak tidak sedikit. Kau… kau segalanya bagiku.

 

 

_Fin_

 

Advertisements

Heart me and you is Same : 1S : Straight

Posted on

 

Title : Heart me and You is same

 

Genre : *Life, Imagine *

 

Rating : PG

 

Type : Straight

 

Main Cast : Lee Cherry (YOU)

 

Support Cast : SHINee all member’s, SM Family

 

Ket : Fanfiction ini lanjutan dari fanfic ‘Crying if you die because You save my life’ and ‘Quasimodo’. This book three.

 

Credit Song : I love you – Taeyoen (Ost. Athena)

 

Cerita Sebelumnya :

https://wearefanfictionkpop.wordpress.com/2011/01/05/i-crying-if-you-die-because-you-save-my-life-1s-straight/

https://wearefanfictionkpop.wordpress.com/2011/01/05/quasimodo-1s-straight/

 

Cat : Maaf kalau FF ini ada kesamaan dengan FF orang lain. Imaginasiku tiba tiba bertuju pada suatu lagu. Aku tidak pelagiat. Aku real! Membikin cerita ini sendiri. Jadi kalau kau mencapku begitu, ya aku terima saja. Aku tidak bisa berbuat apa apa. O_o

 

 

*

 

“Taemin!!! Bangun… lihat sudah siangkan,” teriak Key dari arah dapur. “Hyung, aku sudah disini.” balas Taemin sambil mengetuk ngetuk meja dengan sendok dan garpunya menunggu makanan datang. “Ohohoo… tumben sekali dirimu, nih..” sodor Key pada Taemin. “Hehe..gomapta hyung.”

 

“Huuuaaammm… Taemin, kau bangun pagi sekali.” ucap Minho saat datang dari kamarnya. “Aku sekarang sekolah pagi hyung!” terang Taemin semangat. “Sekolah pagi? Bearti aku harus cepat cepat mandi!” risih Minho gelagapan. “Tenang hyung! Aku berangkat sendiri saja. Tidak usah di antar.” cengir Taemin sambil memasukan kembali makananya. “Hahaha… magnae kita sudah besar.” sindir Onew sambil mengacak ngacak rambut Taemin.

 

Tik… tik… tik… Dressss…

 

“Wah!! Dingin dingin begini hujan lagi,” keluh Jonghyun sambil meneguk tehnya. “Ah… aku jadi malas sekolah, aku bolos yah hyung.” Pletak! “Minho!!! Kalau kau bolos aku usir kamu dari dorm! Sana mandi!!” omel Key sambil mendorong dorong Minho ke kamar mandi.

 

“Taem, mau aku antar?” tanya Onew hyung yang ikut duduk di sebelah Taemin. “Ani hyung. Aku mau naik kereta umum ajah.” Senyum senang terpancar dari bibir cherry Taemin. “Jinjja? Nanti kau kehujanan.” cemas Onew. “Aku akan bawa payung hyung, sudahlah… aku kan sudah besar… kekeke,”

 

*

 

‘semoga aku bertemu denganya…’

 

*

 

“Hei… tunggu tunggu!!” tap tap tap… ckkiiittt… “hhh… hhh… gomawo ajjushi,”

 

“Ne,” ajjushi itu pun pergi kembali bertugas.

 

“hhh… duduk dimana yah?” melirik ke kanan dan kekiri.

 

“Nah. Disitu ajah…” mendekati bangku.

 

“Eh, kau mau duduk disini?” ucap dua orang bersamaan. Mereka terkaget bersama dan sedikit terkekeh.

 

“Kau duduk, aku akan berdiri saja.” jawab yang satunya. “Ani! Kau saja, aku yang akan berdiri,” balas yang satunya. “Ya! kau saja, aku masih kuat berdiri kok,” balas yang satunya tidak mau kalah,

 

“Kau sajalah..” / “Ya kau saja! Aku masih kuat berdiri,”

 

“ANI!!! KAU SAJA!” / “TIDAK USAH MEMBENTAK SEPERTI ITU!!”

 

“Aku tidak membentak, kau yang membentak.” / “Hey! Kalau kau tidak duluan pasti aku diam!”

 

“Huh! Kau yang mulai!” / “Tapi kau malah ikut ikutan!!”

 

“Jadi siapa yang bodoh?” / “Ya kamulah…”

 

“Bukanlah!! Kamu tuh yang bodoh! Udah tau aku bodoh malah di ajak bicara, berarti kau lebih bodoh dari aku!” / “Hei! Tidak begitu, kalau kau tahu aku lebih bodoh dari kamu. Kenapa kau meladeniku!! Bearti kamu lebih lebih bodoh dari aku.”

 

“Ha! Tidak bisa,” / “Ya bisalah!!!”

 

“Ha! Sudahlah! Aku mau duduk!” / “Eiittss.. tidak boleh! Katanya kau mau berdiri!”

 

“Kau saja sana! Tadi kan kau ngotot ingin berdiri!” / “Yang ngotot itu kamu!!!”

 

“Ha! Sana sana!! Aku capek!!” / “Tidak usah dorong dorong gitu dong!!!”

 

“Ya biasa we atuh!!!” / “Ya kamu tuh yang harus biasa! Aku udah biasa ajah!”

 

“Biasa ajah gimana!!” / “Gimana we baruled!!”

 

Mereka pun terus saja adu mulut di dalam kereta. Tanpa melihat sekeliling mereka, yang ternyata asyik terkekeh melihat mereka berantem.

 

“Sudah ah! Sana hus!!” / “Main ngusir ajah! Emang aku apaan? Binatang?!”

 

“Nah! Itu udah tau kalau kamu binatang!! Sana!!” / “Hei!!! Kau harus mengalah!!”

 

“Buat apa! Aku mau duduk!!!” serempet yang satunya duduk duluan. “Hei!!! Aku mau duduk juga!!” orang yang satu lagi menarik yang duduk lalu duduk di bangku itu.

 

“Hei!!” / “Apa!”

 

“Kau tidak bisa begitu!” / “Kenapa!! Ada yang salah?”

 

“Kau kan harusnya kau mengalah hei namja!…”

 

“Huh!” tarik orang itu sampai orang yang duduk itu tertarik dan terjatuh. “Angkat pantat hilang tempat blee…” merong yang satunya.

 

“Uh…” keluh yang berdiri sambil berpegangan pada tiang di dekat pintu keluar kereta.

 

Tak lama kemudian, ada seorang nenek tua yang bingung tidak dapat tempat duduk. “Heolmoni!! Kesini!! Ada tempat duduk!” teriak namja sedang berpegang pada tiang itu. “Sana!!” dorong namja tersebut pada yeoja yang tengah sayik baru saja duduk. “Hei!!” pekik yeoja itu kesal. “Heolmoni.. duduklah disini,” nenek itu pun menurut dan duduk di tempat yeoja itu baru saja duduk.

 

“Uh! Dasar,” gumam yeoja itu akhirnya ikut berdiri, “Gomapta,” ucap nenek itu pada namja yang memberikannya tempat lalu mengucapkan nya lagi kepada yeoja yang baru saja berdiri demi memberikan tempat duduknya kepada dia.

 

“Cheonmaneyo heolmoni-^^-” ucap namja dan yeoja itu bersamaan. Mereka saling pandang dan..

 

“Hei! Kau mengikutiku!!” / “Lo! Kau yang mengikutiku!!”

 

“Apa! Kau gila!!” / “Kamu lebih gila!!!”

 

“Ah!!!”

 

Pemberhentian kereta kedua sebentar lagi… teng tung ting tong…tung teng teng tong…

Pintu kereta pun terbuka, namja dan yeoja itu bersamaan keluar dari pintu. “Hei!” ucap mereka bersamaan lagi. “Huh!!” balas keduanya sambil berlalu pergi kearah yang berbeda.

 

*

 

‘ini hari terindah dalam hidupku. akhirnya aku bisa berbicara padamu,’

 

*

 

“Hyung!! Aku pulang!!” teriak Taemin masuk kerumah dengan keadaan basah kuyup.

“Taemin!!! Omo!! Kau hujan hujanan?” omel Key sambil membantu Taemin membereskan pakaian basahnya.

 

“Hyung… aku tidak hujan hujanan…” balas Taemin sambil berlari kearah mesin cuci.

 

“Mengapa bisa basah seperti ini hah?” timbrung Jonghyun yang sedang mencuci.

 

“Tadi nya sih aku mau menunggu hujan, tapi takut kemaleman… jadi aku lari ajah,”

 

Pletak! “Ya! Itu juga namanya hujan hujanan,” jitak Minho. “Kenapa kau tidak minta jemput?” tanya Onew sambil mengambil beberapa buku dari kamarnya. “Aku tidak bawa handphone…” jawab Taemin sambil berlari ke kamar mengambil baju ganti. “Ya sudahlah sana makan, nanti minum susu hangat, mandi dan tidur!”

 

*

 

‘libur adalah hari menyebalkan, aku tidak bisa melihatnya lagi…huh!’

 

*

 

“Taem! Kau liburkan?” tanya Minho yang sangat bodohnya. Sudah tahu ini tanggal merah, dan hari minggu. Mesti nanya deui nanya deui.

 

“Ne hyung? Wae?” tanya Taemin penasaran. “Sana liburan gih!” timbrung Key.

 

“Liburan gimana hyung?” tanya Taemin lagi.

 

“Ya jalan jalan sana… kita akan liburan masing masing,” Taemin mengerutkan alisnya mencerna pernytaan Key.

 

“Sudahlah, kau memang lemot. Sana ganti baju dan jalan jalan. Kembalilah sebelum tengah malam!”

 

*

 

‘huh!’

 

*

 

Tap tap tap… Bruukk!

 

“Aduh…”

 

“Uhm, mian…- ah kau lagi… kalau jalan pake mata dong!”

 

“Aduh… hei! Jalan mah pake kaki bodoh… auw…”

 

“Huh! Kenapa?”

 

“Sakit babo!!!” terlihat di pergelangan kaki yeoja itu memerah, “Wah! Memar tuh…”

 

“Arrggghhh!!!” ringis yeoja itu, “Hah! Sudahlah… sini,” namja itu pun menggendong tubuh yeoja itu perlahan.

 

“Gomawo…arrgghh… hhh…” bisik kecil yeoja itu saat namja tersebut memopongnya di belakang.

 

“Ne, tenanglah,”

 

 

“Arrggghhh!!! Pelan pelan…” pukul kecil yeoja itu di kepala namja yang sedang mengobatinya. “Ini sudah pelan pelan… sabarlah…”

 

“Auw!!” rintih yeoja itu menahan sakit. “Nah! Selesai!” / “Ehhmm… gomapta…” namja itu mengangguk pelan.

 

“Siapa namamu?” namja itu pun angkat bicara. “Lee…Lee Cherry imnida, kamu?” tanya balik Cherry pada Taemin. “Taemin…Lee,” Cherry terkekeh. “Aku baru tahu ada marga Taemin, hahaha…” “Maksudhnya Lee Taemin,” terang Taemin cepat.

 

“Oh iya? Sudah yah… aku mau pergi.. hhh….arrgghhh…”

 

“Cheery! Jangan memaksakan diri, istirahatlah dulu,” popong Taemin saat tubuh Cherry oleng. “Ani… aku tidak mau mengabiskan libur hanya berdiam diri, jarang-jarang libur aku punya uang… aku ingin jalan jalan…”rengek Cherry seperti anak kecil.

 

“Uhm, kalau begitu… aku akan menemanimu. Jangan berpikir yang aneh aneh, aku hanya takut kau tiba tiba ambruk dan menuntutku.” Cherry tersenyum manis, “Gomapta…” Taemin pun ikut tersenyum balik.

 

*

 

‘senyum yang indah!’

 

*

 

“Sebenarnya kau ingin kemana sih?” tanya Taemin. “Uhm, aku kesini sebenarnya ingin bertemu dengan temanku… tapi, aku tidak menemukanya.” Taemin mengerutkan alisnya. “Teman? Maksudmu?” / “Ya kau ini lemot sekali. Aku kemari ingin bertemu temanku, tapi aku tidak menemukannya…” / “Jadi?”

 

Cherry mengembuskan nafasnya. “Um, aku bukan asli orang Korea. Aku orang Indonesia, dan aku kesini ingin menemui temanku… dia beberapa bulan yang lalu kemari.” Terang Cherry panjang.

 

“Temanmu kemari? Uhmm… ciri cirinya?” Cherry menerawang. “Sepertinya rambutnya sekarang panjang… mungkin. aku lupa,”

 

“La! Bagaimana kau ini, terus bagaimana kau bisa menemukanya..”

 

“Bisa saja. Aku dapat mengenalinya… tapi aku lupa kana dirinya,” Taemin terkekeh. “Kau aneh!” Cherry mengembungkan pipinya, “Kau lebih aneh!”

 

Kruuyuuukkk! Mereka saling pandang sesaat, “Hahaha,” tawa mereka serempak. “Ayo makan!!” teriak mereka sambil berlari kearah kedai makan. “Kau mau makan apa?” tanya Taemin pada Cherry yang sibuk mengelus pergelangan kakinya. “Uhm.. apa saja… sama seperti dirimu deh…” Taemin pun beranjak pergi menuju tempat pemesanan.

 

“Nih! Minumlah,” sodor Taemin kepada Cherry, coklat panas. “Ne, gomawo,” balas Cherry sambil menyeruput minuman  tersebut, “Ya!” byuuurrr!! Sembur Cherry karena mulutnya kepanasan. Taemin mengibaskan air yang berada di wajahnya, “Hati hati dong…” omel Taemin. “Ehm… mian..mian…” ripuh Cherry sambil membersihkan air yang ia sembur di wajah Taemin dengan tangannya yang lembut. Mengenai pipi Taemin yang sama lembutnya,

 

*

 

‘kulitmu… sungguh halus,’

 

*

 

“Ya (pletak!) sejak kapan kau pulang?” tanya Key kesal karena Taemin pulang tidak bilang bilang. “Aduh hyung… kemarin aku pulang tepat jam 12 malam, dan kalian semua sudah tidur, masa harus aku bangunin sih…” jawab Taemin sambil mengelus ngelus belakang kepalanya.

 

“Uhm…” Key manggut manggut sambil pergi meninggalkan Taemin. “Hei! Kemana saja kau kemarin?” rangkul Minho. “Gak kemana mana kok hyung, cuman bermain sedikit…” balas Taemin pelan. “Siang nanti, kita akan syuting di SBS, jadi bersiaplah!” teriak Onew sambil membaca script yang ia pegang. Jonghyun manggut manggut lalu berjalan ke dapur, Key menyiapkan makanan dan diikuti oleh Onew, Minho dan Taemin makan bersama di meja makan.

 

 

“Tema baju hari ini apa hei?” tanya Jonghyun yang lagi di make up oleh penata rias.

 

“Biasa ajah! Netral!!!” balas Key sedang merapihkan rambutnya. Minho menunggu giliran sambil bermain game di PSP nya. Onew masih terus terusan membaca script, dan Taemin… ya dia pergi ke kamar mandi.

 

“Aishhh… kebelet….” gumamnya risih sambil menahan berlari kecil menuju kamar mandi. “Ya! Ahhhh…leganya,” ucapnya lalu keluar dari kamar mandi. Tap tap tap… sekilas saat Taemin menunduk sesosok yeoja lewat di depannya. Dia mendongkakan kepalanya cepat. “Chikmi?” lirihnya pelan. “Aiisshhh… mianhe Chikmi, kau selalu di pikiranku!” keluhnya sambil berlalu ke dalam ruang groupnya lagi.

 

“Hyung…” lirih Taemin lemas duduk di tengah Minho dan Onew. “Wae?” tanya Onew sambil menutup scriptnya. “Apakah Chikmi merindukan kita?” tanya Taemin sambil mengela nafas pelan. Onew memiringkan kepalanya menatap Taemin, seketika juga aktifitas para member terhenti dan menatap cemas pada magnaenya. “Mengapa tiba tiba kau bertanya seperti itu?” Onew balik bertanya. Taemin mengangkat kedua bahunya pelan dan sedikit menggeleng.

 

“Entahlah hyung… tiba tiba saja, aku ke ingetan sama dia. Uhm,”

 

“Tenanglah (sambil mengusap kepala Taemin) dia pasti baik baik saja, dan dia juga pasti tidak mau melihatmu seperti ini! Semangat lah!!” tegas Minho. “Ya! Dia selalu memperhatikan kita, jadi jangan begini..” lanjut Jonghyun. Taemin tersenyum tipis,

 

*

 

‘aku ingin bertemu kembali denganya… Chikmi…’

 

*

 

“Sedang apa kau disini?” tanya Taemin melihat Cherry di depan dormnya. “Ani… ini rumahmu?” tanya Cherry seolah olah ia tidak tahu apa apa. Taemin mengangguk pelan, “TAEMIN!!! SIAPA ITU!!! SURUHLAH MASUK!!! DI LUARKAN DINGIN!!!” teriak salah satu hyung pada Taemin.

 

“Kau dengarkan Cher, ayo masuk!” Cherry menurut dan mengikuti Taemin dari belakang.

 

“Wah! Siapa itu Taem? Jagiya mu?” goda Jonghyun yang melihat Cherry masuk. “Hyung…” rengek Taemin yang berhasil di goda Jonghyun. “Silahkan duduk,” Jonghyun terkekeh dan mempersilahkan Cherry duduk.

 

Dalama sekejap para member pun langsung datang dan ikut duduk di sofa. “Ada apa kau kesini Cher?” tanya Taemin penasaran. “Aku? Aku dapat alamat rumah temanku disini,” terang Cherry, semua member langsung melirik sinis kearah Taemin. Taemin menggeleng cepat.

 

“Siapa nama temanmu?” timbrung Onew. “Chikmi.” jawab Cherry mantap. Hanya dengan satu kata yang terdidi dari dua suku kata membuat para member seperti di hujani seribu bahkan sejuta panah yang nancleb ke dada mereka.

 

“Chikmi?” tanya Taemin memastikan. Cherry hanya manggut manggut semangat. “Kalian kenal dengan dia?” lanjut Cherry. Semua member saling pandang. “Bisa kita bicara sebentar,” tarik Taemin kepada Cherry dan meninggalkan member yang lain bergetar.

 

 

*

 

‘perasaanku tidak enak…’

 

 

*

 

“Kau bohong Taemin! Ka bohong!! Dia itu sehat! Dia tidak menderita penyakit apapun!!! Kau bohong!!!” rengek Cherry setelah mendengar cerita Taemin. “Cherry tenanglah…” lirih Taemin melihat Cherry terus terusan memukul ke dadanya yang bidang. “Cherry…” Cherry tetap begitu. “Cherry!” bentak Taemin sambil memegangi pergelangan tangan Cherry.

 

Tampak di wajah Cherry air bening sudah membasahi daerha bawah matanya. “Taemin…hiks…hiks…. Katakan… katakan… hiks….kau…boohoo….ng…kan..” ucap Cherry sambil bergetar. Taemin tidak bisa menjawab, ia langsung mendekap Cherry dan memberiarkan yeoja ini terisak di pelukanya.

 

*

 

‘maafkan aku…’

 

*

 

Sudah pas setahun sejak Chikmi, yeoja manis berumur 14 tahun meninggalkan para member SHINee, dan seperti muzizat! Tergantikan oleh satu yeoja yang baru saja mengisi salah satu ruang di hati satu member. Yakni Taemin, ia sudah merasa nyaman sekarang dengan kehadiran yeoja berdarah Indonesia ini ke dalam dirinya.

 

Ke empat hyungnya turut senang karena Taemin sudah tidak merengek kembali tentang Chikmi. Ia sudah kembali ceria, bahkan lebih ceria dari biasanya.

 

*

 

‘akan aku ucapkan sekarang!’

 

*

 

“Taemin!!!” teriak Key dari arah dapur. “Apa sih hyung!! Aku sudah disini!!!” balas Taemin yang sudah berdiri lama di sebelah Key. “Ohhehe… sebentar lagi kan ada pesta yang di lakukan SMent. Undanglah Cherry! Dia pasti senang,” kata Key dengan mengangkat turunkan alisnya. “Ne hyung! Aku tahu kok..” senyum mengembang di bibir pink Taemin dan beranjak meninggalkan Hyungnya itu.

 

*

 

“Yeobaseyo?”

 

“Yeobaseyo… ada apa Taemin?”

 

“Maukah kau ikut bersamaku ke pesta yang di buat SMent?”

 

“Uhm… aku sih mau, tapi… hari ini aku harus pulang…”

 

“Pulang? Kemana?”

 

“Ya pulang kenegaraku lah… kemarin kan aku sudah ngelayat Chikmi, jadi sekarang aku harus pulang.”

 

“MWO! Jadi….kau tidak bisa ikut…” suara Taemin melemas.

 

“Jeongmal mianhe ya Taemin,”

 

“Uhm… ne, aku harap kau bisa disini…” lirih Taemin.

 

“Mainhe…”

 

Klik, satu tombol memutuskan obrolan tersebut. Dengan guntai Taemin berjalan kesofa dan menghempaskan tubuhnya yang sudah mau ambruk itu.

 

“Bagaimana?” tanya Key sambil berjalan kearahnya. Taemin menggeleng pelan. Mencoba untuk tersenyum,

 

*

 

‘uh..’

 

*

 

Didalam mobil Taemin hanya terdiam menatap keluar dengan mata kosong. Ia tidak menatap apapun, pikiranya sungguh kosong. Dengan tidak sengaja ia mengingat kembali sesuatu…

 

Flashback

‘Ya Cherry… lihat wajahku jadi lengket begini,’ umpat Taemin kesal. Wajahnya sudah kering dari coklat panas tapi lengket dan cepel.

‘Aduh, mianhe… tapi ga papa kan nanti wajahmu jadi manis,’ kekeh Cherry sambil berjalan terus. ‘Ya! Manis si manis, tapi nanti di gerumunin semut dodol!’ jitak Taemin pelan di kepalan Cherry.

‘Aishhh… kau ini ngaja berantem hah!’ tantang Cherry yang sudah siap dengan bola salju di tangannya. ‘Aku juga punya… bleee…’ merong Taemin sambil melempar kearah Cherry tapi meleset. ‘Eittts… lihat ini!’ Plak! Bola salju Cherry mulus mendarat di wajah Taemin.

‘Uhh!!’ keluh Taemin membuat bola salju lagi. ‘Ya! Hahaha…’ hinder Cherry saat Taemin melempar. ‘Sini kau!! Jangan lari!!’

Flash back ends

“Kau tidak apa apa Taemin?” tanya Minho yang cemas melihat dongsaengnya hanya diam terpaku melihat keluar. “Ha.. ehm.. aku? Aku baik baik saja hyung…” jawab Taemin gelagapan. Minho melipat bibirnya, “Jangan terlalu di pikirkan,” dengan gerakan Minho, Taemin menjadi mengingat kembali sesuatu…

 

 

Flashback

‘Bapao panas!! Bapao!! Bapao!!!’

‘Ya! Taemin… beli itu yuk!’teriak Cherry sambil menarik tangan Taemin kearah pedagang Bapao. ‘Pak beli dua, kau rasa apa?’ tanya Cherry semangat.

‘coklat ajah, balas Taemin sambil mengelap beberapa salju yang berada di wajahnya. ‘Pak beli tiga, coklat 2 ayam 1.’ Taemin mengerutkan keningnya.

‘buat siapa tiga?’ tanya Taemin. ‘ya buat kita berdua! Aku dua kamu tiga hahaha…’ tawa Cherry yang bangga akan kerakusannya. ‘Kau ini, yeoja yang bernafsu makan bersar! Seperti…’ Taemin dengan cepat menundukan kepalanya. Rasanya badannya tiba tiba lemas.

Cherry yang mengerti itu hanya, ‘Jangan terlalu di pikirkan…’ sambil melipat bibirnya dan mengelus rambut Taemin pelan. ‘Kan ada aku,’ lanjutnya.

‘Hiyaa!!! Kan ke-PDan sekali!!! Huuuu!!!!’ ledek Taemin kembali semangat. ‘Hahahaha!! Biarin… bleee…’

Flashback ends

*

 

‘rindu!’

 

*

 

“Taemin, kenapa kau tidak berdansa… lihat noona noona mu ingin sekali berdansa padamu!” ucap Krystal yang memperhatikan onnie onnie nya gemas melihat Taemin. “Uhm, aku sedang malas bergerak.” balas Taemin lemas. “Ya! Kau ini aneh!” terang Krystal. “Lihatlah mereka!! Cepat masuk ke pesta!” lanjutnya sambil menari Taemin.

 

Dengan lemas Taemin mengikuti tarikan Krystal, sedangkan Krystal langsung berlalu kembali kepasangan dansanya. “Ya Taemin! Kau lucu sekali!!!” gemas Yoona sambil mencubit kedua pipi Taemin. Taemin tersenyum kecil,

 

“Omo! Sang magnae tampan sekali, hahaha…” lanjut Hyoyeon sambil menepuk nepuk punggung Taemin. “Mau berdansa?” ajak Sooyoung. Tapi Taemin menggeleng pelan, “Hahahah!!! Kau di tolak!!!” tawa member SNSD yang lain meledek Sooyoung. Sooyoung hanya mengembungkan pipinya.

 

“Lihat! Magnae siapa ini?” member Superjunior pun mendekati kerumunan SNSD. “Ya! Ini member kami… hahaha,” tawa SNSD kembali menyeringai. “Tapi sepertinya, ini member kami. Kalian salah orang.” timbrung Leeteuk sambil menarik Taemin.

 

“Kau mengambil member kami! Huuuu…” omel Taeyeon. “Ya! Kalian ini sebentar lagi pasti berantem, dan ujung ujungnya yah… udah ajah sana!!” usir Heechul mendorong Leeteuk dan Taeyeon ke dalam rombongan orang berdansa. “Ya! Istriku!!!!” teriak Sooyoung berlari mengikuti Taeyeon.

 

“Hei! Kemana sopan santunmu nona? Pasanganmu ada disini!” halan Kyuhyun pada Sooyoung. Akhirnya para member Super Junior hanya berglamor ria  (?) bersama SNSD.

 

Taemin pun kembali memisahkan diri. “Hei! Kenapa kau tidak berdansa?” tanya Changmin yang tiba tiba saja sudah berada di sebelah Taemin sambil meneguk anggurnya. “Lagi males hyung.” balas Taemin. “Ohahaha, aku juga begitu. Beda dengan dia (nunjuk nunjuk Yunho), dia asyiknya berdansa dengan Sulli, hahaha..” tawa Changmin membuat Taemin sedikit terkekeh.

 

Ngiiiiiiingggg!! DUK! Suara mic membuat sakit telinga dan terjatuh. Semua orang yang di dalam gedung itu terdiam dan menatap kearah pintu, pintu yang terbuka. Melihat sesosok gaun putih mengembang, lalu rambut hitam sedikit bergelombang yang tergurai indah dengan poni miring masuk perlahan dengan kedua tanganya berada di belakang.

 

Taemin yang mengenali sosok tersebut menghampirinya dan begitu juga sosok tersebut mengampiri Taemin. Merekapun menjadi sorotan utama,

 

“Kau datang?” wajah lemas Taemin berubah menjadi sumringah. Yeoja yang tak lain Cherry itu mengangguk dan tersenyum. “Bagaimana dengan kepulanganmu?” Cherry menggeleng. “Aku salah baca passport! Ternyata aku pulang dua bulan lagi…” balas Cherry sambil tersenyum manis. “Uhmm…aku mau menunjukan sesuatu padamu,” Taemin mengeluarkan kertas dari dalam jasnya. “Saranghae,” ucap Taemin pelan. Begitu juga Cherry yang mengeluarkan kertas dari belakang tanganya. “Nado,” balasnya senang.

 

Tanpa mereka ketahui dari dulu mereka sudah sehati.

 

Flashback

Taemin terus menangisi kepergian Chikmi, yeoja yang telah merubah beberapa hari yang ia lalui ini. Tiba tiba…

Tap tap tap, suara langkah kaki di tengah hujan membuat pandanganya menatap sumber suara tersebut, Mereka pun saling tatap dan hanya menyunggingkan senyum lalu sosok itu kembali berlari karena hujan semakin deras. Dan Taemin tersenyum sendiri dengan wajah yang sudah mulai memanas.

Flashback ends

*

 

‘saranghae…’

 

‘nado…’

 

 

FIN

 

 

 

 

Ket :

Kalian tahu aku menulis seperti ini, (contoh)

*

 

‘rindu!’

 

*

Ini adalah ungkapan hati dari Cherry dan Taemin secara bersamaan.

N/b :

Gomapta yang udah baca dan ngelike!^^ aku tunggu komentar kalian^^

 

 

 

I’m Not A Loner : 1S : Straight

Posted on

Title : I’m Not A Loner (kayaknya ni judul gak nyambung sama ceritanya -_-)

Main Cast : Lee Han Jae (Sastya Onnie or YOU)

Support Cast : Lee Hyuk Jae as Eunhyuk (Super Junior)

Other Cast :

Genre : Imagine

Rating : G – PG

Type : Straight

Leght : One Shot

Author : Han Sang Ra

Credit Song : I’m a Loner – CN BLUE

=============>Lee Hyuk Jae Pov<=============

“Lihat lihat, betapa jeleknya dia.”

“Dasar yatim piatu, cuh!”

“Heh jelek menyingkirlah, kau menghalangiku.”

“Bau!!”

“Orang gila!! Orang gila!!”

“Cengeng!! Cengeng!!”

“Diamlah!!! Kalian berisik sekali!” ku dongkakan wajahku melihat dia. Orang yang pertama kali merubah semua dalam hidupku. Orang yang membuatku semangat kembali menjalani hidup. Orang yang memberitahukan ku bahwa aku tidak pernah sendiri.

“Siapa namamu?”

“Lee Hyuk Jae,”

“Wah! Kau mempunyai nama yang indah untuk seorang laki-laki,”

“Lee Han Jae imnida,” nama itu. Nama yang tidak akan pernah aku lupakan. Nama yang akan selalu ku ingat sepanjang masa. Nama cantik yang akan terus berdengung di telingaku. Nama indah yang merubah nasibku.

Kalian pasti pikir aku gila. Tak waras dan sebagainya. Atau mungkin kalian berpikir, buat apa mengingat-ngingat nama orang. Yah tapi itulah aku. Aku berbeda dengan kalian. Walau sepuluh dari sebelas orang menyatakanaku gila dan satu lagi mengatakan aku idiot aku tidak peduli.

“Berjanjilah padaku kau tidak akan menangis lagi,”

“Aku berjanji,”

Ku berjanji padanya. Ini adalah janji pertama yang aku buat selama dalam hidupku. Semenjak kedua orang tuaku meninggal.

“Hyuk Jae, aku akan pergi dulu.”

“Kau akan pergi kemana? Kau sudah tidak senang bermain denganku lagi?”

“Bukan begitu… orang tuaku akan pindah kerja ke Indonesia, jadi aku harus ikut.”

“Uhm,”

“Tenanglah. Aku akan kembali, ini hanya sebentar.”

“Sungguh?”

“Ne,”

Dia menggenggam tanganku dan menaruh sesuatu disana. Lalu berjalan pergi dan melambai kearahku. Aku balik melambai dan menunjukan senyum perpisahan. Saat dia sudah menghilang. Ku buka kepalan tanganku mendapati gantungan handphone disana. Ku mendekap gantungan itu di dada dan membawanya pulang.

——————————————————————————————————-

“Hyuk!”

Ku balikan badanku melihat sosok yang memanggilku tadi.

“Ada apa?” tanyaku.

“Lihatlah dirimu, mengapa dari tadi melamun terus.”

“Uhm, itu. Aku hanya memikirkan sesuatu,”

“Wah! Memikirkan apa? Yeoja?”

“Ya, mungkin. Sudahlah jangan dibahas. Ayo latihan,”

“Ne,”

Seperti biasa. Dihari-hari ku sekarang aku focus kepada group boy band ku. Kalian tahu kan Super Junior? Kalau kalian tahu aku berterimakasih sekali. Apa lagi jika kalian E.L.F aku berbangga hati. Uhm, tapi aku tidak memaksa kalian untuk mengetahuinya.

“Hyuk! Cepat!”

“Ne, hyung.”

Ku berlari kecil menghampirku hyung-hyungku. Dan beberapa dongsaengku tentunya.

Kami masuk ke mobil yang sudah di sediakan oleh ajjushi. Dia adalah manager kami.

“Hyung, bisakah kita berhenti sebentar? Aku ingin membeli minuman kaleng dulu,”

“Silahkan,”

“Belikan untuk kami juga!”

“Ne,”

Ku beranjak dari mobil dan mendekati mesin minuman kaleng yang rada jauh dari tempat mobil berhenti. Tepat disekitarku sedang kosong. Aku bisa leluasa di tempat ini.

Cklek! Ku masukan coin putih kedalam mesin itu. Ku pencet beberapa tombol untuk memilih minuman apa yang ku mau, bagai menu yang terpampang. Tinggal pilih dan tekan.

“Ah~ sudah habis yah,”

Saat ku ambil minuman kaleng yang keluar dari mesin, ku dengar seseorang mengeluh di sebelahku.

“Kau mau ini?” tanyaku mengerti maksud keluhanya.

“Uhm, kau tidak keberatan?”

“Tidak. Ini buatmu,”

“Kalau begitu, gasahamnida. Ini,”

“Tidak usah.”

“Jinjja? Kau namja yang baik sekali, gomawo.”

“Cheonmaneyo.”

Aku pun memasukan coin kembali dan menunggu minuman keluar.

“Dari mana saja kau?”

“Mianhe hyung. Tadi aku bertemu seseorang.”

“Dia fans mu?”

“Tidak.”

“Terus,”

“Dia hanya meminta minumanku,”

“Bearti dia fansmu,”

“Bukan.”

“Dia fans mu…,”

“Bukan.”

“Ya sudahlah terserah. Ayo cepat masuk!”

Di mobil aku hanya menatap para hyung dan dongsaengku bercanda ria. Aku hanya diam, entah mengapa mood ku berubah sekali hari ini. Mau bercanda rasanya bibirku sudah mengatakan akan garing nantinya. Lebih baik aku diam saja.

Melihat mereka yang begitu asyik membuaku tidak enak hati bila aku hanya diam saja. Ku memutuskan untuk pindah duduk ke paling belakang. Sendiri.

“Hyuk~ssi, ada apa denganmu? Kau aneh,”

“Gwencanayo Hae, aku hanya sedang tidak mood.”

“Tumben kau bad mood!” timbrung Yesung. “Belum minum obat kali,” lanjut Kyuhyun. “Ah~ mungkin,” jawabku tenang.

Mereka langsung menghela nafas bersamaan dan menatapku cemas.Memangnya aku salah yah?

——————————————————————————————————-

“Hyung! Aku mau keluar sebentar!!” teriaku dari pintu depan.

“Mau kemana kau? Ini sudah malam!!!” balas Hankyung dari dapur.

“Tenang saja. Aku hanya sebentar,” jawabku agar mereka tidak cemas.

“Ya sudah. Hati-hati,”

“Ne!”

Berjalan sendirian di tengah salju yang turun pelan membuatku teringat masa lalu. Masa di mana selalu melewatkan apapun sendirian. Masa dimana aku selalu di belenggu kesedihan. Masa dimana aku selalu menangis. Dan masa dimana aku bertemu denganya.

“Oppa!” panggil seseorang dari kejauhan. Ia melambaikan tangan padaku.

Entah rasanya kakiku beku. Jiwa dan ragaku tidak memperbolehkan aku meninggalkan tempat ini. Bukan maksudku meninggalkan yeoja yang mulai mendekat kearahku itu. Hanya saja takut dia fans atau apapun itu. Dan itu akan membuatku risih.

“Oppa! Ini!” dia mengulurkan tangannya yang berbalut sapu tangan dan memberikan minuman kaleng padaku.

“Ini balasan yang tadi siang!”

“Tapi kan,”

“Sudahlah oppa! Aku benci kalau aku tidak membalas budi. Oppa mau aku gila karena tidak bisa balas budi oppa?”

“Tidak, hanya saja…”

“Sudahlah. Anggap saja ini hadiah!” ucapnya meneguhkan hatiku. Aku hanya mengangguk dan membuka minuman itu lalu meminumnya. Rasanya ke hadiranya tepat dimana diriku sedang haus.

“Kau tidak pulang?” tanyaku sambil melempar minuman kaleng itu ke tong sampah.

“Aku? Uhm, aku sedang malas di rumah. Oppa sendiri?”

“Sama dengamu.”

“Kita sehati, hahaha,” ucapnya sambil terkekeh.

“Kau tidak mengenaliku?” tanyaku tiba-tiba.

“Tidak? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Mungkin tidak.” jawabku lemas. Ternyata di Korea masih saja ada yang tidak mengenalku.

“Kita pernah bertemu oppa!!!” teriaknya tiba-tiba membuaku terhenyak. Pikiranku langsung menjerumus pada yeoja kecil yang menjadi penguat hidupku waktu dulu.

“Kita bertemu tadi siang, hahaha” lanjutnya sambil terkekeh lagi.

“Hahaha, oh iya yah.” Balasku meng‘iyah’ kanya. Ini pertama di hari ini aku tertawa. Walau sebentar, tapi lebih baik dari pada dari tadi. Aku pegal dengan bibir yang bad mood ini.

“Hufh hufh,” dia meniup tanganya dan menggeseknya agar terasa hangat.

“Kau kedinginan?” tanyaku.

“Ehehe… sepertinya oppa,” jawabnya sambil menunjukan barisan gigi yang rapih.

“Kita ke rumah makan yuk! Aku tau rumah makan yang enak dan hangat,”

“Tapi, … apakah tidak merepotkan?”

“Tentu tidak! Ayo!” Ku tarik tanganya yang masih menggesek-gesek.

——————————————————————————————————-

“Enak?” tanyaku. Melihat dia yang barus saja mulai menyuap ke dalam mulutnya. “mpphh…” balasnya sambil tersenyum kearahku.

“Eit!” tanganku refleks langung mengelap makanan yang jatuh dari mulutnya ke dagu dengan jempolku. “Gomawo,” balasnya sambil melanjutkan makan.

“Hehehe, ne,” jawabku sambil terkekeh geli.

“mmpphh… oppa tinggalnya dimana?”

“Di rumah,”

“ohahha… maksudnya di daerah mana?”

“Rahasia, hehehe… cingudeulku melarang mereka mengasih tau tempat dan rumahku,” jawabku jujur. Dia sedikit menerawang,

“Aku jadi ingat namja kecil yang tidak punya teman,”

Mendengar itu hatiku langsung mengarah kepada Lee Han Jae. Dia! Jangan-jangan yeoja di depan ini adalah yeoja yang selama ini aku tunggu!

“uhuukk uhukkk,” aku tersedak mendengar ucapanya.

“Aduh oppa kenapa? Minum minum,” ucapnya sambil menyodorkan aku segelas air. Tapi aku masih terbatuk batuk kecil,

“ohh… mpphh…” aku menelan ludah lalu meneguk air gelas itu perlahan tapi pasti.

“Ah~” aku menghela nafas lega. Dia tertawa melihatku,

“Kenapa oppa?”

“Aann… aniyo…” jawabku gugup.

——————————————————————————————————-

“Aduh dari mana saja kau?”

“Aku kira kau di culik,”

“Kau di buntui stalker hyung?”

“Kenapa kau pulang selarut ini?”

“Cepat makan!”

“Tidak terjadi apa-apa dengamu?”

Yah baru sesaat aku sampai di rumah sudah di hujani oleh pertanyaan dan omelan.

“Aku sudah makan, aku baik-baik saja, aku tidak di buntuti. Tadi aku makan di luar makanya pulang larut,” jawabku menjawab pertanyaan mereka satu persatu.

Aku berjalan guntai ke kamar. Di sana aku lihat teman sekamarku belum datang, ya sudah aku tidur duluan.

“Hyuk!! Hyuk~ah!! Bangun!!!” rasanya tubuhku goyah. “Ah, ada apa Teuki hyung?” balasku yang masih setengah tidur.

“Ada yeoja yang menunggumu di luar,”

“Ha? Yeoja apa?” keluhku sambil terlelap tidur kembali.

“Hei hei!! Bangun!! Yeoja yeoja…” Teuki hyung terus menggoyang badanku.

“Ne ne!! aku bangun,” akhirnya aku merelakan hari baik ingin tidur nyenyakku.

‘siapa sih yang datang pagi-pagi begini?’ gumamku sambil menguap menuju ruang tengah.

“Oppa!” terlihat yeoja yang baru saja aku temui kemarin sudah duduk manis di kursi dorm ku yang empuk.

“Eh, emh… ada apa?” tanya ku salah tingkah. Apa lagi sekarang aku hanya memakai piayam. Gak banget deh!

“Ini, minuman kaleng! Aku mau bales yang kemarin,”

“Yang kemarin? Bukannya sudah?”

“Sudahkah?” dia mengerutkan keningnya. “Belum oppa, dari kemarin aku dan kamu belum pernah bertemu,”

“Ha? Kemarin kita makan bersama,” terangku mengingatkanya.

“Makan bersama? Aku kemarin di rumah menonton TV,” jawabnya polos. ‘ini aku yang linglung, mimpi atau apa sih?’

“Ehm,”

Cklek! “Aduh Han Jae!! Pulanglah… jeongmal mianhe cingu, mianhe, ayo pulang.” Seorang yeoja masuk dan menggeret yeoja itu pulang.

“Onnie, aku belum mau pulang…” rengek yeoja tersebut.

“Han Jae! Kau jangan membantah,”

Aku terpaku melihat pemandangan yang mengherankan ini. Setelah dua yeoja itu berlalu, aku menyusulnya meminta penjelasan.

“Jeongma mianhe cingu, *bow*” ucap yeoja yang di panggil onnie tadi.

“Gwencanayo, aku..”

“Ne, aku tau maksudmu, begini…. Jadi…

(ucapan ini menjadi back sound)

Yeodongsaengku ini mempunyai penyakit melebihi amnesia semenja kecelakaan berbulan bulan yang lalu.

Ia sedikit mengalami gagar otak yang menyebabkan menggangu ingatanya.

Jika ingatan itu begitu kuat baginya, ia akan sedikit-sedikit mengingatnya. Jika tidak,

Ya seperti tadi, dia akan lupa dengan kejadian-kejadian yang lalu.

Lebih singkatnya, bila kemarin ia bersamamu besoknya ia lupa. Dan tidak akan mengenalimu lagi.

Srreettt! Aku memakirkan mobilku tepat di mana ia sedang berdiri menantiku di trotoar,

“Oppa! Ini aku bawa minuman kaleng untukmu!”

Ini sudah kesekian kalinya dia memberikanku minuman kaleng untuk membalas budi.

“Ah ehm, gomawo.” ucapku sambil meminumnya. Ini kesekian kali aku meminumnya dengan melakukan hal yang sama. Aku berpikir mungkin bila aku melakukan hal yang sama berulang ulang dia akan mengingatnya.

“Oppa, lihat salju!” teriaknya mendapati salju turun untuk kesekian kalinya. “Ehm, ne.” sebenarnya ini bukan salju asli. Tebak mengapa?

Aku berdiskusi dengan hyung dan dongsaengku. Aku menceritakan tentang penyakit yeoja yang bernama HanJae tersebut. Aku ingin menyembuhkan penyakitkan, mungkin ia adalah HanJae yang selama ini aku cari.

Aku menyusun rencana dan melakukan hal yang sama berulang ulang. Dan salju ini, kalau langit tidak berkehendak turun salju kami yang akan menurunkanya. Kami mengumpulkan salju dan menaburnya dari atap. Dan kalian pasti berpikir, siapa yang menabur salju ini. Ya tentu saja para member.

“Oppa, aku rasa ada yang aneh.”

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Uhm, aku sepertinya pernah mengatakan dan melakukan hal berulang ulang. Ini perasaan ku saja kali yah,”

‘tidak! Kau benar!!’ semangatku langsung kembali membara.

“Tidak! Sepertinya kau benar!” ucapku jujur. Dia terdiam sejenak,

“Jadi? Uhm, aku mengingat sesuatu..” gumamnya sambil memegang kepalanya. Entah apa yang dia rasakan,

“Hyuk… Hyuk Jae!” ucapnya lantang.

“Kau… Aku mengingat nama itu?” tanyaku senang sambil mengguncang badanya pelan.

“Entahlah oppa, siapa dia? Aku tidak mengenalnya.” ‘Degh!’ semangatku menyurut kembali. Seperti terhempas ke ombak kembali setelah susah payah berenang ke daratan.

“Jangan paksa dirimu mengingatnya, mungkin akan menggangu ingatanmu.”

“Ah aku juga malas mengingatnya oppa. Siapa dia? Siapa Hyuk Jae?” ucapnya dengan polos.

Memang menyakitkan sih. Aku yang selama ini menunggu ia mengingatku malan dia mencemooh namaku. -.-‘’

——————————————————————————————————-

=============>Lee Han Jae Pov<=============

“Oppa oppa!!” panggilku melihat oppa cingudeul Hyuk oppa yang mau saja beranjak pergi sehabis menabur salju.

“Aku minta bantuan mu!”

——————————————————————————————————-

=============>Lee Hyuk Jae Pov<=============

Untuk kesekian kalinya, mungkin kalian bosen mendengarnya tapi mau bagaimana lagi.

“Oppa! Aku bawa minuman kaleng untukmu,”

“Hmmpp.. Ne, Gomawo,”

Layaknya sebuah drama yang sudah di beri script dan aku tau apa yang akan dia bicarakan dan apa yang akan dia perbuat. Aku bagaikan sutradara sehari.

“Wah! Salju!!” teriaknya kembali. Aku hanya menghela nafas dan menatapnya kawatir.

“Oppa!!”

“Oppa!!!”

“Hyuk!”

Aku tersentak mendengar panggilan terakhirnya.

“Hyuk?” tanyaku pelan.

“Ne, Hyuk Jae!!” teriaknya keras.

“Saengil Cukkae Eunhyuk!!!”

“Saengil Cukkae Hyung!!!”

“Sangil Cukkae oppa!!”

“Omo! Omo! Apa yang… tapi, kok, gimana?” aku terkaget, tercengang, heran, haru, senang, ah pokoknya bebelit.

“Mianhe oppa aku berbohong,”

“Berbohong apa?” tanyaku tambah bingung dengan pernyataan Han Jae.

“Aku sudah sehat semenjak dua bulan yang lalu, karena gantungan HP yang oppa kenakan. Aku mengingat semuanya… Ya aku tau aku terlalu cepat. Tapi mau gimana lagi, ingatan ku sudah pulih!” terangnya sambil tertawa ria.

“Jadi selama ini,”

“Sana!” salah satu cinguku mendorongku dan, Chu! Bruukk!!

——————————————————————————————————-

=============>Author Pov<=============

Eunhyuk kaget dan tercengang mendapatkan kejutan di hari ulang tahunya. Sangking sibuknya ia ingin menyembuhkan yeoja yang ia cintai, ia seperti melupakan daratan. Ia melupakan hari harinya, bahkan hari ulang tahunya.

“Oppa!!! Saranghae,” bisik Hanjae tipis.

Donghae yang mendengar bisikan Hanjae mendorong Eunhyuk hingga –chu– bibir mereka bersentuhan, lalu BRUUKK!!

Yesung dan kawan kawan menyiram Eunhyuk dan Hanjae saat keadaan mereka berciuman dengan segunduk salju lembut. Ckreek!!

Dengan cepat KangTeuk mengabadikanya.

“Saranghae~” bisik kecil Eunhyuk.

FIN

*Mian kalau ceritanya terlalu cepat, dan tidak masuk otak*

*Author bikinya buru buru, mianhe!!*

*Tapi author tunggu saran dan kritiknya J*

Minim Stories : 1S : YURI

Posted on

Title : Minim Stories

Genre : Life

Type : YURI

Rating : PG

Main Cast :

~Kim Taeyeon (Girls Generation)
~Choi Sooyoung (Girls Generation)

Support Cast :

~Kyuhyun (Super Junior)
~Girls Generation

Author : Han Sang Ra

——————————————————————————————————-

“TAENG!! APA MAKSUDMU DENGAN INI !!!”

“ADA APA SIH SOOYOUNG!!!”

“KAU BISA LIHAT INI!! APA MAKSUDNYA!!”

Yeoja yang kerap di panggil Sooyoung itu sedikit mendorong yeoja yang lebih kecil darinya agar melihat ke laya note book.

“Ini gak kenapa napa?” ucap yeoja kecil itu watados.

“AIH!!! KAU TIDAK PERNAH MENGHARGAIKU!!!”

Sooyoung kesal dan beranjak pergi sambil menyeret jaketnya keluar.

“Aduh duh duh…,” kaget seorang yeoja yang mau masuk ke kamar tertabrak Sooyoung.

“Onnie, Sooyoung kenapa?” tanya yeoja itu pada Taeyeon. Taeyeong tak menjawab, ia menggigit bibirnya dan segera berlari menyusul Sooyoung.

Yeoja itu tertabrak lagi oleh Taeyeong.

“Aduh! Aku jadi bulan bulana mereka, memangnya ada apa sih?”
Dia mendekat ke note book dan membaca isinya, “Oh, gara-gara ini… dasar Sooyoung, Sooyoung.”

+++Sooyoung Pov+++

“Ah!” dercakku kesal sambil melempar beberapa kerikil ke laut. “TAYEON!!! KAU JAHAT!!!!” teriakku kepada laut yang sunyi senyap. Ngok ngok, suara burung terbang menandakan hari menjelang malam. Srrr Srrr… pesisir pantai terud berderup pelan.

“Sooyoung?” ku balikan badanku yang sedang manyun lima centi itu ke sumber suara.

“Apa?!” tanyaku ketus.

“Kau ketus sekali,” ucapnya sambil duduk di sebelahku. Aku tidak menghiraukanya dan terus melempar batu kerikil ke laut.

“Ada apa denganmu? Sedang bertengkar lagi?” tanya sosok di sebelahku.

“Ah! Kau mengganguku saja!!” dercakku sambil beranjak pergi meninggalkanya. Tapi dia menarikku untuk duduk kembali.

“Ceritakanlah, aku akan menjadi pendengar yang baik.”

“AH!! AKU TIDAK MAU MENCERITAKANYA!!!” bentakku kesal sambil melepas tanganya yang sedang menggenggam tanganku.

“Uhm, baiklah kalau begitu. Aku akan mengikutimu sampai kau bercerita padaku.” Ancamnya.

“AH!! Kyu! Kau bisa tidak menggangguku sehari saja.” Keluhku menyerah dan duduk kembali.

“Aku tidak akan mengganggumu kalau kau menuruti permintaanku!”

“Baiklah, uhm…”

“Cepat ceritakan,”

“YA BENTAR DONG KYU!!! AKU LAGI BERPIKIR!!”bentakku kesal. ‘dia tidak sabaran sekali,’

“Hahaha… ne ne, ayo cepat.”

+++Taeyeon Pov+++

“Hosh… hosh… ad… uh… soo…young kem…hosh kemana sih?” ucapku dengan terengah-engah.

“YA BENTAR DONG KYU!!! AKU LAGI BERPIKIR!!”

“Ha? Suara itu… hosh…hosh,” ku berjalan tertatih memakai tenaga tetes teakhir.

Kulihat orang yang sedang ku cari itu sedang duduk berdua di tengah pasir pantai dekat pesisir sambil bercanda ria menurutku. Ku urungkan niatku untuk mendekatinya, ku duduk lemas di balik semak semak. Memperhatikan mereka yang asyik di pantai berdua.

+++Sooyoung Pov+++

“Uhm, aku sedang cemburu!” akhirnya aku meluapka semua perasaanku.

“Cemburu? Kenapa?”

“AH!! KAU TIDAK UPDATE!!! GAME WAE DIPIKIRANMU!!” omelku pada Kyu.

“Sorry sorry… memangnya ada apasih?”

“KAU TIDAK TAU!!! COUPLE YANG BEREDAR SEKARANG ADALAH TEUK TAE!!! AKU BENCI ITU!!!” umpatku kesal sambil melepar batu besar ke laut dan cipratannya mengenaiku dan Kyu hingga basah kuyup.

“Hei! Kau marah boleh saja, tapi jangan libatkan aku.” keluh Kyu sambil membersihakan pasir yang yang menempel bersama cipratan tadi.

“Aduh, mianhe.. mianhe…” ucapku sambil terkekeh dan membantu membersihkan bajunya.

“Ya sudah sudah, nanti kalau ada yang lihat bisa gawat. Percepat ceritamu,”

“Uhm, lihat saja di Blog. Pasti mereka mengepostnya.”

“Hahaha, ya sudah. Terus sekarang kau mau bagaimana?”

Aku terdiam. Rasanya sakit mengingat ngingat blog tersebut. Apa lagi beritanya. Membuatku… Ah!

“Kau menangis?” tanya Kyu watados.

“MENURUTMU APA! AIR LAUT HAH!!”dercakku kesal dengan sikap sok polosnya itu.

“Pinjam bahuku saja,” ucapannya memberhentikan tangisku sebentar.

“Bagaimana kalau Sungmin melihat ini?” tanyaku gugup. Aku takut di bunuh sama Sungmin.

“Tenang saja, Sungmin~ah tidak akan marah. Hehehe… lagian dia lagi beli pakaian baru untuk persiapan nanti malam, biar HOT!”

“Ah! Gila lo!!! Dasar mau itu ajah di umabr umbarin.”

“HAHAHA!!! Biarin,”

Aku mendekat perlahan kea rah Kyu dan menaruh kepalaku di pundaknya.

“Aku kangen Taeng,” gumamku pelan.

“Sabar yah… berbaikanlah nanti saat pulang, aku akan bicara ke Teuki hyung masalah ini,”

“Gomawo^^~ kau memang namja yang bisa di andalkan, kekeke.”

+++Taeyeon Pov+++

“AH RUJIT!!!! BENCI BENCI!!! HATE HATE HATE!!!!” dercakku kesal di dalam dorm. Ku banting semua barang yang aku lihat, sekalian ajah aku ambil korek api dan baker ini dorm.

“Aduh onnie, ada apa sih?” tanya Jessica yang sedang suap suapan dengan Yuri.

“AH!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!!! MEMBUATKU MUAK!!!” ku lempar bantal kearah mereka.

“Aduh onnie…” keluh Jessica langsung di peluk Yuri. ‘Arrrgghhh!!’ dercakku kecil.

“Aku pulang…”

PLAK!!!

“Ah… Taeng ada apa denganmu,”

“ADA APA DENGANMU!!! ADA APA!! HARUSNYA AKU YANG BERTANYA SEPERTI ITU SOOYOUNG!!! KAU BERDUAAN DENGAN KYU!!! APA MAKSUDNYA!!!”

“Aku hah?”

“YES YOU!! IN BEACH!!”

“TERUS KENAPA!! KAU BERANI BEGINI PADAKU, SEDANGKAN APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU! KAU SELINGKUH!!!” bentaknya sambil membanting pintu dan berjalan ke kamar.

“Hah?”

Aku tidak mengerti maksudnya. ‘aku? Selingkuh? Bukannya dia yang selingkuh?’ batinku. “Hiks… hiks…Kyu…Kyu,” ku dekatkan diriku ke kamarnya. Menguping sedikit apa yang ia katakan.

“Hiks.. Kyu, aku…Hiks…”

Mendengra kata ‘Kyu’ aku langsung mendobrak kamarnya.

“JADI INI! KAU MENUDUHKU SELINGKUH!! BUKTINYA KAU!!!” umpatku kesal.

Dia melihatku peluh, matanya yang memerah bersamaan dengan hidungnya. Air yang sudah menggenang di matanya sudah siap tumpah. Ada beberapa tetes yang mengalir membuat kemarahanku berubah menjadi iba. ‘Apa yang kau perbuat Taeng?’ batinku terisak.

“Kau…Ah~” lirihnya sambil beranjak pergi.

“Sooyoung… hei.. Soo…” suara Kyu terdengar keras di Handphonenya. Tanganku bergetar memungut Hpnya yang terjatuh,

+++Sooyoung Pov+++

Kapan ini semua berakhir.. hiks… aku merindukanya, aku ingin memegang tanganya dan mendekap tubuhnya yang mungil itu. Ah~

Semua usahaku sia-sia.

Ku raba-raba kantongku, mencari benda kecil penenang hatiku.

“Damn! where my cell phone!” dercakku kesal. Aku berbalik arah, mengurung niatku untuk pergi dan mengambil handphoneku.

“Sooyoung,” suara lirih di depanku membuatku menatap kearahnya.

“WHAT ARE YOU DOING IN HERE!!!” umpatku kesal. Dia tidak memakai alas kaki dan terlihat lecet lecet di pergelangan kakinya. Tidak memakai jaket di musim yang cukup dingin ini.

“Soo,” lirihnya pagi.

“MWO!! GET OUT!!!” umpatku lagi. Ku mendorong badanya yang mungil hingga ia tersungkur ke aspal. Aku tidak peduli. Sikapku ini, ah~ sudahlah.

Aku terus berjalan kesal. Dia terus lirih memanggil namaku,

“Soo… mianhe,”

Ku hentikan langkahku. Mendengar suara tubuh yang ambruk. Ku balikan badanku, melihat tubuh orang yang ku sayangi pingsang dengan amat mengenaskan di trotoar.

“Taeng, taeng!!” ku berlari kecil kearahnya dan mengangkat sebagian badanya ke pahaku. Ku pukul pukul pelan pipinya tidak merespon.

“Taeng!!! Bangunlah!!!” ku keraskan suaraku. Tapi tetap saja tidak merespon. Ku angkat tubuhnya dan ku bawa secepat mungkin ke rumah.

——————————————————————————————————-

“Soo, soo…,” lirih Taeng yang tersadar dari tidurnya yang panjang.

“Ne, kau sudah bangun.” ucap Sooyoung dengan mata nya yang sembab dan tersenyum kecil.

“Kau, ada apa denganmu. What’s wrong with your eyes?” tanya Taeng cemas sambil memegang pipi chubby Sooyoung.

“mmpphhh… aku hanya menangis,” jawabnya jujur.

“Kau tidak bangun selama empat hari onn,” jelas Fany yang lewat dan memberitahukan apa yang terjadi.

“Kau sudah bangun onn!! Kita sangat mengkhawatirkanmu,” ucapa Yoona dan Seohyun bersamaan dan mereka tertawa bersama.

“Bisa tinggalkan kita berdua?” lirih Taeng lemas. Para member yang lain hanya ngangguk ngangguk mengerti dan meninggalkan Taeng dan Soo di kamar.

“Why?” tanya Soo, memulai percakapan.

“Uhm, You’ve forgiven me?”
Soo tersenyum mendengar pertanyaan Taeng.

“If not?”

Taeng terdiam,

“Yes, if it has not. I’ll sleep again …”

“Jangan…” rengek Soo sambil cemberut.

“Ya kalau begitu maafkan aku, aku kan sudah memaafkanmu!” ucap Taeng keceplosan.

“Hahaha, kau memang chagiya ku yang baik. Kiseu!!” rengek Soo lagi kepada chagiyanya.

“Sini sini..!!”

Yah akhirnya seperti ini. Mereka berbaikan dengan ciuman hangat di bibir mereka.

~fin~

Sekian dari Author mengucapkan terimakasih kepada para Readers semua!! Gomawo^^~

Minta Komentarnya yah, ini FF YURI pertama Readers 

Unprecedented : 1S : Straight

Posted on

Title : Unprecedented

Genre : Life

Main Cast : YOU. a.k.a Sylmi

Support Cast : Kim Jaejoong  (JYJ)

Other Cast :

Kim Jonghyun

Kim Kibum

Kim Heechul

Type                   : Straight

Rating                  : G – PG


Ini menakutkan. Semua dunia terasa menakutkan bila diisi oleh sesosok ‘itu’. Rasanya diriku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa diam menunggu mereka pergi baru aku berjalan. Hal ini membuatku selalu di marahi. Aku ingin sembuh … !!

==============>Black Screen<==============

Tulisan Gede nongol : 1…2…3…

Teaser… ON!

“JANGAN!!! AWAS!! MUNDUR.. MUNDUR!!!”

“AKU BILA..”

“Iya.. aku tahu.. aku tidak boleh menyentuhmu!”

“Pintar!”

“MENYINGKIR!! MENYINGKIR!!”

“Bisakah kau tidak berteriak.. aku ini..”

“Jae.. Jae.. bangun!!”

“Huf.. huf..”

“Ah~”

“Kau baik baik saja?”

“JANGAN MENYENTUHKU!!!”

Teaser OFF!!

==============>Black Screen<==============



“Umma!!! Apakah ini masih lama lagi?” keluhku melihat sebagian badanku bintik-bintik dan sedang di olesi minyak. “Entahlah anakku. Bersabarlah sedikit..” itulah yang selalu umma katakan padaku saat penyakitku kambuh. Kadang aku marah dengan jawaban itu. Itu membuatku semakin terpuruk, dan menjadi malam menjalani hidup yang seperti ini.

Ya inilah diriku, Kim Sylmi dari keluarga Kim. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku yang super sibuk. Ayahku bernama Kim Jonghyun sedangkan ummaku bernama Kim Kibum, lalu kakaku bernama Kim Heechul. Uhm,..

Appaku bekerja di indutri musik sebagai pembuat lagu dan juga sebagai arsitek yang sudah mendunia. Dia juga memiliki suara yang khas dan indah, kadang suka mengisi panggung-panggung yang terkenal. Walau begitu sampai sekarang appaku tidak bisa bahasa inggris. Bila ada pertemuan ke luar negeri appaku selalu membawa umma sebagai kamus berjalan.

Ummaku, ummaku manis dan baik, bibirnya yang merah muda dan seksi itu sangat indah di lihat. Rambutnya yang selalu berwarna baru,.. maksudnya suka gonta ganti bentuk rambut itu sangat lucu. Suaranya juga tidak kalah dari appaku, dan aku sangat terkaget bahwa ummaku itu dulu mantan rapper. Omo!

Kim heechul oppaku yang satu ini sepertinya mewarisi semua yang baik dari appa dan ummaku. Dia sangat tampan dan terlihat cantik juga. Karena ia terlalu tampan jadi terlihat cantik. Rambutnya yang suka gonta ganti juga seperti umma itu lucu. Walau tidak terlalu bisa bahasa inggris ia tidak peduli, dan selalu ‘sksd’ dengan orang yang tidak mengenalnya. Ia pintar bernyanyi dan rapper, suaranya lumayanlah. Pintar dance dan berakting. Uhm,

Tidak seperti aku. Aku mewarisi apa coba? Penyakit yang kudapat. Aishh,,, rujitlah. Suaraku memang tinggi dan besar tapi aku tidak bisa bernyanyi indah. Rapperku juga tidak terlalu bagus kadang melencong kemana ucapanku. Wajahku tidak begitu cantik, menurutku sih.. tapi entahlah menurut orang lain. AH! Sudah ah memperkenalkan diri malah jero sendiri,

“Apa lagi yang terjadi dengan Sylmi umma?” tanya appaku yang baru saja pulang sehabis berkerja. “Tadi dia tidak sengaja memegang barang yang baru saja di pegang Heechul,” jelas umma. “Heechul!!! Heechul!!” panggil appa dengan nada santai.

“Apa?… Mwo? Hahahaha…” baru saja sampai oppa ku ini langsung ngakak melihat keadaanku yang aneh. “Apa! Huh!” tantangku kesal. “Sejak kapan kita ada punya manusia rebus?” tawanya terus meledak sambil mengejekku. “Heechul.. sudah-sudah kasian dongsaengmu..” sekarang ummaku mengambil tindakan tapi tetap saja tidak menghentikan tawa oppaku ini.

“Ya sudah! Aku mau ke kamar!” aku bangkit dari kasur ummaku dan berjalan keluar. “AWAASS!!! MINGGIR!!! MUNDURR!! MUNDUR 2 LANGKAH!!!” teriakku pada appa dan oppaku. “Bisakah kau tidak berteriak Syl, suaramu tuh.. speaker volume 100!” ucap oppaku sambil di iringi beberapa tawaan dengan menutup telinganya. “YAH! AWAS!!” lanjutku lagi.

Setelah berhasil keluar… ku baringkan diriku di sofa. Menatap seluruh tanganku yang mulai berwarna merah padam seperti kepiting rebus. ‘Pantas saja oppa menyebutku manusia rebus,’ gumamku sendiri. Memang tidak perih sih, gatal pun tidak walau terdapat beribu ribu bintik di tubuhku.

Ini sudah kulalui selama 18 tahun. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menghindarinya. Tapi aku ingin sembuh… Gara-gara penyakit ini aku selalu stress dan sulit mendapatkan teman. Sekalinya bergaul dan tersentuh, semua orang langsung melirikku dengan mata yang jijik. Kadang sesekali aku mendengar mereka berkata yang tidak-tidak denganku.

“Sedang mikirin apa dongsaengku tersayang…” goda Heechul oppa sambil duduk di sebelahku. Dengan cepat aku mengambil tindakan .. “Ahh!! MUNDUR!! MUNDUR!!” teriakku kecang sambil memberi tanda untuk mundur. “Hei! Kecilkan suaramu..” “Mundur..MUNDUR!!!” lanjutku lagi. Mungkin karena tidak kuat mendengar suaraku ini, oppa pun mundur dan pindah ke kursi lain.

Ku angkat jariku tinggi-tinggi dan kutujukan padanya, “JANGAN MAIN MAIN!” bentakku sesaat. “Hufh, kau ini aneh.. aku yang menjadi oppa mu belum pernah menyentuhmu! Bagaimana aku bisa menyayangimu? Dan sekrang kau begini padaku.” keluh oppaku, “Mianhe oppa.. aku ingin sekali merasakan hangat sentuhan seorang kakak, tapi aku gak bisa oppa..” jawabku lemas. Penyakit ini begitu menggangguku, aku ingin cepat sembuh!

Malam tiba.

‘Hari suram yang keberapa ini? Huf.. aku harus makan di kamar lagi?’ batinku. Kulihat umma yang masuk membawa piring serta makanan di atasnya. “Umma.. aku ingin makan bersama,” rengekku pelan. “Kau berani mengambil resiko lagi?”tanya ummaku memastikan. Aku terdiam..

Sebenarnya aku ingin sekali. Sudah lama aku tidak makan bersama, aku ingin lihat appa dan Heechul oppa makan. Cara mereka makan sangat lucu. Tapi ini beresiko, menyentuh dikit saja barang yang mereka pegang penyakitku langsung kambuh. Ini gila!!

“Uhm.. ya sudah, aku makan di kamar saja..” ucapku pelan. Umma hanya tersenyum dan kembali ke meja makan. Baru saja umma pergi ada lagi yang masuk, “oppa?” wajahku sedikit bersinar untuk saat ini. “Kau baik-baik saja?” aku mengangguk pelan. “Belum pernah aku makan lagi bersamamu,” “Aku juga begitu!” jawabku mantap. Oppapun tersenyum. “Aku akan menunggu dirimu sembuh,” lanjutnya lagi sambil menutup pintu.

Yah.. walau oppa tidak bisa menjagaku dengan kehangatan dan sentuhanya, Tapi hati dan kata-katanya cukup membuatku nyaman.

“saeng..” ku lihat heechul oppa menatapku dari jarak yang cukup dekat. Ku sedikit menggeser karena takut penyakitku kambuh lagi. “bisakah kita bicara berdua,” lanjutnya lagi. Raut wajahnya membuatku merasa bersalah.

“memangnya ada apa oppa?” mulaiku berbicara. Walau kita hanya bicara empat mata tapi jarak kami sangat berjauhan bagai beda ruangan. “uhmm” dehamnya pelan. Ini tambah membuatku penasaran.

“oppa akan kuliah di inggris karena oppa mengambil sastra inggris.” Aku hanya menatapnya heran, ‘memangnya kenapa’ “dan nanti tidak ada yang menjagamu. Umma dan appa akan selalu sibuk dua minggu terakhir ini,” lanjutnya. “terus..” balasku bingung. “hmm.. kau tidak mengerti. Aku ini oppamu, ingin menjagamu! Tapi itu tidak bisa, apa hatimu sudah beku?”

“oppa.. bukan maksudku begitu, hanya saja….uhm…aku sudah bisa jaga diri oppa,” jawabku mencoba tersenyum. “aku tahu..aku tahu sylmi. Tapi saat aku pergi akan ada dokter yang merawatmu dan hanya berdua di rumah itu membuatku takut!” omel heechul oppa. Aku diam sejenak berpikir kalimat apa yang akan keluarkan untuk menjawab pertanyaan oppa itu.

“tidak apalah oppa diakan hanya dokter.” Jawabku pelan. “tapi dia LAKI-LAKI sylmi.” Aku tidak bergemingg, pikiranku langsung tiba-tiba penuh.

BRAAKKK!!! “appa! umma!” dobrakku keras saat pintu orang tuaku terkunci rapat, ‘aishh’ ku balikan badanku melihat pemandangan yang menggelikan. ‘appa memberi kiss mark pada umma.. ihh…’ batinku sambil terus menutup mata geli. Sesekali menyetrum diri sendiri.

“aduh ada apa sylmi, kau masuk saat appa menyantap ummamu,” suara appa yang terdengar mendekatiku lalu mengelus rambutku pelan. “appa.. umma.. kenapa kalian be..begitu jahat?” ucapku sesenggukan memulai aksi pertama. “umma jahat apa padamu?” umma mendekatiku dan memelukku lembut. ‘ahahah kau pintar acting juga syl,’ “umma mengapa kau meninggalkanku bersama dokter laki-laki,” jawabku sambil terus sesenggukan dan menambah air mata dengan tetes mata saat appa dan umma tidak melihatku.

“aduh sylmi, mianhe.. umma dan appa akan sangat sibuk.” Balas umma dengan mempererat pelukannya. ‘aksi kedua’ “umma appa jahat!” ku berjalan dengan emosi dan membanting pintu langsung masuk ke kamar. ‘yes! Aksi kedua berhasil.. tinggal menunggu umma dan appa kesini dan mengharapkanku memaafkan mereka’ aku jingkrak jingkrakan tanpa bersuara dan tak kusadari bintik-bintik merah itu mulai tumbuh kembali di kulitku. “huwa! Apa ini!!” teriakku sambil berlari keluar.

‘jduk!’ tubuhku goyah sambil berusaha menyeimbangkan diri aku melihat siapa yang kutabrak. “mianhe ajjushi~ *bow*” ucapku meminta maaf dan lari ke kamar orang tuaku. “umma!!! appa!!!” teriakku keras. Ku gedor-gedor pintu kamarnya yang tertutup rapat. “umma!!! bukakan!!!” teriakku lagi sambil panik terus menggedor pintu. ‘aissh umma dan appa kemana sih?’ batinku sambil terus menggedor keras.

“ada apa denganmu?” ku tengokan badanku tampat namja yang baaru saja aku tabrak menepukku dari belakang. Sedetik…dua detik… tiga detik… “huwaa!!! Jangan sentuh aku!! MENJAUH!!! MUNDUR!!!” perintahku saat tersadar aku tersentuh olehnya. “Hei ada apa denganmu?” tanyanya yang semakin mendekat. “MUNDUR!!!!!!!” teriakku kencang.

“hm.. jadi begitu,” gumam kecil namja itu mengerti. “kalau kau mengerti aku harap ajjushi segera pulang!” pintaku ketus sambil terus mengolesi minyak ke beberapa bagian tubuhku. “hm. Tapi.. HAH! TUNGGU! AJJUSHI KATAMU! HEH UMURKU HANYA BEDA DUA TAHUN DENGANMU!!” jelas namja tersebut yang terkaget sambil teriak-teriak di telingaku. “HEH! BISAKAH ANDA TIDAK BERTERIAK TERIAK!!! GANDENG!” balasku dengan super kencang. “YOUr VOICE, kecilkan sedikit..” ucapnya sambil menutup telinganya.

“hah… ya sudah,” aku kembali mengolesi badanku yang mulai menjadi kepiting rebus dan dia hanya mengetuk ngetuk meja pelan. “KAU BISA DIAM TIDAK!? MENGANGGU!” umpatku kesal mendengar ketukan dari jari-jarinya. “BIARIN AJAH! NI JARI-JARI GUE! LO GAK BERHAK!” balasnya. “AKU BERHAK! INI RUMAH GUE!!! DAN KAU!! SIAPA KAU!!! SEENAKNYA MASUK!!”  dia terdiam.

“eh iya yah.. ngapain aku di rumah ini?”  ucap pelan namja tersebut. “kalau begitu aku pamit. Annyeong~” ucapnya lagi sambil menunduk sembilan puluh derajat lalu berjalan ke pintu keluar.

Ku intip dia sudah selangkah keluar dari pintu, aku menghela nafas lega. “HAAA!!! TUNGGU!! AKU INI DOKTER!!! AKU DOKTERMU!!” teriak teriak namja tersebut masuk kembali kedalam. “HEH!!! BISAKAH KAU TIDAK BERTERIAK DI RUMAH ORANG! DASAR GILA!!” celetusku dengan emosi. “mianhe *bow*” ucapnya pelan.

“HUWAAAAAA!!! KAU DOKTERKU!!! AISHH!!! KENAPA DIA MENJADI DOKTERKU!!! SIAL!!!” omelku yang baru sadar bahwa ia dokterku. “HEH!! BISAKAH KAU TIDAK BERTERIAK DI RUMAH ORANG! DASAR GILA!!” celetus namja itu padaku. “mianhe *bow* ” ucapku pelan. Aku kembali duduk dan mengambil minyak yang baru saja aku letakan di meja. “TUNGGU!! HEH INI RUMAHKU!!” teriakku yang baru saja sadar akan perkataannya. “INI BUUUKKKAAANNN RUMAHMU! INI RUMAH ORANG TUAMU!!” jelasnya. “eh. Iya yah..” ku terduduk lagi sambil mencoba berpikir.

“uhm.. laper..” gumamku pelan sambil berjalan kedapur dengan memegangi perutku. Kruuyyyuukk kruuyyukk.. suara itu terus terdengar dari arah perutku. ‘sabar sabar’ batinku. Ku buka tutup makanan yang berada di meja makan. Dan kosong, ku buka kulkas memang banyak terdapat makanan sih tapi masih dalam keadaan mentah. ‘masa bikin gado-gado sih’ batinku lagi sambil mencoba mencari snack dalam lemari dan ternyata kosong juga. Krruuyykk!! ‘aduh.. laper..’

“ada apa denganmu?” nama tersebut datang dan mengambil beberapa buah makanan mentah di kulkas dan jaraknya hanya berkisar tujuh centi denganku. “MENYINGKIRR!!! MUNDUR!!!!” teriakku kencang padanya. “aiisshh.. bisakah kau tidak berteriak seperti itu. Telingaku sakit..” ucapnya pelan. “AH!! POKOKNYA MENYINGKIR DARI SINI!! KALAU TIDAK! MUNDURLAH!! MUNDUR!!!” ucapku kesal. Dia akhirnya mundur dan menuruti diriku. Aku menghela nafas lega.

“AKU PUNYA PERATURAN UNTUKMU HEH NAMJA!” teriakku saat dia sudah berjarak lima meter denganku. “mwo?” jawabnya sambil menaikan kedua alisnya dan menjunjung tinggi martabat (?) “INGAT BAIK BAIK! Aku tidak akan mengulangnya dua kali. KAU PALING DEKAT BERJARAK DENGANKU 5 METER. TIDAK BOLEH MENYENGGOLKU DI SENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA. MENYENTUHKU APA LAGI. TIDAK ADA ALASAN. AKU TIDAK AMU PENYAKITKU KAMBUH KARENAMU!! LALU MEMEGANG APAPUN DI SINI KAU HARUS MENGGUNAKAN SAPU TANGAN!!! KALAU KAU LUPA ELAP LAH BENDA TERSEBUT DENGAN SAPU TANGAN YANG STERIL. DAN INGATKAN AKU BAHWA KAU MEMEGANG BENDA YANG TANPA SEPENGETAHUANKU!! MENGERTI?!!” tanyaku tegas. Dia memiringkan kepalanya, “lalu bagaimana aku bisa menyembuhkanmu?” tanyanya padaku. Aku terdiam dan  berpikir sejenak. “ya kamu tinggal menyuruhku melakukan apa yang kau mau. Tapi jangan sesekali menyentuhku!!” jawabku asal. Nafas kecewanya terdengar kecil dari jarakku ini. “OH IYA!!” “bisakah kau tidak berteriak sylmi.. telingaku sakit.” Ujarnya pelan sambil terduduk lemas di meja makan. “YA! KALAU KAU TIDAK BERTAHAN KELUAR SAJA..”omelku asal. “uhm,” dia hanya menjawab dengan berdeham pelan.

“OH IYA DARI MANA KAU TAHU NAMAKU?” “aku hanya melihat nametag di depan kamarmu,” jawabnya pelan dengan raut wajah super lesu. “YA! KALAU BEGITU AKU HARUS TAU NAMAMU!!” BRAAAKK!! “SYLMI!!! HARGAILAH SEDIKIT DIRIKU INI!! AKU INI LEBIH TUA DARIMU!!! JANGANLAH BETERIAK TERIAK!! AKU PUNYA KUPING DAN AKU BISA MENDENGAR!!!” degh! Jantungku langsung was was melihat hal tersebut. ‘dia  marah..’ batinku. Wajahnya berubah drastis. Jadi menakutkan. I’m scary umma!!!

“ehem..ehm. mmpp.. mianhe,” dengan nada sangat bersalah aku meminta maaf dan lari ke dalam kamar. “omoo!! Apa yang aku lakukan,” desisku pelan sambil mengunci pintu dan menyumputkan diriku di balik selimut. “mianhe..mianhe…” ucapku terus sampai akhirnya aku tertidur lelap dalam balik selimut yang tebal.

“Heeiii… sylmii.. kesini.. kesini…” ku dekati pelan suara tersebut. “kau mau makan… makanlah.. makanlah…” suara itu terus menuntunku ke sebuah meja makan yang sangat besar. Tubuhku menyusut bagai liliput, dan makanan di sana terlihat sangat besar. “ayoo makan… makan..” ucap suara itu menggodaku. Ku ambil beberapa daging ayam yang ku potong sekecil mungkin agar berukuran sesuai denganku. “mmpp kenyangnya…” ucapku pelan. “sekarang kau gemukk.. gemuk…” ucap suara itu. Aku melihat perutku yang melar bagai bola bowling yang sangat besar. “omo! Apa ini!!” teriakku kencang. “JAYAAAAHAHHAAHHA!!!” ku balikan badanku yang berat ini dan ku tatap sesosok raksaksa besar membawa garpu dan pisau. “huwaa!!!” teriakku. “sini kau makananku!!!” aku terus berlari menghindari garpu dan pisau yang ia tusuk tusuk ke meja karena tidak mengenaiku dan sampai akhirnya “boo!”

“AAAHHHH!!!!” ku hentakan badanku saat terbangun. Keringat dingin yang mengucur deras dari pelipis dan punggungku membuat bajuku basah. “aisshhh panas.. panas..” aku terengah engah dan mengipasi kecil wajahku dengan tangan. “panas.. panass!!!” teriakku sambil berusaha membuka baju. Satu demi satu kancingku kubuka, “hei! Apa yang mau kau lakukan?” ku balikan badanku pelan mencari sumber suara tersebut , “HUWAA!!! MENGAPA KAU BISA MASUK!!! DAN..” kulirik sebentar kancing bajuku yang terlepas sudah memperlihatkan warna pakaian dalam yang aku kenakan, “HEH!!! TUTUP MATAMU JANGAN MELIHAT KESINI!!!” teriakku sambil melemparinya dengan bantal. “ya ya ya.. aku belum lihat apa-apa kok. Hanya….mmpphh… warna bra mu…. Apakah warna biru muda?” tanyanya polos. Wajahku langsung merah padam, “KAU NAMJA GILA!!!! PERGI!! PERGI!!!” teriakku dengan mengakhiri melemparnya dengan jam kecil di mejaku.

“Heh bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?” tanyaku sambil menyantap nasi goreng sarapan pagi dengan jarak yang sangat jauh buatannya. “uhm, entahlah. Pintu kamarmu ada dua kan aku masuk kepintu yang tidak dikunci.” Mataku terbelalak saat menyadari bahwa aku mempunyai dua pintu. “uhm, terus.. mengapa kau masuk ke dalam kamarku?” tanyaku gugup. Dia berpikir sejenak lalu memasang evil smile. “aku mendengarmu mendesah hebat jadi aku masuk,” jawabnya dengan terkekeh. “DASAR NAMJA YADONG!!!” teriakku sambil melemparinya dengan sendok dan garpu. “Eiittsss,,… tenanglah. Itu bohong aku masuk karena kau berteriak teriak. Kau mimpi apa?” “Tidak penting!” jawabku malas lalu menaruh piring ke tempat cuci lalu berjalan melalui ke ruang TV.

“Kau sebenarnya sa..” “AAHH!!! JAUHKAN DIRIMU!!! INGAT JARAK JARAK!!!” teriakku memotong pembicaraannya. Dia lalu mundur dua langkah dan menghela nafas, “Bisakah kau tidak berteriak.. baru saja kau teridam dengan suara bisa dan sekarang.. asisshh,, ” keluhnya sambil duduk dengan jarak dua kotak sofa. ‘mmpphhh tenangkan dirimu sylmi, masih berjarak masih berjarak’ “hmm.. kau berani sekali menonton film itu?” kulihat dirinya yang menunjuk film di TV tersebut.

Aku tidak mengerti maksudnya tapi kulihat layar TV dan, “mppphh… hhhh… ayo.. terus… ahhh…” “omo! Film apa ini?” ku ganti channel dengan asal. Tak tak tak.. suara remote yang ku tekan dengan keras. “ahhh!!! Teruuss,… huuuwaaa…. Belum cukup.. lebih lebar baby,,,” “huwaaa!!! Lagi-lagi salah channel…” tak tak tak… “pesanlah aku sekarang telepon ke 06566******* aku selalu siap.. ahhh~” “AAH!!! IKLAN APA INI!! GILA!!!” rasanya tanganku gemas ingin melempar remote ini ke layar TV biar pecah dan aku tidak melihat adegan ‘syurr’ seperti tadi, “Ah tangamu bejat! Sinikan remote nya!” dengan paksa dia merebat remote yang baru saja mau aku lemparkan dan tangan kami bersentuhan tapi aku tidak sadar. Diapun begitu. “nah! Ini ajah!” gumamnya setelah mendapat channel film horror! “aihh!!! Jangan ini! Kartun ajah… ahh… AAAAA!!!!” jeng jeng jeng jeng suara TV menggelegar. “ganti namja babo!!! aaaaa!!!” teriakku keras padahal tidak ada hantu disana, hanya suara yang menakutkan. “AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!” teriaku lagi saat hantu tersebut muncul menampakan diri di layar TV yang besar ini. “aaiisshshhh!! Gandeng!!” cibir namja tersebut dengan asyik masih menonton.

“aa!!!” teriakku lagi, tapi berhenti saat ia membungkam mulutku dengan telapak tangan kanannya dan tangan kirinya seperti merangkulku dari belakang, “diamlah..” bisiknya padaku. Ku mengehela nafas pelan. Dia membalikan tubuhku dan memegang kedua pundakku dengan tanganya yang besar. “kau takut sekarang?” tanyanya lembut. Aku menggeleng. “kalau begitu diamlah..” ucapnya sambil mengelus pipiku. Lama kelamaan dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku hanya bisa mematung, dan terasa pipiku mengepul karena panas. Dia menurunkan tanganya dan mengelus bibirku lembut, dengan sedetik di mengecup bibirku lembut. Lalu melepasnya dan menatapku “lagi” gumamnya dan ia terus terus mengecupku dan akhirnya melumat bibirku. Dengan refleks aku merangkul lehernya dan menikmatinya. Dia juga memelukku erat hingga ku tidak bisda terlepas dan… BRRAAAAKK!! “sylmi!” ku tersentak mendapati heechul oppa berdiri di ambang pintu.

“AAAAA!!!” teriakku. Aku bangun dengan selimut menutupiku sampai ke bagian atas. Ku elap pelan keringat yang mengalir di wajahku. Ku mengendus pelan. ‘kok dingin sih..’ gumamku padahal aku memakai selimut. Ssrriitt! Bunyi sebuah seleting. “HAH! KAU NGAPAIN DIKAMARKU!!” kulihat namja tersebut memunggungiku dengan tidak memakai atasan pakaian. “lihat saja dirimu..” ucap nya enteng sambil berbalik menatapku. Ku kerutkan keningku dan ku intip tubuhku di balik selimut, “omo!!! Mengapa aku tidak memakai apapun!!?” teriakku. “jangan-jangan…AAAA!!!!”

“Heh! Kau.. bangun! Mimpi apa sih!!” ku rasakan tubuhku berat. Dug dug dug!! “bangun yeoja babo!!!” rasanya punggungku seperti di pukul pukul dengan benda tumpul. Ku kerjap-kerjapkan mataku lalu ku kucek kucek mencari kesadaran. Dug dug dug!! “heh! Bangun!!!” ‘suara itu?’ ku balikan tubuhku kebelakang dan BUG! Benda tumpul mendarat dengan mantap di wajahku. “ooopss” “hrrrrggg! Kau ya!!!” teriakku melempaar balik benda tersebut. “mianhe mianhe…*bow* soalnya kau ketiduran di meja makan.” Ucapnya. ‘ketiduran.. jadi tadi…baguslah kalau itu hanya mimpi’ “uhm, ya sudah. Aku mau ke kamar!” umpatku kesal. “tunggu..”

“Eeiittss … AKU BILA..”

“Iya.. aku tahu.. aku tidak boleh menyentuhmu!”

“Pintar!”

“Tapi,… aku sebagai dokter belum tahu penyakitmu..” aku terdiam. “aku alergi akan makhluk sepertimu!” jawabku kasar dan masuk ke dalam kamar.

“oh iya!” aku kembali keluar dengan hanya menongolkan kepala, “apa?” tanyanya. “siapa namamu??”

“Jaejoong Kim.. Kim Jaejoong imnida,”

“ohahhah.. Kim Sylmi imnida..” balasku sambil tersenyum dengan gigi kuda lalu masuk ke dalam.

++Jaejoong Pov++

“apa nama penyakit itu yah.. alergi denganku.. ush! Susah menyembuhkannya..” gumamku pelan sambil mengotak ngatik situs dan internet mencari cara mengobati dirinya. “ah ini dia! Mmphh.. oh.. ya!”

Klek!! Pintu kamarku terbuka dan kulihat sylmi menongolkan kepalanya. “apakah mengganggu?” tanyanya sebelum masuk. Aku menggeleng pelan, ia pun masuk dengan membawa boneka beruang coklat yang besar. “kau kenapa?” tanyaku. Ia duduk di kasurku sambil memeluk bonekanya.

“mpphh.. aku takut tidur sendiri,” keluhnya padaku. “terus aku harus berbuat apa? Aku tidak mungkin sekasur denganmu..” lirihku pelan. “aku juga perbikir begitu, tapi.. tapi aku takut..” keluhnya lagi. “hhmm.. aku harus gimana?” tanyaku pada diri sendiri sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak terasa gatal sama sekali.

“bagaimana kalau kau tidur di atas, aku tidur di bawah..” jawabku asal. Dia sedikit mengerutkan kening dan tersenyum lebar. “aku tahu maksudmu,” ucapnya mantap. Tiba waktunya tidur, ku keluarkan kasur bawah di bawah kasurnya. Kasur kami (?) pun terlihat seperti tangga. “kau sudah siap?” tanyaku nakal. “ihh!!!” balasnya sambil melempar guling kearahku. “hehehe.. ” tawaku kecil.

“Jae.. jae..aduh.. aku harus gimana? Jae oppa.. oppa.. bangun… ahh…aisshhh.. kumaha ieu…” ku buka mataku yang terasa berat. Dengan masih kunang-kunang ada sesosok makhluk yang dari tadi bolak balik di depanku. “sylmi..” lirihku pelan. Kurasakan seluruh tubuhku lemas, dan terasa amat panas di pipiku. “kau sudah bangun..? aduh…bagaimana keadaanmu?” aku hanya mengerang sesaat mencoba menopang tubuhku untuk bangun. “aisshhh… tidur saja dulu…” omelnya tanpa menyentuhku.

“angkat aku..” lirihku ingin duduk. “ANI! GAK MAU! ANDAWAE..!!!! BLEEEE…” bentaknya tiba-tiba. “ahmmppphh..” rintihku kecil. “aduh… opppa mianhe, tadi aku sengaja.. maksudnya tidak sengaja.. ummpphhh…sini..” dia mengulurkan tangan aku menatapnya yang sedikit sedikit meneguk salivanya. ‘apakah dia gugp atau takut?’ batinku. Setelah berpikir sejenak aku menggeleng. “wae?” tanyanya. “kau.. tidak usah memaksakan diri.. aku bisa bangun tanpa bantuanmu kok,” ucapku lemah. BAK! “NAH.. gitu dong!! Aku kan jadi tidak us….AAAAA!!!!”

++Sylmi Pov++

Aku mengulurkan tangan. Kawatir sih enggak, cemas juga enggak, tapi kalau dia mati aku takut di tuduh. Dia terdiam seperti berpikir sesuatu, “kau.. tidak usah memaksakan diri.. aku bisa bangun tanpa bantuanmu kok,” ucapnya pelan. BAK!! Aku memukul punggungnya karena terlalu semangat dan senang, “NAH.. gitu dong!! Aku kan jadi tidak us….AAAAA!!!!” tak kusadari rasa bahagia ini membuatku menyentuhnya. Aku langsung lari masuk kamar mandi. Kuperiksa setiap jengkal dan centi di tubuhku bahkan mili (?) mencari apakah muncul bintik-bintik merah.

Ku tatap wajahku di cermin, ‘masih bersih’ gumamku sambil mendekatkan wajahku ke cermin. Ku lihat tanganku dan kakiku. ‘tidak terjadi apa-apa,’ gumamku lagi. “apakah aku sembuh?” tanyaku pada diri sendiri. “umhmm ya sudahlah..” gumaku lagi sambil keluar dan membuka pintu. BRUUKK!! “AAAA!!! JAE!!! BANGUN!!! JANGAN MENIDURI BADANKU INI!!! HEH!!” ku hentakan tubuhnya dan ku pukul dia dengan keras. Tapi tidak bereaksi, dia pingsan. “HEH!!! BANGUN!!!!!!” teriakku tak bisa berdiri. Badannya terlalu berat. “uhm..” ku tatap wajahnya lekat-lekat. Ku pegang pipinya yang panas, dan kurasakan hembusan nafas panasnya di leherku tipis. “dia benar-benar sakit..” ucapku pelan.  Plup! Ku lihat tangan ku yang mulai terhujani bintik-bintik merah kembali. “aisshhh…. AAHH!!!” dengan refleks aku bisa bangkit dan mendorong tubuhnya ke lantai hingga terbanting lalu aku lari secepatnya ke kamar mencari minyak oles tapi —–

++Jaejoong Pov++

“aduh.. punggungku..” rintihku sambil mencoba berdiri. ‘rasanya seperti di banting atau jatuh dari lantai dua (?)’ batinku. Ku coba berjalan dengan tertatih mencari obat pegel linu. Plekk.. plekk.. “kenapa lantainya jadi empuk yah?” gumamku sambil sedikit menginjak-nginjak lantai. Plekk.. ‘umm..’ “AAA!!!!!!” ku langsung terlonjat ke lantai dan terpaku terpana melihat sosok tubuh mungil yang baru saja aku injak-injak. “omo!!! SYLMI!!!”

++Sylmi Pov++

“Ah~” keluhku sambil memegang perut yang teramat sakit.

“Kau baik baik saja?”

“JANGAN MENYENTUHKU!!!” umpatku sambil menyikir dari hadapan namja cantik di depanku. “mia..” “JANGAN BERKATA APAPUN!! AKU TIDAK MAU DENGAR APAPUN!!” omelku. “ta..” “DIAM!!! SHUT UP BOY!!” ucapku keras. Dia terdiam sambil menundukan wajahnya, “PERGI!!! AKU TIDAK MAU MELIHAT WAJAH MEMELAS DIRIMU ITU!!! PERGI!!!” usirku kesal. “syl..” “JANGAN PANGGIL NAMAKU!!! SANA PERGI!!!!!” ku tending terus dirinya dengan sisa tenagaku. “PERGI!!! PERGI!!!” rengekku. Dia pun berdiri dan pergi dari hadapanku,

Ku mengendus kesal. Ku jalankan perlahan kakiku menuju kamar. “uhm..” keluhku sebelum aku terhenyak tidur.

“mmphhh..harum apa ini?” ku cium harum semerbak makanan dari lantai bawah. ku lari kecil menuju ke bawah. Tampak di meja makan berjajar makanan yang lezat terpampang di sana. “omoo!! Siapa yang memasak ini?” tanyaku sendiri sambil menyendok satu makanan dan melahapnya. “mpphh.. enak!” aku langsung duduk di meja makan dan mengambil beberapa lauk lalu memakannya. “Jae!!! Jae!!! Ayo makan!!!” teriakku kencang. Ngok.. ngok.. tidak ada jawaban. “JAE!!!!” teriakku lebih kecang. Dan tidak ada respon juga, “Jae?” ku pelankan suaraku. Tapi tetap saja hanya sunyi senyap yang aku dapat. Brrakk! Ku banting sendok dan garpuku. Nafsu makanku langsung hilang sekejap. Rasanya lapar tapi tidak mau makan.

“uhm..” keluhku sambil duduk di depan TV. “kemana dia..?” tanyaku kecil. Ya tentu saja tidak akan ada yang menjawab, semuanya di sekitarku hanya benda mati. Ku otak atik channel TV mencari reality yang bagus, tapi percuma itu hanya membuatku muak saat melihat group TVXQ yang memiliki member yang sama dengan orang yang menghilang dari rumahku ini.

Ku lihat sekilas jam yang sudah menunjukan pukul 9 petang. “uhm,” aku hanya bisa berdeham. Aku menonton TV dengan tatapan kosong entah apa yang aku tonton. Tidak tahu… rasanya seperti orang buta yang memiliki mata untuk melihat. “ngg,” erangku kesal. ‘kemana sih dia?’ batinku.

Ku terus menatap TV dengan tatapaan kosong. Sampai terdengar dentengan jam dinding raksaksa 4 kali. ‘aihh, udah jam 11 malam,’ gumamku. Sesekali aku menguap besar. Setelah berpikir pendek aku pun menyerah, aku mematikan TV dan beranjak ke kamar. Cklek! Ku menghentikan langkahku dan berjinjit bersembunyi di belakang pintu. “Ah~..,” terdengar suara orang yang sepertinya orang yang sendari tadi aku tunggu menghela nafasnya. BRAK! Ku dorong pintu keras. Dugh! Sepertinya tepat terkena di wajahnya.

“HEI!! DARI MANA SAJA KAU HAH!! MENINGGALKANKU SENDIRI!!! TAU GAK AKU JADI GAK NAFSU MAKAN…!! NGERTI GAK SI LO!!” omelku kesal dari balik pintu, “RASAKAN TUH KE JEDOT PINTU!!! HAHAHA” lanjutku dengan tertawa maksa. “Aisshh… saeng… ada apa denganmu… aduh…,” aku terdiam sejenak, mengingat ngingat suara yang sudah lama menghilang dari pikiranku. ._.? aku berpikir kembali, -.- ‘aduh siapa sih?’ batinku. Mppphh? “Oppa?” loncatku keluar dari pesembunyian dan menatap sesosok namja dengan bibir tebal dan merah serta rambutnya yang pendek dan hitam sedang mengelus-ngelus keningnya yang habis ke jedot pintu. “Eeiits, kau bukan oppa ku! Siapa kau!!! Maling!!!”teriakku. “Suut suut…, aku Heechul!!” potong namja tersebut yang memanggil dirinya Heechul sebelum super toa ku keluar.

“Aniyo! Aku tau kau berbohong! Oppaku itu mempunya rambut yang panjang dan indah, warnanya pasti bukan hitam. Dia cantik dan manis, lembut dan baik.” “Jeongmal gasahamnida,” potong namja itu. “Eit! Ini aku ungkapkan untuk oppaku bukan buatmu!! HUH! Sana pergi… hus hus,” usirku. “Aduh saeng, jangan bercanda malem malem deh… oppa kedinginan nih, mau masuk.” Keluhnya sambil menerobos masuk. “Ah.. gak mau!! ANDWAE!! Buktikan kalau kau oppaku,” kataku meninginkan bukti bukan janji (?). “ah~” dia menghela nafas dan terlihat uapan nafasnya. “Nih! Lihat… aku punya foto keluarga! Aku tau penyakitmu! Dan… ah segitu saja,” ucapnya pelan. “Emang penyakitku apa?!” tantangku masih penasaran. “KAU ALERGI LAKI-LAKI!!! PUAS!!? Oppa mau masuk,” namja itu pun menerobos masuk. Dan aku mematung seketika di depan pintu, “Gansahamnida,” bisiknya pelan. ‘aahhh!!! Aku yeoja babo, benar-benar… mengapa aku memuji oppa di depan orangnya, memalukan… huhuuu…’ rasanya pipiku panas dan merah.

“Hei! Masuklah… dan cepat tidur. Ini sudah malam,”  teriak oppa dari dalam. Aku menaikan sedikit pundaku  dan mengurung kepalaku di sana karena malu dan berjalan ke kamar.

Tak tak tak… bruuk…. Tak tak tak… auch! Tak tak tak… prang pring…

“Uhm.. bunyi apa sih itu?” gumamku yang terbangun dengan bisingnya kekacauan ini. “mmpphhh… mpphh…,” rasanya ada yang bernafas di tengkukku.  “mpphh…,” nafasnya hangat. Ku balikan kepalaku, “Uwaa!!! JAE!!!!!!” dia tidak merespon. “Aduh… aku haru pergi dari sini,” ucapku sambil bangkit dan rasanya tubuhku berat. “Ah!! Ah!!” keluhku tak bisa bergerak. Ku buka selimut yang menutupi badanku. Tampak besi kuat menahan tubuhku dan tubuh Jae sehingga tidak bisa bergerak “Aisshh… oppa!! Oppa!!” panggilku yang mengingat Heechul oppa sudah pulang. “Oppa!!!” “Ne!!! ada apa saeng?” teriaknya membalas. “Kesini!!!” teriakku lagi. Terdengar suara langkah kaki menuju kamarku. Klek… “Saeng hihiiiihiii…” “Huwaaa!!!!!!”

“Aduh! Ada apa denganmu hei?” Heechul oppa sudah duduk di kasur sambil menatapku heran. Ku rasakan keringat dingin mengalir di pelipisku. Nafasku tidak stabil. “Ada apa?” tanya oppa lagi. “Aku mimpi oppa jadi hantu!! Huwaaa><” mengingat kembali membuatku amat takut. Ku tengokan badanku dan tidak ada Jae disana. “Sudahlah…,” peluk oppa padaku. Pelukannya amat canggung.

“Ne…. hosh.. hosh.. ne..” jawabku sambil ter engah-engah. “Oh iya, tadi malam ada seorang lelaki masuk.” “Jae?” tanyaku spontan. “Mungkin, dia tidak menyebutkan namanya… aku hanya menyuruhnya tidur di sofa,” ucap oppa. “Sekarang dia kemana?” tanyaku antusias. “Lagi di bawah memasak.” Aku berbegas turun ke bawah dengan cepat. “Jae!!” teriakku senang sampai tak menyadari ada air di tangga dan aku. Bletak!!

“Aiissh… pantatku,” keluhku sambil mencoba bangun. “Aku bantu!” terlihat Jae disana langsung menggendongku. “Dari mana saja kau?!” tanyaku ketus. “Aku hanya keluar sebentar…, kau kan waktu marah padaku. Jadi mungkin aku pikir kau butuh waktu sendiri… wae?” tanya balik. Aku terdiam, “mphh..” “Kau kangen aku yah,” potongnya. “Uh! Kalau iya kenapa?” balasku jujur.

++Jaejoong Pov++

“Kau kangen aku yah,” potongku dengan semangat PD membara. “Uh! Kalau iya kenapa?” balasnya sambil tersipu malu. “Ahaha… menikah denganku! Mau?” tanyaku asal. Wajahnya semakin memerah…

“Eiittsss!! Jangan menebar kemesraan di depanku!!! Sini berikan dongsaengku!!” namja yang tiba-tiba datang dengan paras awet mudanya (?) menagih yeodongsaeng nya yang baru saja aku gendong. “Nih,” ku berikan padanya. “Turunkan saja dia… dia berat!” ucapnya. “Oppa!!! Kau ini!!!” keluh Sylmi sambil mencubit perut namja tersebut keras.

“Eh eh!!  Mentang-mentang sudah sembuh… kau berani beraninya mencubitku?”  ucap namja tersebut sambil melepaskan tangan Sylmi dari perutnya. Aku hanya tertawa melihat itu. Sylmi pun terdiam menatap tanganya, meratapi (?) apa yang baru saja ia lakukan. Ia menyentuh apa yang selama ini ia larang sendiri. Ia memegangnya. Ia mencubitnya. Lalu  ia menatapku sambil memiringkan kepalany, aku menyambut dia sambil tersenyum, “Kau sembuh!” lanjutku semangat. “Oppa!!!! Aku sembuh!!” dia membalikan badanya dan memeluk namja tersebut erat. Namja memeluk Sylmi dan melayangkannya di udara. “Haha!” tawaku garing sambil pergi meninggalkan mereka yang sudah menganggapku kambing conge.

Mereka terus bersenda gurau tampa memikirkan ada aku disana. Ku berjalan ke atas menuju Balkon. Melihat mereka yang asyik bercanda membuatku muak. ‘Hei Sylmi! Lihatlah kemari!!! Aku yang menyembuhkanmu!! Huhuuu…,’ rengekku dalam hati. Sampai di Balkon aku naiki pagarnya dan duduk di atas pagar. Kaki ku menggantung melayang layang.  Semua beban aku tumpukan ke kaki. Tapi itu tidak membuatku jatuh. Karena aku duduk dengan seimbang di pagar. “Hahaha…,” terdengar suara cekikikan dari arah bawah membuatku mual. “Ikh!” pekikku kesal. Aku menatap langit gusar, entah aku melamun atau aku memang menatapnya. Ku goyangkan terus kakiku seperti anak kecil.

“TIN!!! TIN!!” suara klakson mengalihkan pandanganku dari menatap langit menjadi mencari sumber suara itu. Ku lihat di jalan sebuah truck besar berkecepatan tinggi terus mengklakson seperti orang gila, ‘ada ada sih?’ gumamku mencari cari sesuatu. “Omo!! Anak kecil,” teriakku melihat beberapa anak kecil yang tertawa riang dan tidak memperhatikan jalan saat ia menyebarang. “AWAS!!!” dengan posisiku yang tidak wajar dan ingin menolongnya tanpa sadar aku malah meloncat dari rumah yang berlantai dua tersebut.

++Sylmi Pov++

“Oppa aku sembuh!!” teriakku lagi menggema tepat di telinga Heechul oppa. “Iya iya… kau sudah mengatakan itu berpuluh puluh kali,” terang Heechul oppa sambil menutup telinganya. Aku hanya terkekeh kecil dan mengucapkan kata-kata itu kembali, ini hari bahagia sepanjang hidupku! Alergiku sembuh!!!!

“TADA!!! PREETT PREEET!!!”  kesenanganku langsung suram menatap pintu kamar appa dan umma terbuka dengan keluarnya mereka sambil meniup terompet dan membawa beberapa balon dan bolu. “Sylmi!!! Anak umma udah sembuh,” ummaku langsung berlari mengahampiriku dan mau memeluku tapi aku menghindar sehingga ia terjatuh dan kepalanya terbentur lantai. “Sylmi! Kau ini kasian ummamu,” omel appaku sambil membantu ummaku berdiri.

“Sejak kapan kalian disitu?” tanyaku dengan emosi. “Kapan kalian pulang?” tanyaku lagi. Mereka saling menatap dan tersenyum lebar. “Hehe,” tawaku garing sambil menatap mereka kesal. “Aduh Sylmi mianhe…, appa dan umma dari awal mengurung diri di kamar.” Jelas umma padaku. “Jadi kalian selama ini…?” “Ya kami melihatmu bercanda dengan dokter dan melakukan hal sebagainya,” potong appa sambil tertawa lepas. “Hah?” aku hanya bisa terdiam dan menatap mereka aneh. Mereka begitu senang mengerjaiku. ‘Huh!’ keluhku dalam hati.

“Umma dan appa kapan pulang?” tanya Heechul oppa yang baru balik dari dapur. ‘bahkan anak tertua pun di tipu, ngek?’ batinku. “Hehehe, umma dan appa kan punya pesawat jet!” “Jadi cepat sampai!” balas mereka –umma dan appa- dengan watados. “Oppa mereka dari awal bersembunyi di kamar,” potongku membuka aib. “Hah? Jadi umma dan appa selama ini menipuku? Katanya cari uang…?” goda Heechul oppa.

“Uhm, hheeh, ketahuan… kita emang cari uang kok,” balas umma gugup. “Banyak anak banyak rezeki!” potong appa. Ini membuatku bingung, “Ohoooohooo aku mengerti maksudmu appa… hahaha.” Tawa Heechul oppa. “Memang apa sih? Aku gak ngerti?” keluhku bingung. “Umma dan appa bikin adik baru!” #ngek?

BRUUUKK!!!

Jantungku terhentak sesaat mendengar pernytaan umma dan suara yang keras dari luar. Seperti sapi yang jatuh dari langit (?). Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari keluar di susul dengan Heechul oppa dan Key umma lalu Jjong appa.

“Aduh aduh Jae.. ngapain kamu berbaring disitu?” kataku sambil bertolak pinggang menatap Jae tiarap di tanah yang jeblos membentuk badannya. “Syl, bantuin bangun dong… susdah nih,” keluh Jae hanya bisa menggerakan jari-jarinya saja. “Ah~” ku angkat badanya.

“Wah wah!!! Kau jatuh dari atas!! Lihat tanahnya membentuk badanmu hahaha,” tawa Heechul oppa entah dia khawatir atau mengejek. Sepertinya mengejek. “Omo! Omo!!! Lihat bentuk tanah yang eksotis ini umma!” “Ne, ne, kita tanami bunya yuk appa!” bincang umma dan appaku.

Aku tak mau ikut gila mengasingkan diriku dan duduk di teras melihat mereka bertiga –umma, appa dan Heechul oppa- menganggumi rembesnya tanah gara’’ bada Jae. “Kau sakit?” tanyaku padanya yang meringis. “Manurutmu… aduh…” ringisnya. “Kayaknya tidak,” godaku. “Jahat sekali kau, sakit tahu,” ringisnya lagi. “Kalau sakit aku harus gimana?” tanyaku pura-pura bodoh. “Yah cium aku lah,” aku mengerutkan alisku. “Jawabannya gak nyambung tau!!!” huh! Aku pukul kakinya. “Ah… nyeri babo!” ringisnya lagi.

“Kok bisa jatuh?” tanyaku. “Ah sudahlah, ini membuatku tambah sakit.” Ringisnya. Ia terus meringis. Aku menarik nafas pelan, dan chu! Ku layangkan bibirku ke bibirnya. “Kalau begini bagaimana?” tanyaku sambil menaruh tangaku di pinggang dan memiringkan kepalaku. “Kau suka padaku yah??” ‘yah ini anak malah menggoda,’ “Uhm, mau bohong atau jujur?” balasku asal. “Jujur!” jawabnya. “Tidak! Aku tidak menyukaimu… kekeke,” “ah!! Kalau gitu aku mau bohong ajah.. bohong!!” rengeknya. “Aku juga tidak menyukaimu,” jawabku bohong.

“Huh!” dia kembungkan pipinya. ‘ini aku yang perempuan atau dia sih?’ batinku. “Hmmphh..” aku mengendus kesal. “Kalau aku meminangmu bagaimana?” tanya tiba-tiba. “Bilang saja pada orang tuaku. Tuh lagi gila!” jawabku sambil terkekeh. “Umma! Appa!! aku mau menikahi anakmu bolehkah?” teriakknya. “SILAHKAN!!!” teriak umma dan appa yang sibuk menanam bibit bunga. “ANDWAE!!” teriakku. “Tidak bisa, aku sudah meminta izin dan kau harus menurut.” ucap Jae keras.

“Tidak mau!!! Tidak mau!!” keluhku.

+++

Author Pov

Sylmi yang lambat laun merubah hatinya dan menerima pinangan Jae sekarang sedang bergegas memakai gaun untuk pernikahanya. “Umma, tolong rapihkan rambutku.” ucap Sylmi sambil menatap dirinya di kaca dengan gaun cantik dan beberapa ruby disekitarnya. Sylmi yang sebenarnya sudah memendam perasaan lama kepada Jae, telah ia keluarkan. Dulu ia menolak Jae hanya menguji apakah dia setia atau akan mencari pengganti hidup yang lain. Tapi Jae begitu setia. Jae yang sudah lama tinggal di rumah Sylmi dan tidur sekamar walau beda kasur membuat Sylmi sudah nyaman bersamanya. Tapi entah rasanya perasaan Sylmi menjadi gusar.

“Umma, Appa apakah Jae belum datang?” tanyannya cemas. “Kau menghawatirkannya yah saengku…kekeke,” goda Heechul yang sedang berdandan di depan kaca. “Hum,” Sylmi malah mengendus kesal. ‘kemana dia? Menghilang terus,’ batin Sylmi.

“Sylmi!!! Mianhe!!!” dengan isakan dan tangisan yang lebeh appa masuk dan menggunakan gaun Sylmi sebagai tempat buang ingusnya. “Ada apa appa?” tanya Sylmi yang tidak memperdulikan gaunnya.

“Pernikahan mu batal nak, batal… huwaa T_T,” jelas appa sambil mengelap kembali ingusnya ke gaun Sylmi. “Kenapa appa kenapa?” tanya Sylmi cemas. “Ada apa dengan Jae?” tanya nya lagi. “Dia.. dia…”

Sylmi menatap polos bunga-bunga yang sudah tumbuh di tanah hempasan badan Jae yang terjadi berbulan bulan lalu. Ia tersenyum tipis melihat beberapa kupu-kupu yang menikmati bunga-bunga tersebut. “Kalian senang yah?” gumam Sylmi melihat hal itu. “Seandainya aku begitu.” Lanjut Sylmi saat melihat sepasang burung terbang bersama.

“Tapi itu tidak mungkin! Dia.. dia.. sudah..”

“Sylmi!!!!” suara nan keras itu menghancurkan tangisan yang baru di mulai Sylmi. “Apa Jae?” balas Sylmi pada teriakan itu. “Ambilkan aku minya oles!!! Pake sapu tangan ingat!! Penyakitku kambuh!!! Aku tidak sadar memegang bajumu,” Sylmi menghela nafas dan berjalan mengambil sapu tangan untuk mengambil apa yang di pinta calon nam pyeonnya itu.

Yah pernikahan Sylmi gagal gara-gara penyakitnya menular. Dan menyebabkan Jae terkena Alergi pada wanita. Itulah yang menyebabkan mereka tidak akan bisa bersama sampai alergi Jae sembuh.

“Sylmi!! Paliiiiiii!!!!” teriak Jae menggema, “Bentar!!!!” keluh Sylmi sambil berjalan menuju sumber suara.

FIN

*GIMANA?? MENGHIBUR??*

*MINTA KOMENTERNYA YAH!!!!*

*BONUS PICTURE DEH KALAU NIH FF GAK MENGHIBUR,*


Quasimodo : 1S : Straight

Posted on

Title : Quasimodo

Genre : *dengarkan saja lagunya*

Rating : PG

Type : Straight

Main Cast : Chikmi (YOU)

Support Cast : SHINee all member’s

Ket : Fanfiction ini lanjutan dari fanfic ‘ I Crying if you die because You save my life’

Credit Song : Quasimodo from SHINee

Cerita Sebelumnya : https://wearefanfictionkpop.wordpress.com/2011/01/05/i-crying-if-you-die-because-you-save-my-life-1s-straight/

 

N.B : FF ini lanjutan dari FF di atas. Memang One Shot dua-duanya tapi ini seperti buku 1 dan buku 2..

++Author Pov++

Baru saja di gemparkan oleh meninggalnya sang Leader tercinta yang telah bangkit kembali. Sekarang terdapat scandal dahsyat bahwa sang leader menyukai gadis di bawah umur. Gak di bawah umur juga sih. Tapi perbedaan umurnya 7 tahun. Hak ini terungkap saat kemarin di Reality Show ‘Strong Heart’. Pertanyaan yang tiba-tiba di acuhkan oleh sang MC dan di akhiri oleh tawa menyimpan skandal besar. Apakah hal ini akan terus berlanjut? Apakah SMEnt. Akan bertindak ? ini belum pasti kita lihat pengejarang para wartawan yang satu ini.

“Apakah benar anda menyukai gadis tersebut?”

“Bagaimana anda bisa mengungkapkan secara jujur dan entengnya?”

“Siapa gadis itu? Dan ada hubungan khusus kah?”

“Tinggal dimana dia?”

“Apakah kalian telah melakukan hubungan?”

Pertanyaan yang terakhir terdengar oleh sang Leader. Dia mengerutkan keningnya dan mendorong wartawan tersebut hingga terseungkur. Wartawan yang lain langsung mengabadikan kejadian yang amaat langka ini.

Para Bodyguard langsung mengamankan eksiden tersebut. Para member pun berjalan kembali di kawal ketat sampai mereka masuk kedalam mobil.

“Sudah sudah!!! Pulanglah…pulanglah..” seorang ajusshi keluar dari mobil tersebut dan menenangkan para wartawan yang semakin brutal.

“Tapi tuan.. kami hanya di beri waktu hari ini,” jelas salah satu wartawan dan wartawan yang lain meng ‘iyah’ kan nya.

“Kami berjanji akan mengadakan jumpa fans besok!” terang ajusshi itu. “Ah~” para wartawan mengeluh dan satu persatu pulang dengan wajah suram. “Kalian harus bertanggung jawab akan hal ini!” seorang namja mendekati ajusshi tersebut dan menunjukan luka darah di kepalanya. “Omoo!! Anda kenapa?” tanya ajusshi itu panic.

“Tanyakan saja pada Leader brengsek itu!” jelas namja tersebut dengan emosi. “Aduh.. aduh.. maafkan kami. Kami akan ganti rugi..” turut ajusshi tersebut.

BRAAK!!

“Jinki~sshi apa maksudnya kamu melukai wartawan tadi?!!” gebrak meja sang manager sambil bertanya dengan emosi kepada yang leader yang duduk santai sambil mendengarkanl lagu. “Kau itu LEADER!! KAU SUDAH MEMBUAT SKANDAL.. SEKARANG KAU MEMBUAT HAL YANG BISA MENJATUHKAN NAMA BAIKMU!!” bentak ajusshi itu lagi.

Sangking kesalnya. Akhinya sang leader dengan wajah baby face ini angkat bicara, “Ini nama baikku! Dan kau!! Siapa kau? Kau hanya manager! Ini nama baikku.. dan punyaku! Kau tidak punya HAK!!” ucap sang leader kasar. “HYUNG..!” “DIAM KAU KIBUM!!” belum sempat namja manis yang memiliki bibir seksi itu angkat bicara sudah di potong dengan bentakan yang keras dari sang leader.

“KAU L.E.A.D.E.R YANG TIDAK TAHU TERIMAKASIH!! AKU TIDAK MAU MENGURUSIMU LAGI!!” dengan kemarahan yang terus menjadi-jadi ajusshi itu angkat kaki dan pergi dengan emosi yang tinggi. “Ajusshi..” panggil lembut namja kecil yang berlari menyusul ajusshi tersebut. “TAEMIN! Hentikan langkahmu atau akan aku keluarkan kau dari group!” ancam namja yang barusan adu mulut dengan ajusshi tadi. “Kau ini..” PLAK!! Tamparan keras di terima oleh namja yang di kerap dipanggil Jinki oleh dongsaengnya. “SADAR HYUNG!!! SADAR!!!”

“Cukup! Key..*bow* jeongmal mianhe,” lirihnya sambil terus menunduk. “Maaf.. aku emosi,” namja tersebut terus menundukkan badanya. “Tunggulah disini aku akan mengjar ajusshi dulu,” lirihnya lagi sambil berlari keluar.

“Apakah ini akan terus berlanjut?” gumam namja manis dengan bibir seksi itu.

5 menit…

7 menit…

10 menit…

“Hyung.. apakah Onew hyung akan baik baik saja?” tanya namja kecil dengan wajah cemasnya. Namja tinggi yang dari tadi menonton TV hanya menatap namja kecil itu sambil tersenyum lembut, “Tenanglah..” lanjutnya sambil mengacak pelan rambut namja kecil tersebut.

47 menit…

“Kemana sih dia?” gumam namja dengan wajah Barbie bolek balik di depan pintu sambil lima menit sekali ia melihat jam tangannya. “Key.. belum tidur? Huamm” nama bertubuh pendek mendekatinya dan bertanya.

“Uhm, kalau aku tidur siapa yang akan membukakan pintu?” keluh Key yang di barengi oleh satu ‘uap’an. “Tidurlah.. aku yang akan berjaga.” Namja bertubuh pendek itu pun menawari bantuan, dan membuat namja berwajah Barbie itu mengembangkan senyumnya. “Gomawo..”

“Aisshh.. silau” wajah Barbie tidak menandakan ia lemat lembut. Buktinya ia bangun terpagi dari semuanya dan sedang membuka beberapa gorden agar cahaya masuk. ‘apakah Onew hyung sudah pulang?’ batinya sambil berjalan kearah pintu. Di dapati di sana namja yang ia temui semalam masih tertidur nyenyak di sofa dengan kain tipis menjadi selimutnya. ‘dia ketiduran, apakah Onew terkurung di luar?’ ku buka pintu dorm dan melihat kesekeliling tapi tidak mendapati apapun.

“Kemana dia?” keluhku kesal. Ku tutup pintu dengan wajah kesal. ‘Hahahaha’ tawa kecil terdengar dari luar. “Suara itu?!” dengan sigap namja tersebut membuka pintu kembali. “Omoo! Omo!!”

++Jinki Pov++

“Jadi dia akan tinggal disini?” ucap Key dengan wajah sedikit kesal. “Ne, tolonglah..” pintaku dengan wajah innocent. “Uhm, kau sudah bilang ke manager?” tanya Key lagi. “Dia yang minta agar yeoja ini tinggal disini. Karena kalau ia bertemu wartawan… akan lebih gawat!” jelas ku.

“Huh! Kau sudah bawa masalah. Sekarang tinggal disini? Aku tidak akan meladenimu!” umpat Key kesal dan balik kekamar. “Bagaimana?” tanyaku berusaha pada member yang lain. “Terserah hyung..” Minho menjawab sambil tersenyum. Aku mengarahkan wajahku pada Jonghyun, “Silahkan saja.” Lanjut Jonghyun. “Taemin?” Taemin hanya mengangguk mantap. ‘hufh, hanya Key yang sulit menerimanya..’

“Oppa..” terdengar lirih kecil suara manis dari belakang. “Ada apa Chikmi?” wajahnya yang terlihat tidak enak hati itu membuatku bersalah. “Lebih baik aku pulang saja kenegaraku oppa, hum.. aku tidak enak dengan Key oppa,” “JANGAN PANGGIL AKU OPPA! AKU BUKAN OPPA MU!!” belum sempat aku menenangkanya suara teriakan Key yang terdengar kesal terdengar amat keras dan menyakitkan. “Oppa.. sudahlah, lebih baik aku pulang..” “YA! ITU LEBIH BAIK!!” teriak Key lagi. Yeoja manis itu hanya tersenyum dan mengambil kopernya. “Chikmi.. tunggulah sebentar. Aku akan membujuknya,” cegahku.

‘Aiissshhh.. Key.. kenapa kau menjengkelkan sekali.’ batinku. “Hyung? Dia sudah pergi?” tanya Key saat aku sudah berada di kamar. “Tidak! Andwae! Dia tidak akan pergi..” terangku. “Cih!” jelas Key terlihat semakin kesal. “Terserah mu hyung.. pokoknya aku tidak mau mengurusi dia!”

++Kibum Pov++

‘Apa apaan ini? Gila! Yeoja yang membuat skandal dan bisa merusak nama baik tinggal disini? Sebenarnya mereka nyadar gak sih?’ pikirku sambil mengendus kesal.“Disini dia tidur dimana??” tanyaku kesal. “Dikasurmu yang berwarna pink itu..” “Mwo! ANIYO!!!” “Hyung.. tenanglah, dia akan tidur di sofa kok.” Dengan cepat Taemin menenangkan sesaat hatiku yang mau meledak ini. ‘Awas saja kalau dia tidur disini..’

++Chikmi Pov++

Ya Tuhan.. apakah ini baik? Aku sudah terlalu membuat masalah. Ingin sekali aku pergi tapi oppa selalu mencegahku. Aku sih mau-mau saja tingga di sini.. Senang sekali malah. Karena tinggal serumah dengan idola yang aku sayangi. Tapi, tak kusangka Key oppa sebegitu bencinya akan diriku. Mengapa aku tidak bertemu Key saja di Bandara.. Hufh, meluluhkan hati Key oppa kan susah sekali.

++Jinki Pov++

“Chikmi.. chikmii?” ku goyangkan telapak tanganku di depan matanya tapi tidak merespon, “CHIKMI!” hentakku. “Oh ne? apa oppa?” dia sadar tapi aku rasa ada yang aneh. Tatapannya kosong. ‘apa iya terlalu keras berpikir tentang Key?’ “Chikmi? Kau baik-baik saja?” ku tepuk pundaknya sesaat. “Uhm.. oppa? Apa?” sesaat ia mengarahkan tanganya kedepan seperti mencari sesuatu, tatapnya kosong. Apakah ia tidak melihatku?

“Chikmi?” ku balikan tubuhnya mengahadapku. “Oppa?” tanyanya dengan wajah tersenyum tapi tatapanya masih kosong. ‘Omo! Apa yang terjadi padanya.. mengapa ia mendadak begini.’ “Kau sakit?” tanyaku memastikan. Ku lihat ia seperti tersengat sesaat, “Oppa! Tidak.. sang tidak sakit kok. Tenanglah..” tatapnya kembali. Senyum hampanya yang tadi berbubah menjadi penuh arti. ‘Mungkin tadi perasaanku saja.’

“Chikmi!! Main yuk!!” teriakan Minho membuyarkan lamunanku. “Ne oppa..” jawabnya pelan. “Oppa aku ke Minho oppa dulu yah,” ucapnya sambil tersenyum tipis. “Ne,” jawabku singkat.

++Kibum Pov++

“Hah!” desisku. ‘Pura-pura aneh.. dasar! Udah gak tau malu sekarang cari perhatian yang gak jelas lagi.. Berani amat dia? Jangan-jangan..’ “HYUNG!! ONDUBU!!” panggilku keras. “Bagaimana? Kau sudah mau menerimanya..” “Aisshh aku memanggilmu bukan untuk itu. Aku mau nanya kau menemukan dia dimana?” hebusan nafas kecewa terdengar sedetik sebelum ia menjawab. “Dia punya nama Key.. namanya Chikmi dan  kau jangan menganggap dia seperti barang buangan,”  keluhnya pelan. “Ya siapa tadi? Chicken? Kitchen? Siapalah itu.. Chik chik.. dia stalker kali! Atau jangan-jangan AF!! Dia mau menghancurkan kita.. sadar hyung!! Sadar..” “KAU YANG HARUSNYA SADAR!!! KAU SEENAKNYA MENDUDUH DIA YANG TIDAK-TIDAK!! Ini bukan Key yang aku kenal..” lirih ucapnya membuat hatiku ini langsung tertekan.

++Jinki Pov++

“KAU YANG HARUSNYA SADAR!!” bentakku. ‘ada apa dengan Key? Dia sangat aneh,’ “KAU CEMBURU?” tanyaku melanjutkan. Dia masih terdiam. “Pikirkan itu baik-baik. Kalau kau tidak mau berubah. Aku yang akan berubah.. aku akan mengusirnya seperti kehendakmu! Dan jangan berharap setelah aku berubah aku sama seperti sekarang.” Lanjutku lagi sambil meninggalkan dia yang masih terdiam membeku.

Ku berjalan kearah ruang TV. KU lihat Chikmi dengan wajah riang asyik bermain Playstation dengan Minho dan Jonghyun. “Gantian!!! Akuen..” ucapnya semangat. “Aiisshhh.. aku dulu!!” rebut Jonghyun mengambil stick dari tangannya. “Ahh~ oppa,..” rengeknya. Aku hanya tertawa kecil.

++Minho Pov++

“Omo! Perempuan apakah kamu?” celetusku sambil terus memainkan permainan ‘One Piece’. “Aku perempuan biasa.. hahaha” tawanya kecil sambil terus juga bermain. Kulihat jari-jarinya yang lincah menekan tombol-tombol yang berada di stick. ‘Omoo..’ batinku. “Jurus!!” teriaknya di tahan. Ku sadari sesaat melihat ke TV dia melayangkan jurusnya padaku. “Omo!! Bagaimana bisa? Kau..” ku tatap wajahnya yang hanya tersenyum kemenangan. “Ajari aku!” pintaku memohon. “Oppa masa tidak tahu. Tekan tombol start lalu klik yang paling atas.. nah di ditu jurus-jurusnya.” Jelasnya panjang lebar. “Mwo? Bagaimana kau tahu..” tanyaku kagum. “Hahaha.. raja game di SHINee kalah sama seorang yeoja.. hahaha”  tawa Jonghyun hyung meledak melihat tingkahku. “Biarin!!” balasku sambil cemetut.

“Aku belajar sendiri kok, aku kan selalu main PS kalau di rumah.” Jawabnya manis. ‘Aigoo!! Pantas saja Onew hyung mempertahankan yeoja ini. Dia memang manis dengan senyum mengembang di wajahnya.’ “Chikmi!! Kesini lah..” suara Taemin membuyarkan lamunanku yang sendari tadi tak sadar menatapnya. “Oppa aku ke Taemin oppa dulu yah, nanti kita lanjutkan! Hehehe.. ”

++Taemin Pov++

“Hei!” ucapku tiba-tiba saat dia berada di depanku. Dia hanya tersenyum melihatku bertingkah aneh. ‘omo.. aku salah tingkah? Atau dia?’ “Kau baik-baik saja oppa?”tanyanya dengan wajahnya sedikit menengok kearah benda yang aku pegang di belakang.

“Kau baca apa oppa? Komik? Komik dewasa?” lanjutnya lagi. ‘Mwo? Bagaimana dia tahu?’ “Uhm euhmm.. tidak.. hanya komik biasa,” jelasku sedikit tergagap. “Ohahah.. kirain komik NC,” ucapnya tertawa kecil. “NC? Apa itu?” tanyaku yang babo ini. “Not Children.. Rating untuk FF. tapi aku pake kesemuanya. Foto, Komik, Novel..” jelasnya dengan masih mengintip intip komik yang aku pegang.

“Kau sering bikin Fan Fiction?” tanyaku  yang langsung refleks senang dan melepaskan benda yang aku pegang. “Hahahah. .. komik NC tah.. dasar oppa?” aku mengambilnya dengan malu-malu dan menyumputkannya di bawah piring di belakangku. “Ssssttt jangan beritahu Fans yah..” ucapku memohon. “Heheh..tentu.. hhehe” tawanya yang kecil masih terus berlanjut.

“Oh iya.. lanjutkan yang tadi. Dan lupakan yang..” “Tunggu oppa.. hahaha,, aku masih ingin ketawa.. hahha.. hahha…” tawanya benar-benar terus berlanjut. “Tung.. hahaha.. tunggu yah oppa…” dia memegangi perutnya yang tidak sakit itu sepanjang ketawa. “Hhaha. Huf.. huff..” “Tarik nafas… pelan-pelan keluarkan..” ucapku refleks. “Huf… tenan Chikmi tenang.. huf….. hahahhaha” ‘Omo! baru saja dua detik tenang dia ketawa lagi. Sepertinya dia tidak bisa menahan tawanya.. dasar,’

“Aduh!” ucapnya ambruk. “Makanya jangan ketawa terus,” ledekku. Tapi ia tidak bangun-bangun hanya terbaring lemas dengan tatapan kosong di matanya. “Chikmi kau baik-baik saja?” tanyaku kawatir. Ia tidak merespon, yang dia lakukan hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. “Chikmi?” tanyaku lagi sedikit menggoyangkan tubuhnya. ‘aduh.. apa yang harus aku lakukan? Aku bisa kena marah Onew hyung..membayangkan amarah nya yang seperti monster..ah!! ayolah!!’ aku hanya bisa menggigit bibir. ‘Taemin bukan saatnya takut dimarahi. Kau harus menolongnya!’ “Hy..”

“Oppa.. huf.. tolong jangan panggil siapa-siapa.. huffhh.. tenang aku .. bisa..!” dia terus membungkam mulutku dan mencoba memegang meja untuk bangkit. “Chikmi,” popongku menaruh tanganya di pundakku. “Lepaskan aku oppa..” lirihnya kecil. AKu hanya menurutinya. Ia mengeleng-gelengkan kepalanya mencari kesadaran. “Nah! Sampai dimana tadi?” tanyanya dengan wjaha berseri kembali.

“Omo.. kau membuat ini untuk Kibum hyung?” dia mengangguk pelan sambil tersenyum. Mengapa “ *Fanfiction Marry Die by Han Sang Ra* ‘Hyenim dan Kibum oppa harus mati.. ini terlalu mengharukan. Apakah ada yang Minho hyung?” tanyaku lagi setelah membaca Fanfiction pertama. “Ada! Tunggu yah oppa aku cari dulu..” ucapnya. Ia mengotak ngatik laptopnya lalu. “Nih oppa!” lanjutnya. ‘omo aku baru sadar dari tadi aku memperhatikanya.’ “Ne1 aku baca dulu yah..”

“Kau membuatnya begitu sedih saeng.. huwaa!! Untuk saja dia kembali bersama Eeteuk! Minho oppa baik juga, *Fanfiction I’m Your FBI by Han Sang Ra*” dia tersenyum kembali mendengar komentarku. “Aku mau lihat yang lain!!” ucapku semangat. ‘Membaca fanfictionnya membutaku dekat dengannya.. aku senang…aisshh Taemin ada apa denganmu?’ “Nih oppa!” ucapnya membuyarkan semuanya. “Oh! Ne ne ne..” jawabku asal.

“Kasian Via! Apa ini? Kenapa para Angle berubah menjadi sejahat ini saat Queen of the Lucifer kembali. *Fanfiction My King is My.. by Han Sang Ra*Omo! Aku mengeluarkan air mata lagi..” “Aku senang ada yang menangisi FF ku,” celetunya tiba-tiba. “Aku mau.. aku mau baca yang lain..” lanjutku lagi.

“Aduh! Akhirnya ngegantung saeng..*Fanfiction Picture of You by Han Sang Ra* aku sembuh tapi kenapa Onew hyung meninggal? Ini sedih.. kasian Taeyeon noona.. kau pintar membuat yang sedih.. apakah ada yang kau jadi tokoh utama?” tanyaku penasaran. “Hehehe” cengirnya mengembang. “Aku lupa oppa.. yang aku ingat aku bikinnya Yaoi, hehehe” aku tersentak sedikit. “Mwo! Kau bikin Yaoi! Ternyata.. Jangan-jangan kau sudah baca…” “Hhehe iya oppa, aku udah sering baca yang NC!!” aku tersentak lagi. “Kau lebih muda.. tapi nyalimu..” dia hanya cengingisan mendengarku. “Hei ada apa ini?” Tiba-tiba Jonghyun hyung datang dan mengagetkanku.

++Jonghyun hyung++

‘asyiikk sekali mereka. Mengotak-ngatik laptop memangnya ada apa si? Taemin sampai nangis segala..’ ku dekati mereka. “Hei ada apa ini?” tepukku pada pundak Taemin pelan. “HAAAA!!! Hyung! Aku kaget!!” celoteh Taemin. Aku hanya mengerutkan kening tanda heran.

“Kalian lagi apa sih?” tanyaku melihat laptop yang masih terpajang dengan tulisan bagai cerita. “Baca FF hyung..” jawab Taemin. “FF? ada tentang aku tidak??” ku lihat Chikmi mengangguk. “Ada ada.. awas Taemin!!!” ku dorong Taemin dari kursi hingga ia terjatuh kebawah dan merintih. “Mwo!! Aku Lucifer? Wah!! Baca! Baca!!”

++Kibum Pov++

“Cih! Cepat banget ia menarik perhatian.. dasar perempuan.” Ku baringkan diriku di kasur sambil menatap langit langit. “Tapia pa yang mereka lakukan di depan laptopnya yah?” penasanku menjadi-jadi melihat kembali Minho bergabung dan menangis lalu tertawa. “Ada apasih di laptop itu? Jangan-jangan menghipnotis! Omo.. omoo..” gumamku pelan.

“Aisshh.. Kibum kenapa kau tidak bisa tidur! Lihat jam sudah jam 11 malam.” Keluhku pelan. Kulihat ke bawah member yang lain sudah pada tidur. “Mengapa mereka bisa nyenya? Sial!” keluhku lagi. Kruyyuuukk!! “Aduh lapar lagi. Pantas saja aku sulit tidur.” Ku bangunkan badanku dan berjalan kedapur.

Ku lihat yeoja tadi tertidur lemas di depan Laptop yang masih menyala. “Omo! Apa yang ia lakukan. Itu tidak baik untuk badanya..” omelku sendiri. “Bagiamana memindahkanya?” tanyaku pada diri sendiri. Dan tidak sengaja pandanganku mengarah kearah laptopnya, ‘apakah ini yang membuat mereka menangis dan tertawa’ batinku. Ku curi pelan mouse yang ia gunakan sebagai bantal. Ku baca salah satu karyanya yang ‘aku’ menjadi tokoh utama.

“Aisshhh.. pantas saja. Dia terlalu membuatnya.. ah~ kenapa air mata ini. Berhenti berhenti!!!” ucapku agak kencang. Tapi ini membuat air mataku terus jatuh. ‘cuci muka cuci muka..’ pikirku langsung lari ke dapur.

Pletak! Diriku segar dari kamar mandi langsung diam membatu mendengar suara yang aneh dari dapur. “Omo! Siapakah itu?” tanyaaku pelan dengan nada sedikit ragu campur ketakutan. “Oppa? Kau kah itu..” suara manis dan lembut menjawab pertanyaanku. ‘Apakah dia yeoja itu’ pikirku bingung. Kulihat di meja memang tidak ada dia. ‘Uhm bearti itu dia. Tapi mengapa dia…’ ku dekati dia yang seperti orang linglung di dapur. Dia meraba-raba tempat cuci untuk mencari gelas. Ia memegangnya dengan hati hati dan menaruhnya sangat pelan seperti orang yang tidak bisa melihat. “Hei! Kau kenapa?” tanyaku penasaran “Key op..” “Susssuuuttssuuutt.. jangan paggil aku oppa! Ingat itu!” “Uhm.. Key~ssi..” uacapnya dengan wajah tersenyum menengok kearahku tapi tidak memandangku.

Sekarang dia menuang air dengan perlahan. “Eitttsss kau bisa menuang tidak! Tumpah tau..” ucapku sambil merebut botol minuman dari tanganya dan menungkan untuknya. “Nih! Aku menuangkannya untumu karena aku takut nanti pecah janga berharap yang tidak-tidak..” ucapku. “Ne opp… eh Key ~ssi” dia berjalan pelan melwatiku. Ia mengerahkan salah satu tanganya kedapan untuk menetukan arah. ‘ada apa dengan yeoja itu sih?’

++Chikmi Pov++

Ya Tuhan.. janganlah ka uterus kambuhkan itu. Aku memohon sampai aku pulang. aku sehat! Aku ingin melewati hari-hariku bersama mereka dengan tawa dan canda. Aku tidak mau mereka kawatir Ya Tuhan.

++Jinki Pov++

“Chikmi!!” teriakku manja sambil mendekapnya dari belakang. “Omo! Oppa.. jangan lakukan ini. Aku tidak enak!! Aku masih kecil oppa..” keluhnya. “Tapi kau tinggi!! Jadi kau enak mendekapmu..” jawabku asal. “Onew hyung!! Jangan begitu nanti Key hyung marah lagi.” Jelas Minho yang lewat dan melihatku.

“Biarkan saja. Aku ingin melakukan ini terus.. entah mengapa aku merasa kana rindu sekali akan dirinya..” terangku. “Apakah Chikmi akan pergi?” tanya Taemin tiba-tiba datang. “Paling nanti aku pulang oppa,” jawab Chikmi pelan sambil tersenyum berat . “Andwae! Aku tidak akan mengijinkanmu pulang!!” lanjut Minho dengan tegas. Senyum berat yang terpancar di wajahnya membuatku merasa ganjal.

“Saeng jalan-jalan yuk!” ku rangkul tanganya dan membawanya pergi dengan penyamaran yang sempurna. “Mau kemana oppa?” tanya nya sambil terpogoh pogoh karena ku tarik dengan sedikit memaksa. “Ayo kita beli kenangan!” jawabku. “Kenangan apa..” sebelum ia meneruskan komentarnya aku menariknya kembali. “Oppa!! Berhenti sejenak!!”  ucapnya. “Ada apa? Kau cape? Mau istirahat dulu?” tanyaku cemas. Melihat keringat yang sudah mulai mengucur di pelipisnya. “Tidak. Aku hanya ingin menyoba telepon umum itu.”ucapnya menunjuk telepon umum kotak merah yang berada di dekat taman.

“Boleh! Kalau begitu!! Kau disini dan aku disina!” ajaku. “Aku meneleponmu yah!!” lanjutku lagi. “Aniyo!! Aku yang menelepon oppa..” rengeknya manja. Ya sudah aku turuti. 1 menit.. 1 menit lebih.. “Saeng? Kau tidak menelepon!!!” teriakku dari seberang. “Sudah oppa!! Rusak kali..” jelasnya. “Uhm, ya sudah lain kali saja. Ayo kita jalan-jalan lagi..”

++Minho Pov++

“Omo!! Wah boneka beruang yang besar sekali…” ucapku melihat Onew hyung dan Chikmi membawa pulang beberapa cemilan dan satu boneka beruang. “Oppa! Aku beli kaset baru!!” teriak Chikmi langsung menghampiriku. “Wah! Besok kita main yah!!” ucapku senang. ‘ternyata ada pecinta game juga selain aku.. aku terharu..’ batinku.

++Kibum Pov++

“Aiisshhh.. buat apa Onew membelikan benda tersebut. Hah!” dercakku kesal. ‘gara-gara yeoja itu aku sulit berinteraksi dengan member yang lain. Mereka sibuk terus..’ keluhku dalam hati.

“Key~ssi kau tidak mau ikut makan malam?” ku lihat sebuah kepala keluar dari balik pintu mengintip sedikit. “AKU BISA MAKAN SENDIRI!!! UDAH SANA!!! AKU MUAK MELIHATMU!!!” bentaku kesal. ‘beraninya dia menawariku! Cih..’ batinku. “Hm, ya sudah kami duluan..” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Kruuyuuukk!! Kruuyyuukk!! “Omo.. mengapa perut ini, ah~” ku bangkitkan badanku dari tempat tidur. Turun dengan sangat pelan ke bawah agar yang lain tidak terbangun. Krruuuyyukk!! “Ssstt… diamlah perut,” gumamku pelan.

Perlahan ku buka pintu dan keluar dengan berjinjit pelan. “Aduh apakah masih ada makanan di dapur?” tanyaku sendiri. “Uhm,” dehamku. ‘dia selau saja tidur di meja. Dasar yeoja aneh. Sudah tahu ada sofa.. huh!’ keluhku sendiri. ‘memangnya dia nulis apasih setiap malam?’ ku urungkan diriku mengambil makanan. Ku lihat isi dari ketikannya.

Hari ini menyenangkan sekali ya Tuhan…

Berjalan bersama dengan namja yang selama ini aku sukai. Aku sayangi..

Onew oppa. Begitu indah hariku. Aku ingin ini terulang. Walau mengulang dengan hanya begitu saja aku senang! Sangat!

Tapi.. aku tidak bisa…

Yah, aku bukan mau pulang tapi… Uhm, aku mengi..

“nggghhh..” erangnya dalam tidur mengagetkanku. “oppa! Eh maksudku Key~ssi..” ucapnya tergagap langsung meng ‘close’ MS. Wordnya. “ya! Mengapa kau tidur disini menganggu tau.. tidurlah di sofa,” jawabku tergagap juga, ‘mengapa aku menyuruhnya pindah?’ “mmmppphh.. baiklah,” ucapnya pelan dan membawa laptopnya menuju sofa, “Eeeeiiittss…” ku tarik satu tanganya saat ia berbalik.

“Bikinkan aku makanan. Aku lapar..” pintaku. ‘ya sekali-kali gak papa kan,’ “mmpphh.. lepaskan aku Key~ssi. Aku akan membuatkannya..” rintihnya pelan . “ooppss” ucapku kecil. ‘apa aku memegangnya terlalu keras?’

Ku berjalan pelan mengikutinya dari belakang menuju dapur. Lalu aku duduk dikursi depan meja makan. Dia mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas. “mmppp” hirupku mencium bau yang sangat sedap. “Nih oppa makan yah..” ku lihat dia menaruh makanan tepat di depanku dengan tersenyum dan mata terpejam. Lalu ia berjalan guntai ke bangku meja di paling ujung dan duduk. Bluk! ‘apakah dia tidur? Ya sudahlah.. yang penting aku makan.’

Kembali kucium aroma yang begitu sedap ini. “Harum sekali… Aaaa!” Hap! Satu santapan besar masuk ke dalam mulutku. “mmpphhh… masakannya enak juga. Untuk seumurannyaa,” lanjutku lagi. ‘apa itu Kibum? Kau memujinya.. aiisishhh refleks itu refleks..’ setelah beberapa menit berlalu selesai lah makanku. “cuci cuci..” nyanyiku saat mencuci piring. “Tunggu! Tadi dia memanggilku ‘oppa’?” ku balikan badanku dan menatapnya sinis. ‘ah biarkan deh. Yang penting aku kenyang.. tapi jangan sampai terulang lagi.’ Batinku sambil berjalan ke kamar dan tidur kembali.

++Jonghyun Pov++

“Huaacchii!! Huaacchhii!! Aduh…” lirihku lemas sambil mengelap hidungku yang terasa gatal. “Kau sakit oppa?” tanya Chikmi tiba-tiba. “Uhm… tid..Huaacchhiii!!!” ku sembur padanya. “aduh.. aduh.. mainhe saeng.. mia Huacchhiii!!..” bersinku lagi. “Tidak apa-apa oppa.” Ucapnya lembut sambil mengelap wajahnya.

“Ya Jonghyun hyung! Kau sakit? Kalau begitu aku akan bilang ke manager.” Minho yang tiba-tiba datang. “Uhmm.. ya gomawo^^~” balasku. “Ya!” baru saja aku ingin ikut mengelap wajah Chikmi, Minho langsung menariknya. “Hei.. mau kau apakan dia?” omel Onew hyung yang lewat sambil mendengarkan musik. “Aniyo!!! Aku mau mengajaknya jalan-jalan.. gentian yah hyung!!” rengek Minho pada Onew. Onew pun terdiam. “Ne, tapi jangan berbuat apa-apa padanya!” jawab Onew. ‘aisshhh mengapa aku harus sakit begini? Aku juga ingin gentian mengajak yeoja ini jalan-jalan..’ cibirku kesal.

++Minho Pov++

“Nih!” ku sodorkan kue hangat padanya. “cuaca sekarang dingin yah oppa..” kataknya lembut sambil menerima kuehku. “uhm aku juga berpikir begitu.” Jawabku menanggapinya.

“kau suk..” “oppa lihat ada sepedah! Main yuk!” ucapnya yang berdiri dan mengarahkan tanganya. Ku ikuti arah tersebut dan mendapati sepedah tua tergeletak begitu saja di taman. “um.. boleh, aku ambil dulu.”

‘sepeda siapa ini?’ ku berdirikan sepedah tersebut, “hello!! Apa ada pemilih sepedah ini?” teriakku. Tapi tidak ada yang menjawabnya. ‘ya sudah’ aku menggeret sepedah itu mendekati Chikmi. “ayo naik!” ajakku saat aku sudah nyaman duduk di depan. “ne”

“hyaa…!!!” teriakku menambah kecepatan dengan goesan yang kuat dan berkali-kali. “omo!! Oppa pelan-pelan.. awas nabrak!” ucapnya sambil sedikit memukul punggungku dari belakang. “kalau begitu peganganlah..” ucapku sambil melepas tangan dari stang dan mengaitkan kedua tangan Chikmi ke pinggangku. “bersiaplah!!!” ucapku sambil menggoes kembali.

“Kami Pulang!!!” teriakku sambil membua pintu dengan paksa. “omo! Ap itu saeng?” tanya Taemin yang tiba-tiba datang dan menghampiri  Chikmi. “aku bawakan syal buat oppa. Nih,” ia menyodorkan satu syal berwarna hijau kepada Taemin. “gomawo saeng..” ku lihat dalam sedetik tapi mengesalkan Taemin mengecup tipis pipi Chikmi. “TAEMIN!!!!!” teriakku kencang yang tidak sengaja di barengi teriakn Jonghyun dan Onew hyung.

++Taemin Pov++

“gomawo saeng…” bisikku tipis di telinganya dan tidak bisa menahan melihat pipinya yang chubby itu ku kecup tipis disana. “TAEMIN!!!” “huwaa.. mianhe hyung mianhe..” *bow* ucapku mengerti maksud mereka. “mianhe hyung..” ucapku pelan sambil menarik tangan Chikmi keluar. “Hei!!!” teriak Onew hyung masih terdengar walau sudah jauh dari dorm.

++Chikmi Pov++

“Aisshh oppa jangan menariknya terlalu kencang. Sakit..” rintihku. Sebenarnya Taemin tidak melakukan ini, peganganya juga tidak kuat. Hanya saja bekas kemarin malam dengan Key oppa ini terasa sakit. “Omo! Tanganmu biru saeng,.. aduh maaf maaf..” Taemin oppa panic. “Sudahlah oppa, ini tidak terlalu sakit sekarang. Uhm.. kenapa oppa mengajakku kemari?” ucapku mengalihkan pembicaraan. Ku lihat sekelilingku ini taman yang aku temui setiap jalan-jalanya. Bersama Onew oppa maupun Minho oppa. Dan sekarang dengan Taemin oppa.

“Uhm.. tidak tahu tadi aku hanya menghindari amukan hyung, hehehe” jawabnya dengan tawa kecil di akhir. “Kalau begitu kita duduk yuk! Aku cape oppa..” terangku sambil memegangi kakiku yang gemetar kecil. “Kalau begitu kau duduk disini. Aku akan carikan makanan hangat serta minuman,” Taemin oppa memegang pundaku dan menyuruhku duduk. Ku lihat dia yang berlari menjauh, ‘umh’ gumamku pelan.

“aisshhh.. salju turun lagi. Ah~” ku gesekan kedua telapak tanganku agar menimbulkan kehangatan di sana sesekali aku meniupnya. Ku pejamkan mataku sesaat merasakan dinginya malam bercampur salju. ‘iiihhh..’ gumamku lagi. “mwo! Aih! Mengapa menyakit ini harus kambuh..” dercakku kesal. Ku mainkan tanganku seperti meraba-meraba di depan. “ayolah!! Aku ingin melihat!!” keluhku lagi. Bap! Bap! Ku rasakan telapak tanganku memegang sesuatu.

“Kau tidak apa-apa?” ku kerjap kan mataku dan mencari sumber suara tampa melihatnya. “Oppa?” tanyaku gelap. “Ne~ nih makanan dan minumannya.” Dengan perlahan penglihatan dan warna dalam mataku kembali. “Kau aneh Chikmi.. tadi seakan kau tidak melihatku,” Degh! ‘apakah Taemin oppa menyadarinya?’ “Oh hmm uhmm,. hehhe” jawabku tergagap. “Uhm.. huff huff..” di lanjutkan kembali gesekan di tanganku.

“Kau kedinginan?” ku rasakan Taemin oppa melingkarkan syalnya di leherku. “gomawo oppa.” Balasku dengan kata sambil tersenyum. “Kursi dan lampu ini akan menjadi kenangan baikku dari sekarang…” gumam oppa pelan. Aku menatapnya heran, “karena aku disini bersamamu!” lanjutnya lagi.

++Kibum Pov++

“Mana Taemin?” tanyaku melihat tiga namja yang lemas terduduk di sofa. ‘dia.. dia mengambil pipi kiri Chikmi’ ‘dia mengecup mengecup’ ‘ah mengap mengapa!!’ sesekali aku dengan gumaman mereka yang gila. ‘siapa yang mereka maksud?’ tanyaku pada batinku. “Hei mana Taemin?” aku melanjutkan topic awal.

“Aku Pulang!!!” hentakan besar di terima pintu dan kulihat orang yang kucari datang bersama yeoja kecil.

++Kibum Pov++

“Mwo! Ani ani.. kau tidak bisa melakukan itu Onew! Ani ani..” keluhku lemas. “Key.. kami sibuk. Dengan dia saja.” Lirih Onew yang sedang asyik membaca beberapa script. “Tapi hyung..” aku memelas tapi tidak ada hasil. Nihil!

“Uhm.. ya sudah. Heh KAU CEPAT IKUT AKU BERBELANJA!!” teriakku sambil menunjuk-nunjuk kearahnya tanpa melihat. “Ne,” suara tipis jawabnya.

“AYO TEMANI AKU KE TOKO BAJU!!” pintaku dengan nada tidak mengharap dia mau. Dia mengangguk pelan. “AISSH!! JAGA JARAKMU!” teriakku lagi sambil mendorong pelan tubuhnya kesamping. “mianhe Key~ssi” lirihnya.

“ADUH!!! ADA BAJU BARU!!!” ku ambil baju namja yang sedang berdiskon besar itu dan aku pakaai keruang ganti. Aku menatap kearah Chikmi yang melihat-lihat baju dan hanya menatap dan mengelusnya. “um..”

“HEH! BAGAIMANA?” tanyaku dengan suara kencang dan menatap diriku sendiri di cermin dengan sedikit bergaya. “Kau cocok memakai itu opp.. Key ~ssi” jawabnya pelan. “Um! Kalau begitu aku ambil yang ini!!” teriakku pada tukang kasir. Lalu aku berjalan keliling mencari baju kembali. “Omoo.. baju yeoja ini indah sekali. Akan aku belikan untuk Chikmi pasti ia cocok memakainya.” Gumamku senang. “Eiittss.. tunggu tunggu buat apa coba?” aku menghentikan niatku dan melirik kesekeliling. Tampak Chikmi hanya duduk terdiam di dekat kasir. ‘hufufhh untung dia tidak mendengarnya. Tapi..’

“AYO KITA MAKAN!!! LAPAR!!” ucapku padanya. “Ne~” jawabnya parau dengan suara sedikit serak. “Tunggu tunggu tunggu!!” ku hentikan langkahku tiba-tiba. “AKU INGIN MELIHAT BUNGA DULU!!” terangku sambil menarik tanganya masuk kedalam. “omoo bunga ini harum sekali.. putih dan bersih lagi. Ini cocok dengannya kayaknya,” “mba apa nama bunga ini?” tanyaku melihat salah satu penjaga toko. “gardenia,”

jawabnya pelan. ‘wah namanya indah! Ini cocok sekali dengan Chikmi!’ batinku.

“KAU MAU BELI BUNGA?” tanyaku keras memandanginya yang dari tadi hanya meraba beberapa bunga dan menciumnya lembut. “opp..maksudku Key~ssi mau membelikannya?” tanya dengan gugup. “Ne! cepat aku lagi berbaik hati nih..” jawabku asal. ‘entah mengapa untuk kali ini aku ingin mengenalnya lebih dalam’ dia melihat lihat sesaat dan “aku mau yang ini!” tunjukanya pada bunga berwarna pink dengan mahkota yang cukup besar. “apa nama bunganya mba?” tanyanya dengan sangat manis. “itu cyclamen de,” jawab mba tersebut.

“Kau mau beli yang itu?” tanyaku pelan. Dia mengangguk semangat. “apa namanya tadi?” tanyaku lagi. “Cyclamen.” Jawabnya pelan.

 

 

 

 

++Jonghyun Pov++

 

“Huaacchuii!! Huuaacchhiii!!” aku mengelap kembali air yang keluar dari hidungku. ‘mengapa pagi pagi sudah bersin ya Tuhan, kapan aku bisa mengajak yeoja itu jalan-jalan..’ gumamku pelan. “oppa kau masih sakit ya?” suara kecemasan aku dapati keluar dari bibir yeoja manis itu. “Ne..” jawabku dengan serak

 

“Tapi aku ingin mengajakmu jalan-jalan..” ucapku lagi. “aku juga ingin jalan-jalan dengan oppa. Tapi melihat kondisi oppa lebih baik oppa istirahatlah di rumah.” Kekawatiranya membuatku senang tapi, bukan ini sebenarnya yang aku inginkan.

 

“Uhm, jalan-jalan saja yuk! Tapi di dalam mobil..jadi kau tidak usah cemas akan penyakitku.” Ajaku yang mendapati ide ngasal. “Terserah oppa saja..” jawabnya. Ku tarik tanganya dan ku bawa masuk ke dalam mobil.

 

“oppa kau sudah bisa menyetir?” tanyanya aneh. “tentu saja. Kau ini bertanya yang sudah nampak jelas.” Jawabku dengan sedikit tertawa. “umh.. heheh.. soalnya saeng bingung. Kehilangan topic.” Ucapnya sedikit menggaruk kepala yang tidak gatal.  “oppa.. maukah kau mengajariku mengendarai mobil saat aku terlepas dari masalah ini?” tanyaku parau. “Tentu! Akan aku lakukan bila kau memintanya..”

 

 

++Kibum Pov++

 

“Buah Gardenia dan buah..” tak tak tak!! Suara keyboard yang aku ketik. “eiitsshh kok buah. Bunga..” tap… satu tekan untuk menghapus kata tersebut. “Nah ini dia!” ku baca perlahan arti bunga tersebut.

Gardenia = Secret Love .. kau menyimpan rasa tapi tidak sanggup mengungkapnya.

“Mwo apa ini! Salah arti..” dercakku sambil mencari arti bunga yang satu lagi.

 

Cyclamen = “selamat tinggal”,

“Mwo! Apa lagi arti bunga ini! Aneh!!!” teriakku kesal sambil menutup laptopku dengan paksa dengan keadaan on. ‘ah~ mengapa aku tidak senang denga arti bunga tersebut? Itu kan bagus!’ batinku. Memang bunga itu bisa menggambarkan perasaan hati yang sulit tersampaikan. Bunga selalu mewakili itu walau kita tidak tahu artinya.

 

“hum,, itu laptopnya yah?” ucapku sambil mengambil sebuah laptop yang tergeletak sembarang di atar meja.

 

 

++Jonghyun Pov++

 

“Hyung!!! Hyung!!” teriakku saat masuk ke dalam dorm. “ada apa hyung?” tanya Minho dengan nada datar. “Mana Onew hyung? Mana dia?” ucapku tidak bisa mengendalikan diri. “hm?” deham Onew hyung. “Chikmi!! Chikmi!!”

 

 

++Jinki Pov++

 

“Dok!! Bagaimana keadaan dia?!!” ucapku mengoncangkan badan dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. “penyakitnya tidak terlalu parah. Ia hanya mengalami gangguan fisik. Dia.. dia yeoja yang waktu itu berlari tanpa menggunakan alas kaki di tengah badai salju untuk melihatmu?” tanya dokter itu mengingat kembali kejadian beberapa minggu yang lalu. “Ne!” ucapku. “Lalu apa lagi penyakitnya dok?” tanya Taemin tiba-tiba. Aku menapa Taemin bingung,

 

“Uhm.. sulit mengatakannya. Dia.. dia buta total.” Degh! “Mwo! Buta! Buta?” tanyaku lagi memastikan. “Ne dia buta. Sepertinya saat ia berlari berminggu minggu yang lalu. Ada pecahan debu dan kaca masuk ke matanya.” Jelas dokter itu.

 

Tubuhku ambruk dan tertungkai lemas di lantai rumah sakit yang dingin. “aku tidak bisa menjaganya.. aku babo babo” ku teruskan menyalahkan diri sendiri.

 

 

++Kibum Pov++

 

Aku mengidap kelemahan mata. Yah sulit mengungkapkanya..

Aku tidak tahu persis nama penyakit itu. Tapi penyakit itu selalu saja merengut warna dalam mataku. Huh!

Uhm, mungkin suatu saat nanti aku akan buat total. Yap! Ku harap sebelum itu aku bisa melihat wajah oppa oppa tersenyum padaku. Dan lebih istimewa Key oppa… aku ingin melihat tersenyum padaku. Walau tipis… hm,

“Tunggu! Apa maksudnya dia buta total?! Ha? Mata indahnya? Buta?” dengan cepat ku layangkan gas dan mobilku ke rumah sakit setelah mengetahui Chikmi masuk rumah sakit.

 

 

 

“Huuf.. ba.. huf.. bagaimana keadaannya?” tanyaku tersengah-engah karena berlari masuk. “Dia..dia buta Key.. buta..” lirih Jonghyun yang masih terisak tangis sambil memeluk Onew yang hanya diam menatap kosong. ‘apa ini? Dia benar-benar buta?’ batinku.

 

 

Kleek! Ku buka pintu kamar perlahan. Ku lihat Taemin dan Minho yang menangis sambil memeluk erat tubuh yeoja tersebut. ‘aisshh jangan menangis Kibum.. jangan..’

 

“Minho~ah Taemin~ah bisakah aku menjenguknya sekarang?” ucapku dengan berusaha menggunakan nada datar. Aku rasa bibirku sudah bergetar kencang menahan air mata yang sudah menggenai mataku agar tidak tumpah. “Ne” jawab mereka sambil meninggalkan sesosok yeoja yang terbaring dengan tidur yang nyeyak.

 

“Hei..” sapaku pelan. Aku tahu dia mana mungkin menjawabnya. Dia tidur. “oppa.. kau kah itu?” ucapnya sambil meraba-raba tanganku yang aku taruh di kasurnya. “Ne aku Key. Kau sudah bangun? Mengapa matamu tidak di buka?” tanyaku pelan. ‘mengapa aku melontarkan pertanyaan yang menyakitkan?’

 

“aduh mianhe Key~ssi tadi aku kira kau Onew oppa..” balasnya menjawab pertanyaan pertamaku. “Gwenchanayo, kau boleh memanggilku oppa sekarang.” Lirihku sambil mengelus tanganya yang halus. “hm.. oppa.” Ucapnya pelan. Aku pun tersenyum kecil mendengarnya. ‘omo! Mengapa saat aku tersenyum dia tidak bisa melihatnya. Ini Gila!!!’ batinku. “bukalah matamu?” ucapku pelan dengan nada bertanya. “Uhm,” dia tersenyum tipis. “walau aku membuka mataku. Aku tidak bisa melihatmu oppa.. aku sudah di vonis buta total. Dan.. yah beginilah mataku dan diriku sekarang. Hanya bisa merasakan. Tidak bisa apa-apa.. uhm,” lanjutnya dan berhenti sejenak. “oppa.. aku memang tidak bisa melihat tapi aku merasa oppa menahan tangis? Apa benar? Tersenyumlah.. aku ingin melihat oppa tersenyum padaku. Aku tidak bisa melihatnya.. tapi akan aku bayangkan di pikiranku,” lanjutnya lagi.

 

“Aku akan selalu tersenyum untukmu..” gumamku lirih sambil mengecup keningnya pelan. “Gomawo..” balasnya lirih.

 

 

‘Apakah ini maksudnya dia memelilih bunga itu? Mengapa artinya sangat menyakitkan..’ keluhku datar. Angin malam yang menerpa dingin leherku membuatku merinding. Ku berjalan pelan menyuri kota. Dan tepat aku terhenti di sebuah toko bunga yang aku temukan saat bersamanya.. “Masih buka?” gumamku kecil. Aku masuh dan rasanya aku mendengar tawa nya saat berada di dalam toko ini. “Aku mau beli bunga ini,” tunjukku pada sebuah bunga dengan banyak mahkota berwarna merah muda.

“Wah! Bunga yang nada pilih bagus sekali namanya Carnation artinya ‘aku tidak akan melupakanmu’!” jelas pemilik toko sambil membungkus bunganya. ‘aku tidak akan melupakanmu? Memangnya dia mau ke.. tidak! Andwae!! Andwae!!’ batinku sambil membawa lari bunga yang aku pegang.

 

 

++Minho Pov++

 

“Uhm, sepedah ini..” ku ambil sepedah yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri. “masih di taruh disini, siapa pemiliknya?” gumamku pelan sambil melirik ke kanan dan kekiri. “oppa..” ku balikan badanku cepat mendengar suara lirih dari belakang. ‘seperti suara Chikmi?’ batinku.

 

Ku dongkokan badanku dan ku lihat lekat-lekat sepedah tersebut. “Kau sepedah tua yang baik,” gumamku pelan sambil mengelus body sepedahnya. Ku lihat sebuah kertas di selipkan di jari-jari roda sepedah. ‘punya siapa ini?’ pikirku sambil mengambil kertas dan membukanya.

 

Oppa…aku akan merindukanmu. Uhm,

Chikmi.

 

“Apa maksudny….Andwae!!!” ku kecangkan roda-roda dan ku kayuh sepedah itu sekencang yang aku bisa.

 

 

++Taemin Pov++

 

“hufhh..” hebusan nafasku begitu besar terdengar di taman yang sunyi ini. “mataku sembab.” Gumamku memegang mata yang agak membesar. “Lampu!! Bangku!! Hum.. kemarin kau melihatkan aku bersamanya disini. Melihat kalian,”  gumamku dengan sedikit tertawa. Ini GILA!! Aku terlalu tertekan.

 

‘baru saja kemarin ia bisa memandang wajahku. Ah! Sial!’ dercakku dalam hati. “Lampu, kau mengerti hatiku kan.. huf,” ku menarik nafas dalam-dalam. “oppa?” diriku tersentak. Ku balikan badanku kebelakang tampak kosong disana. “Chikmi? Kau disitu..” panggilku seraya berjalan kebelakang. ‘tidak ada apa-apa..’ gumamku sambil kembali duduk di bangku taman. ‘tapi perasaanku aneh..’

 

 

++Jonghyun Pov++

 

“oppa.. kau mau mengajariku?” “kau mau mengajariku?” “kau mau?” Ah! Ku pukul klakson sekencang kencangnya. Ini Gila kau tahu mengapa aku selalu mendapat bagian terakhir. Dan sekarang apa!? Dia baru melihatku sebentar dan dia… aishhh..

 

Tin.. tin!!!! Ku tekan klaksonku terus. Memang tidak menghasilkan apa-apa tapi cukup melepas stress.

 

Tes… tes.. tik tik.. Bruuussshh!!! “Aih hujan lagi.. ada tanda apa ini?” Drrttt drtttt.

 

 

++Jinki Pov++

 

Ku pandang terus telepon umum dengan perasaan galau. Bayangan dirinya yang tertawa saat menekan tombol demi tombol angka masih terbayang disana. Suara tawa dan canda lembutnya masih berada disana. Tapi mengapa ia mendapatkan penyakit yang begitu berat! Ini Gila!! “Chikmi..” ucapku lirih sambil mendekat dan meraba pelan pinggiran telepon umum itu.

 

Brruuussh!! ‘aduh.. hujan..’ gumamku pelan sambil masuk kedalam kotak telepon. “Umh.. tidak apalah disini aku bisa menghirup aromamu,” lirihku pelan. Ke elus gagang telepon tersebut masih terasa hangat. Kriiingg!!! Krringg!! ‘Mwo.. siapa yang menelepon ke telepon umum?’ aku mengangkat telepon tersebut dan menaruhnya ke telinga. “oppa..” suara lembut yang sangat aku kenal terdengar dari seberang telepon.

 

“Chikmi..” balasku lirih.

 

“oppa kau bisa mendengarku? Oppa..?” ucapnya lagi seperti merengek.

 

“aku bisa mendengarmu..” jawabku pelan. Diriku terisak aku sudah tidak kuat menahan tangis. “oppa.. ya telepon umum ini rusak! Huh! Uhmm baguslah.. aku mau bercerita telepon umum,” ucapnya lagi. ‘jangan-jangan ini… ya waktu telepon itu tidak tersambung ia terus berbicara.. Chikmi..’

 

Drrttt… drrttt…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

++Author Pov++

 

Hujan yang menguyur Seoul, seperti tangisan isakan dari banyak orang. Alam yang tidak tega pun ikut menangis. ‘kapan hujan ini berhenti?’ desas desus orang yang tidak mengharapkan hujan sebesar ini. Tapi..

 

 

“Ya ya!! Dok apa lagi?”

 

“Siapkan alat pernapasan.”

 

“Ini ini..”

 

“Bangunlah nak bangunlah..”

 

“1..2..3.. Hap!!”

 

“1..2..3.. Hap!!”

 

‘tut… tut… tut…’

 

“Ayo lagi! Tambahkan sedikit tegangan.. ”

 

“Baik Dok!”

 

“1..2..3..Hap!!”

 

‘tut tut…tut… tut.. ’

 

“Ayo dia mulai beraksi…Ayolah nak!!”

 

“1..2..3.. Hap!!”

 

‘tut tut….tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttttttt…..’

 

“Mwo!! Apa ini!! Nak Bangun!! Bangun!!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

++Jinki Pov++

 

“oppa.. aku mengidap penyakit menakutkan. Uhm,, paru paruku yang kemasukan pecahan kaca saat berlari untuk melihat kau di rumah sakit itu sangat parah. Lalu debu kaca itu merusak sebagian organ dalam tubuhku. Aku bilang ke dokter untuk tidak memberitahu kalian.. mmpp aku ingin melalui hariku bersama.. sebelum.. yah, mmpp.. oppa.. oppa saranghae..” suara dari telepon masih terus keluar.

 

 

Drrrttt drrrttt..

 

“Yeobaseyo”

“Jeongmal Mianhe Jinki~ssi.. dia tidak tertolong..”

 

BRRUUUUSSSHHH!!!  “apa! Apa maksudhnya ini.. apa..”

“oppa… oppa… saranghae… mmpp…”

 

 

 

++Taemin Pov++

 

 

“Chimi~ah…” gumamku pelan. Tak terasa tubuhku sudah jubruk terguyur derasnya hujan di malam hari ini. “Kau menangis alamm..? apa dia sudah pergi…?” tanyaku sendiri.

 

“Uhmm..hahaha.. kau buat aku seperti ini Chikmi! Kau buat aku GILA!!” tawakuu kecil medelak di setiap kata. Ku dongkakan wajahku ketas membiarkan air langit membasahi wajahku dengan manisnya. “Chikmi!! Hikss.. hikss…kau sudah pergi…” air mataku turun aku tidak kuat dan menggigit bibirku.

Ini pertama kalinya aku merasakan sakit… sakit… Chikmi..~ah..

“oppa?” suaranya.. kau…

 

 

 

++Jonghyun Pov++

 

“Ne.. yeobaseyo..”

 

“Mwo! Tapi,, dia.. bagaiman…ah!” kubanting hpku ke jendela mobil hingga terbelah dua. Ku rasakan jantung ku sesak tidak beraturan. “Mengapa,, begitu,,… ah..” ringisku lagi.

 

“Ka…kau… ” kupenjamkan mataku sesaat melihat sosok wajahnya yang tersenyum untuk terakhir kali.. ‘oppa..’ lembutnya. ‘saeng…’

 

 

 

++Minho Pov++

 

“Hujan..” gumamku sambil terus menggoes sepedah dengan kecepatan sepenuhnya. “Andwae!!” teriakku. Tanpa sada sebuah mobil tepat melewat dengan kecepatan penuh di depanku. BRAAKKK!!

 

Aku lompat dari sepedah dan sepedah itu menghantam jalan dengan gesekan yang keras. “Chikmi.. chikmi…” ku lantunkan terus namanya sambil berjalan tertitih menuju rumah sakit..

“oppa jangan kencang kencang..” terdengar lembut suaranya di telingaku. Aku terdiam sejenak.. bajuku sudah bermandikan hujan yang terus mengguyur tiada henti..

“Chikmi.. ah…”

 

 

++Kibum Pov++

 

“Andwae!! Andwaee!!” ku percepat langkahku ke rumah sakit. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak mau peduli! Chikmi!!! Ku teriakan nama itu didalam hatiku terus menerus, membayangkan semua perlakuan jaha yang aku lakukan padanya.. Ini …

 

Aku terus berlari menerjang hujan dengan membawa bunga yang baru saja aku beli. “Chikmi…” lirihku setelah sampai di depan rumah sakit. Aku tertatih saat mau masuk kedalam. Rasanya seluruh organ tubuhku hancur. Aku berlari dengan kecepatan yang tidak biasanya.. kakiku gemetar lemas..

 

Belum sempat aku masuk ke dalam rumah sakit.. para medis keluar membawa sesosok tubuh tertutup kain putih dengn payung mereka membawanya kerumah sakit. “Tunggu.. tunguu..” rintihku mencoba bersuara. Ku coba berjalan pelan menuju sesosok tersebut..

 

Ku peluk erat tubuhnya, ku kecup keningnya. Entah apa yang dipikirkan para medis. Aku mencintai yeoja ini! Aku menyayanginya! Ini… “Chikmi..” bisikku lirih di tengah hujan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

++Author Pov++

 

3 Minggu berlalu…

‘Desas desus gossip seorang leader terkenal menyukai yeoja yang jauh dari umurnya telah menghilang. Kontrofersinya bersama seorang wartawan telah di selesaikan di pengadilan seminggu yang lalu. Dan hakim menyatakan sang wartawanlah yang bersalah karena tidak bisa menjaga kata-katanya. Sekian sekilas info..’

 

Klik!! “Uhmm beritanya membosankan..” gumam namja dengan bibir seksi mematikan TV nya. “Hyung… ayo kita ke studio…” namja kecil menghampirinya dan merengek. “Bentar Taemin aku pamitan dulu..”

 

Dia melangkahkan kakinya ke kamar dan mengambil foto yang berdiri dia atas meja sebelah bunga mawar. “Pagi… uhm.. maaf kami akan meninggalkanmu, kita ke studio dulu yah..” ucapnya sambil mengecup foto itu dalam-dalam.

 

“Key.. yah.. kau pamitan dulu, ayo sudah di tunggu..” namja dengan pipi chubby memasuki ruangan dan menarik namja yang baru saja mencium penuh kasih foto seorang yeoja. “Ne hyung..” namja tersebut pun turun duluan kebawah. Sedangkan nama berpipi chubby , “Chikmi kita pergi dulu yah..”

 

“Ne oppa..” suara hangat balasan yang terdengar samar-samar membuat namja tersebut mengembangkan senyumnya..

 

FIN

 

nah ini FF akan ada buku 3 nya.. tunggu ajah yah.. hhehe.. kalau ingin ngerti baca buku 1 nya dulu.. disini..
https://wearefanfictionkpop.wordpress.com/2011/01/05/i-crying-if-you-die-because-you-save-my-life-1s-straight/
GOMAWO^^b


 

 


“Kau mau beli yang itu?” tanyaku pelan. Dia mengangguk semangat. “apa namanya tadi?” tanyaku lagi. “Cyclamen.” Jawabnya pelan.

++Jonghyun Pov++

“Huaacchuii!! Huuaacchhiii!!” aku mengelap kembali air yang keluar dari hidungku. ‘mengapa pagi pagi sudah bersin ya Tuhan, kapan aku bisa mengajak yeoja itu jalan-jalan..’ gumamku pelan. “oppa kau masih sakit ya?” suara kecemasan aku dapati keluar dari bibir yeoja manis itu. “Ne..” jawabku dengan serak

“Tapi aku ingin mengajakmu jalan-jalan..” ucapku lagi. “aku juga ingin jalan-jalan dengan oppa. Tapi melihat kondisi oppa lebih baik oppa istirahatlah di rumah.” Kekawatiranya membuatku senang tapi, bukan ini sebenarnya yang aku inginkan.

“Uhm, jalan-jalan saja yuk! Tapi di dalam mobil..jadi kau tidak usah cemas akan penyakitku.” Ajaku yang mendapati ide ngasal. “Terserah oppa saja..” jawabnya. Ku tarik tanganya dan ku bawa masuk ke dalam mobil.

“oppa kau sudah bisa menyetir?” tanyanya aneh. “tentu saja. Kau ini bertanya yang sudah nampak jelas.” Jawabku dengan sedikit tertawa. “umh.. heheh.. soalnya saeng bingung. Kehilangan topic.” Ucapnya sedikit menggaruk kepala yang tidak gatal.  “oppa.. maukah kau mengajariku mengendarai mobil saat aku terlepas dari masalah ini?” tanyaku parau. “Tentu! Akan aku lakukan bila kau memintanya..”

++Kibum Pov++

“Buah Gardenia dan buah..” tak tak tak!! Suara keyboard yang aku ketik. “eiitsshh kok buah. Bunga..” tap… satu tekan untuk menghapus kata tersebut. “Nah ini dia!” ku baca perlahan arti bunga tersebut.

Gardenia = Secret Love .. kau menyimpan rasa tapi tidak sanggup mengungkapnya.

“Mwo apa ini! Salah arti..” dercakku sambil mencari arti bunga yang satu lagi.

Cyclamen = “selamat tinggal”,

“Mwo! Apa lagi arti bunga ini! Aneh!!!” teriakku kesal sambil menutup laptopku dengan paksa dengan keadaan on. ‘ah~ mengapa aku tidak senang denga arti bunga tersebut? Itu kan bagus!’ batinku. Memang bunga itu bisa menggambarkan perasaan hati yang sulit tersampaikan. Bunga selalu mewakili itu walau kita tidak tahu artinya.

“hum,, itu laptopnya yah?” ucapku sambil mengambil sebuah laptop yang tergeletak sembarang di atar meja.

++Jonghyun Pov++

“Hyung!!! Hyung!!” teriakku saat masuk ke dalam dorm. “ada apa hyung?” tanya Minho dengan nada datar. “Mana Onew hyung? Mana dia?” ucapku tidak bisa mengendalikan diri. “hm?” deham Onew hyung. “Chikmi!! Chikmi!!”

++Jinki Pov++

“Dok!! Bagaimana keadaan dia?!!” ucapku mengoncangkan badan dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. “penyakitnya tidak terlalu parah. Ia hanya mengalami gangguan fisik. Dia.. dia yeoja yang waktu itu berlari tanpa menggunakan alas kaki di tengah badai salju untuk melihatmu?” tanya dokter itu mengingat kembali kejadian beberapa minggu yang lalu. “Ne!” ucapku. “Lalu apa lagi penyakitnya dok?” tanya Taemin tiba-tiba. Aku menapa Taemin bingung,

“Uhm.. sulit mengatakannya. Dia.. dia buta total.” Degh! “Mwo! Buta! Buta?” tanyaku lagi memastikan. “Ne dia buta. Sepertinya saat ia berlari berminggu minggu yang lalu. Ada pecahan debu dan kaca masuk ke matanya.” Jelas dokter itu.

Tubuhku ambruk dan tertungkai lemas di lantai rumah sakit yang dingin. “aku tidak bisa menjaganya.. aku babo babo” ku teruskan menyalahkan diri sendiri.

++Kibum Pov++

Aku mengidap kelemahan mata. Yah sulit mengungkapkanya..

Aku tidak tahu persis nama penyakit itu. Tapi penyakit itu selalu saja merengut warna dalam mataku. Huh!

Uhm, mungkin suatu saat nanti aku akan buat total. Yap! Ku harap sebelum itu aku bisa melihat wajah oppa oppa tersenyum padaku. Dan lebih istimewa Key oppa… aku ingin melihat tersenyum padaku. Walau tipis… hm,

“Tunggu! Apa maksudnya dia buta total?! Ha? Mata indahnya? Buta?” dengan cepat ku layangkan gas dan mobilku ke rumah sakit setelah mengetahui Chikmi masuk rumah sakit.

“Huuf.. ba.. huf.. bagaimana keadaannya?” tanyaku tersengah-engah karena berlari masuk. “Dia..dia buta Key.. buta..” lirih Jonghyun yang masih terisak tangis sambil memeluk Onew yang hanya diam menatap kosong. ‘apa ini? Dia benar-benar buta?’ batinku.

Kleek! Ku buka pintu kamar perlahan. Ku lihat Taemin dan Minho yang menangis sambil memeluk erat tubuh yeoja tersebut. ‘aisshh jangan menangis Kibum.. jangan..’

“Minho~ah Taemin~ah bisakah aku menjenguknya sekarang?” ucapku dengan berusaha menggunakan nada datar. Aku rasa bibirku sudah bergetar kencang menahan air mata yang sudah menggenai mataku agar tidak tumpah. “Ne” jawab mereka sambil meninggalkan sesosok yeoja yang terbaring dengan tidur yang nyeyak.

“Hei..” sapaku pelan. Aku tahu dia mana mungkin menjawabnya. Dia tidur. “oppa.. kau kah itu?” ucapnya sambil meraba-raba tanganku yang aku taruh di kasurnya. “Ne aku Key. Kau sudah bangun? Mengapa matamu tidak di buka?” tanyaku pelan. ‘mengapa aku melontarkan pertanyaan yang menyakitkan?’

“aduh mianhe Key~ssi tadi aku kira kau Onew oppa..” balasnya menjawab pertanyaan pertamaku. “Gwenchanayo, kau boleh memanggilku oppa sekarang.” Lirihku sambil mengelus tanganya yang halus. “hm.. oppa.” Ucapnya pelan. Aku pun tersenyum kecil mendengarnya. ‘omo! Mengapa saat aku tersenyum dia tidak bisa melihatnya. Ini Gila!!!’ batinku. “bukalah matamu?” ucapku pelan dengan nada bertanya. “Uhm,” dia tersenyum tipis. “walau aku membuka mataku. Aku tidak bisa melihatmu oppa.. aku sudah di vonis buta total. Dan.. yah beginilah mataku dan diriku sekarang. Hanya bisa merasakan. Tidak bisa apa-apa.. uhm,” lanjutnya dan berhenti sejenak. “oppa.. aku memang tidak bisa melihat tapi aku merasa oppa menahan tangis? Apa benar? Tersenyumlah.. aku ingin melihat oppa tersenyum padaku. Aku tidak bisa melihatnya.. tapi akan aku bayangkan di pikiranku,” lanjutnya lagi.

“Aku akan selalu tersenyum untukmu..” gumamku lirih sambil mengecup keningnya pelan. “Gomawo..” balasnya lirih.

‘Apakah ini maksudnya dia memelilih bunga itu? Mengapa artinya sangat menyakitkan..’ keluhku datar. Angin malam yang menerpa dingin leherku membuatku merinding. Ku berjalan pelan menyuri kota. Dan tepat aku terhenti di sebuah toko bunga yang aku temukan saat bersamanya.. “Masih buka?” gumamku kecil. Aku masuh dan rasanya aku mendengar tawa nya saat berada di dalam toko ini. “Aku mau beli bunga ini,” tunjukku pada sebuah bunga dengan banyak mahkota berwarna merah muda.

I Crying if you die because You save my life : 1S : Straight

Posted on

Title : I Crying if you die because You save my life

Genre : *dengarkan lagu Life SHINee*

Rating : PG

Type : Straight

Main Cast : Chikmi (YOU)

Support Cast : SHINee all member’s

Ket : Fanfiction book one

Credit Song : Life from SHINee

*

“Mwo? Jinja?”

“Yah.. kau memenangkanya Mi!”

“Umma.. kau sangat baik. Terimakasih kau telah menghadiahkanku ini,”

“Hm, kau pantas mendapatkan itu. Kau telah bekerja sangat keras dalam Ujian Semester satu mu,”

“Umma! Kau adalah umma yang terbaik yang pernah aku temui,”

***

Beginilah setelah setengah tahun kejadian itu. Uhm, mengingatnya memang menyakitkan. Selama aku hidup kertas ini adalah kado dari almarhum ummaku sebelum ia meninggal. Ia memberikanku sebuah tiket yang sangat aku dambakan sebelum ia meninggal dunia dengan tersenyum layaknya seorang bidadari. Kado ini belum pernah aku gunakan, karena ini adalah salah satu barang peninggalan terakhir darinya. Uhm,

“Chikmi, apakah kau benar-benar tidak mau menggunakan tiket ini? Lihat waktu exp. nya sudah mendekati,”

“Entalah cingu.. aku masih bimbang.”

Yah bagaimana aku tidak bimbang. Ini bukan sekedar kertas tiket biasa. Ini adalah kertas yang berukuran sedang dengan motif biru yang cukup menarik, kertas yang ku dambakan selama 1 tahun ini. Dan akhirnya aku mendapatkanya setelah aku berhasil meraih peringkat pertama saat ujian semester satu. Aku ingin sekali menggunakanya, rasa inginku sebenarnya lebih kuat. Tapi, ini tetap peninggalan ummaku dan aku harus menjaganya.

“Chikmi, lebih baik kau gunakan saja..”

“Ada alasan apa kau menyuruhku cingu? Ini adalah tiketku.. dan aku bermenentukan kapan dan mau kuapakan tiket ini.”

“Bukan begitu. Aku berpikir, bila aku jadi kau. Pasti ummaku bersusah payah mengorbankan tenaganya dalam bekerja membanting tulang untuk mencari uang membeli tiket ini untukmu, dan.. itu pasti menyakitkan untuknya bila kau tidak menggunakanya,”

Aku berpikir sejenak. Merenung kembali apa yang di ucapkan cinguku. Memang benar sih, tapi.. aku masih ragu.

“Ayolah gunakan! Ingat saja dalam dirimu! Ini demi Almarhum Umma-mu,”

*

Beberapa minggu ini aku terus memikirkan ucapan cinguku. Dengan mental yang siap aku akan menggunakan tiket ini. Sesekali aku selalu datang ke makam ummaku dan meminta maaf karena tidak bisa menjaga barang peninggalanya. Tapi rasa ingin ku lebih kuat.

“Apakah kau akan menggunakan tiket ini di liburan musim dingin?”

“Yah mungkin. Karena musim itu yang dekat untuk saat ini.”

“Hm, aku akan mendoakanmu baik-baik saja disana,”

“Terimakasih. Kau memang cinguku yang terbaik..”

Tiba dimana hari itu tiba. Aku ingat hari Jum’a tanggal 10 Dec 2010 aku pergi menggunakan pesawat Boeing 737 dengan kecepatan normal. Dengan cuaca yang mendukung, aku merasa ini hari yang cukup baik.

Sampai di bandara aku hanya bisa celingak-celinguk. Apakah aku menarik perhatian? Mengapa semua orang memandang kearahku…?

“Kau orang dari negara apa?” sapa pramugari disana dengan lembut sekaligus bertanya.

“Saya orang Indonesia, adakah yang bisa saya bantu?”

“Wah! Ternyata orang Indonesia. Terlihat dari pakaianmu yang tertutup dan bahasamu yang ramah. Kelopak matamu juga indah!”

“Terimakasih,”

“Bahasamu juga fasih.”

“Hm,” aku hanya tersenyum menanggapinya sampai ia pergi karena di suruh bertugas kembali.

Aku berjalan pelan sambil menggeret koperku dan tempat duduk. Karena kakiku sudah berasa pegal sekali.

“Duduklah disini…” terdengar suara lembut dari seorang namja dengan tubuh besar dan berbeda tinggi denganku beberapa centi.

“Terimakasih. Apakah kau tidak keberatan?”

“Tentu saja tidak, aku tidak apa-apa berdiri.”

“Tapi, tadi aku lihat kau baru saja duduk. Dan sepertinya aku mengganggu.”

“Tidak kok. Tenang saja, aku masih kuat untuk berdiri.”

“Terimakasih. Kau baik sekali,”

Menit demi menit aku hanya duduk diam terpaku. Membolak-balik kertas yang aku dapatkan saat di pintu masuk. Tempat aku menginap dengan harga yang cukup tinggi, melebihi kantung celanaku.

“Sedang apa noona?” tanya namja yang dari tadi berdiri.

“Jangan panggil aku begitu.. sepertinya kau lebih tua dariku,”

“Kalau begitu saeng! Sedang apa?”

“Uhm, aku mencari tempat untuk menginap.”

“Kau bukan orang sini?”

“Bukan… aku hanya… yah seperti layaknya turis.”

“Ohehehe… bolehkah ku tanya namamu?”

“Sam Chikmi imnida,.. cingu?”

“Kau memang benar dong saengku! Panggil aku dengan sebutan oppa saja… Lee Jin Ki imnida..”

“Oppa? Kau akan saya panggil begitu.”

Sekilas memang aneh. Apakah aku mengenalnya? Sudah lama aku tidak update tentang kpop? Kpopers apa aku ini? Apakah namja yang berada di depanku ini adalah artis? Atau dari salah satu boy band? Mungkin artis.. soalnya aku tidak mengenalnya, mengapa aku bisa melupakan semuanya dalam setengah tahun ini!

“Apakah kau tidak mengetahuiku?” ucapnya sambil duduk di sebelahku sesaat setelah orang di sebelahku angkat kaki dari tempat duduknya.

“Kau Lee oppa kan? Aku tau dirimu.. kau kan memperkenalkan diri padaku.”

“Um, kau sepertinya tidak mengenalku. Itu bagus!”

“Mengapa bagus? Apakah kau senang orang di sekelilingmu amnesia akan ingatanmu oppa?”

“Bukan begitu.. hanya saja ada alasan lain!”

“Boleh aku tahu itu?”

“Walau kau tidak aku beritahu. Kau akan mengetahuinya nanti!”

“Uhm, baiklah…”

Sejenak kami tidak berkata apapun lagi. Aku sibuk sendiri dan dia juga begitu. Melihat ekpersinya yang lucu saat menelefon membuatku mengingat sesuatu. Tapi apa?

“Kau menginap saja di rumah ku?”

“Di rumahmu?”

“Yah di rumahku. Disana kosong. Karena aku baru membelinya beberapa minggu yang lalu untuk aku tempati saat menikah nanti,”

“Kau sudah mempunyai calon istri oppa?”

“Tentu saja belum. Hanya persiapan…”

“Kau cekatan sekali!”

*

Sekarang aku terbangun di rumah cantik milik seorang Lee oppa yang baru saja aku temui kemarin. Entah mengapa aku langsung bisa percaya padanya? Apakah aku pernah mengenalnya sebelum itu?

“Chikmi kau sudah bangun!!!”

“Ya!”

Aku turun dengan perlahan menuju ruang makan. Melihat jendela besar yang menghadap jalan sudah terpenuhi oleh beberapa butiran salju yang mengkilap bagai krystal.

“Pakai baju hangatmu, sepertinya kau kedinginan…” ku tatap Lee oppa yang melempar jaket tebal kearaku yang sedikit mengigil dengan sedikit asap putih keluar dari mulutku.

“Oppa menginap disini?”

“Ti…dak! Aku tadi datang pagi-pagi untuk melihat keadaanmu,”

“Uhm, kau begitu perhatian.. siapapun yang menjadi istrimu itu sangat beruntung.”

“Hahaha.. terlalu cepat untuk memikirkan itu,”

“Memangnya oppa tinggal dimana jika tidak tinggal disini?” sambil menghirup susu coklat panas.

“Uhm, di dorm. Bersama empat dongsaengku yang lain..”

“Dorm? Aku pernah mendengarnya…”

“Asrama.”

“Ohehehe, kirain apa. Sepertinya senang jika punya dorm seperti itu.”

“Tidak juga. Kadang kita harus berbagi kamar. Berbagi makan, berbagi chanel tv, kamar mandi dan segalanya lalu… bla bla bla”

Aku terus mendengarkan semua curhatan yang Lee oppa katakn tentang dongsaengnya yang pintar memasak tapi cerewetnya tidak ketulungan, magnae nya yang selalu membuat onar dengan meminjam barang tanpa mengembalikanya, sebuah tatapan panas dari salah satu dongsaengnya dan suara merdu yang selalu mengigau pada malam hari dan membuatnya merinding.

“Sepertinya oppa senang tinggal disana?”

“Uhm, sepertinya begitu..” ucapnya sambil tersenyum manis seperti ‘Angle Smile’

*

-Onew Pov-

Aku tidak membuatnya curiga? Untung dia tidak mengetahui identitasku yang satu ini. Tapi perasaanku tidak enak. Sepertinya akan ada suatu hal yang terjadi.

“Oppa.. apakah aku boleh bertemu dengan dongsaeng-dongsaengmu?”

“Uhm.. akan aku pikirkan itu. Mereka sangat sibuk jadi susah untuk di temui,” ucapku mengalihkan perhatian.

“Uhm. Bisa kau sampaikan salamku untuk mereka?”

“Tentu!”

“Hei! Kata siapa kami sibuk!”

Aku terpana! TIDAK! Aku tercengang meliha ke empat dongsaengku yang sudah berdiri denga posis yang agak berantakan melihat kearahku.

“Tunggu! Aku pernah melihat mereka oppa,”

“Hm, mereka dong..dongsaengku..” ucapku dengan berat hati.

“Kau pasti pernah melihat kami! Karena kami adalah SHIiiii…” ku bungkam dengan cepat mulut si cerewet ini. Dan kubisikan tanda untuk diam.

“Ada apa?”

“Tidak Chikmi.. hanya salah paham saja.” Ucapku sambil terus membungkam Key.

“Kami..umh,,hm,..” suara Key terus keluar dengan tidak jelas. Aku pun menariknya dan menggeretnya kedepan pintu masuk. Chikmi hanya memiringkan kepalanya dan menatapku bingung.

“Kalian.. mengapa bisa kemari?”

“Hei! Hyung kau pergi tanpa bilang-bilang di pagi hari. Aku bangun dan melihatnya, ya aku susulin.” Terang Jonghyun padaku.

“Kau ini aneh! Memangnya ada apa dengan yeoja itu?” tanya Key sekalian meledek.

“Ssssttt.. bisakah kau kecilkan volume suaramu? Nanti ia bisa mendengarnya..”

“Ada apa dengan yeoja itu hyung? Apakah dia gila?” tanya Taemin bertubi-tubi.

“Hus! Ngawur dirimu! Dia itu orang Indonesia…”

“Terus? Apakah ada masalah kalau dia dari negara lain?” potong Minho.

“Hm, dia itu tidak mengenal kita. Jangan sampai ia mengenal kita, nanti di umbar-umabarkan..”

“Tapi, ini akan jadi skandal kalau hyung ketahuan berduaan dengan yeoja yang tidak dikenal..” ucap Jonghyun.

“Aku mengenalnya… jadi tidak apa-apa. Lagian dia ramah dan baik,”

“Ah~ tapi kami juga ingin mengenalnya kalau dia ramah dan baik.”

“Nanti saja yah.. kalian pulang saja dulu,” terakhir aku mendorong mereka keluar pintu dan menutupnya dan terdengar keluahan mereka di luar memanggilku. Tapi tak aku hiraukan,

“Kemana orang-orang tadi Oppa?”

“Mereka sudah pulang.”

“Uhm, cepat sekali. Padahal aku ingin berkenalan dengan mereka.”

“Nanti yah, sabar…”

*

“Chikmi.. chikmi.. bangunlah,”

“Apa oppa? Lihat sekarang masih jam 2 pagi..”

“Ayo temani aku jalan-jalan..”

“Huam.. oppa tunggu saja di bawah, aku akan turun..”

Onew! Apa yang kau lakukan? Membangunkan seorang yeoja yang sedang tertidur lelap pada jam malam yang menakutkan. Mau kau apakan dia!? Ini tidak seperti diriku? Apa ini? Apakah aku kesurupan?

“Oppa! Mau kemana?”

“Uhm, kita jalan-jalan keluar yuk. Aku bosan…”

“Hm,” dia hanya tersenyum sambil mengangguk kearahku.

“Kau cukup tinggi dengan umurmu yang muda ini,”

“Hahaha.. kalau di sekolahku aku merasa pendek.”

“Apakah ada yang lebih tinggi? Kau saja sudah sangat tinggi!”

“Tidak juga.. aku belum bisa membalap temanku. Jadi sepertinya aku tinggi ke dua dikelasku,”

“Memang berapa tinggimu?”

“Tebak!”

“159?” menggeleng. “162?” menggeleng. “167?” dia tertawa dan, “Itu kejauhan oppa.. ayo mendekati. Papay hiji hiji.”

“Ha? Papay? What’s the meaning papay hiji-hiji..”

“Oh, gimana yah.. itu basa sunda. Susah di jelasinnya,”

“Ohahahah.. bahasa daerah? Ini sangat bagus! Papay hiji-hiji. Terdengar lucu,”

“Ahahahah…” kami pun menjadi tertawa bersama sejenak dan kembali ku tebak tingginya.

“Tinggiku 163cm oppa,”

“Wah! Kau setinggi Jessica dan Tiffany noona, kau bisa membalap…1…2…4… 5! Lima noona SNSD..”

“Siapa saja? SNSD? Sepertinya aku pernah mendengarnya..”

“Uhm, mereka.. mereka girl band.”

“Tunggu.. girl band?”

“Sudah jangan paksakan dirimu untuk mengingatnya..” sebenarnya aku berkata begitu supaya ia tidak mengingat diriku. Dan akan menempel terus padaku setelah mengetahui aku artis.

*

Sekarang sudah tanggal 12 December 2010. Hum, sebentar lagi ulang tahunku. Apakah dia akan mengingatku? Kalau dia shawol aku sangat senang dia mengingat ulangtahunku. Tapi untuk sekarang-sekarang janganlah mengingatku dulu. Dan jangan saat dia mengingatku ternyata dia AF. Bisa mati aku..

“Oppa! Aku punya permintaan padamu,”

“Apa itu?”

“Aku ingin kita jangan mengobrol terlalu formal..”

“Waeyo?”

“Aku sebagai anak kecil.. yah aneh rasanya. Terlalu baku!”

“Uhm… oke! Aku tidak akan terlalu formal padamu,”

“Hm.. makasih,”

“Chikmi.. namamu selalu membuatku lapar..”

“Pasti mengingatkan oppa akan ayam yang oppa selalu makan selama 21 tahun lalu,”

“Bagaimana kau tahu?” Omona! Apa dia sudah bisa mengingatku.

“Entahlah.. dengan refleks aku berkata seperti itu. Apa benar oppa suka ayam?”

“Ya! Aku sangat suka! Ayam telah membesarkanku sampai sebesar ini. Dengan ayam aku menjadi sehat dan kuat. Ayam yang membuatku gemuk dan mempunyai pipi yang chubby seperti dubu ini. Ayam yang memeberiku energi keman-mana jika aku membutuhkan nya. Dialah ayam… ayam yang berjasa,,”

“Ha? Ayam saja sudah membuat oppa seperti ini.. hhahaha…”

“Ya! Ayam ayam ayam..”

*

-Chikmi pov-

Sekarang sudah 4 hari aku disini. Tanggal 13 December.. huam, aku mengantuk sekali. Keman Lee oppa? Biasanya yang selalu membuatku bangun dengan ke garinganya dan aroma masakanya yang gosong.

Kuambil notebook ku yang berada di tas. Sudah lama aku tidak membukanya. Yap! Semenjak ibuku meninggal aku selalu diam… tidak pernah bergaul kembali. Hanya buku yang selalu menjadi temanku sehari-hari..

“Apakah disini masih ada video Korea? Aku sepertinya rindu sekali akan itu..”

Ku tekan tombol on nya. Dengan sekejap layar nya tampil dengan gambar seorang namja yang sedang memegang mic dengan senyum yang menawan. “Lee oppa?” ku tatap terus namja tersebut selama beberapa menit sebelum layer desktop ku berganti sendiri dengan gambar kucing.

“Jangan-jangan dulu aku fansnya Lee oppa? Tapi mengapa.. aku kan tidak terlalu minan dengan artis. Paling boy band.. tapi boy band apa?”

Ku oprek isi isi folderku sampai aku menemukan semua video yang selama ini aku simpan. Dan masih utuh tidak ada satupu yang cacat! Dengan sekejap mataku langsung mengarah kesebuah video yang bertuliskan ‘SHINee’

“Ini,” aku buka videonya dan kulihat seorang namja yang duduk di kasurnya lalu duduk di depan pintu dan.. STOP! “Ini Lee oppa.. tunggu! Bukan! Ini Onew! Onew oppa!” kudiam sejenak.

Ku ingat-ingat kembali memory Korea yang selama ini terbuang. ‘Aku ingat sekarang.. Lee Jin Ki adalah nama asli dari Onew oppa! Dan ke empat namja yang kemarin.. jangan.. iya! Mereka Key, Jonghyun, Taemin dan Minho!’

“Jadi selama ini.. kenangan ini.. Onew! Ya.. aku melakukan semuanya dengan namja yang selama ini aku dambakan.” Kurasakan degup jantungku menjadi cepat dan nafasku jadi tidak karuan.

“Aku harus menemuinya sekarang! Sekarang juga!”

*

Ku terus berlari ke sekeliling komplek. Tampak seisi penghuni tengah pergi dengan urusan masing-masing. Dan aku tidak melihat Onew! Kemana dia?

‘Itu!’ dengan menakjubkan kulihat dirinya naik ke dalam mobil kijang bersama ke empat namja lainnya. Ku kejar mobil itu tanpa bersuara, tapi itu tidak mungkin! Aku sepert stalker, mengejar tanpa tahu alasanya.

Mengapa aku harus mengejarnya? Sedangkan mungkin besok ia akan menemuiku lagi.. tidak mungkin dia membiarkan aku tetap tinggal di dalam rumah barunya.

Aku kembali dengan badan lemas dan menggigil. Aku keluar tanpa berpikir apapun dan tidak mengambil jaket. Untung daya tahan tubuhku kuat. Aku pun langsung mandi dengan air hangat dan minum secangkir susu coklat dengan kue krim vanilla sebagai jamunya.

*

14 December 2010 ! Aku bangun dengan mata bersih dan langsung melihat tanggal. Seketika itu juga aku mengingat ini ulang tahun Onew oppa! Aku langsung bergegas turun kebawah. Kudengar seseorang berada di bawah.. harapanku sudah melonja ingin langsung memeluknya…

“Key oppa?” harapanku langsung surut mendapati yang kulihat bukan yang ku inginkan.

“Onew…. Onew oppa..”

Bruukk!! Tubuhku tumbang,, ambruk.. tidak tahu apa yang harus di lakukan. Ingin menangis… YA! Aku ingin menangis! Ingin terus menangis, bagaimana bisa? Apakah DIA tidak mengijinkanku untuk memeluk orang yang selama ini aku dambakan, aku rindukan.. dan ingin aku temui!

Tanpa berpikir panjang.. aku bangkit dan berlari keluar tanpa menggunakan alas kaki dan jaket yang menghangatkan tubuhku. Di tambah cuaca hari ini sangat buruk dengan turunya salju yang cukup deras.. terdengar suara Key oppa memanggilku dan mengejarku. Tapi, ia kehilanganku. Karena aku berlari terlalu cepat..

Sesekali aku terjatuh membentur aspal yang tertutup salju. Ini memang tidak sakit tapi perih saat aku terjatuh di atas batu yang cukup tajam dan tidak tertutup salju. Kulihat darah segar yang sedikit mengalir dati lututku menetes ke salju yang membuatnya menjadi merah muda..

“Aaah..” ringisku sambil mencoba bangkit dan kembali berjalan dengan sedikit pincang.

Dan sampai akhirnya aku berada di depan rumah sakit dan masuk dengan tergesa-gesa. Membuka setiap kamar tanpa tahu malu, dan terus mencari letak di mana Onew oppa berada.

Jlep! Kulihat ada tiga namja yang tidak lain Taemin, Jonghyun dan Minho yang sedang menahan tangis melihat sesosok namja yang tertutup kain putih di peluk oleh seorang ibu yang keadaanya menangis deras.

Ku jalan perlahan mendekati sesosok tersebut. Ke tiga namja tersebut melihatku dengan iba dan ingin menangkap tubuhku yang sudah lemas berjalan ini. Ibu yang memeluk Onew oppa pun menatapku dengan mata yang masih terus mengeluarkan air mata.

Tepat di sebelah ranjang sebelum aku memeluk Onew oppa tubuhku sudah ambruk dan pergi dengan jiwa kealam bawah sadar.

*

Rasanya tubuhku sudah sadar. Tapi mataku sangat berat untuk di buka, kudengar beberapa percakapan di dekatku.

“Hyung! Ada apa dengan yeoja itu? Mengapa ia kesini dengan tubuh lemas..”

Itu seperti suara Minho.

“Dia juga tidak memakai alas kaki dan jaket. Lututnya pun berdarah..” Taemin.. apakah dia melihat lututku?

“Tadi aku memberitahunya tentang masalah ini. Dia terkejut dan menangis lalu berlari keluar tanpa mengunakan yang kau katakan sampai kesini,”

“Mengapa kau tidak mengejarnya?” tanya Jonghyun.

“Dia berlari terlalu cepat!” aku tersenyum kecil mendengar pembicaraan mereka sampai..

“Bolehkah ibu bertanya..”

“Yah?” Apakah? Jangan-jangan ibu tadi adalah ibunya Onew oppa?

“Siapakah yeoja itu?”

“Dia itu teman nya Onew.. saya juga merasa heran. Onew membelanya, dan terus terus menemuinya tanpa memberitahu kami.. walaupun sudah di ancam oleh manager takut ada skandal. Tapi itu tidak menghalangi dirinya,”

“Sepulang hyung dari menemui yeoja itu. Dia selalu tersenyum..”

“Menceritakan hal-hal yang ia lalui bersama yeoja itu,” lanjut mereka semua.

“Uhm, sepertinya Onew menyukai yeoja itu.. dan yeoja itu juga sangat berani menerjang badai untuk kesini,”

“Oppa..” ucapku lemas sambil bangkit dari tempat tidur yang cukup keras kurasakan di tubuhku yang sedang hancur saat ini.

“Kau sudah sadar nak?” tanya ibu Onew padaku. Aku mengangguk dan tersenyum kecil dengan wajah pucatku saat ini.

“Bisakah aku melihat Onew oppa?”

“Silahkan..”

Ku jalan perlahan mendekati ruang tadi. Ku masuki dan ku kunci pintu tersebut dari dalam. Aku menghampiri sosok tersebut dan duduk di sebelahnya, “Oppa..” gumamku sambil membuka selimut yang menutupi wajahnya. Tampak wajahnya yang masih segar, belum terlalu pucat deng polos tertidur..

“Oppa bisa mendengarku?” tanyaku. Aku tahu ini sia-sia, mana mungkin ia bisa menjawab.. ia sudah pergi.. pergi meninggalkanku saat aku sudah mengingatnya. Mengapa semua orang selalu merasakan sakit di saat ia mulai bahagia?!

“Oppa.. aku sudah bisa mengingatmu, kau tahu.. aku ini termasuk fans mu. Di semua fans itu aku adalah fans terbodoh yang bisa melupakanmu dengan waktu 6 bulan. Maaf kan aku oppa.. aku memang tidak pantas berbicara padamu. Tapi, aku sangat rindu suaramu. Kapan kau mengatakan padaku kalau kau senang aku jadi fans mu,.. atau mungkin.. yah, seperti fans lain.. ingin sekali di sukai olehmu.. Oppa..” ku pegang erat tanganya yang sudah mulai dingin dan kaku ku elus kulitnya. Dan begitu bersamaan dengan air mataku yang jatuh ke tangan oppa yang kucium erat sebelum ia di bawa pergi..

Tangisan ku pun meledak saat mendapati bahwa ia benar-benar tidak akan pernah lagi menjawab pertanyaanku, mendengar suaranya, tersenyum kearahku, dan.. dan.. melakukan suatu hal bersama lagi..

“Saeng..” terdengar suara lembut memanggil namaku. Kulihat tangan oppa yang bergerak mendekati wajahku dan mengelus pipiku lembut. Kurasakan hangat tangan nya yang mulai pulih menjadi hangat tangan orang yang hidup. Ini mimpikah?

“Kau ternyata fans ku..” ucapnya dengan suara pelan yang sedikit serak. Tanpa aba aba aku langsung memeluknya dengan isakan tangis yang semakin menjadi – jadi.

Brraakkk!! Terdengar suara pintu di dobrak. “Hyung! Kau.. kau hidup!”

*

Seminggu setelah kejadian itu. Aku masih tinggal di sini dan menjadi penghuni tetap di Korea. Aku masih tinggal di rumah seseorang yang selalu membuatku tersenyum akhir-akhir ini.

Hari ini, aku sudah duduk menunggu acara reality show yang aku tonton dengan live disebuah studio. Aku duduk di bangku paling depan  di jejeran bangku tengah sendirian. Ada juga beberapa fans yang duduk di bagian belakang berjauhan

denganku.

Realaty show yang berisi anggota member SHINee, Super Junior dan SNSD yang sedang asyik bercanda karena pertanyaan dan tingkah laku yang lain. Para fans pun memeriahkanya dengan ikut tertawa bersama sepertiku.

-Author Pov-

Chikmi yang asyik menonton tidak mendengar bisik bisik para fans tentangnya. Walau ada yang tidak menghiraukan keberadaanya, tapi ada juga yang mencemoohnya..

“Kau lihat yeoja yang berada di depan itu?”

“Bagaimana bisa ia duduk di depan..? Ini sangat tidak adil! Siapa dia?!”

“Uhm, sungguh menyebalkan.. aku juga ingin duduk di deretan itu!”

“Aku ingat! Dia adalah yeoja yang tinggal di rumah nya Onew oppa.”

“Ha? Memangnya pantas gitu ia tinggal di sana! Kurang ajar banget..”

“Iya iya benar tuh!”

Memang Chikmi tidak mendengar, ia terlalu jauh dari para fans. Karena ia duduk di kursi VIP yang di pesan Onew untuknya. Lalu ada seorang fans yang mendekatinya dan berani menumpahkan sedikit pop corn kekepalanya. Chikmi pun berbalik,

“Maaf kan aku.. aku tidak sengaja,” ucap fans itu dengan pura-pura.

“Tidak apa-apa.. maaf telah menggangumu.” Balas Chikmi sambil tersenyum manis, dan duduk kembali. Fans tersebut berlari kekurumunanya lagi,

“Dia ternyata manis..”

“Imut dan cantik..”

“Senyumnya juga menawan..”

“Dia pantas dekat dengan Onew deng..”

“Hahhaha.. kalau gitu kita dukung mereka..”

-Chikmi Pov-

Selesai membersihkan baju dan kepalaku dari tumpahan pop corn aku duduk kembali. Kulihat sang MC bersiap untuk mulai pertanyaan kembali,

“Onew-ssi, apakah ada seorang yeoja selain ibu mu yang akan kau tangisi jika ia meninggalkanmu..?”

Pertanyaan yang menatang pikirku.

“Ada. Dan dia ada disini..”

“Mwo?”

Aku tertawa sendiri melihat anggota SNSD yang saling pandang. Karena mereka adalah bintang tamu perempuanya. Sedangkan anggota Super Junior menebak-nebak siapakah yang di maksud Onew..

“Aku tahu!!!” teriak keras seorang fans dari belakang. Sampai mereka semua melihat kearahnya. Lalu MC mendekatinya dan bertanya, “Siapa?” dengan sigap dan cepat fans itu berkata, “Dia!” ucapnya sambil menunjuk kearahku. “Mwo?” aku terkaget saat lampu dan kamera menyorotku.

Aku di tarik masuk ke dalam reality show itu..

“Dia lumayan tinggi..” ucap MC itu sambil menyindir beberapa anggota SNSD.

“Lihat dia melebihi tinggi kalian berlima.. hahha” meledak tawa anggota Super Junior yang menunjuk Sunny, Taeng, Hyoyeon, Jess dan Fany onnie.

“Memang berapa tinggimu?”

“163!” jawab Onew oppa cepat. Ini membuat semua orang berkata, “Wow! Kau hafal sekali.. jangan-jangan benar.”

“Hei tinggiku sama denganya!” ucap Jess dan Fany onnie bersamaan, membuat semua orang tertawa.

“Benar 163?” tanya MC padaku. Dan aku mengangguk malu.

“Onew apa benar yeoja ini..?” tanya Heechul oppa yang sudah penasaran.

“Dia manis yah..”

“Imut!” ucap beberapa anggota SNSD.

Dan sesaat suasana menjadi tegang. Menunggu jawab yang keluar dari mulut sang raja tofu itu.

“Yap! Dia orang nya.. karena dia yang menghidupkan aku kembali! Aku sangat menyukainya..”

Semua orang terkaget dengan jawaban Onew oppa. Hingga Jonghyun terjatuh dari kursinya. Apa lagi aku yang mendengar jawaban tersebut!

“Ini  propose secret!” ucap MC itu. Aku masih tercengang membatu mendengar itu..

“Berapa umurmu?” tanya mereka semua padaku. Dan menatapku dengan penuh harap..

“14 tahun,” jawabku singkat..

“Sabar yah Onew! Kau harus menunggunya sampai besar jika kau ingin menikah denganya,”

“Sabar yah hyung.. ”

FIN

*FF ini walau One Shot termasuk Squel.. nanti ada lanjutannya.. JUDULNYA QUASIMODO!! Baca dan koment yah..*

*yang menemukan FF ini di berbagai tempat memang benar.. aku nge post di beberapa tempat..*